Syukur yang Menindas

Tentang syukur, sukur ala orang kampung, dan kebiasaan menjadikan penderitaan orang lain sebagai pembanding agar kita merasa beruntung.

Sebagai orang kampung, ndeso, sekaligus utun, lugu, polos, dan apa adanya, saya tidak jarang mendengar kalimat:

"Sukur... dikandani gak kenêk. Nah, tenan ta, bundhas...."

Bagi Anda yang tinggal di kampung, saya yakin cukup akrab dengan kalimat serupa.

"Sukur..." di sini tentu bukan “syukur” ala kata-kata mubaligh yang kerap mengutip firman Allah:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)

Bukan. Bukan sukur yang itu.

Sebab kalau membicarakan syukur yang itu, urusannya bisa panjang dan agak berat.

Sebab jika membicarakan syukur yang itu, konon ada syukur dengan lisan. Mendapat rezeki, alhamdulillah. Anak lulus sekolah, alhamdulillah. Motor yang dari tadi distarter akhirnya hidup, alhamdulillah. Pokoknya nikmat disadari, lalu mulut mengakui bahwa itu datang dari Allah.

Ada yang lebih jauh lagi. Tidak cukup alhamdulillah. Kalau diberi harta, hartanya dipakai untuk kebaikan. Diberi ilmu, ilmunya bermanfaat. Diberi kesehatan, badannya tidak cuma dipakai rebahan sambil scrolling TikTok tiga jam, lalu mengeluh tidak punya waktu.

Kalau mau dibawa lebih jauh lagi, ada syukurnya para arifin. Sampai kemampuan untuk bersyukur pun dianggap sebagai nikmat yang perlu disyukuri lagi.

Artinya, kita bersyukur karena mendapat nikmat. Lalu bersyukur karena masih bisa bersyukur. Setelah itu mestinya bersyukur lagi karena sadar bahwa kemampuan mensyukuri rasa syukur juga merupakan nikmat.

Nah... repot, kan?

Belum lagi kalau dipikir dengan cara yang jauh lebih sederhana. Setiap tarikan napas saja sebenarnya sudah pantas disyukuri tanpa perlu sibuk menghitung apa imbalan yang akan diberikan Sang Pemilik napas.

Sebab kadang-kadang kita masih bersyukur sambil membawa kalkulator.

Bersyukur supaya nikmat ditambah. Bersyukur supaya rezeki dilancarkan. Bersyukur supaya dicatat sebagai kebaikan. Sampai-sampai alhamdulillah bisa terdengar seperti investasi: setor syukur hari ini, berharap dividennya cair kemudian.

Padahal sudah diberi napas saja mestinya cukup.

Diberi, berterima kasih.

Selesai.

Tapi ternyata belum selesai juga.

Ada satu bentuk pengajaran syukur yang sejak kecil sangat akrab di telinga:

"Kudu bersyukur. Deloken kae, isih akeh sing luwih susah."

Makan cuma dengan tempe?

"Bersyukur. Masih banyak yang tidak bisa makan."

Gaji kecil?

"Bersyukur. Masih banyak yang nganggur."

Rumah sempit?

"Bersyukur. Masih banyak yang tidak punya rumah."

Entah sejak kapan, penderitaan orang lain ikut masuk ke dalam kurikulum syukur kita.

Kalau dipikir-pikir, kasihan juga orang yang lebih susah itu. Sudah hidupnya susah, masih kita pekerjakan menjadi alat bantu agar kita bisa bersyukur.

Seakan-akan supaya nasi pecel di depan kita terasa nikmat, kita perlu memastikan terlebih dahulu bahwa di tempat lain ada orang yang tidak makan.

Padahal mestinya nasi pecel tetap nikmat meskipun tetangga sebelah sedang makan sate.

Tapi sudahlah. Itu jangan dibicarakan.

Mari kembali ke janji awal tulisan ini: membicarakan saudara jauhnya yang tumbuh subur dalam khazanah perkampungan Jawa.

Sukur.

Tanpa “y”.

Sukur yang satu ini jauh lebih sederhana. Tidak perlu mengetahui tingkatan syukur. Tidak perlu menjadi arifin. Tidak perlu menghitung pahala. Bahkan tidak perlu menunggu datangnya nikmat.

Kadang syarat kemunculannya cuma dua:

Ada orang ngeyel.

Lalu bundhas.

Maka dari kejauhan akan terdengar:

"Sukuuur...! Wong dikandani gak kenêk."

Dalam khazanah orang kampung, sukur memang mempunyai habitat yang khas.

Ia jarang muncul ketika panen melimpah, dagangan laris, anak lulus sekolah, atau utang akhirnya lunas.

Ia justru tumbuh subur di sekitar ketidakpatuhan terhadap nasihat.

Sudah dikandani jangan ngebut.

Ngeyel.

Lima menit kemudian jatuh.

"Sukur!"

Sudah diperingatkan jangan naik pohon setelah hujan karena licin.

Tetap manjat.

Kepleset.

"Sukur!"

Bocah sudah dibilangi jangan lari-lari di lantai basah. Tetap mlayu. Lalu:

Gedebug.

Ibunya bukannya buru-buru memberikan kalimat motivasi tentang pentingnya bangkit setelah kegagalan.

"Sukur! Dikandani gak kenêk!"

Lalu anaknya diangkat.

Lututnya diperiksa.

Dicari lukanya.

Diolesi obat merah.

Ini yang menarik.

Mulut mengatakan:

"Sukur!"

Tetapi tangan tetap menolong.

Maka sukur tidak selalu berarti kegembiraan melihat penderitaan orang lain. Kadang ia merupakan campuran yang agak sulit diterjemahkan: jengkel, gemas, kasihan, sedikit rasakno, sekaligus kepuasan karena apa yang sebelumnya sudah diperingatkan akhirnya benar-benar terjadi.

Semacam:

"Nah, kan."

Tetapi versi kampung.

Lebih pendek.

Lebih pedas.

Dan tidak membutuhkan seminar.

Kalau mau kurang kerjaan sedikit, sukur bahkan bisa kita klasifikasikan.

Ada sukur ringan.

Biasanya untuk kemalangan yang tidak terlalu serius.

"Sukur, tiba!"

Ada sukur pedagogis:

"Sukur! Ben kapok!"

Ini sukur yang masih mempunyai cita-cita pendidikan. Penderitaan hari ini diharapkan menjadi bahan ajar agar besok tidak mengulangi kebodohan yang sama.

Ada pula sukur epistemologis:

"Sukur! Wong wis tak kandani kok."

Yang terakhir ini menarik.

Pusat persoalannya sebenarnya bukan lagi orang yang jatuh. Yang sedang dirayakan adalah terbuktinya pengetahuan orang yang sebelumnya memberi nasihat.

Aku wis ngomong.

Kowe ora percaya.

Saiki bukti wis teka dhewe.

Sukur.

Pada tingkat tertentu, ia adalah upacara kecil kemenangan orang yang nasihatnya pernah diabaikan.

Bahkan ada sukur preventif.

Musibahnya belum terjadi.

Orangnya baru terlihat akan melakukan sesuatu yang sudah dilarang.

Setelah berkali-kali diperingatkan tetapi tetap ngeyel, pemberi nasihat akhirnya menyerah:

"Yo wis, karepmu. Mengko nek tiba karek nyukurke!"

Ini lebih canggih.

Sukur sudah dipesan sebelum peristiwanya terjadi.

Semacam pre-order.

Tinggal menunggu barang datang.

Lalu ada satu kerabat dekat sukur yang tidak boleh dilupakan:

rasakno.

Keduanya mirip, tetapi tidak sepenuhnya sama.

"Rasakno!" lebih dekat kepada akibat: silakan rasakan sendiri konsekuensi perbuatanmu.

Sedangkan sukur sering membawa sejarah yang lebih panjang. Di belakangnya seperti ada arsip:

pernah dinasihati → tidak percaya → ngeyel → kejadian → sukur.

Mungkin karena itu pasangan paling alamiah dari sukur bukanlah titik.

Melainkan:

"Dikandani gak kenêk."

Dan anehnya, orang yang mengucapkan sukur belum tentu jahat.

Tetangga bisa mengatakan "Sukur!" ketika kita jatuh dari motor, lalu menjadi orang pertama yang membantu mengangkat motor.

Ibu bisa mengatakan "Sukur, dikandani gak kenêk!" kepada anaknya yang terluka sambil tangannya sibuk mencari obat.

Bapak bisa ngomel "Sukur!" ketika anaknya pulang kehujanan karena tidak mau membawa jas hujan, lalu diam-diam mengambilkan handuk.

Barangkali memang begitulah sebagian kasih sayang orang kampung bekerja.

Tidak selalu berbentuk:

"Are you okay?"

Kadang bentuknya:

"Sukur!"

Lalu ditolong.

Kalau hanya ditulis di atas kertas, mungkin terdengar kasar. Sebab bahasa memang tidak pernah hidup hanya di kamus. Ada intonasi, keadaan, hubungan antarmanusia, dan kadang-kadang ada tangan yang tetap terulur setelah mulut selesai misuh.

Maka jangan buru-buru membawa sukur ke pengadilan moral.

Kadang memang ejekan.

Kadang kejengkelan.

Kadang rasakno.

Kadang nah, kan.

Kadang sebuah pelajaran.

Dan kadang ia hanya bentuk kasih sayang orang kampung yang tidak terbiasa mengemas perhatian dengan kalimat-kalimat manis.

Setelah nggladrah sejauh ini, saya malah kembali teringat kepada syukur—yang pakai “y”.

Yang tadi katanya tidak mau dibahas itu.

Dan barangkali kita memang tidak perlu melihat orang lain kesulitan terlebih dahulu hanya untuk bisa bersyukur.

Sebab bersyukur mestinya bukan perkara membandingkan nasib.

Ia adalah spirit kita sebagai hamba yang diberi rasa syukur untuk bersyukur kepada Sang Maha Pemilik syukur.

Nah... mulai repot lagi, kan?

Sudahlah.

Yang jelas, kita bisa bersyukur masih bisa makan tanpa harus memastikan ada orang lain yang kelaparan.

Kita bisa bersyukur mempunyai rumah tanpa perlu melihat orang tidur di emperan.

Kita bisa bersyukur mempunyai pekerjaan tanpa membutuhkan pengangguran untuk meyakinkan diri bahwa hidup kita masih beruntung.

Nasi pecel tetap layak disyukuri meskipun tetangga makan sate.

Bahkan kalau seluruh kampung makan sate, nasi pecel kita tidak lantas kehilangan alasan untuk disyukuri.

Sebab nikmat tidak menjadi nikmat karena ada orang lain yang tidak mendapatkannya.

Dan rasa syukur mestinya tidak tumbuh dari rasa lega karena ternyata masih ada manusia yang nasibnya berada di bawah kita.

Dan sesekali, mungkin kita perlu bersyukur karena tidak sukur.

Atau masih bisa bersyukur ketika ada orang bilang:

"Sukur!"

Nah... repot lagi, kan?

Sudahlah.

Kalau untuk merasa beruntung kita masih membutuhkan orang lain yang lebih susah, jangan-jangan kita memang belum selesai memahami syukur.

Atau lebih gawat lagi:

jangan-jangan yang sedang kita ucapkan sebenarnya bukan:

"Syukur..."

melainkan:

"Sukur..."

Hanya saja kali ini yang bundhas orang lain.

© khafi.id Terima kasih telah berkenan berpikir bersama.