Di tempat saya tinggal, sebenarnya tidak bisa disebut desa yang sangat-sangat desa. Toko sudah banyak berdiri. Ada minimarket, Pertashop, Pertamini, …
Pinned Post
All stories
Cuaca di Ponorogo demikian panas. Bahkan Ponorogo masuk dalam juara pertama kota terpanas Jawa Timur. Mungkin ini bagian dari dampak perubahan ikli…
<p></p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi59dJgQue-Fqi90Z7H-YzVqzpzutNkVlAlIqEZ8IdXO0w9PKbxkhncdZQvXXbHigKjUIhCtKSQGVE8vliED8p-1Cq-sEubFYM3t-wedONrfV3fI6eN_EkJJ8D_TixEEiiRvG4Vn6yx8W0-txgqTpMsEFFM-XA6L_3ojDgCz2jA8ijWXwRcekvTl-Dh1wI/s800/Eco-eco.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="447" data-original-width="800" height="358" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi59dJgQue-Fqi90Z7H-YzVqzpzutNkVlAlIqEZ8IdXO0w9PKbxkhncdZQvXXbHigKjUIhCtKSQGVE8vliED8p-1Cq-sEubFYM3t-wedONrfV3fI6eN_EkJJ8D_TixEEiiRvG4Vn6yx8W0-txgqTpMsEFFM-XA6L_3ojDgCz2jA8ijWXwRcekvTl-Dh1wI/w640-h358-rw/Eco-eco.jpg" width="640" /></a></div><p>Cuaca di Ponorogo demikian panas. Bahkan Ponorogo masuk dalam juara pertama kota terpanas Jawa Timur. Mungkin ini bagian dari dampak perubahan iklim. Mungkin, sebab saya bukan bagian dari komunitas <i>eco-eco</i> sehingga tidak bisa memastikan apakah panasnya cuaca ini benar-benar berkaitan dengan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan atau tidak sama sekali.</p>
<p>Bicara soal <i>eco-eco</i> yang tidak ada “Umberto”-nya, saya kira sudah banyak komunitas, kelompok kajian, seminar, diskusi, penelitian, dan berbagai macam perkumpulan yang membicarakan lingkungan dari banyak sudut pandang. Ada <i>eco-sufisme</i>, <i>eco-feminisme</i>, <i>eco-theology</i>, <i>eco-spirituality</i>, dan entah berapa lagi <i>eco</i> yang bisa ditempelkan di depan istilah lain.</p>
<p>Semua terdengar penting. Semua terdengar perlu. Dan mungkin memang demikian. Saya tidak sedang memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa berbagai kajian tersebut tidak berguna. Bisa jadi justru dari sanalah kita mendapatkan cara baru untuk memahami hubungan manusia dengan alam.</p>
<p>Hanya saja, ada satu pertanyaan sederhana yang terus mengganggu pikiran saya.</p>
<p><b>Setelah semua itu dibicarakan, siapa yang mengawal kelestarian lingkungannya?</b></p>
<p>Sebab lingkungan tidak ikut seminar. Sungai tidak membaca makalah. Pohon tidak menghadiri diskusi. Tanah juga tidak peduli apakah orang yang menjaganya memahami <i>eco-theology</i> atau tidak.</p>
<p>Di kampung-kampung, orang mungkin tidak mengenal istilah-istilah itu. Ada yang membersihkan saluran air karena kalau mampet rumahnya kebanjiran. Ada yang menjaga mata air karena kalau sumbernya rusak, warga sekampung kesulitan mendapatkan air. Ada yang mempertahankan pohon karena sejak kecil tahu bahwa pohon itu membuat tanah tetap kuat.</p>
<p>Mereka mungkin tidak pernah menyebut pekerjaannya sebagai gerakan ekologis.</p>
<p>Tidak ada <i>framework</i>. Tidak ada seminar. Tidak ada sertifikat. Tidak ada <i>eco</i> di depan pekerjaannya.</p>
<p>Tetapi ada tindakan.</p>
<p>Dan mungkin benar, <i>eco</i> yang tidak ada “Umberto”-nya ini telah kehilangan “Umberto”-nya. Atau malah jangan-jangan ia sedang masuk ke dalam prediksi Umberto Eco tentang dunia yang semakin dipenuhi tanda, simbol, dan produksi makna.</p>
<p>Umberto Eco memang banyak memikirkan bagaimana manusia menciptakan, menggunakan, dan membaca tanda. Dunia manusia bukan hanya dunia benda, tetapi juga dunia yang penuh dengan nama dan makna. Sesuatu tidak cukup hadir; kita juga ingin menamainya, menjelaskannya, menafsirkannya.</p>
<p>Barangkali itu pula yang terjadi pada lingkungan.</p>
<p>Kerusakan lingkungan diberi nama. Kepedulian terhadap lingkungan diberi nama. Gerakan diberi nama. Perspektif diberi nama. Komunitas diberi nama. Lalu lahirlah berbagai macam <i>eco</i> untuk menerangkan hubungan kita dengan alam.</p>
<p>Semakin banyak nama, semakin banyak pula cara kita membicarakan lingkungan.</p>
<p>Tetapi nama bukan tindakan.</p>
<p>Menamai sebuah persoalan tidak otomatis menyelesaikan persoalan tersebut. Menjelaskan hubungan spiritual manusia dengan alam tidak otomatis membuat orang berhenti membuang sampah ke sungai. Membicarakan kesakralan hutan tidak otomatis membuat hutan aman dari penebangan.</p>
<p>Di sinilah saya mulai curiga kepada <i>eco-eco</i>.</p>
<p>Bukan karena <i>eco-eco</i> itu salah.</p>
<p>Melainkan karena <i>eco-eco</i> bisa menjadi terlalu nyaman.</p>
<p>Kita bisa berbicara tentang lingkungan tanpa harus berurusan dengan lingkungan itu sendiri.</p>
<p>Kita bisa membahas sungai tanpa harus turun ke sungai. Bisa membicarakan hutan tanpa harus ikut menjaganya. Bisa mendiskusikan perubahan iklim tanpa harus mengawal kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan.</p>
<p>Diskusi selesai. Foto bersama. Pulang.</p>
<p>Sementara sungai tetap mengalir membawa sampah.</p>
<p>Barangkali di sinilah perbedaan antara <i>mengetahui</i> dan <i>mengawal</i>.</p>
<p>Orang yang mengawal lingkungan tidak selalu orang yang paling tahu istilah ekologis. Bisa jadi ia hanya tahu bahwa sungai di belakang rumahnya harus tetap bersih. Ia tidak tahu apa itu <i>eco-theology</i>, tetapi tahu bahwa air yang tercemar tidak bisa diminum. Ia tidak pernah membaca teori <i>land ethic</i>, tetapi tahu bahwa pohon yang ditebang akan membuat bukit gundul.</p>
<p>Dan mungkin orang semacam itu justru lebih dekat dengan inti persoalan.</p>
<p><a href="https://journals.ecotas.org/index.php/ems/id/article/view/56/37" target="_blank">Aldo Leopold</a>, melalui gagasan <i><a href="https://lsfdiscourse.org/filosofi-land-ethic-untuk-masa-depan-bumi/" target="_blank">land ethic</a></i>, mengajak kita melihat hubungan manusia dengan tanah dan komunitas kehidupan bukan semata-mata sebagai hubungan ekonomi, tetapi juga sebagai persoalan etika. Ukuran moralitas kita terhadap alam pada akhirnya tidak berhenti pada apa yang kita pikirkan tentang alam, tetapi juga pada bagaimana kita memperlakukannya.</p>
<p>Kalau begitu, barangkali ukuran sederhana kepedulian lingkungan bukanlah berapa banyak istilah ekologis yang kita kuasai.</p>
<p>Melainkan: <b>apa yang kita lakukan ketika tidak ada lagi yang sedang berdiskusi?</b></p>
<p>Apakah sungai tetap kita jaga setelah seminar selesai?</p>
<p>Apakah pohon tetap kita rawat setelah acara penanaman berakhir?</p>
<p>Apakah masyarakat tetap kita dampingi setelah kamera dan wartawan pergi?</p>
<p>Apakah kebijakan yang merusak lingkungan tetap kita awasi ketika isu tersebut sudah tidak lagi menarik perhatian?</p>
<p>Sebab lingkungan tidak rusak dalam satu seminar dan tidak pulih dalam satu seminar pula.</p>
<p>Ia membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih sepi: mengawasi, membersihkan, menanam, merawat, menegur, mendampingi, dan datang lagi ketika tidak ada yang memotret.</p>
<p>Mungkin pekerjaan seperti itu kurang menarik untuk dijadikan judul acara.</p>
<p>Kurang menarik untuk dijadikan tema seminar.</p>
<p>Kurang menarik untuk dijadikan nama komunitas.</p>
<p>Tetapi justru di situlah lingkungan membutuhkan kita.</p>
<p>Dan saya kembali kepada cuaca panas tadi.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah panasnya Ponorogo hari ini merupakan akibat langsung perubahan iklim, kerusakan lingkungan, atau gabungan banyak faktor yang jauh lebih rumit daripada yang mampu saya jelaskan.</p>
<p>Saya bukan ahli iklim.</p>
<p>Saya juga bukan anggota komunitas <i>eco-eco</i>.</p>
<p>Tetapi saya tahu satu hal sederhana: kalau lingkungan memang sedang bermasalah, kita tidak mungkin menyelesaikannya hanya dengan menambah jumlah orang yang pandai menjelaskan masalah.</p>
<p>Kita membutuhkan orang yang mau mengawalnya.</p>
<p>Dan kalau orang yang mengawal itu tidak tahu istilah <i>eco-sufisme</i>, <i>eco-feminisme</i>, <i>eco-theology</i>, atau <i>eco-apa pun</i>, saya kira tidak masalah.</p>
<p>Barangkali lingkungan memang tidak pernah meminta kita memberinya nama.</p>
<p>Ia hanya meminta kita tidak merusaknya.</p>
<p>Selebihnya, biarlah para <i>eco</i> bertemu dengan “Umberto”-nya masing-masing.</p>
<p>Asalkan setelah pertemuan selesai, ada yang pulang membawa sapu.</p>
<p>Karena kalau tidak, jangan-jangan yang semakin hijau hanya judul acaranya.</p>
<p>Dan... mungkin tulisan ini juga tidak <i>eco</i> sama sekali. Ia tidak membersihkan sungai, tidak menanam pohon, tidak menyelamatkan mata air. Ia hanya menambah satu lagi tulisan tentang lingkungan ke internet yang sudah terlalu penuh dengan tulisan tentang lingkungan..</p>
Ilustrasi oleh AI Di panggung-panggung pengajian, media sosial, hingga potongan video motivasi berdurasi satu menit, kita kerap menjumpai wacana yang…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL8v1VBfhvprJReHCVdJ8qiQDDuh7G0SB_5Clt41c96tPu-nofMVemfFWQmPebLQoPopaLp3nFAmtCO3sDnxSJzxEFaQ-pKdVDMYw-C8EcdGxrkBZuC_S0p3upTJEKnT8s0Bg3gHEJILBI5nr9MsIvBIMsU_aQZgeGt51RAegZ3b4hGAUyjaTCjqlv5-o/s640/ilustrasi%20sedekah.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL8v1VBfhvprJReHCVdJ8qiQDDuh7G0SB_5Clt41c96tPu-nofMVemfFWQmPebLQoPopaLp3nFAmtCO3sDnxSJzxEFaQ-pKdVDMYw-C8EcdGxrkBZuC_S0p3upTJEKnT8s0Bg3gHEJILBI5nr9MsIvBIMsU_aQZgeGt51RAegZ3b4hGAUyjaTCjqlv5-o/s1600-rw/ilustrasi%20sedekah.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi oleh AI</td></tr></tbody></table><p>Di panggung-panggung pengajian, media sosial, hingga potongan video motivasi berdurasi satu menit, kita kerap menjumpai wacana yang kurang lebih berbunyi seperti ini: <b>sedekah akan dibalas berkali-kali lipat.</b></p>
<p>Saya tidak sedang membantahnya. Saya tidak cukup alim untuk itu.</p>
<p>Yang agak menggelitik justru cara kita memahami balasan tersebut.</p>
<p>Sebab entah bagaimana, kalau yang kita sedekahkan berupa uang, kita juga berharap balasannya berupa uang. Sedekah seribu rupiah, kalau bisa kembali satu juta. Kalau hanya kembali seribu, selain tidak berkali-kali lipat, mungkin kita merasa investasinya kurang menarik.</p>
<p>Maka sedekah kadang terdengar sangat mirip proposal investasi.</p>
<p>Hari ini keluar satu juta, besok berharap datang sepuluh juta. Seolah-olah langit bekerja seperti <b>mesin ATM spiritual</b>: setor amal, tunggu saldo bertambah.</p>
<p>Padahal mungkin justru di situlah masalahnya.</p>
<p>Bukan pada keyakinan bahwa kebaikan akan mendapat balasan, tetapi pada kebiasaan kita yang diam-diam ikut menentukan bentuk balasannya.</p>
<p><b>Yang keluar rupiah, maunya pulang rupiah.</b></p>
<p>Kalau yang datang justru badan sehat, anak-anak tidak sakit, pekerjaan masih ada, tidur lebih nyenyak, atau ketika sedang kesusahan tiba-tiba ada orang yang membantu, semua itu kadang tidak masuk pembukuan.</p>
<p>Sebab sejak awal kita sudah telanjur membawa kalkulator.</p>
<p>Atau, <i>amit-amit jabang bayi</i>, kita sudah mengantre BBM selama satu jam. Ketika tinggal beberapa meter lagi sampai pompa, petugas mengumumkan stok habis. Kita bisa menerima, menghidupkan motor, lalu pulang tanpa mengumpat petugas yang sebenarnya juga tidak bersalah.</p>
<p>Kemampuan untuk tidak marah seperti itu pun barangkali tidak pernah kita hitung sebagai <i>imbal hasil</i>.</p>
<p>Padahal siapa tahu kemampuan untuk tidak gampang jengkel, tidak merasa dunia harus selalu berjalan sesuai keinginan kita, dan tidak menjadikan orang lain sasaran kemarahan adalah kekayaan yang jauh lebih sulit dikumpulkan daripada uang.</p>
<p><b>Kita terlalu sibuk memeriksa apakah saldo bertambah sampai lupa memeriksa apakah diri kita berubah.</b></p>
<p>Di situlah saya kira sedekah menjadi menarik.</p>
<p>Sebab uang sebenarnya tidak otomatis berbahaya hanya karena jumlahnya banyak. Orang yang tidak punya banyak uang pun bisa sangat diperbudak olehnya. Sebaliknya, orang kaya belum tentu rakus.</p>
<p>Masalahnya mungkin bukan terutama berapa banyak uang yang kita miliki, tetapi seberapa besar ruang yang kita izinkan untuk ditempatinya di dalam kepala.</p>
<p>Ketika uang mulai menentukan harga diri, manusia perlahan melihat dunia melalui angka. Kehilangan sedikit terasa seperti kiamat kecil. Penurunan status dianggap kehancuran martabat. Kekayaan tidak lagi menjadi sesuatu yang dimiliki, tetapi justru sesuatu yang balik memiliki pemiliknya.</p>
<p>Dan yang mengerikan dari kekayaan bukan selalu kemewahan yang tampak di luar. Bisa jadi justru kesombongan kecil yang tumbuh diam-diam di dalam kepala: perasaan bahwa karena kita punya cukup uang, segala sesuatu bisa diatur, dibeli, bahkan dikendalikan.</p>
<p>Barangkali karena itulah sedekah dalam tradisi Islam tidak hanya menarik kalau dilihat sebagai cara membantu orang yang membutuhkan.</p>
<p><b>Ia juga bisa dibaca sebagai cara menyelamatkan orang yang memiliki harta dari keterikatannya sendiri.</b></p>
<p>Kita bisa melihat kegelisahan semacam itu pada Abdurrahman bin Auf.</p>
<p>Ia dikenal sebagai saudagar dengan kekayaan besar. Tetapi kekayaan rupanya tidak selalu membuatnya merasa telah selesai dengan urusan dunia. Ada satu cerita menarik tentang dirinya yang tercatat dalam <i>Sahih al-Bukhari</i>, hadis nomor 1274.</p>
<p>Saya sengaja mencantumkan nomor hadisnya. Minimal sedikit <i>tribute</i> kepada pesantren yang pernah saya tumpangi untuk belajar, tidur, makan, dan tentu saja buang air. Masa pernah jadi santri, menulis soal beginian sumbernya cuma, <i>“kalau tidak salah pernah dengar.”</i></p>
<p>Dalam riwayat itu diceritakan, suatu hari ketika makanan dihidangkan di hadapannya, Abdurrahman bin Auf justru teringat Mus‘ab bin ‘Umair yang telah gugur. Mus‘ab, katanya, lebih baik darinya, tetapi ketika wafat bahkan kain yang tersedia untuk mengafaninya sangat terbatas.</p>
<p>Lalu muncul kegelisahan yang bagi kita hari ini mungkin terasa agak asing: jangan-jangan kenikmatan telah disegerakan kepada mereka dalam kehidupan dunia.</p>
<p>Abdurrahman bin Auf menangis.</p>
<p>Menariknya, yang membuatnya gelisah bukan karena hartanya kurang.</p>
<p><b>Justru karena ia mempunyai banyak.</b></p>
<p>Bagi manusia modern, kegelisahan semacam itu mungkin agak sulit dipahami.</p>
<p>Hari ini kekayaan justru dipamerkan sebagai trofi keberhasilan. Rumah, kendaraan, perjalanan, saldo, barang bermerek—semuanya bisa menjadi pengumuman bahwa seseorang telah berhasil menjalani hidup.</p>
<p>Tidak salah juga. <i>Wong</i> punya barang bagus masa harus disembunyikan di kandang ayam.</p>
<p>Persoalannya menjadi lain ketika apa yang kita miliki mulai menjadi ukuran tentang siapa diri kita.</p>
<p>Di titik itu, sedekah mestinya mempunyai pekerjaan yang lebih dalam daripada sekadar memindahkan sebagian uang dari satu dompet ke dompet lain.</p>
<p><b>Ia melatih manusia melepaskan.</b></p>
<p>Bukan berarti manusia dilarang kaya. Islam tidak mengharamkan perdagangan atau kemakmuran. Yang dilatih barangkali justru kemampuan untuk mempunyai tanpa merasa harus menggenggam semuanya.</p>
<p>Sebab semakin takut manusia kehilangan uang, semakin besar kemungkinan uang mengendalikan hidupnya.</p>
<p>Mungkin itu sebabnya sedekah kadang terasa berat.</p>
<p>Yang sesungguhnya sedang dilawan bukan hanya kemiskinan orang lain, tetapi rasa takut dalam diri sendiri.</p>
<p>Takut berkurang. Takut jatuh. Takut tidak aman.</p>
<p>Ketika tangan mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya masih ingin disimpan, ada latihan kecil untuk mengatakan kepada diri sendiri: <i>“Saya masih bisa hidup meskipun tidak menggenggam semuanya.”</i></p>
<p>Pada titik itulah sedekah mulai menjauh dari transaksi.</p>
<p><b>Kita tidak lagi memberi seribu agar seribu itu pulang membawa sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu temannya.</b></p>
<p>Kita memberi karena sedang belajar bahwa tidak semua yang berada dalam genggaman harus dipertahankan mati-matian.</p>
<p>Dan mungkin di sinilah pembicaraan tentang “keajaiban sedekah” bisa kita lihat dari arah yang sedikit berbeda.</p>
<p>Kita sering terpukau kepada orang dermawan yang hidupnya tampak lapang, usahanya berkembang, dan hartanya terus bertambah. Lalu hubungan sebab-akibat segera dibuat: ia banyak bersedekah, maka hartanya banyak.</p>
<p>Bisa jadi.</p>
<p>Tetapi mungkin ada proses lain yang tidak terlihat.</p>
<p>Orang yang tidak terlalu diperbudak ketakutan kehilangan bisa lebih tenang mengambil keputusan. Ia mungkin lebih mudah dipercaya, lebih ringan membantu orang, lebih luas membangun hubungan, dan tidak menghabiskan seluruh tenaga hidupnya untuk mempertahankan apa yang sudah dimiliki.</p>
<p>Artinya, yang berubah pertama-tama mungkin bukan saldo rekeningnya.</p>
<p><b>Yang berubah adalah manusianya.</b></p>
<p>Karena itu saya mulai berpikir, mungkin kita terlalu sempit ketika bertanya: <i>“Setelah bersedekah, apa yang saya dapat?”</i></p>
<p>Sesekali pertanyaannya perlu dibalik:</p>
<p><b>“Setelah bersedekah, apa yang berkurang dari diri saya?”</b></p>
<p>Apakah ketakutan kehilangan sedikit berkurang?</p>
<p>Apakah kerakusan berkurang?</p>
<p>Apakah kebutuhan untuk selalu merasa lebih tinggi daripada orang lain berkurang?</p>
<p>Apakah kita menjadi sedikit lebih tenang ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan?</p>
<p>Kalau iya, jangan-jangan balasannya sudah datang.</p>
<p>Hanya saja kita tidak mengenalinya karena sejak awal menunggu notifikasi <i>mobile banking</i>.</p>
<p>Di zaman ketika hampir segala sesuatu diukur dengan untung-rugi, kemampuan untuk memberi tanpa sibuk menentukan balasannya mungkin merupakan salah satu bentuk kemerdekaan yang masih tersisa.</p>
<p>Dan bisa jadi manusia yang paling kaya bukanlah manusia yang paling banyak menyimpan, melainkan yang paling sedikit diperbudak oleh apa yang ia simpan.</p>
<p>Maka silakan tetap percaya bahwa sedekah seribu rupiah bisa dibalas berkali-kali lipat.</p>
<p>Saya juga ingin percaya demikian.</p>
<p>Hanya saja, barangkali kita tidak perlu terlalu cerewet mengatur bentuk pembayarannya.</p>
<p>Sebab kalau yang kita sedekahkan uang lalu kita bersikeras balasannya harus uang, jangan-jangan sejak awal kita memang tidak sedang belajar melepaskan apa-apa.</p>
<p><b>Kita cuma sedang menunggu uang itu pulang membawa teman.</b></p>
<p>Dan kalau suatu hari balasannya justru berupa hati yang sedikit lebih lapang, kemampuan menerima kehilangan, atau kesanggupan mengantre BBM satu jam lalu tetap tersenyum ketika stok habis tepat di depan kita, jangan buru-buru merasa sedekah kita belum menghasilkan apa-apa.</p>
<p><b>Bisa jadi imbal hasilnya sudah masuk. Cuma memang tidak tercatat di rekening.</b></p>
Ilustrasi. Jika ada kesamaan tokoh dan lokasi hanya kebetulan belaka. Jujur saja, saya adalah penyintas pendidikan S1 keagamaan, Tafsir Hadis—tapi b…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUf-HLzMms0Mk9pJ1NnX7v0ldE__WFv8X2MSDsLnw7cmwfcuGLUyB97xDvpFlHUcCDoh_CQ-_yZ1Sq-fy9wPUFFv5W34mA8qUtIL9XmJdIAEsn501rg7su2xBiBazebp4IxoQF7oDmtIIKRz878MfeST0zz6hJ3vIINlcnl08HxtNNh_ycDKdjPgG3lPs/s640/Ilustrasi%20pendidikan%20dan%20pemiskinan.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUf-HLzMms0Mk9pJ1NnX7v0ldE__WFv8X2MSDsLnw7cmwfcuGLUyB97xDvpFlHUcCDoh_CQ-_yZ1Sq-fy9wPUFFv5W34mA8qUtIL9XmJdIAEsn501rg7su2xBiBazebp4IxoQF7oDmtIIKRz878MfeST0zz6hJ3vIINlcnl08HxtNNh_ycDKdjPgG3lPs/s1600-rw/Ilustrasi%20pendidikan%20dan%20pemiskinan.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi. Jika ada kesamaan tokoh dan lokasi hanya kebetulan belaka.</td></tr></tbody></table>
<p>Jujur saja, saya adalah penyintas pendidikan S1 keagamaan, Tafsir Hadis—tapi bukan temannya Menteri Kehutanan. Pendidikan ketafsirhadisan itu tentu tidak lantas membuat saya bisa mengamandemen hadis, apalagi mengamandemen Al-Qur'an. Saya justru termasuk salah satu mantan calon sarjana yang akhirnya terlempar di tengah <i>blethokan</i>, lumpur sawah.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan sawah. Tidak ada pula yang salah dengan menjadi petani. Masalahnya, saya sendiri tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa setelah menempuh pendidikan tinggi, salah satu kemungkinan masa depan saya adalah berdiri di tengah lumpur sambil memikirkan tanaman, pupuk, hujan, dan harga panen.</p>
<p>Bertani bagi saya lebih dekat sebagai keterpaksaan daripada cita-cita.</p>
<p>Dan barangkali justru di situlah masalahnya.</p>
<p>Kita hidup di negeri yang sejak sekolah dasar diperkenalkan sebagai negeri agraris. Sawah membentang, tanah subur, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Tetapi entah sejak kapan, menjadi petani bahkan sudah kalah sebelum masuk ke dalam daftar cita-cita.</p>
<p>Coba tanyakan kepada anak-anak: kelak ingin menjadi apa?</p>
<p>Dokter, polisi, tentara, guru, insinyur, pengusaha, programmer, bahkan YouTuber. Semuanya terdengar wajar. Tetapi ketika seorang anak menjawab ingin menjadi petani, mungkin kita justru akan memastikan sekali lagi:</p>
<p><b>“Petani? Tenan?”</b></p>
<p>Seolah-olah cita-cita itu membutuhkan verifikasi.</p>
<p><b>Dalam angan-angan saja, pertanian sudah dianggap tidak mapan.</b></p><p><b>___</b></p>
<h2>Pendidikan Adalah Kunci</h2>
<p>Ada nasihat yang hampir tidak pernah kita persoalkan: <b>pendidikan adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan.</b></p>
<p>Saya percaya pendidikan memang dapat membuka kesempatan. Orang yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan memungkinkan anak dari keluarga sederhana memasuki ruang sosial dan ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau. Banyak keluarga mengalami perubahan kehidupan karena pendidikan.</p>
<p>Tetapi ada pertanyaan yang mengganggu: <b>kalau pendidikan adalah kunci agar orang miskin dapat memperbaiki kehidupannya, mengapa untuk memperoleh pendidikan terbaik orang miskin sering harus berjuang jauh lebih keras?</b></p>
<p>Sekolah unggulan mencari anak-anak unggulan. Kampus terbaik menyeleksi calon mahasiswa dengan nilai terbaik. Sebelum diterima, mereka diuji untuk memastikan bahwa mereka memang cukup pintar.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, kampus membanggakan lulusannya yang pintar-pintar.</p>
<p>Tidak salah. Tetapi sedikit lucu.</p>
<p>Itu seperti restoran yang hanya menerima bahan terbaik, lalu seluruh kelezatan masakannya dianggap semata-mata sebagai prestasi koki.</p>
<p>Tentu seleksi diperlukan. Daya tampung terbatas. Ada beasiswa, KIP, jalur afirmasi, dan berbagai program bantuan pendidikan. Mengatakan bahwa pendidikan bagus sepenuhnya tertutup bagi orang miskin jelas berlebihan.</p>
<p>Persoalannya bukan sekadar apakah pintunya terbuka.</p>
<p>Persoalannya adalah <b>seberapa jauh jarak masing-masing orang menuju pintu tersebut.</b></p>
<p>Seorang anak dapat tumbuh dengan kamar belajar, laptop, internet, buku, les tambahan, orang tua yang mampu mendampingi, serta kesempatan gagal sekali lalu mencoba lagi.</p>
<p>Anak lain mungkin belajar sambil membantu orang tua, berbagi perangkat, memikirkan ongkos sekolah, bahkan memilih kampus bukan berdasarkan mana yang terbaik, tetapi mana yang masih mungkin dijangkau.</p>
<p>Kemudian keduanya dipertemukan di ruang ujian.</p>
<p>Soalnya sama. Waktunya sama.</p>
<p>Hasilnya kita sebut <b>prestasi individual</b>.</p><p>___</p>
<h2>Ketika Kemiskinan Ikut Masuk Sekolah</h2>
<p>Di sinilah <i>The Education Trap: Schools and the Remaking of Inequality in Boston</i> karya Cristina Viviana Groeger menarik untuk dibaca. Konteks Boston yang dibahas Groeger tentu berbeda dengan Indonesia hari ini. Tetapi kegelisahannya terasa dekat: pendidikan dapat menjadi jalan mobilitas sosial, sementara sistem pendidikan dan kredensial pada saat yang sama dapat ikut membentuk kembali ketimpangan.</p>
<p>Pierre Bourdieu memberi perangkat lain untuk melihat persoalan tersebut. Seorang anak tidak datang ke sekolah sebagai kertas kosong dengan titik keberangkatan yang sama.</p>
<p>Mereka membawa bekal dari rumah.</p>
<p>Dan bekal itu bukan hanya uang.</p>
<p>Ada kebiasaan membaca, cara berbicara, lingkungan pergaulan, pengetahuan orang tua tentang pendidikan, jaringan sosial, keberanian menghadapi institusi, bahkan pengetahuan tentang sekolah mana yang sebaiknya dipilih dan bagaimana cara memasukinya.</p>
<p>Sebagian bekal semacam inilah yang dapat kita pahami sebagai <b>modal budaya</b>.</p>
<p>Maka hubungan kemiskinan dan pendidikan menjadi lebih rumit daripada nasihat, “kalau miskin, sekolah yang rajin.”</p>
<p>Orang miskin membutuhkan pendidikan bagus agar kesempatan ekonominya meningkat. Tetapi kemiskinan dapat membuat akses terhadap pendidikan bagus menjadi lebih berat. Pendidikan memengaruhi kesempatan kerja. Pekerjaan memengaruhi pendapatan. Pendapatan keluarga kemudian ikut menentukan pendidikan generasi berikutnya.</p>
<p>Lingkarannya berputar kembali.</p>
<p>Di sinilah istilah <b>pemiskinan struktural</b> menjadi relevan. Bukan dalam pengertian bahwa setiap malam ada sekelompok pejabat berkumpul sambil merancang bagaimana caranya supaya rakyat tetap bodoh. Kita tidak membutuhkan teori konspirasi sejauh itu.</p>
<p>Cukup melihat bagaimana distribusi sumber daya, kualitas pelayanan publik, kondisi keluarga, pasar kerja, dan kebijakan dapat membuat seseorang harus berlari lebih jauh hanya untuk mencapai garis awal yang sama.</p>
<p>Keberhasilan beberapa orang keluar dari keadaan tersebut tentu patut dirayakan. Tetapi keberhasilan seseorang melewati rintangan tidak otomatis membuktikan bahwa <b>tinggi rintangannya sama bagi semua orang.</b></p><p><b>___</b></p>
<h2>Sekolah yang Rajin, Biar Tidak Jadi Petani</h2>
<p>Persoalan pendidikan ternyata tidak berhenti pada siapa yang dapat memasuki sekolah terbaik.</p>
<p>Pendidikan, bersama keluarga dan masyarakat, juga ikut membentuk imajinasi tentang <b>kehidupan seperti apa yang pantas disebut berhasil.</b></p>
<p>Dan di sinilah saya kembali teringat <i>blethokan</i>.</p>
<p>Kita mengenal nasihat semacam:</p>
<p><b>“Sekolah sing sregep, ben uripmu kepenak. Ojo koyok bapakmu, dadi tani.”</b></p>
<p>Nasihat itu sebenarnya lahir dari kasih sayang. Orang tua yang puluhan tahun merasakan beratnya menjadi petani tentu berharap anaknya mempunyai kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Jadi tidak adil kalau bapaknya yang kita salahkan.</p>
<p>Pertanyaan yang lebih penting justru: <b>mengapa kehidupan petani bisa sedemikian berat sampai ukuran keberhasilan seorang bapak adalah ketika anaknya kelak tidak perlu menjadi seperti dirinya?</b></p>
<p>Kalau pertanian memang penting bagi negeri ini, seharusnya pendidikan memungkinkan anak petani membayangkan bahwa sekolah tinggi dapat membuatnya menjadi <b>petani yang lebih berdaya</b>.</p>
<p>Ia bisa memahami teknologi pertanian, tanah, cuaca dan tanaman. Menghitung biaya produksi, mengolah hasil panen, memahami pasar, membangun koperasi, menggunakan teknologi, memperpendek rantai distribusi, sampai memahami kebijakan yang menentukan kehidupannya.</p>
<p>Seharusnya kita tidak dipaksa memilih antara <b>menjadi terdidik</b> dan <b>tetap menjadi petani</b>.</p>
<p>Tetapi dalam imajinasi sosial kita, semakin tinggi pendidikan seseorang, terkadang semakin aneh kalau akhirnya ia kembali ke sawah.</p>
<p><b>“Sarjana kok macul?”</b></p>
<p>Kalimat pendek itu menyimpan persoalan panjang.</p>
<p>Cangkul diam-diam menjadi simbol kegagalan pendidikan. Sementara meja, komputer, sepatu, seragam, dan ruangan ber-AC menjadi tanda bahwa sekolah seseorang akhirnya berguna.</p>
<p>Sarjana pertanian yang bekerja di kantor perusahaan menjual produk kepada petani tidak terasa terlalu aneh.</p>
<p>Yang kadang justru dianggap aneh adalah sarjana pertanian yang benar-benar menjadi petani.</p><p>___</p>
<h2>Abdul Butun, Ibnu Jahil, dan Definisi Keberhasilan</h2>
<p>Pada akhirnya, tidak terlalu mengejutkan kalau kita terus dipusingkan oleh persoalan pengangguran terdidik. Sebab persoalannya mungkin bukan semata-mata tersedia atau tidak tersedianya pekerjaan, tetapi juga <b>apa yang sejak awal kita bayangkan sebagai pekerjaan</b>.</p>
<p>Dalam imajinasi kolektif kita, orang yang sudah “bekerja” biasanya adalah mereka yang pagi-pagi mandi, memakai sepatu, berangkat ke kantor, mempunyai atasan, lalu setiap akhir bulan menerima slip gaji.</p>
<p>Petani, peternak, nelayan, perajin, atau orang yang mengelola usaha kecil sendiri tentu bekerja. Tetapi secara sosial, pekerjaan semacam itu sering belum mendapatkan kehormatan yang sama dengan kalimat:</p>
<p><b>“Anaknya sekarang sudah diterima kerja.”</b></p>
<p>Apalagi kalau orangnya sarjana.</p>
<p>Kita hampir tidak pernah menemukan spanduk di pinggir jalan bertuliskan:</p>
<p><b>“Selamat dan sukses kepada Abdul Butun, S.Pd.I., atas keberhasilannya memanen dua ton tomat.”</b></p>
<p>Padahal dua ton tomat itu nyata. Bisa ditimbang, bisa dijual, dan bisa memberi makan orang.</p>
<p>Sebaliknya, kita sangat akrab dengan:</p>
<p><b>“Selamat dan sukses kepada Ibnu Jahil, S.H.I., atas diterimanya sebagai pegawai di Mahkamah Agung.”</b></p>
<p>Yang satu menghasilkan dua ton tomat. Yang lainnya memperoleh meja kerja dan slip gaji.</p>
<p>Entah mengapa, dalam hierarki kebanggaan kita, yang kedua terdengar jauh lebih berhasil.</p>
<p>Dan barangkali pada pemandangan semacam inilah <i>anecdotal evidence</i> secara komunal telah berlaku.</p>
<p>Kita melihat anak tetangga lulus kuliah kemudian menjadi pegawai bank.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Anak Pak RT diterima sebagai ASN.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Keponakan Pakde bekerja di perusahaan besar dan setiap Lebaran pulang membawa mobil.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Cerita-cerita itu dikumpulkan oleh ingatan masyarakat, diceritakan kembali di warung, hajatan, teras rumah, grup WhatsApp keluarga, lalu perlahan berubah menjadi semacam kesimpulan bersama:</p>
<p><b>sekolah tinggi berarti pekerjaan formal; pekerjaan formal berarti kemapanan; kemapanan berarti keberhasilan.</b></p>
<p>Sementara cerita yang lain jarang memperoleh panggung serupa.</p>
<p>Anak petani yang berhasil menggandakan hasil panen tidak menjadi bahan pembicaraan sekampung. Peternak muda yang berhasil mengembangkan usahanya mungkin tetap disebut sekadar <i>ngingu wedhus</i>. Orang yang mengelola sawahnya sendiri tetap menjawab “tani” ketika ditanya pekerjaannya—kadang dengan intonasi yang hampir terdengar seperti permintaan maaf.</p>
<p>Dari contoh-contoh kecil yang berulang itulah persepsi sosial perlahan dibentuk.</p>
<p>Bukan berdasarkan penelitian panjang tentang pekerjaan mana yang paling produktif, bermanfaat atau sejahtera. Tetapi berdasarkan <b>kisah keberhasilan mana yang paling sering kita lihat, dengar, ceritakan, dan rayakan.</b></p>
<p>Maka spanduk ucapan selamat kepada Ibnu Jahil sebenarnya bukan sekadar ucapan selamat.</p>
<p>Ia juga papan pengumuman kecil mengenai <b>definisi keberhasilan yang berlaku di masyarakat.</b></p>
<p>Besok pagi anak-anak melewatinya dalam perjalanan menuju sekolah.</p>
<p>Dan tanpa perlu ada mata pelajaran bernama <i>Cara Meninggalkan Pertanian</i>, mereka perlahan belajar sendiri tentang masa depan macam apa yang pantas dicita-citakan.</p>
<p><b>Barangkali pendidikan yang paling efektif memang tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kadang-kadang ia tercetak pada spanduk ucapan selamat di pinggir jalan.</b></p>
<h2>Sarjana yang “Belum Bekerja”</h2>
<p>Dari sini kita bisa memahami sebuah ironi lain.</p>
<p>Seorang sarjana dapat berbulan-bulan menunggu lowongan yang dianggap sesuai dengan pendidikannya. Sementara ketika ada sawah di belakang rumah, ternak yang bisa dikembangkan atau usaha keluarga yang bisa diperbesar, kita tetap mengatakan:</p>
<p><b>“Kasihan, belum dapat pekerjaan.”</b></p>
<p>Mungkin ia memang belum memperoleh pekerjaan yang diinginkannya.</p>
<p>Tetapi bisa jadi persoalan lainnya adalah kita terlalu sempit menentukan <b>kegiatan ekonomi macam apa yang pantas disebut pekerjaan dan keberhasilan.</b></p>
<p>Ini tentu bukan alasan untuk mengatakan, “Sarjana nganggur ya suruh macul saja.”</p>
<p>Itu sama simplistisnya dengan anggapan bahwa sekolah tinggi otomatis menyelesaikan kemiskinan.</p>
<p>Bertani membutuhkan lahan, modal, keterampilan, akses pasar, kepastian harga, teknologi, dan berbagai hal yang tidak selesai hanya dengan menyerahkan cangkul kepada penganggur.</p>
<p>Masalahnya justru lebih dalam.</p>
<p>Anak petani disekolahkan agar tidak menjadi petani.</p>
<p>Ia sekolah tinggi.</p>
<p>Pekerjaan formal yang sesuai dengan imajinasi keberhasilannya terbatas.</p>
<p>Untuk kembali ke pertanian ia ragu, sebab sejak kecil pertanian ditempatkan sebagai kehidupan yang hendak ditinggalkan.</p>
<p>Lalu kita bertanya:</p>
<p><b>Mengapa anak muda sekarang tidak mau bertani?</b></p>
<p>Pertanyaan tentang regenerasi itu bukan sepenuhnya mengada-ada. Sensus Pertanian 2023 mencatat petani berusia 19–39 tahun sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari keseluruhan petani Indonesia.</p><p>___</p>
<h2>Pengetahuan Siapa yang Disebut Ilmu?</h2>
<p>Ada lapisan lain yang sering luput.</p>
<p>Mengoperasikan spreadsheet disebut keterampilan.</p>
<p>Membuat presentasi disebut kompetensi.</p>
<p>Membaca laporan disebut kemampuan analitis.</p>
<p>Sementara kemampuan seorang petani membaca perubahan warna daun, mengenali kondisi tanah, memahami air, memperkirakan datangnya hama, membaca musim, dan mengenali perilaku tanaman sering hanya disebut <b>pengalaman</b>.</p>
<p>Tentu pengalaman petani tidak selalu benar. Pengetahuan tradisional juga tidak perlu diromantisasi seolah-olah selalu lebih bijaksana daripada ilmu modern.</p>
<p>Tetapi kita patut bertanya:</p>
<p><b>Pengetahuan siapa yang memperoleh kehormatan untuk disebut ilmu?</b></p>
<p>Seharusnya pendidikan mempertemukan keduanya.</p>
<p>Anak petani pergi ke sekolah membawa pengalaman keluarganya, kemudian memperoleh pengetahuan baru untuk memperkuatnya. Bukan pulang dengan keyakinan bahwa dunia tempat bapaknya hidup adalah dunia yang harus ditinggalkan.</p>
<p>Sebab ketika itu terjadi, pendidikan bukan hanya memberikan pengetahuan baru.</p>
<p>Ia juga bisa <b>mencerabut</b>.</p>
<p>Bukan dengan tulisan besar dalam buku pelajaran berbunyi: <b>JANGAN MENJADI PETANI.</b></p>
<p>Pesannya jauh lebih halus.</p>
<p>Ia hadir melalui cita-cita yang kita puji, pekerjaan yang kita banggakan, ukuran kemapanan yang kita gunakan, cerita keberhasilan yang terus kita ulang, sampai wajah keluarga yang berseri-seri ketika anaknya diterima bekerja di kantor tetapi sedikit kebingungan ketika anak sarjananya memilih menggarap sawah.</p>
<p>Lalu beberapa puluh tahun kemudian kita sibuk membicarakan <b>regenerasi petani</b>.</p>
<h2>Kembali ke Blethokan</h2>
<p>Saya tidak sedang meromantisasi pertanian.</p>
<p>Sawah bukan tempat piknik. Ada pupuk, hama, cuaca, modal, harga panen, tenaga, kepemilikan lahan, dan berbagai persoalan yang membuat bertani memang bukan pekerjaan ringan.</p>
<p>Saya juga bukan petani sukses yang sedang mengajak semua sarjana meninggalkan kantor dan kembali ke desa.</p>
<p>Saya bahkan berada pada posisi yang lebih lucu.</p>
<p>Seperti saya katakan di awal, saya adalah mantan calon sarjana Tafsir Hadis yang terlempar ke <i>blethokan</i>. Bertani bagi saya sendiri lebih dekat kepada keterpaksaan daripada cita-cita.</p>
<p>Dan justru itulah kegelisahannya.</p>
<p>Saya lahir di negeri yang katanya agraris. Saya pernah menempuh pendidikan tinggi. Tetapi bahkan saya sendiri tidak pernah benar-benar dididik untuk membayangkan pertanian sebagai salah satu masa depan yang layak diperjuangkan.</p>
<p>Kita mengatakan <b>pendidikan adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan</b>.</p>
<p>Mungkin benar.</p>
<p>Tetapi bagi banyak anak desa, jangan-jangan kalimat itu selama puluhan tahun diterjemahkan secara tidak sadar menjadi:</p>
<p><b>“Sekolahlah setinggi-tingginya agar kelak kamu bisa keluar dari sawah.”</b></p>
<p>Anak-anak itu kemudian benar-benar pergi.</p>
<p>Sawah kehilangan generasi penerusnya.</p>
<p>Petaninya semakin tua.</p>
<p>Lalu kita membuat seminar, program, pelatihan, dan diskusi panjang tentang bagaimana menarik minat generasi muda agar kembali bertani.</p>
<p>Padahal mungkin pertanyaannya harus dimulai jauh sebelum itu:</p>
<p><b>Kalau Indonesia memang negeri agraris, mengapa ukuran keberhasilan pendidikan anak-anaknya justru sering ditandai oleh seberapa jauh mereka berhasil meninggalkan pertanian?</b></p>
<p>Saya belum menemukan jawabannya.</p>
<p><b>Saya masih di <i>blethokan</i>.</b></p>
Gambar hanya ilustrasi AI. Jika ada kesamaan hanya kebetulan belaka. Belakangan ini ramai sekali pidato KH Hasan Abdullah Sahal , pimpinan Pondok Mod…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSe5he0zXL16TzSEhIsKiqg74btzDuOQKBcf7jnO0a-lG7xAD3FGsjCD-pCtMk1Dv56oVlckyubb6hFrss_D_cVVKyeyzkaWoKelnHhAGC-c7snztCKKzAHyj2uaQrLMXoqjc0aMzmSLCcwgshGv7nBlwAEXNgju9dLbeus_40EN5C4c0Qp_CGt49Jvns/s800/Ilustrasi%20pidato%20kiai.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="450" data-original-width="800" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSe5he0zXL16TzSEhIsKiqg74btzDuOQKBcf7jnO0a-lG7xAD3FGsjCD-pCtMk1Dv56oVlckyubb6hFrss_D_cVVKyeyzkaWoKelnHhAGC-c7snztCKKzAHyj2uaQrLMXoqjc0aMzmSLCcwgshGv7nBlwAEXNgju9dLbeus_40EN5C4c0Qp_CGt49Jvns/s1600-rw/Ilustrasi%20pidato%20kiai.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Gambar hanya ilustrasi AI. Jika ada kesamaan hanya kebetulan belaka.</td></tr></tbody></table><br /><p>Belakangan ini ramai sekali pidato <b>KH Hasan Abdullah Sahal</b>, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, di hadapan Prabowo. Banyak orang memuji keberanian beliau karena dianggap berani berbicara terang-terangan, menyampaikan nasihat di depan presiden tanpa terlihat <i>ewuh pakewuh</i>.</p>
<p>Ramainya bukan main. Beranda media sosial saya sampai dipenuhi potongan video, kutipan, pujian, dan status orang-orang yang mendadak seperti baru menemukan definisi tentang bagaimana seharusnya seorang kiai berdiri di hadapan kekuasaan.</p>
<p>Saya sendiri sangat menyukai pidato <b>Kiai Hasan</b>. Dalam perkara ini, saya mungkin tidak berbeda dengan kebanyakan orang yang membagikan video tersebut.</p>
<p>Pidato itu memang disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, 19 September 2026, yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Salah satu bagian yang kemudian ramai dibicarakan adalah ketika Kiai Hasan mempersilakan dirinya diprotes, dikritik, bahkan didemo apabila makanan, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggalnya melebihi para santri.</p>
<p>Belum lagi cerita mengenai kesederhanaan hidup beliau. Pimpinan salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia itu dikenal menjalani kehidupan yang sederhana. Maka lengkap sudah kekaguman publik: berani di hadapan kekuasaan, sekaligus tidak silau oleh kemewahan.</p>
<p>Sampai di sini, tidak ada masalah.</p>
<p>Masalah mulai muncul ketika kekaguman kepada Kiai Hasan perlahan berubah menjadi alat pemukul untuk kiai-kiai lain.</p>
<p><i>"Begini seharusnya kiai."</i></p>
<p><i>"Berani menasihati penguasa."</i></p>
<p><i>"Tidak silau harta dan jabatan."</i></p>
<p>Lalu mulailah muncul perbandingan. Ada yang menyindir kiai dari pesantren lain. Ada yang membawa-bawa kiai NU. Ada yang mempertentangkan kesederhanaan Kiai Hasan dengan beberapa kiai yang dianggap hidup bermewah-mewahan.</p>
<p>Seolah-olah setelah video itu viral, seluruh kiai di Indonesia mendadak harus mengikuti ujian kompetensi dengan Kiai Hasan sebagai kisi-kisinya.</p>
<p>Padahal ada satu persoalan sederhana yang sering kita lupakan:</p>
<p><b></b></p><blockquote><b>Banyak juga kiai NU yang sederhana. Banyak pula yang berani. Cuma mungkin mereka belum pernah kebagian kesempatan bertemu Presiden Prabowo.</b></blockquote><p></p>
<h2>Ketika Kekaguman Menjadi Kacamata</h2>
<p>Dalam psikologi ada istilah <i>halo effect</i>. Sederhananya, ketika kita menemukan satu sifat positif yang sangat menonjol pada seseorang, kesan positif tersebut dapat memengaruhi penilaian kita terhadap sifat-sifat lainnya.</p>
<p>Kiai Hasan tampil sederhana. Beliau berbicara lugas. Di depannya kebetulan duduk orang nomor satu di republik ini. Kombinasi ketiganya memang dahsyat.</p>
<p>Lalu otak kita bekerja cepat.</p>
<p>Sederhana berarti baik.</p>
<p>Berani bicara di depan presiden berarti independen.</p>
<p>Tidak bermewah-mewahan berarti tidak dekat dengan kepentingan.</p>
<p>Sebagian kesimpulan itu mungkin benar. Tetapi masalahnya muncul ketika kesan tersebut tidak lagi digunakan untuk mengagumi Kiai Hasan, melainkan dipakai sebagai penggaris untuk mengukur semua kiai lain.</p>
<p>Kiai Hasan sederhana, maka kiai yang rumahnya bagus mulai dicurigai.</p>
<p>Kiai Hasan berani bicara di depan presiden, maka kiai yang tidak pernah kita lihat melakukan hal serupa dianggap tidak berani.</p>
<p>Padahal bisa jadi persoalannya jauh lebih sederhana:</p>
<p><b>Presidennya memang belum pernah mampir.</b></p>
<h2>Moral Benchmark Syndrome</h2>
<p>Di sinilah saya kira kita sedang terkena penyakit yang untuk sementara boleh kita beri nama <b>Moral Benchmark Syndrome.</b></p>
<p>Ini tentu bukan istilah psikologi. Jangan dicari di jurnal ilmiah. Apalagi dibawa konsultasi ke dokter.</p>
<p>Gejalanya adalah kecenderungan menganggap orang yang kebetulan memperoleh panggung untuk menunjukkan suatu kualitas sebagai satu-satunya orang yang memiliki kualitas tersebut.</p>
<p>Kita melihat seorang kiai berani berbicara di hadapan presiden, lalu lupa bahwa ada banyak bentuk keberanian yang tidak direkam kamera.</p>
<p>Ada kiai yang mungkin tidak pernah bertemu presiden, tetapi berani berhadapan dengan kepala desa ketika tanah warga bermasalah.</p>
<p>Ada yang berani menegur pejabat kabupaten.</p>
<p>Ada yang mendampingi petani.</p>
<p>Ada yang menolak proyek yang dianggap merugikan masyarakat.</p>
<p>Ada pula yang mungkin sepanjang hidupnya tidak pernah masuk televisi, tetapi tetap hidup sederhana bersama jamaahnya.</p>
<p>Apakah semuanya ada? Tentu perlu dilihat satu per satu. Justru itu pokok persoalannya: <b>jangan menyimpulkan keadaan ribuan kiai hanya dari siapa yang kebetulan sedang viral.</b></p>
<p>Media sosial memang punya kebiasaan aneh. Ia membuat yang terlihat terasa seperti satu-satunya yang ada.</p>
<p>Yang tidak masuk kamera dianggap tidak melakukan apa-apa.</p>
<p>Yang tidak viral dianggap diam.</p>
<p>Yang tidak berfoto dengan pejabat dianggap tidak pernah bertemu pejabat.</p>
<p>Dan yang kebetulan tidak pernah memperoleh kesempatan menasihati presiden di depan umum akhirnya dianggap tidak berani menasihati presiden.</p>
<p>Lha presidennya saja belum pernah ketemu.</p>
<p><i>Mau dinasihati lewat apa? Kolom komentar Instagram?</i></p>
<h2>Dari Mengagumi Menjadi Menghakimi</h2>
<p>Ada kekeliruan lain yang lebih menggelitik.</p>
<p>Kita sering tidak puas hanya dengan mengagumi seseorang. Kekaguman terasa kurang lengkap kalau belum digunakan untuk merendahkan orang lain.</p>
<p>Kita tidak cukup berkata:</p>
<p><i>"Kiai Hasan sederhana."</i></p>
<p>Harus ditambah:</p>
<p><i>"Tidak seperti kiai anu."</i></p>
<p>Tidak cukup berkata:</p>
<p><i>"Kiai Hasan berani."</i></p>
<p>Harus diteruskan:</p>
<p><i>"Coba kiai-kiai yang lain seperti beliau."</i></p>
<p>Akhirnya pujian membutuhkan korban.</p>
<p>Padahal keutamaan seseorang tidak otomatis membuktikan keburukan orang lain.</p>
<p>Kalau tetangga saya rajin salat malam, itu merupakan kebaikan tetangga saya. Tidak otomatis membuktikan bahwa saya setiap malam mabuk.</p>
<p>Logikanya tidak sampai ke sana.</p>
<p>Begitu pula kesederhanaan Kiai Hasan tidak otomatis menjadi bukti bahwa kiai pesantren lain hidup bermewah-mewahan. Dan keberanian beliau berbicara di depan Presiden Prabowo tidak otomatis membuktikan bahwa kiai lain takut kepada kekuasaan.</p>
<p>Kalau memang ada kiai yang hidup berlebihan, kritiklah berdasarkan kenyataan hidupnya.</p>
<p>Kalau ada kiai yang menjilat kekuasaan, kritiklah berdasarkan ucapan dan tindakannya.</p>
<p>Kalau ada yang menggunakan umat sebagai tangga menuju jabatan, ya silakan dibicarakan berdasarkan bukti.</p>
<p>Tetapi jangan menjadikan satu orang baik sebagai bukti bahwa semua orang yang tidak menyerupainya pasti buruk.</p>
<p>Itu bukan kritik.</p>
<p><b>Itu kemalasan berpikir yang kebetulan memakai peci.</b></p>
<h2>Kiai NU Juga Tidak Dicetak Satu Pabrik</h2>
<p>Terlebih ketika perbandingan mulai diarahkan kepada <i>"kiai NU"</i>.</p>
<p>Istilah ini sendiri sudah sangat luas.</p>
<p>Ada kiai pesantren besar, ada kiai kampung. Ada yang mengasuh ribuan santri, ada yang santrinya tiga puluh orang. Ada yang dekat dengan pejabat, ada yang jangankan bertemu presiden, ketemu camat saja mungkin setahun sekali ketika acara Agustusan.</p>
<p>Ada yang berkecukupan. Ada yang rumahnya sederhana. Ada yang vokal. Ada yang memilih berbicara melalui pengajian. Ada yang bergerak mendampingi masyarakat tanpa pernah masuk berita.</p>
<p>Menyimpulkan semuanya dengan kalimat <i>"kiai NU begini"</i> atau <i>"kiai NU begitu"</i> sama saja seperti melihat satu pengendara Supra menerobos lampu merah lalu menyimpulkan bahwa seluruh pemilik Honda Supra tidak mengenal rambu lalu lintas.</p>
<p>Motornya sama. Kelakuan pengendaranya belum tentu.</p>
<p>Begitu pula organisasi, pesantren, atau tradisi keagamaan tidak otomatis membuat semua orang di dalamnya memiliki watak yang sama.</p>
<p>Karena itu, membandingkan seorang Kiai Hasan yang konkret dengan sebuah kelompok besar bernama <i>"kiai NU"</i> sejak awal memang tidak seimbang.</p>
<p>Yang satu orang.</p>
<p>Yang satunya entah berapa ribu.</p>
<h2>Tetap Kagum, Tidak Perlu Mendadak Goblok</h2>
<p>Kita tetap boleh—bahkan layak—mengagumi KH Hasan Abdullah Sahal.</p>
<p>Pidatonya menarik. Sikapnya mengenai kesederhanaan pemimpin layak direnungkan. Keberaniannya menyampaikan prinsip tersebut di sebuah acara yang dihadiri Presiden Republik Indonesia juga merupakan peristiwa publik yang wajar mendapat perhatian.</p>
<p>Tetapi kekaguman seharusnya membuat pikiran kita semakin jernih, bukan malah kehilangan kemampuan membedakan.</p>
<p>Kita bisa berkata Kiai Hasan sederhana tanpa harus menuduh semua kiai lain bermewah-mewahan.</p>
<p>Kita bisa menghargai keberaniannya tanpa harus menganggap orang yang tidak muncul dalam video itu pengecut.</p>
<p>Kita juga bisa mengkritik kiai, pesantren, NU, Gontor, pejabat, bahkan presiden sekalipun berdasarkan tindakan konkret mereka masing-masing—bukan berdasarkan perbandingan yang kita bangun dari potongan video yang sedang viral.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, mungkin persoalan kita bukan kekurangan teladan.</p>
<p>Kita justru sering terlalu cepat menemukan teladan, terlalu cepat mengangkatnya menjadi standar universal, lalu terlalu bersemangat menggunakannya untuk memukul kepala orang lain.</p>
<p>Kiai Hasan tidak salah.</p>
<p>Pidatonya juga tidak salah.</p>
<p>Yang kadang agak bermasalah adalah kita: <b>baru beberapa menit kagum kepada kebijaksanaan seorang kiai, sudah menggunakan kekaguman itu dengan cara yang tidak begitu bijaksana.</b></p>
<p>Dan kalau besok muncul video kiai lain yang lebih viral, entah siapa lagi yang akan kita pukul dengannya.</p>
<p>Begitulah algoritma bekerja.</p>
<p><b>Hari ini kita mendapat teladan. Besok kita mencari korban perbandingan.</b></p><p></p><p></p>