Pemuda lingkungan kami sedang membuat lubang pemakaman yang di kampung kami disebut ruwat . Sebagian bekerja keras menggali tanah. Sebagian lagi, seb…
Pinned Post
All stories
Ilustrasi Buku Islam ala Proboro terbit dan berhasil mengguncang dunia persosialmediaan. Seperti umumnya kegaduhan di media sosial, sebagian orang m…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZZ6mHY2FrnYYI_Zw6V8DDK95Q_3f_e5AzzMUc4fzhCyVqQJz77YwET1GPuDDS9dihpg-kBYLs025yIyVU17j9TehtMRxfACKgEqM3XNFcevxYbBRBABhyphenhyphen-pw03Gr6Tl79rXx3xVviKEZJoiRfNmnSxq9OzscCyMGxt0PPwVYi3op8Ja0rxEuFnYtAT_o/s640/image1789021370" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZZ6mHY2FrnYYI_Zw6V8DDK95Q_3f_e5AzzMUc4fzhCyVqQJz77YwET1GPuDDS9dihpg-kBYLs025yIyVU17j9TehtMRxfACKgEqM3XNFcevxYbBRBABhyphenhyphen-pw03Gr6Tl79rXx3xVviKEZJoiRfNmnSxq9OzscCyMGxt0PPwVYi3op8Ja0rxEuFnYtAT_o/s1600-rw/image1789021370" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi</td></tr></tbody></table><p>Buku <i>Islam ala Proboro </i>terbit dan berhasil mengguncang dunia persosialmediaan. Seperti umumnya kegaduhan di media sosial, sebagian orang membela dan sibuk menafsirkan maksud buku tersebut. Meskipun saya punya kecurigaan kecil: jangan-jangan sebagian yang paling semangat menafsirkan itu juga belum selesai membacanya. Orang-orang yang jahat mulutnya bahkan menyebut mereka sebagai <i>tukang cebok rezim</i>. Saya tentu tidak ikut-ikutan. Saya hanya mengutip. 😁</p>
<p>Sebagian lainnya mengambil posisi sebaliknya. Mengkritik, mengecam, bahkan menghujat.</p>
<p>Lantas, apa hubungannya buku tersebut dengan judul tulisan ini?</p>
<p>Ya, sebenarnya tidak ada.</p>
<p>Saya hanya asal memberi judul.</p>
<h2>NU yang Terlalu Tenang?</h2>
<p>Tapi begini. Dalam kegaduhan buku itu, ada beberapa nama tokoh NU yang boleh dikatakan tidak sembarangan ikut dicatut. Ada Buya Said Aqil Siradj, ada Gus Kautsar. Nama-nama yang di kalangan warga NU tentu memiliki bobot tersendiri. Tetapi sejauh yang saya amati, NU sebagai organisasi kok tampak tenang-tenang saja.</p>
<p><b>Ah, mungkin NU memang pendiam.</b></p>
<p>Dan setelah dipikir-pikir, bukan hanya soal buku. Dalam banyak persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan jamaahnya pun, NU kadang terasa sangat tenang. Petani kesulitan pupuk, guru madrasah bertahun-tahun bergaji seadanya, buruh kehilangan pekerjaan, warga kecil berhadapan dengan kebijakan yang tidak adil, biaya pendidikan semakin berat. Padahal kalau mau dicari siapa orang-orang yang berada di lapisan bawah itu, bisa jadi sebagian besar adalah warga NU sendiri.</p>
<p>Mereka ikut tahlilan. Yasinan. Istighotsah. Menghadiri haul. Memasang bendera NU ketika hari besar tiba. Kalau ada pengajian, mereka datang membawa tikar sendiri.</p>
<p>Dan sebenarnya <b>kurang banyak apa orang-orang NU di pemerintahan?</b></p>
<p>Orang NU bukan sedang berdiri di luar pagar kekuasaan sambil mengintip dari sela-sela bambu. Mereka ada di dalam. Bahkan beberapa urusan yang bersentuhan langsung dengan kesejahteraan rakyat kebetulan juga pernah dan sedang dipegang oleh orang-orang yang berlatar belakang NU. Artinya, akses untuk sekadar menyampaikan kegelisahan <i>wong cilik</i> mestinya tidak terlalu jauh.</p>
<p>Tetapi entah mengapa, seperti banyak kejadian di seantero negeri ini, rakyat jelata sering tetap mendapatkan posisi yang sama: <b>menjadi alas tempat kekuasaan berdiri. Ya...termasuk menjadi alasnya elit PBNU yang berhasil jadi menteri.</b></p>
<p>Dan kritik ini tentu tidak hanya pantas diarahkan kepada pemerintah. Elite PBNU pun layak sesekali mendapat pertanyaan yang sama—tentu tidak semuanya. Ketika hubungan dengan kekuasaan begitu dekat, apakah kedekatan itu sedang dipakai untuk membawa suara jamaah masuk ke ruang kekuasaan, atau <b>jangan-jangan jamaahlah yang justru dipakai untuk memperbesar daya tawar di hadapan kekuasaan?</b></p>
<p>Pertanyaan itu mungkin kurang <i>ta’dzim</i>.</p>
<p>Tapi nanti dulu.</p>
<p>Kita, atau mungkin hanya saya saja, sejak kecil memang diajari tiga perkara penting: <i>tawadhu’, ta’dzim, sami’na wa atha’na</i>.</p>
<p>Semuanya ajaran yang indah.</p>
<p><i>Tawadhu’</i> mengajarkan agar manusia tidak merasa paling tinggi. <i>Ta’dzim</i> mengajarkan penghormatan kepada guru, kiai, dan orang berilmu. Sedangkan <i>sami’na wa atha’na</i> mengajarkan ketaatan kepada perkara yang baik.</p>
<p>Persoalannya muncul ketika tiga nilai luhur itu dibawa terlalu jauh ke ruang sosial dan kekuasaan.</p>
<p><i>Tawadhu’</i> perlahan diterjemahkan menjadi jangan terlalu banyak bertanya. <i>Ta’dzim</i> berubah menjadi jangan mengkritik tokoh. Sedangkan <i>sami’na wa atha’na</i> kadang disederhanakan menjadi satu kata yang sangat kita kenal: <b>manut</b>.</p>
<p>Kalau masih nekat bertanya, ada tingkatan peringatan berikutnya: <i>ora becik, ora ilok, ora patut</i>. Kalau kritiknya agak keras: <i>su’ul adab</i>. Kalau masih ngeyel juga, senjata pamungkas akhirnya dikeluarkan:</p>
<p><b>“Mengko kuwalat.”</b></p>
<p>Selesai sudah diskusi. Bahkan Habermas mungkin akan memilih pulang. 😁</p>
<p>Padahal <i>tawadhu’</i> tidak pernah berarti kehilangan keberanian bertanya. <i>Ta’dzim</i> tidak berarti mematikan akal. Dan <i>sami’na wa atha’na</i> tentu tidak dimaksudkan agar kita <b>sami’na kepada penderitaan rakyat, lalu atha’na kepada siapa saja yang sedang berkuasa.</b></p>
<h2>NU Lahir Bukan dari Orang-Orang yang Diam</h2>
<p>NU sendiri lahir bukan dari orang-orang yang diam.</p>
<p>Para muassis mendirikan organisasi karena melihat sesuatu yang perlu dijaga, diperjuangkan, dan dibela. Mereka bergerak karena keadaan memang menuntut gerakan. Maka agak ganjil kalau kemudian kita mewarisi organisasi dari orang-orang yang berani bergerak, tetapi perlahan membangun kebudayaan yang membuat warganya takut bersuara.</p>
<p>Tentu tidak adil mengatakan NU tidak berbuat apa-apa.</p><blockquote><p>Di bawah sana banyak kiai, guru, aktivis, Banser, Fatayat, Muslimat, Ansor, dan warga biasa yang bekerja tanpa kamera. Mereka mendampingi masyarakat, mengurus pendidikan, membantu tetangga, bahkan sering mengeluarkan uang sendiri.</p></blockquote>
<p>Yang patut ditanyakan justru sesuatu yang lain: <b>ketika persoalan rakyat berhadapan dengan kekuasaan, seberapa lantang suara kelembagaan kita terdengar?</b></p>
<p>Sebab kalau NU mengaku sebagai rumah besar umat, pertanyaannya bukan cuma siapa yang duduk di ruang tamunya, tetapi apakah tangisan orang-orang di dapurnya masih terdengar sampai ke ruang depan.</p>
<p>Jangan sampai warga kecil hanya terasa menjadi NU ketika dibutuhkan untuk memenuhi lapangan, meramaikan acara, mengibarkan bendera, dan menghitung besarnya jumlah jamaah. Tetapi ketika sawahnya bermasalah, pekerjaannya hilang, sekolah anaknya mahal, atau hidupnya terjepit kebijakan, kita meminta mereka kembali kepada tiga ajaran tadi:</p>
<p><i>Tawadhu’.</i></p>
<p><i>Ta’dzim.</i></p>
<p><i>Sami’na wa atha’na.</i></p>
<p>Mungkin saya memang salah memahami semuanya.</p>
<p>Barangkali menjadi NU memang harus pendiam.</p>
<p>Tetapi kalau benar begitu, saya cuma penasaran satu hal: <b>untuk apa organisasi sebesar ini mempunyai begitu banyak pengurus, kalau yang paling rajin bersuara justru spanduk ucapan selamat?</b></p>
Ilustrasi Saya selalu curiga kepada kalimat “Tuhan telah mati.” Bukan karena hendak membantah Nietzsche, tetapi karena ada satu persoalan yang ter…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUkobKhrezCnpyAxLGcaoXbbqCUTLj5jS-p2auWDuazPBTQbRILOoAXhh65EhXz4ldEiMC5Ldd-V79Rfj4q_U_BCVn84GzQ_LHenr-gEEej5X72LgLXcOkIEG8pVOliyR6ki3zfcF6S6FgUVNNNR4l78_Mf_SMTDzx0wEl8oZ0WSusrwswygcmq9SaD40/s640/Burdah%20dan%20Nietsche_Resz.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUkobKhrezCnpyAxLGcaoXbbqCUTLj5jS-p2auWDuazPBTQbRILOoAXhh65EhXz4ldEiMC5Ldd-V79Rfj4q_U_BCVn84GzQ_LHenr-gEEej5X72LgLXcOkIEG8pVOliyR6ki3zfcF6S6FgUVNNNR4l78_Mf_SMTDzx0wEl8oZ0WSusrwswygcmq9SaD40/s1600-rw/Burdah%20dan%20Nietsche_Resz.jpg" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi</td></tr></tbody></table><p>Saya selalu curiga kepada kalimat <i>“Tuhan telah mati.”</i> Bukan karena hendak membantah Nietzsche, tetapi karena ada satu persoalan yang terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: <b>bagaimana kalau setelah Tuhan kita bunuh, yang naik takhta justru hawa nafsu kita sendiri?</b></p>
<p>Sebab manusia tampaknya tidak pernah benar-benar nyaman hidup tanpa tuan. Ketika satu otoritas disingkirkan, sering kali kita hanya mencari penggantinya. Tuhan mungkin kita usir dari pusat kesadaran, tetapi kemudian ego mengambil tempat-Nya. Hasrat menggantikannya. Uang menjadi tuhan kecil. Kekuasaan menjadi sesembahan baru. Bahkan algoritma media sosial perlahan belajar menjadi penguasa atas perhatian kita.</p>
<p>Di sinilah saya teringat pada sebuah ironi: <b>saat pemilik kalimat “Tuhan telah mati” berqosidah Burdah.</b></p>
<p>Sepintas, keduanya seperti tidak mungkin dipertemukan. Di satu sisi ada Friedrich Nietzsche, filsuf yang mengguncang fondasi moralitas keagamaan dengan pernyataan terkenalnya tentang kematian Tuhan. Di sisi lain ada Imam Al-Bushiri, penyair yang menulis <i>Qasidah Burdah</i>, sebuah karya yang penuh cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.</p>
<p>Jika keduanya dipertemukan sebagai perdebatan teologi, barangkali tidak akan pernah selesai. Nietzsche akan mencurigai agama sebagai sesuatu yang berpotensi menjadikan manusia tunduk pada nilai yang diwariskan dan membatasi daya hidupnya. Al-Bushiri, dari horizon spiritualnya, tentu melihat manusia yang kehilangan Tuhan sebagai jiwa yang kehilangan arah dan tambatan cinta.</p>
<p>Tetapi mari kita tinggalkan sebentar pertengkaran dogmatis itu. Kita masuk ke sebuah lorong yang lebih sunyi: <b>lorong jiwa manusia.</b></p>
<p>Di sana, tiba-tiba sebuah bait Burdah terdengar sangat relevan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: large;">وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى</span></p><p style="text-align: right;"><span style="font-size: large;">حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ</span></p><p><i>“Wa an-nafsu kal-thifli in tuh milhu syabba ‘ala<br />
hubbi ar-radha’i wa in taftimhu yanfaṭimi.”</i></p>
<p>Nafsu itu seperti anak kecil. Jika engkau biarkan, ia akan terus mencintai susu. Tetapi jika engkau menyapihnya, ia pun akan berhenti menyusu.</p>
<p>Al-Bushiri menggunakan metafora yang sederhana, tetapi sangat dalam. Bayi tidak memiliki kemampuan untuk mengatakan, “Aku sudah cukup.” Ia hanya mengenal keinginan dan pemuasan. Haus, menangis. Diberi susu, diam. Lapar, meminta lagi.</p>
<p>Masalahnya muncul ketika pola itu dibawa sampai dewasa.</p>
<p>Manusia yang selalu menuruti keinginannya mungkin bertambah umur, tetapi belum tentu bertambah dewasa. Tubuhnya dewasa, pengetahuannya bertambah, rekeningnya mungkin membesar, tetapi mekanisme jiwanya masih seperti bayi: <i>ingin, lalu harus mendapatkan.</i></p>
<p>Karena itu, bagi Al-Bushiri, nafsu tidak cukup dibiarkan tumbuh. Ia perlu disapih.</p>
<p>Dan bukankah dunia modern justru bekerja dengan cara sebaliknya?</p>
<p>Kita terus diberi “susu”. Iklan menawarkan sesuatu yang belum kita butuhkan. Media sosial memberikan rangsangan yang tidak pernah selesai. Algoritma mempelajari apa yang membuat kita bertahan lebih lama di depan layar. Pasar mengubah keinginan menjadi kebutuhan, lalu kebutuhan menjadi identitas.</p>
<p>Kita merasa sedang memilih dengan bebas. Padahal jangan-jangan kita hanya sedang <b>memilih dari daftar keinginan yang telah dibuatkan orang lain.</b></p>
<p>Di titik inilah Nietzsche dan Al-Bushiri, meskipun tidak pernah benar-benar berjalan menuju tujuan yang sama, dapat berpapasan.</p>
<p>Nietzsche tidak mengajarkan kebebasan sebagai sekadar menuruti semua keinginan. Justru manusia yang selalu bereaksi terhadap dorongan sesaat bukanlah manusia yang telah selesai dengan dirinya. Dalam gagasan <i>Selbstüberwindung</i>, manusia dituntut untuk melampaui dirinya sendiri, mengolah kekuatan dan dorongan dalam dirinya, bukan sekadar menjadi budaknya.</p>
<p>Sementara dalam tradisi Islam, disiplin terhadap nafsu dikenal melalui <i>mujahadah</i> dan <i>riyadhatun nafs</i>. Nafsu tidak harus dimusnahkan, tetapi harus dididik agar tidak mengambil alih singgasana jiwa.</p>
<p><b>Di sini keduanya bertemu pada satu perkara: kebebasan bukan berarti melakukan segala sesuatu yang kita inginkan.</b></p>
<p>Justru ada bentuk perbudakan yang paling halus: ketika kita merasa bebas karena dapat mengikuti semua keinginan kita.</p>
<p>Tetapi setelah itu, jalan Nietzsche dan Al-Bushiri kembali berpisah.</p>
<p>Nietzsche membawa pengatasan diri menuju otonomi manusia: keberanian untuk berdiri sendiri, menciptakan nilai, dan tidak menggantungkan keberadaan pada otoritas transenden. Al-Bushiri membawa penyapihan nafsu menuju penyucian jiwa, mahabbah, dan penyerahan diri kepada Allah.</p>
<p><b>Nietzsche menyapih manusia agar ia mampu berdiri tanpa penopang transenden. Al-Bushiri menyapih manusia agar ia mampu berdiri di hadapan Yang Transenden.</b></p>
<p>Jalannya bersinggungan, tetapi tujuan akhirnya berbeda.</p>
<p>Maka mungkin Zarathustra tidak perlu berdebat ketika mendengar Burdah. Ia cukup duduk sebentar dan mendengarkan bait <i>“an-nafsu kal-thifli...”</i> Barangkali ia tidak ikut bershalawat. Barangkali ia tetap menolak seluruh bangunan metafisika yang dibawa Al-Bushiri.</p>
<p>Tetapi ia mungkin akan memahami satu hal: <b>manusia tidak menjadi merdeka hanya karena berhasil membebaskan dirinya dari Tuhan.</b></p>
<p>Ia masih harus membebaskan dirinya dari keserakahan, ego, ketakutan, kebutuhan akan pengakuan, dan keinginan yang tidak pernah selesai.</p>
<p>Sebab bisa jadi setelah satu tuan kita singkirkan, kita hanya sedang mempersiapkan singgasana untuk tuan yang lain.</p>
<p>Dan mungkin pertanyaan paling penting dari kalimat <i>“Tuhan telah mati”</i> bukanlah apakah Tuhan benar-benar mati atau tidak.</p>
<p>Pertanyaannya jauh lebih mengganggu:</p>
<p><b>Jika Tuhan kita anggap telah mati, siapa yang sekarang menjadi tuan di dalam diri kita?</b></p>
<p>Al-Bushiri mungkin telah memberi jawabannya berabad-abad lalu, melalui gambaran seorang bayi yang tidak pernah mau berhenti menyusu.</p>
<p><i>Nafsu itu seperti anak kecil.</i></p>
<p>Dan barangkali sebagian dari kita memang sudah dewasa secara usia, tetapi belum pernah benar-benar disapih.</p><p>Barangkali pula Nietzsche benar bahwa manusia modern telah membunuh Tuhan—setidaknya dalam kesadarannya. Tetapi Al-Bushiri mengajukan persoalan yang mungkin lebih merepotkan: setelah Tuhan diturunkan dari singgasana, siapa yang kita dudukkan di sana?</p><p>Akal? Kebebasan? Kekuasaan? Uang? Algoritma? Atau nafsu kita sendiri?</p><p>Sebab membunuh Tuhan ternyata belum tentu membuat manusia merdeka. Bisa jadi kita hanya mengganti tuan.</p><p>Dan ketika Burdah sampai pada bait “an-nafsu kal-thifli”, barangkali Zarathustra perlu diam sebentar.</p><p>Bukan karena Tuhan tiba-tiba hidup kembali dalam filsafatnya, tetapi karena ia menemukan seorang bayi dalam dirinya yang ternyata belum selesai disapih.</p>
“Jika ada tumbuhan seperti padi berdiri kokoh seperti padi, meskipun lebih subur dari padi, tetapi tidak berdiri di barisan padi, maka dipastikan itu…
<p></p><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOmC4iRv-phtTZDvm3XY_SVM-Is6CN37Uk8L-SBI0IUe7n_iS_f7pi2zCKiCJeP9KrOeaNnr04FlrTkA4taZG4PiWWP4G_fAlfu5GXhUDA4NUGQBaqZwFWhbx2un1o3JQxKVrkI7x98Gclp4ciFseOU1i12w0A811peDbxUwvIPslebgA2nLgC_NvOO6o/s640/Jawan_Resz.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="427" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOmC4iRv-phtTZDvm3XY_SVM-Is6CN37Uk8L-SBI0IUe7n_iS_f7pi2zCKiCJeP9KrOeaNnr04FlrTkA4taZG4PiWWP4G_fAlfu5GXhUDA4NUGQBaqZwFWhbx2un1o3JQxKVrkI7x98Gclp4ciFseOU1i12w0A811peDbxUwvIPslebgA2nLgC_NvOO6o/s1600-rw/Jawan_Resz.jpg" /></a></div><p></p><blockquote><b>“Jika ada tumbuhan seperti padi berdiri kokoh seperti padi, meskipun lebih subur dari padi, tetapi tidak berdiri di barisan padi, maka dipastikan itu bukanlah padi. Tapi ini bukan hanya soal padi.”</b></blockquote><p></p>
<p>Kalimat itu muncul begitu saja ketika saya sedang berdiri di pematang sawah. Tidak ada buku filsafat di tangan, tidak sedang membaca teori sosial, apalagi sengaja mencari bahan tulisan. Hanya melihat padi yang berjajar rapi, lalu entah bagaimana pikiran berjalan sendiri.</p>
<p>Padi ditanam dengan jarak tertentu, tumbuh dalam petak yang sudah ditentukan, mendapatkan air dan pupuk yang diatur, lalu kelak dipanen bersama-sama. Semuanya tampak biasa. Tetapi kemudian muncul pertanyaan: bagaimana kalau ada satu tumbuhan yang bentuknya seperti padi, berdiri kokoh seperti padi, bahkan tumbuh jauh lebih subur daripada padi di sekitarnya, tetapi posisinya melenceng dari barisan? Apakah ia masih padi?</p>
<p>Secara biologis tentu saja. Tetapi dalam logika sawah, jawabannya bisa berbeda. Ia mungkin justru akan dicabut, disiangi, atau dianggap gulma. Bukan karena ia tidak subur. Bukan karena ia tidak berguna. Dosanya cuma satu: <b>ia tumbuh di luar barisan.</b></p>
<h2>Barisan Padi dan Cara Kita Menentukan yang Normal</h2>
<p>Barisan padi sebenarnya bukan sesuatu yang dibuat oleh padi. Padi tidak pernah bermusyawarah untuk menentukan jarak tanam, membuat garis, atau menetapkan batas petak. Manusialah yang membuat semuanya. Kita menentukan jaraknya, mengatur petaknya, memilih tanaman mana yang dipelihara dan mana yang harus dicabut. Setelah semuanya tertata, kita kemudian terbiasa menganggap keteraturan itu sebagai sesuatu yang alamiah.</p>
<p>Yang berdiri di dalam barisan adalah padi. Yang tumbuh di luar barisan mulai dicurigai sebagai gulma.</p>
<p>Sederhana.</p>
<p>Mungkin terlalu sederhana.</p>
<p>Sebab pola seperti itu ternyata tidak hanya berlaku di sawah. Masyarakat juga punya “barisan” sendiri. Ada standar tentang bagaimana seseorang seharusnya sekolah, bekerja, menikah, memiliki rumah, mempunyai anak, membangun karier, bahkan menikmati hidup.</p>
<p>Tanpa sadar, kita hidup dalam berbagai <b>standar sosial</b> yang sudah tersedia jauh sebelum kita lahir.</p>
<h2>Standar Kesuksesan dan Tekanan Sosial</h2>
<p>Kita mengenal jalurnya sejak kecil: sekolah, lulus, kuliah, mencari pekerjaan, mendapatkan pekerjaan tetap, menikah, punya rumah, membeli kendaraan, kemudian mencicilnya. Jalurnya sudah tersedia. Selama seseorang berjalan mengikuti garis tersebut, lingkungan biasanya akan mengangguk setuju.</p>
<p>Ia dianggap normal.</p>
<p>Ia dianggap berhasil.</p>
<p>Ia dianggap menjalani hidup dengan benar.</p>
<p>Tidak terlalu penting apakah orang yang berdiri di barisan itu sebenarnya bahagia atau tidak. Ia bisa saja setiap pagi bangun dengan perasaan berat, bekerja hanya karena takut kehilangan penghasilan, pulang dalam keadaan lelah, lalu menghabiskan akhir pekan untuk memulihkan tenaga sebelum kembali bekerja. Secara sosial, ia tetap terlihat seperti tanaman yang tumbuh sehat.</p>
<p>Sebab ia berada di barisan.</p>
<p>Di sinilah <b>tekanan sosial</b> bekerja dengan cara yang sering kali tidak terasa seperti tekanan. Tidak ada orang yang memaksa secara langsung. Tidak ada polisi yang datang membawa surat perintah. Tetapi ada pertanyaan-pertanyaan kecil yang terus berulang: “Kapan menikah?”, “Kapan punya rumah?”, “Kapan punya anak?”, “Kapan punya pekerjaan tetap?”</p>
<p>Pertanyaan itu tampak sederhana. Tetapi jika datang terus-menerus, ia bisa berubah menjadi semacam garis tancap yang mengarahkan seseorang ke jalur tertentu.</p>
<h2>Ketika Orang yang Berbeda Dianggap Aneh</h2>
<p>Sekarang tengok orang yang memilih tumbuh sedikit di luar garis.</p>
<p>Petani muda yang memilih mengelola sawah daripada mengejar pekerjaan kantoran. Pekerja lepas yang bekerja dari desa. Orang yang tidak terlalu tertarik mengejar jabatan. Pasangan yang memilih tidak mempunyai anak. Atau seseorang yang tidak ingin menghabiskan hidupnya membeli berbagai hal hanya untuk membuktikan kepada orang lain bahwa hidupnya berhasil.</p>
<p>Tentu saja tidak semuanya berhasil. Pilihan hidup yang berbeda bukan jaminan kebahagiaan.</p>
<p>Tetapi sebagian dari mereka bisa saja tumbuh jauh lebih subur: punya lebih banyak waktu, lebih bebas mengatur hidup, lebih dekat dengan keluarga, atau bahkan lebih sejahtera.</p>
<p>Namun keberhasilan semacam itu kadang justru terasa janggal.</p>
<p>Bukan karena mereka gagal.</p>
<p>Justru karena mereka <b>berhasil tanpa mengikuti seluruh barisan.</b></p>
<p>Dan di situlah orang yang berbeda mulai menjadi persoalan bagi sistem sosial.</p>
<p>Jika seseorang ternyata bisa hidup baik tanpa mengikuti semua aturan tidak tertulis yang selama ini kita anggap wajib, kita mungkin terpaksa bertanya: jangan-jangan beberapa hal yang selama ini kita sebut “keharusan” sebenarnya hanya kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?</p>
<p>Pertanyaan semacam itu tidak selalu nyaman. Sebab ia bisa membuat kita menengok kembali pengorbanan yang sudah dilakukan untuk tetap berada di barisan.</p>
<h2>Software, Malware, dan Siapa yang Berhak Memberi Label</h2>
<p>Barangkali logika yang sama bisa ditemukan di tempat yang jauh dari sawah: dunia software.</p>
<p>Sebuah program dari pengembang yang tidak dikenal bisa melakukan sesuatu yang dianggap mencurigakan—mengakses sistem, berjalan di latar belakang, mengubah konfigurasi, mengirim data, atau melakukan pembaruan otomatis. Kita bisa menyebutnya <i>malware</i>, <i>riskware</i>, atau setidaknya sesuatu yang patut dicurigai.</p>
<p>Tetapi ketika aktivitas yang kurang lebih mirip dilakukan oleh software yang sudah berada dalam ekosistem yang dipercaya, istilahnya bisa berubah menjadi fitur, layanan, <i>telemetry</i>, atau <i>background process</i>.</p>
<p>😂</p>
<p>Tentu saja bukan berarti software resmi pasti buruk dan software dari luar pasti baik. Persoalannya bukan itu. Yang menarik adalah bagaimana <b>legitimasi ikut menentukan nama.</b></p>
<p>Sebuah tindakan tidak hanya dinilai berdasarkan apa yang dilakukan, tetapi juga berdasarkan siapa yang melakukannya dan di mana ia berdiri.</p>
<p>Dan ternyata manusia juga tidak jauh berbeda.</p>
<h2>Ketika Identitas Lebih Penting daripada Isi</h2>
<p>Kita sering tidak cukup melihat apakah seseorang benar-benar kompeten. Kita ingin tahu ia lulusan mana.</p>
<p>Tidak cukup seseorang mempunyai pengetahuan. Kita ingin tahu gelarnya.</p>
<p>Tidak cukup gagasannya masuk akal. Kita ingin tahu ia berbicara dari lembaga mana.</p>
<p>Bahkan kritik yang sebenarnya benar bisa lebih dahulu dicurigai hanya karena datang dari orang yang dianggap “bukan bagian dari kita”.</p>
<p>“Dia orang mana?”</p>
<p>“Kelompoknya apa?”</p>
<p>“Siapa gurunya?”</p>
<p>“Organisasinya apa?”</p>
<p>Baru setelah itu kita menentukan apakah perkataannya layak didengar.</p>
<p>Padahal mungkin yang sedang kita lakukan bukan menilai gagasannya.</p>
<p>Kita sedang memeriksa <b>barisannya.</b></p>
<p>Ini bukan berarti aturan, lembaga, gelar, sertifikasi, atau organisasi tidak penting. Semua itu mempunyai fungsi. Masalahnya muncul ketika identitas dan posisi seseorang menjadi ukuran yang lebih penting daripada apa yang sebenarnya ia katakan atau kerjakan.</p>
<h2>Apakah Semua yang di Luar Barisan Harus Dibenarkan?</h2>
<p>Tentu tidak.</p>
<p>Tidak semua yang berbeda adalah baik. Tidak semua yang berada di luar sistem adalah pembaharu. Tidak semua tanaman liar harus dipelihara. Dan tidak semua aturan adalah kebodohan.</p>
<p>Barisan diperlukan.</p>
<p>Sistem diperlukan.</p>
<p>Aturan diperlukan.</p>
<p>Tanpa itu semua, kehidupan mungkin justru menjadi kacau.</p>
<p>Masalahnya muncul ketika kita mulai menganggap bahwa yang berada di dalam barisan pasti benar, sedangkan yang berada di luar barisan pasti salah.</p>
<p>Pada titik itu, barisan tidak lagi sekadar membantu kita mengatur. Ia mulai menentukan cara kita melihat dunia.</p>
<p>Sesuatu tidak diperiksa terlebih dahulu untuk mengetahui apakah ia baik atau buruk. Ia lebih dahulu dilihat posisinya.</p>
<p>Kalau berada di dalam, aman.</p>
<p>Kalau berada di luar, mencurigakan.</p>
<h2>Siapa yang Membuat Barisan?</h2>
<p>Mungkin itu sebabnya menjadi berbeda sering terasa lebih mahal daripada sekadar menjadi berbeda. Ada harga sosialnya. Ada komentar, pertanyaan, cibiran, bahkan kadang usaha untuk mengembalikan kita ke garis.</p>
<p>“Kenapa tidak seperti yang lain?”</p>
<p>“Kenapa harus begitu?”</p>
<p>“Memangnya tidak bisa mengikuti yang umum?”</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi kadang membawa pesan yang sangat jelas:</p>
<p><b>Kembalilah ke barisan.</b></p>
<p>Sebab manusia memang lebih nyaman melihat sesuatu berada pada tempatnya. Kita lebih tenang ketika semua tanaman tumbuh lurus, semua orang mempunyai jalur yang hampir sama, dan semua orang menggunakan ukuran keberhasilan yang sama.</p>
<p>Sejak pikiran itu muncul di sawah, saya jadi sedikit curiga kepada kata “normal”.</p>
<p>Normal menurut siapa?</p>
<p>Benar menurut siapa?</p>
<p>Salah menurut siapa?</p>
<p>Bermanfaat untuk siapa?</p>
<p>Dan yang paling penting:</p>
<p><b>Siapa yang membuat barisannya?</b></p>
<p>Sebab barisan tidak pernah sekadar barisan. Ia menentukan siapa yang terlihat sebagai tanaman, siapa yang terlihat sebagai gulma, siapa yang dianggap tumbuh dengan benar, dan siapa yang harus dicabut sebelum sempat menjelaskan mengapa ia tumbuh di sana.</p>
<p>Mungkin persoalannya memang bukan apakah kita padi atau bukan. Mungkin kita terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya karena melihat di mana ia berdiri.</p>
<p>Padahal bisa saja ia memang padi.</p>
<p>Hanya saja ia tumbuh di luar garis yang kita buat.</p>
<p>Dan kalau ternyata ia tumbuh lebih subur daripada padi yang berjajar rapi di sebelahnya, mungkin yang perlu kita periksa bukan tanamannya.</p>
<p><b>Mungkin garisnya.</b></p>
<p>Filsuf Michel Foucault banyak membahas bagaimana kekuasaan tidak hanya bekerja dengan melarang, tetapi juga melalui <b>norma</b>—menentukan apa yang dianggap normal, wajar, menyimpang, atau tidak dapat diterima. Dalam kerangka itu, barisan padi menjadi metafora yang cukup sederhana tentang bagaimana sebuah sistem bekerja: ia tidak harus mencabut semua yang berbeda. Cukup dengan membuat kita percaya bahwa hanya ada satu cara untuk tumbuh dengan benar.</p>
<p>Dan mungkin di situlah persoalannya.</p>
<p>Kita terlalu sibuk memastikan semua padi berdiri dalam barisan, sampai lupa bertanya siapa yang pertama kali menggambar garisnya.</p>
<p><b>Sebab kadang-kadang yang perlu disiangi bukan tanamannya, melainkan keyakinan kita bahwa hanya tanaman yang berdiri di dalam barisan yang berhak disebut padi.</b></p>
Saya selalu percaya bahwa komedi yang baik bukanlah komedi yang membuat kita tertawa. Melainkan komedi yang membuat kita tertawa terlebih dahulu, l…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUnNYL2q9P2ylZJ0yZIMqWWIHRLCRNB2soqMxhC8k3BalM_A69CscW96MN6O5nDRj9_u-dHnZ6W-9hZrrqEiGqBQoEWFawv78UfGh306wIIN4k5xExsrPCSbMvMfBj0e9c7jZpLzDTta90XNZYezhTZlWZEGmQUwVWqRBIkSCbU7BVjOCgOkEDi-wKKuQ/s600/Ilustrasi%20seorang%20diktator%20menolak%20penjelasan%20ilmuwan%20sambil%20memegang%20gambar%20kartun%20sebagai%20simbol%20satire%20tentang%20relasi%20kekuasaan%20dan%20pengetahuan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="335" data-original-width="600" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUnNYL2q9P2ylZJ0yZIMqWWIHRLCRNB2soqMxhC8k3BalM_A69CscW96MN6O5nDRj9_u-dHnZ6W-9hZrrqEiGqBQoEWFawv78UfGh306wIIN4k5xExsrPCSbMvMfBj0e9c7jZpLzDTta90XNZYezhTZlWZEGmQUwVWqRBIkSCbU7BVjOCgOkEDi-wKKuQ/s1600-rw/Ilustrasi%20seorang%20diktator%20menolak%20penjelasan%20ilmuwan%20sambil%20memegang%20gambar%20kartun%20sebagai%20simbol%20satire%20tentang%20relasi%20kekuasaan%20dan%20pengetahuan.png" /></a></div><p>Saya selalu percaya bahwa komedi yang baik bukanlah komedi yang membuat kita tertawa. Melainkan komedi yang membuat kita tertawa terlebih dahulu, lalu perlahan kehilangan alasan untuk tertawa.</p>
<p>Begitulah saya mengingat salah satu adegan dalam film <i>The Dictator</i> yang dibintangi Sacha Baron Cohen. Di sebuah laboratorium, seorang ilmuwan nuklir bernama Nadal berusaha menjelaskan sesuatu yang sangat sederhana kepada Aladeen, penguasa Republik Wadiya. Bahwa bentuk hulu ledak tidak menentukan kekuatan ledakannya. Penjelasannya ilmiah, rasional, dan berdasarkan disiplin yang memang ia tekuni seumur hidup.</p>
<p>Namun Aladeen menolak mentah-mentah. Baginya, rudal harus dibuat runcing. Lebih gagah. Lebih menyeramkan. Titik.</p>
<p>Nadal mulai curiga. Dari mana sebenarnya sang penguasa memperoleh pengetahuan tentang senjata nuklir? Jawabannya justru mengundang tawa: dari film kartun.</p>
<p>Adegan itu memang lucu. Akan tetapi, seperti kebanyakan satire yang baik, ia tidak berhenti pada kelucuan. Di balik gelak tawa, film itu sedang mengajukan pertanyaan yang jauh lebih serius: <b>apa yang terjadi ketika seorang penguasa berhenti mempercayai ilmu pengetahuan?</b></p>
<h2>Ketika Ilmu Hanya Menjadi Pelengkap</h2>
<p>Sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan sebuah bangsa jarang diawali oleh kekurangan orang-orang pintar. Akademisi tetap ada. Peneliti tetap bekerja. Para ahli tetap menyusun kajian. Data tetap dikumpulkan.</p>
<p>Yang berubah adalah hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan.</p>
<p>Ilmu tidak lagi dipanggil untuk menguji sebuah gagasan. Ia dipanggil untuk membenarkan gagasan yang telah diputuskan sebelumnya. Ahli hadir, tetapi hanya sebagai pelengkap legitimasi. Pendapat mereka didengar sejauh mendukung keputusan yang telah dibuat.</p>
<p>Filsuf ilmu pengetahuan <b>Karl Popper</b> pernah mengingatkan bahwa ilmu berkembang bukan karena seseorang merasa paling benar, melainkan karena setiap teori harus selalu terbuka terhadap kritik dan kemungkinan salah. Dalam ilmu pengetahuan, kesalahan bukanlah musuh. Justru kesediaan mengoreksi kesalahan adalah syarat kemajuan.</p>
<p>Sayangnya, logika kekuasaan sering berjalan sebaliknya. Kekuasaan menyukai kepastian. Ia cenderung lebih nyaman dengan keyakinan daripada keraguan. Padahal keraguan yang sehat sering kali menjadi pintu lahirnya kebijakan yang lebih matang.</p>
<h2>Ketika Visi Tidak Lagi Berdialog dengan Fakta</h2>
<p>Belakangan ini kita sering menyaksikan bagaimana kebijakan-kebijakan besar lahir dengan narasi optimisme yang begitu kuat. Visi memang penting. Tidak ada bangsa yang dapat berjalan tanpa visi.</p>
<p>Namun visi saja tidak pernah cukup.</p>
<p><b>Visi membutuhkan data. Keberanian membutuhkan koreksi. Keyakinan membutuhkan verifikasi.</b></p>
<p>Ketika sebuah kebijakan lebih banyak dijelaskan melalui narasi daripada argumentasi, ketika kritik dipandang sebagai penghambat, dan ketika pertanyaan dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan, maka ruang dialog perlahan mengecil. Kebijakan publik kehilangan salah satu penyangga terpentingnya: kemampuan untuk dikoreksi.</p>
<p>Adegan Aladeen menolak penjelasan Nadal sebenarnya sedang memperlihatkan bahaya itu. Masalahnya bukan semata-mata karena ia tidak memahami ilmu nuklir. Masalah yang jauh lebih serius adalah ia tidak merasa perlu belajar kepada orang yang memang memahami ilmu tersebut.</p>
<p>Orang yang tidak tahu masih dapat belajar. Tetapi orang yang merasa sudah tahu biasanya berhenti mendengarkan.</p>
<h2>Realitas Tidak Pernah Tunduk kepada Pidato</h2>
<p>Filsuf politik <b>Hannah Arendt</b> pernah menunjukkan bahwa salah satu kecenderungan kekuasaan yang kehilangan arah adalah ketika ia mulai membangun dunianya sendiri, dunia yang lebih dipenuhi narasi daripada kenyataan.</p>
<p>Masyarakat mungkin mengeluhkan harga kebutuhan pokok. Sebagian orang merasakan lapangan pekerjaan yang semakin sulit. Sebagian lainnya merasa daya beli terus menurun. Semua itu adalah pengalaman yang nyata bagi mereka yang mengalaminya.</p>
<p>Karena itu, tugas seorang pemimpin bukan sekadar mengatakan bahwa keadaan baik-baik saja. Tugasnya adalah memastikan bahwa optimisme yang ia bangun tetap berpijak pada kenyataan. Sebab kenyataan tidak pernah tunduk kepada pidato. Kenyataan hanya tunduk kepada fakta.</p>
<h2>Belajar dari Sebuah Film Satire</h2>
<p>Mungkin itulah sebabnya <i>The Dictator</i> masih terasa relevan hingga sekarang. Film itu bukan semata-mata mengejek seorang diktator dari negara fiktif. Ia sedang menyindir watak kekuasaan yang selalu mungkin muncul di mana pun: merasa tidak lagi membutuhkan koreksi.</p>
<p>Padahal sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memiliki mimpi besar. Bangsa juga membutuhkan pemimpin yang bersedia menguji mimpinya di hadapan data, ilmu pengetahuan, dan kritik yang jujur.</p>
<p>Pada akhirnya, tidak ada bangsa yang runtuh hanya karena kekurangan mimpi. Banyak bangsa justru mengalami kemunduran ketika para pemimpinnya mulai lebih mempercayai keyakinannya sendiri daripada kenyataan yang berbicara di hadapan mereka.</p>
<p><i>Barangkali di situlah letak satire paling tajam dari <b>The Dictator</b>. Kita tertawa melihat Aladeen belajar nuklir dari kartun. Namun setelah tawa itu reda, film tersebut diam-diam bertanya kepada kita: apakah dalam kehidupan nyata, kita sungguh telah memastikan bahwa setiap kebijakan lahir dari pengetahuan, atau jangan-jangan hanya dari keyakinan yang kebetulan memiliki kekuasaan?</i></p>
Belakangan kutipan berikut ini cukup sering muncul di status WhatsApp: “Penak ya yen urip neng jamane Kanjeng Nabi. Yen enek opo-opo iso cerito nen…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizwgxTQdcu9Ufgut8ji9wsB8c0pvDFyfe4bsPx6-mTBKE1jkQ-fXPY1HG3IrZ6itY8qdoKRlCgmQWIrGR5JHyW4U7kt8p66svfhrP7NzX7fmHN_WkJCfTakeFJl_BVtO3fPv8XN1AYp6UwstIkmdb-Werp0vsDPqlDuBbtnPX8Kimf-BD20UA6DhW0MV4/s650/Jika%20Hidup%20di%20Zaman%20Nabi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="363" data-original-width="650" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizwgxTQdcu9Ufgut8ji9wsB8c0pvDFyfe4bsPx6-mTBKE1jkQ-fXPY1HG3IrZ6itY8qdoKRlCgmQWIrGR5JHyW4U7kt8p66svfhrP7NzX7fmHN_WkJCfTakeFJl_BVtO3fPv8XN1AYp6UwstIkmdb-Werp0vsDPqlDuBbtnPX8Kimf-BD20UA6DhW0MV4/s1600-rw/Jika%20Hidup%20di%20Zaman%20Nabi.jpg" /></a></div><p>Belakangan kutipan berikut ini cukup sering muncul di status WhatsApp:</p>
<p><i>“Penak ya yen urip neng jamane Kanjeng Nabi. Yen enek opo-opo iso cerito neng Kanjeng Nabi. Yen enek masalah, nyedek Kanjeng Nabi, ati iso ayem tentrem.”</i></p>
<p>Narasi seperti ini memang indah. Bahkan sangat menyejukkan. Membayangkan hidup pada zaman Rasulullah, ketika ada masalah tinggal sowan, ada ganjalan batin tinggal menyampaikan, lalu hati menjadi tenang karena bisa langsung mendekat kepada manusia yang paling kita cintai.</p>
<p>Saya pun bisa memahami kerinduan itu.</p>
<p>Tetapi setelah membaca beberapa status semacam itu, saya malah ingin berhenti sebentar.</p>
<p>Tarik napas.</p><p>Lalu <i>mbatin</i>:</p>
<p><b>"Cermin mana cermin?"</b></p>
<p>Mari kita lihat <i>dapurane awake dhewe</i> tanpa tanding, tanpa merasa lebih baik daripada orang lain.</p>
<p>Sebab muncul pertanyaan yang agak mengganggu:</p>
<p><b>Kalau benar-benar dilempar hidup ke Makkah abad ke-7, apakah kita akan otomatis berbaris rapi di belakang Kanjeng Nabi?</b></p>
<p>Saya sendiri tidak berani menjawab iya.</p>
<p>Dengan kapasitas iman yang kadang tipisnya mirip tisu dibagi dua, jangan-jangan saya justru termasuk rombongan pertama yang memilih jalan paling aman. Bukan karena membenci Nabi. Bukan pula karena tidak percaya. Tetapi karena takut kehilangan kenyamanan.</p>
<p>Jangan-jangan kita akan berkata, “Saya sebenarnya percaya, tetapi jangan terang-terangan dulu.”</p>
<p>Atau, “Saya mendukung dalam hati.”</p>
<p>Atau versi paling modern, “Saya tidak mau ikut terlalu jauh. Situasinya sedang sensitif.”</p>
<p>😂</p>
<h2>Ujian Gerimis Kecil dan Batu Terik Makkah</h2>
<p>Kita sering membayangkan para sahabat sebagai manusia dengan keberanian iman yang luar biasa. Dan memang demikian adanya.</p>
<p>Tetapi menjadi pengikut Kanjeng Nabi pada masa itu bukan sekadar mengganti status keyakinan. Ada konsekuensi nyata yang harus ditanggung.</p>
<p>Ada tekanan keluarga, pengucilan, kehilangan harta, ancaman, bahkan penyiksaan.</p>
<p>Kisah Sayyidina Bilal bin Rabah menjadi salah satu contoh yang paling sulit kita lupakan.</p>
<p>Hari ini nama Bilal terdengar begitu mulia. Kita mengenalnya sebagai sahabat Nabi dan muazin Rasulullah. Kita menyebut namanya dengan penuh penghormatan.</p>
<p>Tetapi sebelum menjadi nama yang harum dalam sejarah, Bilal adalah manusia yang harus menanggung siksaan karena mempertahankan keyakinannya.</p>
<p>Ia tidak sedang diuji dengan pertanyaan apakah konsumsi majelisnya enak atau tidak.</p>
<p>Ia diuji dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: <b>apakah keyakinan masih akan dipertahankan ketika mempertahankannya membuat hidup menjadi sangat tidak nyaman?</b></p>
<p>Sekarang coba kita lihat diri sendiri.</p>
<p>Gerimis sedikit, niat berjamaah mulai goyah.</p>
<p>Imam membaca surat agak panjang, kita mulai <i>aras-arasen</i>.</p>
<p>Mikrofon masjid <i>feedback</i> sedikit, telinga langsung tidak nyaman.</p>
<p>Sandal tertukar, mood beribadah bisa rusak seharian.</p>
<p>Belum lagi kalau tempat duduk kurang nyaman.</p>
<p>😂</p>
<p>Ambang ketidaknyamanan kita kadang memang sangat rendah.</p>
<p>Lalu dengan percaya diri kita mengatakan, “Andai saya hidup pada zaman Nabi, pasti saya akan ikut beliau.”</p>
<p>Lha, jangankan ditindih batu di terik Makkah.</p>
<p>Kena gerimis saja kadang kita sudah sibuk mencari alasan.</p>
<h2>Filter Prasmanan dalam Mencari Berkah</h2>
<p>Di sinilah saya merasa ada ironi kecil dalam cara kita membayangkan kedekatan dengan Kanjeng Nabi.</p>
<p>Kita sering mengatakan ingin hidup pada zaman beliau karena membayangkan betapa tenangnya hidup jika bisa langsung bertanya dan sowan kepada Rasulullah.</p>
<p>Tetapi dalam kehidupan sekarang, kadang kita sendiri memilih majelis berdasarkan ukuran-ukuran yang sangat duniawi.</p>
<p>Majelis yang hidangannya istimewa lebih menarik.</p>
<p>Yang tempatnya nyaman lebih menggoda.</p>
<p>Yang penceramahnya terkenal lebih ramai.</p>
<p>Yang dihadiri para tokoh dan orang-orang penting terasa lebih bergengsi.</p>
<p>Sedangkan majelis kecil di mushala kampung, dengan teh hangat dan kerupuk kaleng, kadang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan perhatian kita.</p>
<p>Ini bukan berarti makanan tidak boleh menjadi pertimbangan.</p>
<p>Nasi tetap nasi. Lauk tetap lauk. Dan orang datang ke majelis dalam keadaan lapar juga bukan dosa.</p>
<p>Masalahnya bukan pada nasi.</p>
<p>Masalahnya adalah ketika <b>berkat mulai menjadi semacam filter dalam menentukan ke mana kaki kita mau melangkah.</b></p>
<p>Kita bahkan bisa menjadi sangat selektif.</p>
<p>“Majelise neng endi?”</p>
<p>“Sing rawuh sapa?”</p>
<p>“Pengisi acarane siapa?”</p>
<p>“Entuk konsumsi ora?”</p>
<p>Kalau semua jawabannya meyakinkan, langkah kaki mendadak mantap.</p>
<p>Kalau jawabannya tidak menarik, tiba-tiba ada urusan keluarga.</p>
<p>😂</p>
<p>Kemudian kita masih bisa menulis status:</p>
<p><i>“Penak ya hidup di zaman Kanjeng Nabi...”</i></p>
<p>Saya jadi curiga.</p>
<p>Jangan-jangan kalau benar-benar hidup pada zaman itu, sebelum menentukan akan ikut siapa, kita tetap akan <i>ndelok menune dhisik</i>.</p>
<h2>Ketika Elite Juga Menjadi Bagian dari Romantisme</h2>
<p>Yang membuat persoalan ini semakin menarik adalah ketika ukuran tersebut tidak hanya berlaku di kalangan jamaah biasa.</p>
<p>Kadang majelis yang dihadiri para tokoh, orang-orang berpengaruh, atau elite tertentu justru mendapatkan daya tarik tersendiri.</p>
<p>Bukan karena ilmu yang disampaikan lebih benar. Bukan pula otomatis karena keberkahan lebih besar.</p>
<p>Tetapi karena ada semacam gengsi sosial yang ikut menempel.</p>
<p>Akhirnya kita tidak hanya mencari majelis.</p>
<p>Kita mencari <i>siapa yang ada di majelis itu</i>.</p>
<p>Dan di titik tertentu, romantisme terhadap Kanjeng Nabi bisa berubah menjadi romantisme terhadap orang-orang yang dianggap dekat dengan beliau.</p>
<p>Kita mengagumi kesederhanaan Nabi, tetapi kadang lebih tertarik kepada majelis yang fasilitasnya tidak sederhana.</p>
<p>Kita memuji Bilal yang rela kehilangan kenyamanan demi iman, tetapi kita sendiri masih sibuk menghitung kenyamanan sebelum berangkat.</p>
<p>Tentu ini bukan tuduhan kepada siapa pun.</p>
<p>Ini adalah cermin.</p>
<p>Dan kalau cermin itu terlalu jujur, ya memang kadang wajah kita sendiri yang membuat kita tidak nyaman.</p>
<h2>Kita Beruntung Tidak Hidup di Masa Itu</h2>
<p>Mungkin justru kita perlu berhenti meromantisasi zaman Nabi sebagai zaman yang “enak”.</p>
<p>Benar, alangkah indahnya membayangkan bisa bertemu Rasulullah.</p>
<p>Tetapi jangan lupa: hidup di zaman beliau juga berarti hidup ketika iman belum menjadi sejarah yang selesai.</p>
<p>Kita sekarang punya kemewahan yang luar biasa.</p>
<p>Kita sudah tahu bahwa Nabi berada di jalan yang benar.</p>
<p>Kita sudah tahu bagaimana sejarah berakhir.</p>
<p>Kita tahu siapa Bilal.</p>
<p>Kita tahu siapa Abu Jahal.</p>
<p>Kita tahu bahwa Islam akhirnya menjadi agama yang dianut jutaan manusia.</p>
<p>Sedangkan mereka yang hidup pada masa itu harus mengambil keputusan ketika semuanya masih berlangsung.</p>
<p>Mereka tidak memiliki <i>spoiler</i> sejarah seperti kita.</p>
<p>Karena itu, mungkin lebih tepat jika kita bersyukur hidup di zaman sekarang.</p>
<p>Bukan karena zaman kita lebih mulia.</p>
<p>Bukan pula karena ujian kita lebih ringan.</p>
<p>Tetapi karena kita telah diberi begitu banyak kemudahan untuk mengenal Islam.</p>
<p>Kita tidak perlu menunggu wahyu.</p>
<p>Tidak perlu mencari seseorang yang pernah bertemu Rasulullah untuk bertanya tentang ajaran beliau.</p>
<p>Al-Qur’an ada.</p>
<p>Hadis ada.</p>
<p>Kitab-kitab ulama ada.</p>
<p>Masjid ada.</p>
<p>Majelis ilmu ada.</p>
<p>Dan hidayah bahkan bisa sampai ke layar ponsel kita ketika kita sedang rebahan.</p>
<p>Masalahnya justru di situ.</p>
<p><b>Kemudahan juga bisa menjadi ujian.</b></p>
<p>Kita tidak disiksa seperti Bilal.</p>
<p>Tetapi apakah kita mampu mempertahankan iman ketika tidak ada seorang pun yang memaksa kita meninggalkannya?</p>
<p>Kita tidak ditindih batu di tengah padang pasir.</p>
<p>Tetapi apakah kita mampu menahan diri ketika dunia menawarkan keuntungan dengan syarat kita mengorbankan sedikit prinsip?</p>
<p>Kita tidak diusir dari kampung karena mengikuti Nabi.</p>
<p>Tetapi apakah kita berani tetap melakukan yang benar ketika pilihan itu membuat kita tidak populer?</p>
<p>Barangkali itulah bentuk ujian kita.</p>
<p>Bukan batu besar di atas dada.</p>
<p>Kadang justru hal-hal kecil yang kelihatannya sepele.</p>
<p>Status sosial.</p>
<p>Kenyamanan.</p>
<p>Konsumsi.</p>
<p>Pujian.</p>
<p>Kedekatan dengan orang penting.</p>
<p>Dan tentu saja...</p>
<p>Nasi kotak.</p>
<p>😂</p>
<h2>Jangan-Jangan Kita Bukan Bilal</h2>
<p>Karena itu, saya tidak terlalu percaya diri mengatakan bahwa seandainya hidup pada zaman Nabi, saya pasti akan menjadi pengikut beliau.</p>
<p>Saya justru lebih nyaman mengakui kemungkinan sebaliknya.</p>
<p>Dengan iman yang masih kembang-kempis, saya mungkin saja menjadi orang yang memilih jalan aman.</p>
<p>Mungkin saya akan menunggu keadaan.</p>
<p>Mungkin saya akan melihat siapa yang menang.</p>
<p>Mungkin saya akan berkata, “Nanti saja kalau situasinya sudah jelas.”</p>
<p>Dan mungkin, kalau pada zaman itu sudah ada grup WhatsApp, saya akan menjadi orang yang rajin membagikan status:</p>
<p><i>“Penak ya hidup di zaman Kanjeng Nabi. Kalau ada masalah tinggal sowan, hati langsung ayem...”</i></p>
<p>Sementara di luar rumah, saya masih sibuk mencari majelis mana yang konsumsi dan fasilitasnya paling meyakinkan.</p>
<p>😂</p>
<p>Maka mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk berandai-andai ingin hidup pada zaman Nabi.</p>
<p>Sebab kita sudah diberi kesempatan untuk mencintainya dari zaman kita sendiri.</p>
<p>Kita mungkin tidak pernah melihat wajah beliau. Tidak pernah mendengar suara beliau. Tidak pernah duduk di hadapan beliau. Bahkan, kalau jujur kepada diri sendiri, kita pun belum tentu memiliki keteguhan iman seperti Bilal, kesetiaan seperti para sahabat, atau kesungguhan seperti orang-orang yang hidup bersama beliau.</p>
<p>Tetapi anehnya, di antara jarak empat belas abad itu, ada sesuatu yang tetap membuat kita ingin menyebut namanya.</p>
<p>Ketika nama beliau disebut, kita bershalawat.</p>
<p>Ketika bulan Maulud tiba, kita berkumpul.</p>
<p>Kita membaca kisah hidupnya, menyenandungkan pujian kepadanya, dan mengulang-ulang nama yang mungkin belum pernah kita lihat dengan mata, tetapi begitu akrab di hati.</p>
<p>Mungkin begitulah cinta seorang umat kepada nabinya.</p>
<p>Tidak sempurna.</p>
<p>Kadang masih bercampur dengan kepentingan, kenyamanan, gengsi, bahkan urusan nasi kotak.</p>
<p>😂</p>
<p>Tetapi mudah-mudahan, di balik segala kekurangan itu, ada kerinduan yang sungguh-sungguh.</p>
<p>Kerinduan untuk menjadi umat yang beliau kenali.</p>
<p>Umat yang ketika disebut, membuat beliau tidak berpaling.</p>
<p>Umat yang meskipun jauh dari sempurna, tetap berusaha berjalan di jalan yang beliau ajarkan.</p>
<p>Maka di bulan Maulud ini, barangkali kita tidak perlu terlalu banyak mengaku bahwa seandainya hidup pada zaman beliau kita pasti akan menjadi Bilal.</p>
<p>Cukup kita berdoa agar di zaman kita sendiri, dengan segala kelemahan dan segala kemudahan yang kita miliki, kita tidak kehilangan jalan yang beliau tunjukkan.</p>
<p>Dan jika suatu hari kelak kita benar-benar berjumpa dengan beliau, semoga kita tidak datang sebagai orang yang hanya pandai mengatakan pernah mencintainya, tetapi sebagai umat yang berusaha membawa sedikit saja dari akhlak dan ajarannya dalam kehidupan.</p>
<p>Sebab mungkin kita tidak pantas berharap banyak.</p>
<p>Tetapi sebagai umat, kita selalu punya satu keberanian kecil: <b>berharap dicintai oleh Nabi yang kita cintai.</b></p>
<p>Maka biarlah segala kelakar dan cermin tadi berhenti di sini.</p>
<p>Kita tundukkan kepala.</p>
<p>Kita kirimkan sholawat kepada manusia yang namanya membuat hati jutaan umat bergetar, meski tidak pernah melihat wajahnya.</p>
<p><b>Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.</b></p>
<p>Semoga sholawat itu sampai sebagai tanda cinta.</p>
<p>Dan semoga cinta yang sederhana dari umat yang serba kurang ini, kelak menjadi alasan bagi kita untuk mendapatkan syafaatnya.</p>
<p>Amin.</p>
Setiap kali bulan Agustus tiba, bendera merah putih kembali berkibar di halaman rumah. Jalan-jalan kampung mulai ramai. Musik perayaan diputar, per…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhe_SRuERj9TwETZLI3ypsAYhxKtsjnkp9LHkQNn8Rp2rXoM8Qs299Qa2x9ZavqlDtphi_im_664FNdBp-atkdLJfvs5Iw2y_2fDh0YDAdyimc9mK6AcoImXboFsSlVFk3aFVFJ1LS-g9vaUWeG8-bLnJyNHep6oaGrwHleCx_ikwuYqUe3J0qI9TJndw4/s640/merayakan%20ala%20kadarnya.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhe_SRuERj9TwETZLI3ypsAYhxKtsjnkp9LHkQNn8Rp2rXoM8Qs299Qa2x9ZavqlDtphi_im_664FNdBp-atkdLJfvs5Iw2y_2fDh0YDAdyimc9mK6AcoImXboFsSlVFk3aFVFJ1LS-g9vaUWeG8-bLnJyNHep6oaGrwHleCx_ikwuYqUe3J0qI9TJndw4/s1600-rw/merayakan%20ala%20kadarnya.png" /></a></div><p>Setiap kali bulan Agustus tiba, bendera merah putih kembali berkibar di halaman rumah. Jalan-jalan kampung mulai ramai. Musik perayaan diputar, perlombaan digelar, anak-anak berlarian mengejar hadiah, sementara orang-orang dewasa sibuk menyiapkan berbagai macam acara. Sesekali kita tertawa lebih lepas dari biasanya. Rasanya memang menyenangkan.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan itu. <b>Kemerdekaan adalah kabar baik. Kemerdekaan adalah kebahagiaan.</b> Setelah melewati sejarah yang panjang dan berdarah, tentu kita berhak bergembira.</p>
<p>Namun, di tengah semua kegembiraan itu, barangkali ada baiknya kita mengingat satu hal: <i>kemerdekaan bukan pekerjaan yang sudah selesai.</i></p>
<p>Sebab kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Ia diraih dengan darah, keringat, kehilangan, dan nyawa. Banyak orang meninggal agar kita yang lahir jauh setelah mereka dapat hidup tanpa harus tunduk kepada bangsa lain. Mereka kehilangan anak, orang tua, rumah, harta, bahkan masa depan. Mereka mempertaruhkan sesuatu yang paling mahal agar generasi sesudahnya dapat merasakan sesuatu yang mungkin tidak sempat mereka nikmati sendiri.</p>
<p>Maka, ketika kita merayakan kemerdekaan, sesekali barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: <i>untuk apa mereka dahulu mati?</i></p>
<h2>Kita Sampai di Depan Pintu</h2>
<p>Ada sesuatu yang menarik dalam Pembukaan UUD 1945. Di sana disebutkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia telah <i>“mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia.”</i></p>
<p>Perhatikan baik-baik: <b>ke depan pintu gerbang.</b></p>
<p>Bukan dikatakan bahwa seluruh pekerjaan bangsa telah selesai. Bukan pula dikatakan bahwa setelah pintu gerbang itu berdiri, kita boleh duduk santai dan menganggap semua persoalan telah beres.</p>
<p>Barangkali di sinilah kita sering keliru memahami kemerdekaan.</p>
<p>Kita terlalu sibuk merayakan keberhasilan sampai di depan pintu, tetapi lupa bahwa sebuah pintu tentu dibuat untuk dilewati.</p>
<p>Dan jangan-jangan, selama puluhan tahun kita justru terlalu sibuk mengecat pintunya. Membuat gapura. Memasang bendera. Mengadakan lomba di halaman. Berpidato tentang betapa hebatnya bangsa ini telah berhasil sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan.</p>
<p>Sementara rakyat masih berdiri di luar.</p>
<p>😁</p>
<p>Tentu saja ini bukan berarti Indonesia belum merdeka. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah fakta sejarah yang tidak perlu diperdebatkan. Indonesia telah menjadi negara merdeka dan berdaulat.</p>
<p>Yang belum selesai adalah <b>pekerjaan memaknai kemerdekaan itu sendiri.</b></p>
<p>Sebab kemerdekaan politik hanyalah salah satu pintu. Setelahnya masih ada pekerjaan besar: memastikan rakyat dapat hidup layak, memperoleh pendidikan, mendapatkan pelayanan kesehatan, memperoleh keadilan, bekerja dengan manusiawi, dan tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh kekuasaan.</p>
<h2>Ketika Penjajahan Berganti Wajah</h2>
<p>Penjajah asing memang telah pergi. Belanda, Jepang, dan kekuatan kolonial lainnya akhirnya meninggalkan panggung sejarah. Tetapi kepergian penjajah tidak otomatis membuat seluruh bentuk penindasan ikut pergi.</p>
<p>Penindasan dapat berganti wajah. Ia dapat berganti bahasa, seragam, bahkan nama. Dulu ia datang dari seberang lautan. Kini, bentuk-bentuk penindasan bisa saja muncul dari rumah sendiri.</p>
<p>Pemerintah tentu bukan penjajah. Negara tetap dibutuhkan. Kekuasaan publik diperlukan untuk mengatur kehidupan bersama. Tetapi kekuasaan kehilangan alasan moralnya ketika berubah menjadi alat memperkaya segelintir orang, sementara rakyat harus terus membayar akibatnya.</p>
<p>Korupsi, misalnya, bukan sekadar soal uang negara yang hilang. Di balik angka-angka dalam laporan keuangan, ada sekolah yang tidak dibangun, pelayanan yang tidak diperbaiki, jalan yang dibiarkan rusak, bantuan yang tidak sampai, dan kesempatan hidup yang dirampas dari orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa yang telah mengambil hak mereka.</p>
<p>Di titik inilah gagasan Tan Malaka tentang <i>Merdeka 100%</i> terasa masih relevan. Kemerdekaan tidak cukup hanya berarti terbebas dari penjajahan asing. Selama rakyat masih mengalami pemerasan dan penindasan, termasuk oleh bangsanya sendiri, pekerjaan kemerdekaan belumlah selesai.</p>
<p>Sebab apa artinya sebuah bangsa telah merdeka jika sebagian rakyatnya masih belum merdeka dari kemiskinan? Apa artinya bendera telah berkibar tinggi jika orang kecil masih takut berhadapan dengan kekuasaan?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin terasa tidak nyaman. Tetapi barangkali memang begitulah seharusnya sebuah peringatan kemerdekaan bekerja: bukan hanya membuat kita gembira, melainkan juga membuat kita berpikir.</p>
<h2>Merayakan Ala Kadarnya</h2>
<p>Maka, kalau tahun ini kita ingin merayakan kemerdekaan ala kadarnya, tidak perlu merasa bersalah.</p>
<p>Pasang saja bendera di depan rumah. Ikuti lomba jika ingin. Berkumpullah dengan tetangga. Makan bersama. Tertawalah. Anak-anak boleh berlarian mengejar hadiah. Orang-orang tua boleh duduk sambil mengenang masa lalu.</p>
<p>Kita boleh menikmati semuanya.</p>
<p>Yang perlu dihindari bukan kegembiraannya, melainkan <b>kemabukan terhadap perayaan</b>.</p>
<p>Jangan sampai satu hari penuh perlombaan membuat kita lupa pada pekerjaan yang harus dilakukan selama tiga ratus enam puluh empat hari berikutnya. Jangan sampai musik kemerdekaan terlalu keras sehingga suara rakyat yang sedang kesusahan tidak terdengar. Jangan sampai upacara membuat kita merasa telah menyelesaikan tugas sejarah hanya karena setiap tahun kita mengibarkan bendera.</p>
<p>Merayakan ala kadarnya bukan berarti tidak mencintai kemerdekaan. Justru sebaliknya. Barangkali itu cara sederhana untuk mengakui bahwa kita masih memiliki pekerjaan rumah yang terlalu banyak untuk dirayakan dengan perasaan seolah-olah semuanya telah selesai.</p>
<p>Karena masih ada orang yang belum merdeka dari kemiskinan. Masih ada anak-anak yang belum merdeka dari kebodohan. Masih ada orang kecil yang belum merdeka dari ketidakadilan. Masih ada pekerja yang belum merdeka dari upah yang tidak layak. Dan masih ada kekuasaan yang harus terus diingatkan bahwa negara ini dibangun untuk rakyat, bukan rakyat yang diciptakan untuk melayani kekuasaan.</p>
<h2>Besok Kita Kembali Berjuang</h2>
<p>Barangkali para pendahulu kita tidak berjuang agar kita selamanya menjadi penonton sebuah perayaan. Mereka berjuang agar generasi setelahnya memiliki kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.</p>
<p>Mereka telah melakukan bagian mereka. Mengangkat senjata. Bertahan dalam kekurangan. Kehilangan orang-orang yang dicintai. Menghadapi penjajahan dengan segala risikonya.</p>
<p>Sekarang giliran kita.</p>
<p>Perjuangan hari ini mungkin tidak lagi dilakukan dengan senjata. Ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih rumit: bekerja dengan jujur, tidak mengambil yang bukan hak kita, berani mengatakan yang salah sebagai salah, tidak menjual suara, tidak menyalahgunakan jabatan, mendidik anak-anak dengan baik, dan tidak membiarkan ketidakadilan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.</p>
<p>Sebab kemerdekaan bukan kursi untuk beristirahat. <b>Ia adalah jalan yang masih harus ditempuh.</b></p>
<p>Maka, rayakanlah kemerdekaan. Sewajarnya saja.</p>
<p>Pasang benderamu. Ikuti perlombaan jika ingin. Tertawalah bersama tetangga. Kirimkan doa kepada mereka yang telah gugur. Nikmati hari itu sebagai kebahagiaan yang memang layak kita syukuri.</p>
<p>Namun setelah musik berhenti dan bendera tetap berkibar di halaman rumah, jangan lupa bahwa kita baru sampai di depan pintu gerbang. Pintu itu masih harus dibuka. Kita masih harus masuk. Dan di dalam sana, masih ada pekerjaan yang menunggu.</p>
<p><b>Kita sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi kita belum selesai memerdekakan manusia.</b></p>