Ilustrasi Buku Islam ala Proboro terbit dan berhasil mengguncang dunia persosialmediaan. Seperti umumnya kegaduhan di media sosial, sebagian orang m…
Pinned Post
All stories
Ilustrasi oleh AI Di panggung-panggung pengajian, media sosial, hingga potongan video motivasi berdurasi satu menit, kita kerap menjumpai wacana yang…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL8v1VBfhvprJReHCVdJ8qiQDDuh7G0SB_5Clt41c96tPu-nofMVemfFWQmPebLQoPopaLp3nFAmtCO3sDnxSJzxEFaQ-pKdVDMYw-C8EcdGxrkBZuC_S0p3upTJEKnT8s0Bg3gHEJILBI5nr9MsIvBIMsU_aQZgeGt51RAegZ3b4hGAUyjaTCjqlv5-o/s640/ilustrasi%20sedekah.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL8v1VBfhvprJReHCVdJ8qiQDDuh7G0SB_5Clt41c96tPu-nofMVemfFWQmPebLQoPopaLp3nFAmtCO3sDnxSJzxEFaQ-pKdVDMYw-C8EcdGxrkBZuC_S0p3upTJEKnT8s0Bg3gHEJILBI5nr9MsIvBIMsU_aQZgeGt51RAegZ3b4hGAUyjaTCjqlv5-o/s1600-rw/ilustrasi%20sedekah.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi oleh AI</td></tr></tbody></table><p>Di panggung-panggung pengajian, media sosial, hingga potongan video motivasi berdurasi satu menit, kita kerap menjumpai wacana yang kurang lebih berbunyi seperti ini: <b>sedekah akan dibalas berkali-kali lipat.</b></p>
<p>Saya tidak sedang membantahnya. Saya tidak cukup alim untuk itu.</p>
<p>Yang agak menggelitik justru cara kita memahami balasan tersebut.</p>
<p>Sebab entah bagaimana, kalau yang kita sedekahkan berupa uang, kita juga berharap balasannya berupa uang. Sedekah seribu rupiah, kalau bisa kembali satu juta. Kalau hanya kembali seribu, selain tidak berkali-kali lipat, mungkin kita merasa investasinya kurang menarik.</p>
<p>Maka sedekah kadang terdengar sangat mirip proposal investasi.</p>
<p>Hari ini keluar satu juta, besok berharap datang sepuluh juta. Seolah-olah langit bekerja seperti <b>mesin ATM spiritual</b>: setor amal, tunggu saldo bertambah.</p>
<p>Padahal mungkin justru di situlah masalahnya.</p>
<p>Bukan pada keyakinan bahwa kebaikan akan mendapat balasan, tetapi pada kebiasaan kita yang diam-diam ikut menentukan bentuk balasannya.</p>
<p><b>Yang keluar rupiah, maunya pulang rupiah.</b></p>
<p>Kalau yang datang justru badan sehat, anak-anak tidak sakit, pekerjaan masih ada, tidur lebih nyenyak, atau ketika sedang kesusahan tiba-tiba ada orang yang membantu, semua itu kadang tidak masuk pembukuan.</p>
<p>Sebab sejak awal kita sudah telanjur membawa kalkulator.</p>
<p>Atau, <i>amit-amit jabang bayi</i>, kita sudah mengantre BBM selama satu jam. Ketika tinggal beberapa meter lagi sampai pompa, petugas mengumumkan stok habis. Kita bisa menerima, menghidupkan motor, lalu pulang tanpa mengumpat petugas yang sebenarnya juga tidak bersalah.</p>
<p>Kemampuan untuk tidak marah seperti itu pun barangkali tidak pernah kita hitung sebagai <i>imbal hasil</i>.</p>
<p>Padahal siapa tahu kemampuan untuk tidak gampang jengkel, tidak merasa dunia harus selalu berjalan sesuai keinginan kita, dan tidak menjadikan orang lain sasaran kemarahan adalah kekayaan yang jauh lebih sulit dikumpulkan daripada uang.</p>
<p><b>Kita terlalu sibuk memeriksa apakah saldo bertambah sampai lupa memeriksa apakah diri kita berubah.</b></p>
<p>Di situlah saya kira sedekah menjadi menarik.</p>
<p>Sebab uang sebenarnya tidak otomatis berbahaya hanya karena jumlahnya banyak. Orang yang tidak punya banyak uang pun bisa sangat diperbudak olehnya. Sebaliknya, orang kaya belum tentu rakus.</p>
<p>Masalahnya mungkin bukan terutama berapa banyak uang yang kita miliki, tetapi seberapa besar ruang yang kita izinkan untuk ditempatinya di dalam kepala.</p>
<p>Ketika uang mulai menentukan harga diri, manusia perlahan melihat dunia melalui angka. Kehilangan sedikit terasa seperti kiamat kecil. Penurunan status dianggap kehancuran martabat. Kekayaan tidak lagi menjadi sesuatu yang dimiliki, tetapi justru sesuatu yang balik memiliki pemiliknya.</p>
<p>Dan yang mengerikan dari kekayaan bukan selalu kemewahan yang tampak di luar. Bisa jadi justru kesombongan kecil yang tumbuh diam-diam di dalam kepala: perasaan bahwa karena kita punya cukup uang, segala sesuatu bisa diatur, dibeli, bahkan dikendalikan.</p>
<p>Barangkali karena itulah sedekah dalam tradisi Islam tidak hanya menarik kalau dilihat sebagai cara membantu orang yang membutuhkan.</p>
<p><b>Ia juga bisa dibaca sebagai cara menyelamatkan orang yang memiliki harta dari keterikatannya sendiri.</b></p>
<p>Kita bisa melihat kegelisahan semacam itu pada Abdurrahman bin Auf.</p>
<p>Ia dikenal sebagai saudagar dengan kekayaan besar. Tetapi kekayaan rupanya tidak selalu membuatnya merasa telah selesai dengan urusan dunia. Ada satu cerita menarik tentang dirinya yang tercatat dalam <i>Sahih al-Bukhari</i>, hadis nomor 1274.</p>
<p>Saya sengaja mencantumkan nomor hadisnya. Minimal sedikit <i>tribute</i> kepada pesantren yang pernah saya tumpangi untuk belajar, tidur, makan, dan tentu saja buang air. Masa pernah jadi santri, menulis soal beginian sumbernya cuma, <i>“kalau tidak salah pernah dengar.”</i></p>
<p>Dalam riwayat itu diceritakan, suatu hari ketika makanan dihidangkan di hadapannya, Abdurrahman bin Auf justru teringat Mus‘ab bin ‘Umair yang telah gugur. Mus‘ab, katanya, lebih baik darinya, tetapi ketika wafat bahkan kain yang tersedia untuk mengafaninya sangat terbatas.</p>
<p>Lalu muncul kegelisahan yang bagi kita hari ini mungkin terasa agak asing: jangan-jangan kenikmatan telah disegerakan kepada mereka dalam kehidupan dunia.</p>
<p>Abdurrahman bin Auf menangis.</p>
<p>Menariknya, yang membuatnya gelisah bukan karena hartanya kurang.</p>
<p><b>Justru karena ia mempunyai banyak.</b></p>
<p>Bagi manusia modern, kegelisahan semacam itu mungkin agak sulit dipahami.</p>
<p>Hari ini kekayaan justru dipamerkan sebagai trofi keberhasilan. Rumah, kendaraan, perjalanan, saldo, barang bermerek—semuanya bisa menjadi pengumuman bahwa seseorang telah berhasil menjalani hidup.</p>
<p>Tidak salah juga. <i>Wong</i> punya barang bagus masa harus disembunyikan di kandang ayam.</p>
<p>Persoalannya menjadi lain ketika apa yang kita miliki mulai menjadi ukuran tentang siapa diri kita.</p>
<p>Di titik itu, sedekah mestinya mempunyai pekerjaan yang lebih dalam daripada sekadar memindahkan sebagian uang dari satu dompet ke dompet lain.</p>
<p><b>Ia melatih manusia melepaskan.</b></p>
<p>Bukan berarti manusia dilarang kaya. Islam tidak mengharamkan perdagangan atau kemakmuran. Yang dilatih barangkali justru kemampuan untuk mempunyai tanpa merasa harus menggenggam semuanya.</p>
<p>Sebab semakin takut manusia kehilangan uang, semakin besar kemungkinan uang mengendalikan hidupnya.</p>
<p>Mungkin itu sebabnya sedekah kadang terasa berat.</p>
<p>Yang sesungguhnya sedang dilawan bukan hanya kemiskinan orang lain, tetapi rasa takut dalam diri sendiri.</p>
<p>Takut berkurang. Takut jatuh. Takut tidak aman.</p>
<p>Ketika tangan mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya masih ingin disimpan, ada latihan kecil untuk mengatakan kepada diri sendiri: <i>“Saya masih bisa hidup meskipun tidak menggenggam semuanya.”</i></p>
<p>Pada titik itulah sedekah mulai menjauh dari transaksi.</p>
<p><b>Kita tidak lagi memberi seribu agar seribu itu pulang membawa sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu temannya.</b></p>
<p>Kita memberi karena sedang belajar bahwa tidak semua yang berada dalam genggaman harus dipertahankan mati-matian.</p>
<p>Dan mungkin di sinilah pembicaraan tentang “keajaiban sedekah” bisa kita lihat dari arah yang sedikit berbeda.</p>
<p>Kita sering terpukau kepada orang dermawan yang hidupnya tampak lapang, usahanya berkembang, dan hartanya terus bertambah. Lalu hubungan sebab-akibat segera dibuat: ia banyak bersedekah, maka hartanya banyak.</p>
<p>Bisa jadi.</p>
<p>Tetapi mungkin ada proses lain yang tidak terlihat.</p>
<p>Orang yang tidak terlalu diperbudak ketakutan kehilangan bisa lebih tenang mengambil keputusan. Ia mungkin lebih mudah dipercaya, lebih ringan membantu orang, lebih luas membangun hubungan, dan tidak menghabiskan seluruh tenaga hidupnya untuk mempertahankan apa yang sudah dimiliki.</p>
<p>Artinya, yang berubah pertama-tama mungkin bukan saldo rekeningnya.</p>
<p><b>Yang berubah adalah manusianya.</b></p>
<p>Karena itu saya mulai berpikir, mungkin kita terlalu sempit ketika bertanya: <i>“Setelah bersedekah, apa yang saya dapat?”</i></p>
<p>Sesekali pertanyaannya perlu dibalik:</p>
<p><b>“Setelah bersedekah, apa yang berkurang dari diri saya?”</b></p>
<p>Apakah ketakutan kehilangan sedikit berkurang?</p>
<p>Apakah kerakusan berkurang?</p>
<p>Apakah kebutuhan untuk selalu merasa lebih tinggi daripada orang lain berkurang?</p>
<p>Apakah kita menjadi sedikit lebih tenang ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan?</p>
<p>Kalau iya, jangan-jangan balasannya sudah datang.</p>
<p>Hanya saja kita tidak mengenalinya karena sejak awal menunggu notifikasi <i>mobile banking</i>.</p>
<p>Di zaman ketika hampir segala sesuatu diukur dengan untung-rugi, kemampuan untuk memberi tanpa sibuk menentukan balasannya mungkin merupakan salah satu bentuk kemerdekaan yang masih tersisa.</p>
<p>Dan bisa jadi manusia yang paling kaya bukanlah manusia yang paling banyak menyimpan, melainkan yang paling sedikit diperbudak oleh apa yang ia simpan.</p>
<p>Maka silakan tetap percaya bahwa sedekah seribu rupiah bisa dibalas berkali-kali lipat.</p>
<p>Saya juga ingin percaya demikian.</p>
<p>Hanya saja, barangkali kita tidak perlu terlalu cerewet mengatur bentuk pembayarannya.</p>
<p>Sebab kalau yang kita sedekahkan uang lalu kita bersikeras balasannya harus uang, jangan-jangan sejak awal kita memang tidak sedang belajar melepaskan apa-apa.</p>
<p><b>Kita cuma sedang menunggu uang itu pulang membawa teman.</b></p>
<p>Dan kalau suatu hari balasannya justru berupa hati yang sedikit lebih lapang, kemampuan menerima kehilangan, atau kesanggupan mengantre BBM satu jam lalu tetap tersenyum ketika stok habis tepat di depan kita, jangan buru-buru merasa sedekah kita belum menghasilkan apa-apa.</p>
<p><b>Bisa jadi imbal hasilnya sudah masuk. Cuma memang tidak tercatat di rekening.</b></p>
Ilustrasi. Jika ada kesamaan tokoh dan lokasi hanya kebetulan belaka. Jujur saja, saya adalah penyintas pendidikan S1 keagamaan, Tafsir Hadis—tapi b…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUf-HLzMms0Mk9pJ1NnX7v0ldE__WFv8X2MSDsLnw7cmwfcuGLUyB97xDvpFlHUcCDoh_CQ-_yZ1Sq-fy9wPUFFv5W34mA8qUtIL9XmJdIAEsn501rg7su2xBiBazebp4IxoQF7oDmtIIKRz878MfeST0zz6hJ3vIINlcnl08HxtNNh_ycDKdjPgG3lPs/s640/Ilustrasi%20pendidikan%20dan%20pemiskinan.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUf-HLzMms0Mk9pJ1NnX7v0ldE__WFv8X2MSDsLnw7cmwfcuGLUyB97xDvpFlHUcCDoh_CQ-_yZ1Sq-fy9wPUFFv5W34mA8qUtIL9XmJdIAEsn501rg7su2xBiBazebp4IxoQF7oDmtIIKRz878MfeST0zz6hJ3vIINlcnl08HxtNNh_ycDKdjPgG3lPs/s1600-rw/Ilustrasi%20pendidikan%20dan%20pemiskinan.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi. Jika ada kesamaan tokoh dan lokasi hanya kebetulan belaka.</td></tr></tbody></table>
<p>Jujur saja, saya adalah penyintas pendidikan S1 keagamaan, Tafsir Hadis—tapi bukan temannya Menteri Kehutanan. Pendidikan ketafsirhadisan itu tentu tidak lantas membuat saya bisa mengamandemen hadis, apalagi mengamandemen Al-Qur'an. Saya justru termasuk salah satu mantan calon sarjana yang akhirnya terlempar di tengah <i>blethokan</i>, lumpur sawah.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan sawah. Tidak ada pula yang salah dengan menjadi petani. Masalahnya, saya sendiri tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa setelah menempuh pendidikan tinggi, salah satu kemungkinan masa depan saya adalah berdiri di tengah lumpur sambil memikirkan tanaman, pupuk, hujan, dan harga panen.</p>
<p>Bertani bagi saya lebih dekat sebagai keterpaksaan daripada cita-cita.</p>
<p>Dan barangkali justru di situlah masalahnya.</p>
<p>Kita hidup di negeri yang sejak sekolah dasar diperkenalkan sebagai negeri agraris. Sawah membentang, tanah subur, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Tetapi entah sejak kapan, menjadi petani bahkan sudah kalah sebelum masuk ke dalam daftar cita-cita.</p>
<p>Coba tanyakan kepada anak-anak: kelak ingin menjadi apa?</p>
<p>Dokter, polisi, tentara, guru, insinyur, pengusaha, programmer, bahkan YouTuber. Semuanya terdengar wajar. Tetapi ketika seorang anak menjawab ingin menjadi petani, mungkin kita justru akan memastikan sekali lagi:</p>
<p><b>“Petani? Tenan?”</b></p>
<p>Seolah-olah cita-cita itu membutuhkan verifikasi.</p>
<p><b>Dalam angan-angan saja, pertanian sudah dianggap tidak mapan.</b></p><p><b>___</b></p>
<h2>Pendidikan Adalah Kunci</h2>
<p>Ada nasihat yang hampir tidak pernah kita persoalkan: <b>pendidikan adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan.</b></p>
<p>Saya percaya pendidikan memang dapat membuka kesempatan. Orang yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan memungkinkan anak dari keluarga sederhana memasuki ruang sosial dan ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau. Banyak keluarga mengalami perubahan kehidupan karena pendidikan.</p>
<p>Tetapi ada pertanyaan yang mengganggu: <b>kalau pendidikan adalah kunci agar orang miskin dapat memperbaiki kehidupannya, mengapa untuk memperoleh pendidikan terbaik orang miskin sering harus berjuang jauh lebih keras?</b></p>
<p>Sekolah unggulan mencari anak-anak unggulan. Kampus terbaik menyeleksi calon mahasiswa dengan nilai terbaik. Sebelum diterima, mereka diuji untuk memastikan bahwa mereka memang cukup pintar.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, kampus membanggakan lulusannya yang pintar-pintar.</p>
<p>Tidak salah. Tetapi sedikit lucu.</p>
<p>Itu seperti restoran yang hanya menerima bahan terbaik, lalu seluruh kelezatan masakannya dianggap semata-mata sebagai prestasi koki.</p>
<p>Tentu seleksi diperlukan. Daya tampung terbatas. Ada beasiswa, KIP, jalur afirmasi, dan berbagai program bantuan pendidikan. Mengatakan bahwa pendidikan bagus sepenuhnya tertutup bagi orang miskin jelas berlebihan.</p>
<p>Persoalannya bukan sekadar apakah pintunya terbuka.</p>
<p>Persoalannya adalah <b>seberapa jauh jarak masing-masing orang menuju pintu tersebut.</b></p>
<p>Seorang anak dapat tumbuh dengan kamar belajar, laptop, internet, buku, les tambahan, orang tua yang mampu mendampingi, serta kesempatan gagal sekali lalu mencoba lagi.</p>
<p>Anak lain mungkin belajar sambil membantu orang tua, berbagi perangkat, memikirkan ongkos sekolah, bahkan memilih kampus bukan berdasarkan mana yang terbaik, tetapi mana yang masih mungkin dijangkau.</p>
<p>Kemudian keduanya dipertemukan di ruang ujian.</p>
<p>Soalnya sama. Waktunya sama.</p>
<p>Hasilnya kita sebut <b>prestasi individual</b>.</p><p>___</p>
<h2>Ketika Kemiskinan Ikut Masuk Sekolah</h2>
<p>Di sinilah <i>The Education Trap: Schools and the Remaking of Inequality in Boston</i> karya Cristina Viviana Groeger menarik untuk dibaca. Konteks Boston yang dibahas Groeger tentu berbeda dengan Indonesia hari ini. Tetapi kegelisahannya terasa dekat: pendidikan dapat menjadi jalan mobilitas sosial, sementara sistem pendidikan dan kredensial pada saat yang sama dapat ikut membentuk kembali ketimpangan.</p>
<p>Pierre Bourdieu memberi perangkat lain untuk melihat persoalan tersebut. Seorang anak tidak datang ke sekolah sebagai kertas kosong dengan titik keberangkatan yang sama.</p>
<p>Mereka membawa bekal dari rumah.</p>
<p>Dan bekal itu bukan hanya uang.</p>
<p>Ada kebiasaan membaca, cara berbicara, lingkungan pergaulan, pengetahuan orang tua tentang pendidikan, jaringan sosial, keberanian menghadapi institusi, bahkan pengetahuan tentang sekolah mana yang sebaiknya dipilih dan bagaimana cara memasukinya.</p>
<p>Sebagian bekal semacam inilah yang dapat kita pahami sebagai <b>modal budaya</b>.</p>
<p>Maka hubungan kemiskinan dan pendidikan menjadi lebih rumit daripada nasihat, “kalau miskin, sekolah yang rajin.”</p>
<p>Orang miskin membutuhkan pendidikan bagus agar kesempatan ekonominya meningkat. Tetapi kemiskinan dapat membuat akses terhadap pendidikan bagus menjadi lebih berat. Pendidikan memengaruhi kesempatan kerja. Pekerjaan memengaruhi pendapatan. Pendapatan keluarga kemudian ikut menentukan pendidikan generasi berikutnya.</p>
<p>Lingkarannya berputar kembali.</p>
<p>Di sinilah istilah <b>pemiskinan struktural</b> menjadi relevan. Bukan dalam pengertian bahwa setiap malam ada sekelompok pejabat berkumpul sambil merancang bagaimana caranya supaya rakyat tetap bodoh. Kita tidak membutuhkan teori konspirasi sejauh itu.</p>
<p>Cukup melihat bagaimana distribusi sumber daya, kualitas pelayanan publik, kondisi keluarga, pasar kerja, dan kebijakan dapat membuat seseorang harus berlari lebih jauh hanya untuk mencapai garis awal yang sama.</p>
<p>Keberhasilan beberapa orang keluar dari keadaan tersebut tentu patut dirayakan. Tetapi keberhasilan seseorang melewati rintangan tidak otomatis membuktikan bahwa <b>tinggi rintangannya sama bagi semua orang.</b></p><p><b>___</b></p>
<h2>Sekolah yang Rajin, Biar Tidak Jadi Petani</h2>
<p>Persoalan pendidikan ternyata tidak berhenti pada siapa yang dapat memasuki sekolah terbaik.</p>
<p>Pendidikan, bersama keluarga dan masyarakat, juga ikut membentuk imajinasi tentang <b>kehidupan seperti apa yang pantas disebut berhasil.</b></p>
<p>Dan di sinilah saya kembali teringat <i>blethokan</i>.</p>
<p>Kita mengenal nasihat semacam:</p>
<p><b>“Sekolah sing sregep, ben uripmu kepenak. Ojo koyok bapakmu, dadi tani.”</b></p>
<p>Nasihat itu sebenarnya lahir dari kasih sayang. Orang tua yang puluhan tahun merasakan beratnya menjadi petani tentu berharap anaknya mempunyai kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Jadi tidak adil kalau bapaknya yang kita salahkan.</p>
<p>Pertanyaan yang lebih penting justru: <b>mengapa kehidupan petani bisa sedemikian berat sampai ukuran keberhasilan seorang bapak adalah ketika anaknya kelak tidak perlu menjadi seperti dirinya?</b></p>
<p>Kalau pertanian memang penting bagi negeri ini, seharusnya pendidikan memungkinkan anak petani membayangkan bahwa sekolah tinggi dapat membuatnya menjadi <b>petani yang lebih berdaya</b>.</p>
<p>Ia bisa memahami teknologi pertanian, tanah, cuaca dan tanaman. Menghitung biaya produksi, mengolah hasil panen, memahami pasar, membangun koperasi, menggunakan teknologi, memperpendek rantai distribusi, sampai memahami kebijakan yang menentukan kehidupannya.</p>
<p>Seharusnya kita tidak dipaksa memilih antara <b>menjadi terdidik</b> dan <b>tetap menjadi petani</b>.</p>
<p>Tetapi dalam imajinasi sosial kita, semakin tinggi pendidikan seseorang, terkadang semakin aneh kalau akhirnya ia kembali ke sawah.</p>
<p><b>“Sarjana kok macul?”</b></p>
<p>Kalimat pendek itu menyimpan persoalan panjang.</p>
<p>Cangkul diam-diam menjadi simbol kegagalan pendidikan. Sementara meja, komputer, sepatu, seragam, dan ruangan ber-AC menjadi tanda bahwa sekolah seseorang akhirnya berguna.</p>
<p>Sarjana pertanian yang bekerja di kantor perusahaan menjual produk kepada petani tidak terasa terlalu aneh.</p>
<p>Yang kadang justru dianggap aneh adalah sarjana pertanian yang benar-benar menjadi petani.</p><p>___</p>
<h2>Abdul Butun, Ibnu Jahil, dan Definisi Keberhasilan</h2>
<p>Pada akhirnya, tidak terlalu mengejutkan kalau kita terus dipusingkan oleh persoalan pengangguran terdidik. Sebab persoalannya mungkin bukan semata-mata tersedia atau tidak tersedianya pekerjaan, tetapi juga <b>apa yang sejak awal kita bayangkan sebagai pekerjaan</b>.</p>
<p>Dalam imajinasi kolektif kita, orang yang sudah “bekerja” biasanya adalah mereka yang pagi-pagi mandi, memakai sepatu, berangkat ke kantor, mempunyai atasan, lalu setiap akhir bulan menerima slip gaji.</p>
<p>Petani, peternak, nelayan, perajin, atau orang yang mengelola usaha kecil sendiri tentu bekerja. Tetapi secara sosial, pekerjaan semacam itu sering belum mendapatkan kehormatan yang sama dengan kalimat:</p>
<p><b>“Anaknya sekarang sudah diterima kerja.”</b></p>
<p>Apalagi kalau orangnya sarjana.</p>
<p>Kita hampir tidak pernah menemukan spanduk di pinggir jalan bertuliskan:</p>
<p><b>“Selamat dan sukses kepada Abdul Butun, S.Pd.I., atas keberhasilannya memanen dua ton tomat.”</b></p>
<p>Padahal dua ton tomat itu nyata. Bisa ditimbang, bisa dijual, dan bisa memberi makan orang.</p>
<p>Sebaliknya, kita sangat akrab dengan:</p>
<p><b>“Selamat dan sukses kepada Ibnu Jahil, S.H.I., atas diterimanya sebagai pegawai di Mahkamah Agung.”</b></p>
<p>Yang satu menghasilkan dua ton tomat. Yang lainnya memperoleh meja kerja dan slip gaji.</p>
<p>Entah mengapa, dalam hierarki kebanggaan kita, yang kedua terdengar jauh lebih berhasil.</p>
<p>Dan barangkali pada pemandangan semacam inilah <i>anecdotal evidence</i> secara komunal telah berlaku.</p>
<p>Kita melihat anak tetangga lulus kuliah kemudian menjadi pegawai bank.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Anak Pak RT diterima sebagai ASN.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Keponakan Pakde bekerja di perusahaan besar dan setiap Lebaran pulang membawa mobil.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Cerita-cerita itu dikumpulkan oleh ingatan masyarakat, diceritakan kembali di warung, hajatan, teras rumah, grup WhatsApp keluarga, lalu perlahan berubah menjadi semacam kesimpulan bersama:</p>
<p><b>sekolah tinggi berarti pekerjaan formal; pekerjaan formal berarti kemapanan; kemapanan berarti keberhasilan.</b></p>
<p>Sementara cerita yang lain jarang memperoleh panggung serupa.</p>
<p>Anak petani yang berhasil menggandakan hasil panen tidak menjadi bahan pembicaraan sekampung. Peternak muda yang berhasil mengembangkan usahanya mungkin tetap disebut sekadar <i>ngingu wedhus</i>. Orang yang mengelola sawahnya sendiri tetap menjawab “tani” ketika ditanya pekerjaannya—kadang dengan intonasi yang hampir terdengar seperti permintaan maaf.</p>
<p>Dari contoh-contoh kecil yang berulang itulah persepsi sosial perlahan dibentuk.</p>
<p>Bukan berdasarkan penelitian panjang tentang pekerjaan mana yang paling produktif, bermanfaat atau sejahtera. Tetapi berdasarkan <b>kisah keberhasilan mana yang paling sering kita lihat, dengar, ceritakan, dan rayakan.</b></p>
<p>Maka spanduk ucapan selamat kepada Ibnu Jahil sebenarnya bukan sekadar ucapan selamat.</p>
<p>Ia juga papan pengumuman kecil mengenai <b>definisi keberhasilan yang berlaku di masyarakat.</b></p>
<p>Besok pagi anak-anak melewatinya dalam perjalanan menuju sekolah.</p>
<p>Dan tanpa perlu ada mata pelajaran bernama <i>Cara Meninggalkan Pertanian</i>, mereka perlahan belajar sendiri tentang masa depan macam apa yang pantas dicita-citakan.</p>
<p><b>Barangkali pendidikan yang paling efektif memang tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kadang-kadang ia tercetak pada spanduk ucapan selamat di pinggir jalan.</b></p>
<h2>Sarjana yang “Belum Bekerja”</h2>
<p>Dari sini kita bisa memahami sebuah ironi lain.</p>
<p>Seorang sarjana dapat berbulan-bulan menunggu lowongan yang dianggap sesuai dengan pendidikannya. Sementara ketika ada sawah di belakang rumah, ternak yang bisa dikembangkan atau usaha keluarga yang bisa diperbesar, kita tetap mengatakan:</p>
<p><b>“Kasihan, belum dapat pekerjaan.”</b></p>
<p>Mungkin ia memang belum memperoleh pekerjaan yang diinginkannya.</p>
<p>Tetapi bisa jadi persoalan lainnya adalah kita terlalu sempit menentukan <b>kegiatan ekonomi macam apa yang pantas disebut pekerjaan dan keberhasilan.</b></p>
<p>Ini tentu bukan alasan untuk mengatakan, “Sarjana nganggur ya suruh macul saja.”</p>
<p>Itu sama simplistisnya dengan anggapan bahwa sekolah tinggi otomatis menyelesaikan kemiskinan.</p>
<p>Bertani membutuhkan lahan, modal, keterampilan, akses pasar, kepastian harga, teknologi, dan berbagai hal yang tidak selesai hanya dengan menyerahkan cangkul kepada penganggur.</p>
<p>Masalahnya justru lebih dalam.</p>
<p>Anak petani disekolahkan agar tidak menjadi petani.</p>
<p>Ia sekolah tinggi.</p>
<p>Pekerjaan formal yang sesuai dengan imajinasi keberhasilannya terbatas.</p>
<p>Untuk kembali ke pertanian ia ragu, sebab sejak kecil pertanian ditempatkan sebagai kehidupan yang hendak ditinggalkan.</p>
<p>Lalu kita bertanya:</p>
<p><b>Mengapa anak muda sekarang tidak mau bertani?</b></p>
<p>Pertanyaan tentang regenerasi itu bukan sepenuhnya mengada-ada. Sensus Pertanian 2023 mencatat petani berusia 19–39 tahun sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari keseluruhan petani Indonesia.</p><p>___</p>
<h2>Pengetahuan Siapa yang Disebut Ilmu?</h2>
<p>Ada lapisan lain yang sering luput.</p>
<p>Mengoperasikan spreadsheet disebut keterampilan.</p>
<p>Membuat presentasi disebut kompetensi.</p>
<p>Membaca laporan disebut kemampuan analitis.</p>
<p>Sementara kemampuan seorang petani membaca perubahan warna daun, mengenali kondisi tanah, memahami air, memperkirakan datangnya hama, membaca musim, dan mengenali perilaku tanaman sering hanya disebut <b>pengalaman</b>.</p>
<p>Tentu pengalaman petani tidak selalu benar. Pengetahuan tradisional juga tidak perlu diromantisasi seolah-olah selalu lebih bijaksana daripada ilmu modern.</p>
<p>Tetapi kita patut bertanya:</p>
<p><b>Pengetahuan siapa yang memperoleh kehormatan untuk disebut ilmu?</b></p>
<p>Seharusnya pendidikan mempertemukan keduanya.</p>
<p>Anak petani pergi ke sekolah membawa pengalaman keluarganya, kemudian memperoleh pengetahuan baru untuk memperkuatnya. Bukan pulang dengan keyakinan bahwa dunia tempat bapaknya hidup adalah dunia yang harus ditinggalkan.</p>
<p>Sebab ketika itu terjadi, pendidikan bukan hanya memberikan pengetahuan baru.</p>
<p>Ia juga bisa <b>mencerabut</b>.</p>
<p>Bukan dengan tulisan besar dalam buku pelajaran berbunyi: <b>JANGAN MENJADI PETANI.</b></p>
<p>Pesannya jauh lebih halus.</p>
<p>Ia hadir melalui cita-cita yang kita puji, pekerjaan yang kita banggakan, ukuran kemapanan yang kita gunakan, cerita keberhasilan yang terus kita ulang, sampai wajah keluarga yang berseri-seri ketika anaknya diterima bekerja di kantor tetapi sedikit kebingungan ketika anak sarjananya memilih menggarap sawah.</p>
<p>Lalu beberapa puluh tahun kemudian kita sibuk membicarakan <b>regenerasi petani</b>.</p>
<h2>Kembali ke Blethokan</h2>
<p>Saya tidak sedang meromantisasi pertanian.</p>
<p>Sawah bukan tempat piknik. Ada pupuk, hama, cuaca, modal, harga panen, tenaga, kepemilikan lahan, dan berbagai persoalan yang membuat bertani memang bukan pekerjaan ringan.</p>
<p>Saya juga bukan petani sukses yang sedang mengajak semua sarjana meninggalkan kantor dan kembali ke desa.</p>
<p>Saya bahkan berada pada posisi yang lebih lucu.</p>
<p>Seperti saya katakan di awal, saya adalah mantan calon sarjana Tafsir Hadis yang terlempar ke <i>blethokan</i>. Bertani bagi saya sendiri lebih dekat kepada keterpaksaan daripada cita-cita.</p>
<p>Dan justru itulah kegelisahannya.</p>
<p>Saya lahir di negeri yang katanya agraris. Saya pernah menempuh pendidikan tinggi. Tetapi bahkan saya sendiri tidak pernah benar-benar dididik untuk membayangkan pertanian sebagai salah satu masa depan yang layak diperjuangkan.</p>
<p>Kita mengatakan <b>pendidikan adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan</b>.</p>
<p>Mungkin benar.</p>
<p>Tetapi bagi banyak anak desa, jangan-jangan kalimat itu selama puluhan tahun diterjemahkan secara tidak sadar menjadi:</p>
<p><b>“Sekolahlah setinggi-tingginya agar kelak kamu bisa keluar dari sawah.”</b></p>
<p>Anak-anak itu kemudian benar-benar pergi.</p>
<p>Sawah kehilangan generasi penerusnya.</p>
<p>Petaninya semakin tua.</p>
<p>Lalu kita membuat seminar, program, pelatihan, dan diskusi panjang tentang bagaimana menarik minat generasi muda agar kembali bertani.</p>
<p>Padahal mungkin pertanyaannya harus dimulai jauh sebelum itu:</p>
<p><b>Kalau Indonesia memang negeri agraris, mengapa ukuran keberhasilan pendidikan anak-anaknya justru sering ditandai oleh seberapa jauh mereka berhasil meninggalkan pertanian?</b></p>
<p>Saya belum menemukan jawabannya.</p>
<p><b>Saya masih di <i>blethokan</i>.</b></p>
Di tempat saya tinggal, sebenarnya tidak bisa disebut desa yang sangat-sangat desa. Toko sudah banyak berdiri. Ada minimarket, Pertashop, Pertamini, …
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSDfw0czOkooDbhddglBpRizyba-NeJyMtD1GVhfYxPeyc13GIdDgFv9up42ulxMNAYq08_UKj8JdGxaiOzxd2WtHyoQAOLEXNpnvls-dBG3gelh_aRIPmBMQkVOIwo2qQtLhfy1c8UkRhfXPfvJcPPdqNEm6F56AF2rc35iHQqlwGOH-eFQoxlqS6JsU/s640/ilsutasi%20imrithiresz.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="427" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSDfw0czOkooDbhddglBpRizyba-NeJyMtD1GVhfYxPeyc13GIdDgFv9up42ulxMNAYq08_UKj8JdGxaiOzxd2WtHyoQAOLEXNpnvls-dBG3gelh_aRIPmBMQkVOIwo2qQtLhfy1c8UkRhfXPfvJcPPdqNEm6F56AF2rc35iHQqlwGOH-eFQoxlqS6JsU/s1600-rw/ilsutasi%20imrithiresz.png" /></a></div><p>Di tempat saya tinggal, sebenarnya tidak bisa disebut desa yang sangat-sangat desa. Toko sudah banyak berdiri. Ada minimarket, Pertashop, Pertamini, warung kelontong, dan penjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Maka saya punya satu keyakinan sederhana: kalau bepergian malam-malam dan kehabisan bensin, mestinya masih ada tempat untuk membelinya.</p>
<p>Keyakinan sederhana itu pernah diuji pada suatu malam.</p>
<p>Dalam perjalanan menuju suatu tempat, bensin motor saya habis. Mesin mati. Saya turun.</p>
<p><b>Tentu saja motor tidak bisa berjalan hanya dengan modal keyakinan.</b></p>
<p>Tetapi saya masih tenang. Di depan ada Pertashop. Saya yakin masih buka.</p>
<p>Motor saya dorong sampai ke sana.</p>
<p><b>Tutup.</b></p>
<p>Di depannya terpasang tulisan: <b>“Menunggu Kiriman.”</b></p>
<p>Tidak masalah. Keyakinan saya belum habis meskipun bensin sudah habis. Sekitar satu kilometer di depan ada toko Pak Anu. Ada Pertamini di sana dan biasanya buka sampai malam.</p>
<p>Maka saya berjalan lagi sambil mendorong motor. Sampai di sana, toko Pak Anu ternyata tutup.</p>
<p>Ada tetangga yang meninggal.</p>
<p>Dua kali kenyataan sebenarnya sudah memberi isyarat agar saya sedikit meragukan perkiraan sendiri. Tetapi manusia memang makhluk yang luar biasa. Ketika satu keyakinan gagal, kita sering tidak kehilangan keyakinan. Kita hanya mencari objek baru untuk diyakini.</p>
<p>Saya masih yakin.</p>
<p>Di depan masih ada toko lain.</p>
<p>Motor kembali saya dorong. Tentu saja didorong, masa saya panggul. Wong motornya sendiri sudah tidak bisa berjalan.</p>
<p>Kurang lebih dua kilometer kemudian saya sampai.</p>
<p><b>Tutup juga.</b></p>
<p>Kali ini alasannya jauh lebih sederhana: jam sudah menunjukkan sekitar pukul sembilan malam.</p>
<h2>Kita Memang Butuh Keyakinan</h2>
<p>Saya tidak lantas ingin menyelisihi bait <i>Imrithi</i> yang ini:</p>
<p class="arabic-text" dir="rtl" lang="ar">إِذِ الْفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعْ<br />
وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ
</p>
<p>Artinya: <i>“Seorang pemuda akan diangkat sesuai kadar keyakinannya, dan siapa yang tidak memiliki keyakinan tidak akan memperoleh manfaat.”</i></p>
<p>Saya tidak berani menyelisihinya. Kiai-kiai saya sejak dulu mengajarkan bahwa <i>i‘tiqad</i> itu penting. Dan saya yakin itu.</p>
<p>Sebab tanpa <i>i‘tiqad</i>, sebagai manusia kita mungkin hanya seperti plastik yang terbang diterpa angin. Ada angin ke timur, ikut ke timur. Angin berbalik ke barat, ikut ke barat. Tidak ada angin, ya tidak terbang. Paling nyangkut di pagar tetangga.</p>
<p>Manusia memang membutuhkan sesuatu yang diyakini agar tahu ke mana harus melangkah, untuk apa berjalan, dan mengapa perlu bertahan ketika perjalanan mulai tidak menyenangkan.</p>
<p><b>Tetapi pada konteks tertentu, keyakinan juga perlu dipertanyakan.</b></p>
<p>Bukan keyakinan kepada Tuhan atau perkara akidah yang sedang saya maksud. Saya sedang membicarakan keyakinan-keyakinan yang kita produksi sendiri setiap hari: tentang orang lain, pekerjaan, masa depan, kebaikan, keberhasilan, bahkan tentang bagaimana dunia seharusnya memperlakukan kita.</p>
<p>Sebab keyakinan punya tetangga dekat bernama <b>ekspektasi</b>. Dan kalau tidak hati-hati, di belakang ekspektasi sering bersembunyi sesuatu yang lebih sulit kita akui: <b>ego</b>.</p>
<h2>Kata Bernama “Seharusnya”</h2>
<p>Kita berbuat baik kepada seseorang. Awalnya sederhana: karena kita yakin berbuat baik memang baik.</p>
<p>Tetapi beberapa tahun kemudian orang itu tidak membantu ketika kita kesusahan.</p>
<p>Mulailah muncul suara kecil:</p>
<p><i>“Setelah semua yang pernah saya lakukan untuk dia...”</i></p>
<p>Nah.</p>
<p>Rupanya kebaikan yang dulu kita kira sudah diberikan cuma-cuma masih menyimpan kuitansi.</p>
<p>Kita berharap anak yang disekolahkan tinggi kelak memiliki pekerjaan bagus. Kita berharap orang yang kita perlakukan dengan baik akan memperlakukan kita dengan baik. Kita berharap kerja keras menghasilkan keberhasilan. Kita berharap orang yang selama ini kita kenal baik tidak melakukan sesuatu yang mengecewakan.</p>
<p>Semua itu wajar.</p>
<p>Masalah biasanya dimulai ketika kata <b>“berharap”</b> pelan-pelan berubah menjadi <b>“seharusnya”.</b></p>
<p>Dia <b>seharusnya</b> membalas kebaikan saya.</p>
<p>Anak saya <b>seharusnya</b> menjadi seperti yang saya harapkan.</p>
<p>Setelah bekerja sekeras ini, saya <b>seharusnya</b> berhasil.</p>
<p>Setelah berdoa sedemikian rupa, apa yang saya inginkan <b>seharusnya</b> terjadi.</p>
<p>Di situlah ekspektasi mulai ditempeli ego.</p>
<p>Kita tidak lagi sekadar berharap kenyataan berjalan ke suatu arah. Kita mulai merasa kenyataan <b>berkewajiban</b> berjalan ke arah itu.</p>
<p>Padahal kenyataan tidak pernah ikut rapat ketika kita menyusun rencana tersebut.</p><p>___</p>
<h2>Kontrak yang Tidak Pernah Ditandatangani</h2>
<p>Mungkin sebagian kekecewaan kita sebenarnya lahir dari kontrak sepihak.</p>
<p>Kita menulis sendiri pasal-pasalnya di kepala: kalau saya melakukan A, kehidupan harus memberikan B. Kalau saya berbuat baik, orang lain harus baik. Kalau saya bekerja keras, saya harus berhasil. Kalau saya sudah mengenal seseorang bertahun-tahun, dia tidak mungkin berubah atau melakukan sesuatu di luar dugaan saya.</p>
<p>Kontrak selesai dibuat.</p>
<p>Masalahnya, kehidupan tidak pernah membubuhkan tanda tangan.</p>
<p>Lalu ketika hasilnya berbeda, kita kecewa. Bahkan kadang marah.</p>
<p>Padahal bisa jadi tidak ada siapa-siapa yang mengkhianati kita. Kita hanya terlalu yakin bahwa skenario yang ada di kepala adalah satu-satunya skenario yang layak terjadi.</p>
<p>Persis seperti saya malam itu.</p>
<p>Pertashop tidak pernah berjanji kepada saya bahwa stok bensinnya akan tersedia. Pak Anu juga tidak pernah menandatangani perjanjian bahwa tokonya harus buka ketika bensin saya habis. Pemilik toko terakhir bahkan mungkin tidak tahu bahwa beberapa kilometer sebelumnya ada orang sedang mendorong motor sambil menggantungkan harapan kepadanya.</p>
<p>Mereka tidak mengecewakan saya.</p>
<p><b>Ekspektasi saya sendiri yang melakukannya.</b></p>
<p>Dan mungkin ego membuat kekecewaan itu terasa lebih berat karena ada bagian dalam diri kita yang sulit menerima satu kenyataan sederhana: <b>bahwa apa yang kita yakini belum tentu benar hanya karena kita sangat meyakininya.</b></p>
<p>Barangkali itu sebabnya kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri:</p>
<p><i>“Apa yang saya yakini ini memang benar, atau saya hanya sangat ingin ia menjadi benar?”</i></p>
<p>Pertanyaan itu tidak harus membuat kita kehilangan keyakinan. Justru mungkin membuat keyakinan sedikit lebih waras.</p>
<p>Kita tetap boleh berharap. Tetap boleh merencanakan masa depan. Tetap boleh percaya kepada seseorang. Tetap boleh berusaha sekuat tenaga. Sebab hidup tanpa semua itu juga sulit dibayangkan.</p>
<p>Hanya saja, sisakan sedikit ruang untuk kemungkinan bahwa kenyataan mempunyai jalannya sendiri.</p><p>___</p>
<h2>Manfaat Itu Soal Persepsi</h2>
<p>Sebab menjadi manusia tanpa keyakinan mungkin memang seperti plastik yang diterpa angin.</p>
<p>Tetapi malam itu saya juga belajar sesuatu yang lain.</p>
<p><b>Keyakinan memang mampu membuat saya terus berjalan. Sayangnya, ia hanya membuat saya berjalan kaki. Untuk membuat motor ikut berjalan, tetap saja saya membutuhkan bensin.</b></p>
<p>Tapi percayalah, bahkan dalam situasi saya malam itu, potongan bait <i>Imrithi</i> tadi tetap relevan. Keyakinan saya bahwa di depan masih ada toko yang buka ternyata tetap memberikan manfaat.</p>
<p>Memang bukan manfaat seperti yang saya harapkan. Bensin tidak saya dapatkan, motor tetap tidak mau hidup, dan saya tetap harus mendorongnya beberapa kilometer.</p>
<p>Tetapi setidaknya saya berkeringat.</p>
<p>Dan bertahun-tahun kemudian, dari keyakinan yang berkali-kali mengecewakan itu, lahirlah tulisan ini.</p>
<p>Barangkali manfaat memang sedikit banyak soal persepsi. Kita sering merasa sesuatu tidak bermanfaat hanya karena manfaat yang datang tidak berbentuk seperti yang sudah kita tentukan sebelumnya.</p>
<p>Kita meminta bensin, lalu mendapat keringat. Kita berharap perjalanan menjadi mudah, malah mendapat cerita. Kita mengharapkan sesuatu terjadi sesuai rencana, tetapi justru dari kegagalan rencana itulah kita memperoleh sesuatu yang sebelumnya bahkan tidak terpikirkan.</p>
<p>Maka saya jadi teringat lagi pada separuh terakhir bait tadi:</p>
<p class="arabic-text" dir="rtl" lang="ar">وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ
</p>
<p>Artinya: <i>“Dan siapa yang tidak memiliki keyakinan, tidak akan memperoleh manfaat.”</i></p>
<p>Mungkin benar, keyakinan tetap membawa manfaat. Hanya saja kita perlu sedikit berhati-hati agar ego tidak buru-buru menentukan manfaat itu harus datang dalam bentuk apa.</p>
<p>Sebab kalau dipikir-pikir lagi, bait <i>Imrithi</i> itu hanya mengatakan <i>yantafi‘</i>: memperoleh manfaat.</p>
<p><b>Soal manfaatnya berbentuk apa, rupanya bait itu tidak pernah berjanji.</b></p>
Gambar hanya ilustrasi AI. Jika ada kesamaan hanya kebetulan belaka. Belakangan ini ramai sekali pidato KH Hasan Abdullah Sahal , pimpinan Pondok Mod…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSe5he0zXL16TzSEhIsKiqg74btzDuOQKBcf7jnO0a-lG7xAD3FGsjCD-pCtMk1Dv56oVlckyubb6hFrss_D_cVVKyeyzkaWoKelnHhAGC-c7snztCKKzAHyj2uaQrLMXoqjc0aMzmSLCcwgshGv7nBlwAEXNgju9dLbeus_40EN5C4c0Qp_CGt49Jvns/s800/Ilustrasi%20pidato%20kiai.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="450" data-original-width="800" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSe5he0zXL16TzSEhIsKiqg74btzDuOQKBcf7jnO0a-lG7xAD3FGsjCD-pCtMk1Dv56oVlckyubb6hFrss_D_cVVKyeyzkaWoKelnHhAGC-c7snztCKKzAHyj2uaQrLMXoqjc0aMzmSLCcwgshGv7nBlwAEXNgju9dLbeus_40EN5C4c0Qp_CGt49Jvns/s1600-rw/Ilustrasi%20pidato%20kiai.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Gambar hanya ilustrasi AI. Jika ada kesamaan hanya kebetulan belaka.</td></tr></tbody></table><br /><p>Belakangan ini ramai sekali pidato <b>KH Hasan Abdullah Sahal</b>, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, di hadapan Prabowo. Banyak orang memuji keberanian beliau karena dianggap berani berbicara terang-terangan, menyampaikan nasihat di depan presiden tanpa terlihat <i>ewuh pakewuh</i>.</p>
<p>Ramainya bukan main. Beranda media sosial saya sampai dipenuhi potongan video, kutipan, pujian, dan status orang-orang yang mendadak seperti baru menemukan definisi tentang bagaimana seharusnya seorang kiai berdiri di hadapan kekuasaan.</p>
<p>Saya sendiri sangat menyukai pidato <b>Kiai Hasan</b>. Dalam perkara ini, saya mungkin tidak berbeda dengan kebanyakan orang yang membagikan video tersebut.</p>
<p>Pidato itu memang disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, 19 September 2026, yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Salah satu bagian yang kemudian ramai dibicarakan adalah ketika Kiai Hasan mempersilakan dirinya diprotes, dikritik, bahkan didemo apabila makanan, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggalnya melebihi para santri.</p>
<p>Belum lagi cerita mengenai kesederhanaan hidup beliau. Pimpinan salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia itu dikenal menjalani kehidupan yang sederhana. Maka lengkap sudah kekaguman publik: berani di hadapan kekuasaan, sekaligus tidak silau oleh kemewahan.</p>
<p>Sampai di sini, tidak ada masalah.</p>
<p>Masalah mulai muncul ketika kekaguman kepada Kiai Hasan perlahan berubah menjadi alat pemukul untuk kiai-kiai lain.</p>
<p><i>"Begini seharusnya kiai."</i></p>
<p><i>"Berani menasihati penguasa."</i></p>
<p><i>"Tidak silau harta dan jabatan."</i></p>
<p>Lalu mulailah muncul perbandingan. Ada yang menyindir kiai dari pesantren lain. Ada yang membawa-bawa kiai NU. Ada yang mempertentangkan kesederhanaan Kiai Hasan dengan beberapa kiai yang dianggap hidup bermewah-mewahan.</p>
<p>Seolah-olah setelah video itu viral, seluruh kiai di Indonesia mendadak harus mengikuti ujian kompetensi dengan Kiai Hasan sebagai kisi-kisinya.</p>
<p>Padahal ada satu persoalan sederhana yang sering kita lupakan:</p>
<p><b></b></p><blockquote><b>Banyak juga kiai NU yang sederhana. Banyak pula yang berani. Cuma mungkin mereka belum pernah kebagian kesempatan bertemu Presiden Prabowo.</b></blockquote><p></p>
<h2>Ketika Kekaguman Menjadi Kacamata</h2>
<p>Dalam psikologi ada istilah <i>halo effect</i>. Sederhananya, ketika kita menemukan satu sifat positif yang sangat menonjol pada seseorang, kesan positif tersebut dapat memengaruhi penilaian kita terhadap sifat-sifat lainnya.</p>
<p>Kiai Hasan tampil sederhana. Beliau berbicara lugas. Di depannya kebetulan duduk orang nomor satu di republik ini. Kombinasi ketiganya memang dahsyat.</p>
<p>Lalu otak kita bekerja cepat.</p>
<p>Sederhana berarti baik.</p>
<p>Berani bicara di depan presiden berarti independen.</p>
<p>Tidak bermewah-mewahan berarti tidak dekat dengan kepentingan.</p>
<p>Sebagian kesimpulan itu mungkin benar. Tetapi masalahnya muncul ketika kesan tersebut tidak lagi digunakan untuk mengagumi Kiai Hasan, melainkan dipakai sebagai penggaris untuk mengukur semua kiai lain.</p>
<p>Kiai Hasan sederhana, maka kiai yang rumahnya bagus mulai dicurigai.</p>
<p>Kiai Hasan berani bicara di depan presiden, maka kiai yang tidak pernah kita lihat melakukan hal serupa dianggap tidak berani.</p>
<p>Padahal bisa jadi persoalannya jauh lebih sederhana:</p>
<p><b>Presidennya memang belum pernah mampir.</b></p>
<h2>Moral Benchmark Syndrome</h2>
<p>Di sinilah saya kira kita sedang terkena penyakit yang untuk sementara boleh kita beri nama <b>Moral Benchmark Syndrome.</b></p>
<p>Ini tentu bukan istilah psikologi. Jangan dicari di jurnal ilmiah. Apalagi dibawa konsultasi ke dokter.</p>
<p>Gejalanya adalah kecenderungan menganggap orang yang kebetulan memperoleh panggung untuk menunjukkan suatu kualitas sebagai satu-satunya orang yang memiliki kualitas tersebut.</p>
<p>Kita melihat seorang kiai berani berbicara di hadapan presiden, lalu lupa bahwa ada banyak bentuk keberanian yang tidak direkam kamera.</p>
<p>Ada kiai yang mungkin tidak pernah bertemu presiden, tetapi berani berhadapan dengan kepala desa ketika tanah warga bermasalah.</p>
<p>Ada yang berani menegur pejabat kabupaten.</p>
<p>Ada yang mendampingi petani.</p>
<p>Ada yang menolak proyek yang dianggap merugikan masyarakat.</p>
<p>Ada pula yang mungkin sepanjang hidupnya tidak pernah masuk televisi, tetapi tetap hidup sederhana bersama jamaahnya.</p>
<p>Apakah semuanya ada? Tentu perlu dilihat satu per satu. Justru itu pokok persoalannya: <b>jangan menyimpulkan keadaan ribuan kiai hanya dari siapa yang kebetulan sedang viral.</b></p>
<p>Media sosial memang punya kebiasaan aneh. Ia membuat yang terlihat terasa seperti satu-satunya yang ada.</p>
<p>Yang tidak masuk kamera dianggap tidak melakukan apa-apa.</p>
<p>Yang tidak viral dianggap diam.</p>
<p>Yang tidak berfoto dengan pejabat dianggap tidak pernah bertemu pejabat.</p>
<p>Dan yang kebetulan tidak pernah memperoleh kesempatan menasihati presiden di depan umum akhirnya dianggap tidak berani menasihati presiden.</p>
<p>Lha presidennya saja belum pernah ketemu.</p>
<p><i>Mau dinasihati lewat apa? Kolom komentar Instagram?</i></p>
<h2>Dari Mengagumi Menjadi Menghakimi</h2>
<p>Ada kekeliruan lain yang lebih menggelitik.</p>
<p>Kita sering tidak puas hanya dengan mengagumi seseorang. Kekaguman terasa kurang lengkap kalau belum digunakan untuk merendahkan orang lain.</p>
<p>Kita tidak cukup berkata:</p>
<p><i>"Kiai Hasan sederhana."</i></p>
<p>Harus ditambah:</p>
<p><i>"Tidak seperti kiai anu."</i></p>
<p>Tidak cukup berkata:</p>
<p><i>"Kiai Hasan berani."</i></p>
<p>Harus diteruskan:</p>
<p><i>"Coba kiai-kiai yang lain seperti beliau."</i></p>
<p>Akhirnya pujian membutuhkan korban.</p>
<p>Padahal keutamaan seseorang tidak otomatis membuktikan keburukan orang lain.</p>
<p>Kalau tetangga saya rajin salat malam, itu merupakan kebaikan tetangga saya. Tidak otomatis membuktikan bahwa saya setiap malam mabuk.</p>
<p>Logikanya tidak sampai ke sana.</p>
<p>Begitu pula kesederhanaan Kiai Hasan tidak otomatis menjadi bukti bahwa kiai pesantren lain hidup bermewah-mewahan. Dan keberanian beliau berbicara di depan Presiden Prabowo tidak otomatis membuktikan bahwa kiai lain takut kepada kekuasaan.</p>
<p>Kalau memang ada kiai yang hidup berlebihan, kritiklah berdasarkan kenyataan hidupnya.</p>
<p>Kalau ada kiai yang menjilat kekuasaan, kritiklah berdasarkan ucapan dan tindakannya.</p>
<p>Kalau ada yang menggunakan umat sebagai tangga menuju jabatan, ya silakan dibicarakan berdasarkan bukti.</p>
<p>Tetapi jangan menjadikan satu orang baik sebagai bukti bahwa semua orang yang tidak menyerupainya pasti buruk.</p>
<p>Itu bukan kritik.</p>
<p><b>Itu kemalasan berpikir yang kebetulan memakai peci.</b></p>
<h2>Kiai NU Juga Tidak Dicetak Satu Pabrik</h2>
<p>Terlebih ketika perbandingan mulai diarahkan kepada <i>"kiai NU"</i>.</p>
<p>Istilah ini sendiri sudah sangat luas.</p>
<p>Ada kiai pesantren besar, ada kiai kampung. Ada yang mengasuh ribuan santri, ada yang santrinya tiga puluh orang. Ada yang dekat dengan pejabat, ada yang jangankan bertemu presiden, ketemu camat saja mungkin setahun sekali ketika acara Agustusan.</p>
<p>Ada yang berkecukupan. Ada yang rumahnya sederhana. Ada yang vokal. Ada yang memilih berbicara melalui pengajian. Ada yang bergerak mendampingi masyarakat tanpa pernah masuk berita.</p>
<p>Menyimpulkan semuanya dengan kalimat <i>"kiai NU begini"</i> atau <i>"kiai NU begitu"</i> sama saja seperti melihat satu pengendara Supra menerobos lampu merah lalu menyimpulkan bahwa seluruh pemilik Honda Supra tidak mengenal rambu lalu lintas.</p>
<p>Motornya sama. Kelakuan pengendaranya belum tentu.</p>
<p>Begitu pula organisasi, pesantren, atau tradisi keagamaan tidak otomatis membuat semua orang di dalamnya memiliki watak yang sama.</p>
<p>Karena itu, membandingkan seorang Kiai Hasan yang konkret dengan sebuah kelompok besar bernama <i>"kiai NU"</i> sejak awal memang tidak seimbang.</p>
<p>Yang satu orang.</p>
<p>Yang satunya entah berapa ribu.</p>
<h2>Tetap Kagum, Tidak Perlu Mendadak Goblok</h2>
<p>Kita tetap boleh—bahkan layak—mengagumi KH Hasan Abdullah Sahal.</p>
<p>Pidatonya menarik. Sikapnya mengenai kesederhanaan pemimpin layak direnungkan. Keberaniannya menyampaikan prinsip tersebut di sebuah acara yang dihadiri Presiden Republik Indonesia juga merupakan peristiwa publik yang wajar mendapat perhatian.</p>
<p>Tetapi kekaguman seharusnya membuat pikiran kita semakin jernih, bukan malah kehilangan kemampuan membedakan.</p>
<p>Kita bisa berkata Kiai Hasan sederhana tanpa harus menuduh semua kiai lain bermewah-mewahan.</p>
<p>Kita bisa menghargai keberaniannya tanpa harus menganggap orang yang tidak muncul dalam video itu pengecut.</p>
<p>Kita juga bisa mengkritik kiai, pesantren, NU, Gontor, pejabat, bahkan presiden sekalipun berdasarkan tindakan konkret mereka masing-masing—bukan berdasarkan perbandingan yang kita bangun dari potongan video yang sedang viral.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, mungkin persoalan kita bukan kekurangan teladan.</p>
<p>Kita justru sering terlalu cepat menemukan teladan, terlalu cepat mengangkatnya menjadi standar universal, lalu terlalu bersemangat menggunakannya untuk memukul kepala orang lain.</p>
<p>Kiai Hasan tidak salah.</p>
<p>Pidatonya juga tidak salah.</p>
<p>Yang kadang agak bermasalah adalah kita: <b>baru beberapa menit kagum kepada kebijaksanaan seorang kiai, sudah menggunakan kekaguman itu dengan cara yang tidak begitu bijaksana.</b></p>
<p>Dan kalau besok muncul video kiai lain yang lebih viral, entah siapa lagi yang akan kita pukul dengannya.</p>
<p>Begitulah algoritma bekerja.</p>
<p><b>Hari ini kita mendapat teladan. Besok kita mencari korban perbandingan.</b></p><p></p><p></p>
Ilustrasi ole AI Sepuluh ribu bagi sebagian orang mungkin bukan uang yang banyak. Tapi bagi saya sebagai warga desil 3,5, uang sepuluh ribu sudah s…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBc7cUc2uocPrJkWAba4Ke8zlsqyMGzXTMIXif8sbteOOpmZiDyn3SGqWUmKhRSzIbF7LV2jHbzSbuy7WvBuBTrRnyPa0FhAaepRSfefnH89pcIe6Ge6bcIhTOPPfGL-MFGlb6M4LhMDsbEdyMPv6I6yu5wuOfAZQI3OGWonk5wak6mbmXIYNUqadbppE/s640/Tragedi%20uang%20sepuluh%20ribu%20palsu.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBc7cUc2uocPrJkWAba4Ke8zlsqyMGzXTMIXif8sbteOOpmZiDyn3SGqWUmKhRSzIbF7LV2jHbzSbuy7WvBuBTrRnyPa0FhAaepRSfefnH89pcIe6Ge6bcIhTOPPfGL-MFGlb6M4LhMDsbEdyMPv6I6yu5wuOfAZQI3OGWonk5wak6mbmXIYNUqadbppE/s1600-rw/Tragedi%20uang%20sepuluh%20ribu%20palsu.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi ole AI</td></tr></tbody></table>
<p>Sepuluh ribu bagi sebagian orang mungkin bukan uang yang banyak. Tapi bagi saya sebagai warga desil 3,5, uang sepuluh ribu sudah seperti jimat yang harus dirawat.<p/>
<p>Hari itu seperti hari-hari biasanya. Cuaca panas dan berangin. Ada panggilan dari seorang kawan untuk datang. Saya diajak mengantarkan barang sekaligus menemui beberapa orang.</p>
<p>Sebelum berangkat, saya memeriksa beberapa tempat yang sekiranya memungkinkan ada uang terselip.</p>
<p>Tidak ada.</p>
<p>Saya periksa jok motor.</p>
<p>Aha!</p>
<p>Ada sepuluh ribu.</p>
<p>Cukup.</p>
<p>Saya pun berangkat dengan kepercayaan diri yang sebenarnya agak tidak sebanding dengan kekuatan finansial. Sepanjang perjalanan saya sudah membuat perhitungan matang: Pertalite satu liter di SPBU besar, sedangkan secangkir kopi nanti dibayari teman.</p>
<p>Keuangan aman.</p>
<p>Bahkan dari rumah sebenarnya saya sudah sempat merapal mantra:</p>
<p><i>“Bismillahirrahmanirrahim... kelawan nyebut asmane Gusti Kang Murbeng Dumadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala, Kang Maha Welas Asih... Ingsun ametak ajiku, aji golek duit. Modal sepuluh ewu dadi limangatus ewu, modal ngopi dibayari, kenek ngge munggah kaji.... Amin.”</i></p>
<p>Dengan modal sepuluh ribu dan doa yang target pertumbuhan investasinya mencapai lima ribu persen itu, saya berangkat dengan tenang.</p>
<p>Sesampainya di SPBU, saya antre seperti biasa, sebagaimana wajarnya warga desil 6 ke bawah.</p>
<p>Ketika tiba giliran saya, petugas memasukkan <i>nozzle</i> ke lubang tangki.</p>
<p><i>“Pinten, Mas?”</i></p>
<p>Dengan percaya diri dan sedikit merasa gagah, saya menjawab:</p>
<p><i>“Sedasa ewu, Mas.”</i></p>
<p>Pertalite dikocorkan. Angka di mesin bergerak dan berhenti tepat di Rp10.000.</p>
<p>Saya merogoh saku celana. Ketemu. Selembar uang yang sejak tadi menjadi fondasi perekonomian perjalanan hari itu saya serahkan kepada petugas.</p>
<p>Saya bahkan tidak memeriksanya lagi.</p>
<p>Lalu petugas mengatakan:</p>
<p><i>“Lha, niki palsu, Mas.”</i></p>
<p><i>“Hah... milo ta, Mas?”</i></p>
<p>Selesai.</p>
<p>Rupanya mantra <i>aji golek duit</i> yang saya rapalkan tadi ada kesalahan teknis. Bukannya mengubah sepuluh ribu menjadi lima ratus ribu, malah membuat sepuluh ribu yang saya bawa menjadi palsu.</p>
<p>Saya panik.</p>
<p>Wong uangnya hanya itu.</p>
<p>Antrean di belakang semakin panjang. Orang-orang menunggu saya yang masih berdiri di depan pompa dengan Pertalite sepuluh ribu yang sudah telanjur masuk ke tangki, sementara alat pembayarannya baru saja dinyatakan tidak sah oleh negara.</p>
<p>Saya terpaksa memajukan motor sedikit ke depan dan ke samping agar antrean tetap berjalan.</p>
<p>Lalu mulailah sebuah pertunjukan kecil untuk mempertahankan harga diri.</p>
<p>Saya merogoh saku celana. Saku satunya lagi. Membuka dompet. Membuka tas. Memeriksa tempat-tempat yang sebenarnya sudah saya tahu isinya.</p>
<p>Padahal saya sadar betul: <b>tidak ada.</b></p>
<p>Selain uang sepuluh ribu palsu tadi, saya cuma punya beberapa uang receh yang kalau dikumpulkan pun lima ribu rupiah tidak sampai.</p>
<p>Tetapi demi tetap terlihat sebagai manusia yang memiliki kendali atas perekonomian pribadi, saya terus mencari.</p>
<p>Saya kemudian mengeluarkan HP.</p>
<p>Dengan gaya seperti orang yang baru teringat bahwa dirinya hidup di zaman ekonomi digital, saya membuka <i>e-wallet</i>. Siapa tahu keselamatan datang melalui teknologi finansial.</p>
<p>Saldo: <b>Rp1.250.</b></p>
<p><b>SERIBU DUA RATUS LIMA PULUH RUPIAH.</b></p>
<p>Bukan seratus dua puluh lima ribu. Bukan pula dua belas ribu lima ratus.</p>
<p>Seribu. Dua ratus. Lima puluh.</p>
<p>Saat itulah saya sadar, digitalisasi ternyata tidak selalu membuat orang terlihat modern. Kadang ia hanya menyediakan cara yang lebih canggih untuk memastikan bahwa kita memang tidak punya uang.</p>
<p>Saya terpaksa merawat kepanikan itu selama beberapa menit.</p>
<p>Saku yang sama saya periksa lagi. Dompet dibuka lagi. Tas dilihat lagi.</p>
<p>Entah kenapa saya masih melakukannya. Mungkin manusia memang begitu. Ketika uang tidak ada, kita masih berharap hukum alam berubah hanya karena saku diperiksa untuk ketiga kalinya.</p>
<p>Dalam kondisi seperti itu, saya bahkan tidak berani menatap langit.</p>
<p>Lha kok menatap langit.</p>
<p>Mengamati wajah orang dengan teliti saja saya tidak berani. Rasanya semua mata sedang melihat ke arah saya, meskipun mungkin sebenarnya tidak ada yang peduli. Orang-orang hanya ingin mengisi bensin lalu pergi. <b>Atau mungkin sebagian dari mereka sama dengan saya, hanya beda momen.</b></p>
<p>Tetapi kalau sedang malu, kita memang sering merasa menjadi pusat perhatian dunia.</p>
<p>Sampai beberapa menit kemudian seorang petugas SPBU menghampiri.</p>
<p><i>“Wonten nopo, Mas?”</i></p>
<p>Saya masih tidak berani melihat wajahnya. Masih <i>clingak-clinguk</i>, sambil berharap entah bagaimana ada uang terselip di suatu tempat untuk membayar Pertalite yang telanjur masuk ke tangki.</p>
<p>Akhirnya saya menjawab lirih:</p>
<p><i>“Duitku sedasa ewu palsu, Mas.”</i></p>
<p><i>“Lha terus pripun?”</i></p>
<p><i>“Nggih dereng mbayar, Mas. Wong artone palsu, kok.”</i></p>
<p>Petugas itu bertanya lagi:</p>
<p><i>“Namung sedasa ewu ngisine?”</i></p>
<p><b>Namung sedasa ewu?</b></p>
<p>Saya agak <i>ndredeg</i> mendengarnya.</p>
<p>Ternyata sepuluh ribu rupiah adalah <i>“namung”</i> bagi beberapa orang dalam kondisi tertentu.</p>
<p>Padahal sejak berangkat tadi, sepuluh ribu itulah yang membuat saya cukup percaya diri meninggalkan rumah. Sepuluh ribu itu sudah saya hitung baik-baik: cukup untuk membeli Pertalite satu liter, cukup untuk membawa motor pergi dan pulang, sementara urusan kopi sudah saya masukkan ke dalam pos anggaran orang lain.</p>
<p>Bahkan ketika diketahui palsu, saya masih menghabiskan beberapa menit untuk mencari penggantinya.</p>
<p>Jadi ketika orang itu mengatakan <i>“namung sedasa ewu”</i>, saya baru sadar bahwa nilai uang ternyata tidak hanya ditentukan oleh angka yang tercetak di atasnya.</p>
<p>Sepuluh ribu bisa menjadi <i>“namung”</i> bagi seseorang, tetapi bisa menjadi seluruh rencana perjalanan bagi orang lainnya.</p>
<p>Belum selesai saya memikirkan kata <i>namung</i>, petugas tadi melanjutkan:</p>
<p><i>“Lek namung sedasa ewu mawon, sampun kersane. Panjenengan isi malih dados kalih dasa ewu, kersane mengke saget PP.”</i></p>
<p>Saya semakin <i>ndredeg</i>.</p>
<p>Saya diam sebentar, mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan orang ini.</p>
<p>Sepuluh ribu yang sudah masuk ke tangki belum saya bayar. Uang saya palsu. Receh tidak cukup. Saldo <i>e-wallet</i> Rp1.250. Secara ekonomi, posisi saya saat itu sebenarnya sudah tidak memungkinkan melakukan manuver apa pun.</p>
<p>Tapi orang ini malah menyuruh saya <b>menambah Pertalite sepuluh ribu lagi.</b></p>
<p>Katanya supaya cukup untuk pulang-pergi.</p>
<p>Dalam hati saya bertanya:</p>
<p><i>“Wong iki tenanan apa ngece...?”</i></p>
<p>Perlahan-lahan saya mulai berani mengangkat kepala.</p>
<p>Saya tatap wajah petugas itu.</p>
<p>Sebentar.</p>
<p>Kok rasanya tidak asing.</p>
<p>Saya perhatikan lagi agak lama. Setelah otak yang sejak tadi sibuk mengurus krisis moneter sepuluh ribu rupiah mulai bekerja dengan benar, saya baru sadar.</p>
<p><b>Lha... aku kenal wong iki.</b></p>
<p>Bukan saudara. Bukan pula kerabat dalam arti sebenarnya. Dia anak menantu salah seorang teman akrab bapak saya.</p>
<p>Entah kenapa mengetahui hal itu bukannya membuat saya langsung lega.</p>
<p>Malah tambah isin.</p>
<p>Kalau sejak tadi dia orang asing, setelah urusan selesai mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Saya bisa pulang, mandi, tidur, lalu perlahan menghapus kejadian itu dari sejarah hidup.</p>
<p>Tapi ini beda.</p>
<p>Ini orang yang kenal bapak saya.</p>
<p>Artinya, tragedi uang palsu sepuluh ribu ini sekarang memiliki jalur distribusi informasi.</p>
<p>Entah karena gengsi, sungkan, atau sekadar usaha terakhir menyelamatkan harga diri, saya masih sempat mengatakan:</p>
<p><i>“Gak usah repot-repot...”</i></p>
<p>Padahal dalam hati saya sadar betul bahwa kalimat itu sama sekali tidak sesuai dengan kondisi keuangan saya.</p>
<p>Kalau orang itu benar-benar menjawab, <i>“Nggih sampun,”</i> lalu pergi, saya juga tidak tahu harus berbuat apa.</p>
<p>Pertalite sudah masuk tangki dan rasanya tidak mungkin disedot kembali menggunakan sedotan es teh.</p>
<p>Kalau tidak ada orang ini, bisa-bisa saya terpaksa ikut ngepel lantai SPBU untuk melunasi utang bensin.</p>
<p>Begitulah manusia.</p>
<p>Dalam keadaan benar-benar membutuhkan pertolongan pun, mulut kadang masih berusaha menjaga gengsi.</p>
<p><i>“Gak usah repot-repot...”</i></p>
<p>Padahal kalau diterjemahkan sesuai keadaan saat itu, mungkin maksud sebenarnya:</p>
<p><b><i>“Tulung aku, Mas. Tapi tulung aku tanpa membuatku terlihat seperti sedang ditulung.”</i></b></p>
<p>Dalam hidup, sesekali kita memang perlu mengalami kejadian seperti itu.</p>
<p>Bukan supaya kapok membawa uang sepuluh ribu. Bukan pula supaya setelah ini setiap menerima uang harus diterawang seperti petugas bank. Tetapi sekadar untuk mengingatkan bahwa <b>kepercayaan diri yang dibangun di atas keadaan finansial ternyata serapuh itu.</b></p>
<p>Apalagi kalau fondasinya cuma sepuluh ribu rupiah.</p>
<p>Beberapa menit sebelumnya saya berangkat dari rumah dengan cukup percaya diri. Sudah punya perhitungan: Pertalite satu liter, kopi dibayari teman, perjalanan aman. Bahkan sempat merapal <i>aji golek duit</i>, berharap modal sepuluh ribu berkembang menjadi lima ratus ribu.</p>
<p>Ternyata tidak perlu kehilangan lima ratus ribu untuk membuat kepercayaan diri itu runtuh.</p>
<p>Cukup seorang petugas SPBU mengatakan:</p>
<p><i>“Lha, niki palsu, Mas.”</i></p>
<p>Selesai.</p>
<p>Dalam beberapa detik, orang yang tadi berangkat dengan gagah berubah menjadi manusia yang tidak berani menatap langit, memeriksa saku yang sama berkali-kali, membuka dompet kosong, lalu mencari pertolongan terakhir kepada teknologi finansial yang ternyata hanya menyimpan Rp1.250.</p>
<p>Mungkin memang begitu sifat kepercayaan diri yang terlalu bergantung pada isi dompet. Selama kita merasa punya, badan sedikit lebih tegak. Bicara lebih tenang. Pesan Pertalite sepuluh ribu pun bisa dengan suara mantap: <i>“Sedasa ewu, Mas.”</i></p>
<p>Begitu yang kita kira punya ternyata tidak ada, bahkan wajah orang lain mendadak terasa terlalu berat untuk ditatap.</p>
<p>Hari itu saya ditolong seseorang yang kebetulan masih mengenal keluarga saya. Saya beruntung. Bahkan ketika ditawari menambah bensin supaya cukup untuk pulang-pergi, saya masih sempat berkata, <i>“Gak usah repot-repot.”</i></p>
<p>Padahal saya tahu betul: tanpa pertolongan itu, mungkin saya sedang bernegosiasi apakah utang Pertalite sepuluh ribu bisa dibayar dengan ikut ngepel lantai SPBU.</p>
<p>Barangkali yang perlu ditertawakan dari kejadian itu bukan uang palsunya.</p>
<p>Melainkan betapa mudahnya kita merasa gagah hanya karena merasa memiliki sesuatu. Dan betapa cepat kegagahan itu rontok ketika sesuatu yang kita jadikan sandaran ternyata hilang, habis, atau—seperti sepuluh ribu saya hari itu—<b>ternyata palsu.</b></p>