Ilustrasi Buku Islam ala Proboro terbit dan berhasil mengguncang dunia persosialmediaan. Seperti umumnya kegaduhan di media sosial, sebagian orang m…
Pinned Post
All stories
Ilustrasi ole AI Sepuluh ribu bagi sebagian orang mungkin bukan uang yang banyak. Tapi bagi saya sebagai warga desil 3,5, uang sepuluh ribu sudah sep…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBc7cUc2uocPrJkWAba4Ke8zlsqyMGzXTMIXif8sbteOOpmZiDyn3SGqWUmKhRSzIbF7LV2jHbzSbuy7WvBuBTrRnyPa0FhAaepRSfefnH89pcIe6Ge6bcIhTOPPfGL-MFGlb6M4LhMDsbEdyMPv6I6yu5wuOfAZQI3OGWonk5wak6mbmXIYNUqadbppE/s640/Tragedi%20uang%20sepuluh%20ribu%20palsu.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBc7cUc2uocPrJkWAba4Ke8zlsqyMGzXTMIXif8sbteOOpmZiDyn3SGqWUmKhRSzIbF7LV2jHbzSbuy7WvBuBTrRnyPa0FhAaepRSfefnH89pcIe6Ge6bcIhTOPPfGL-MFGlb6M4LhMDsbEdyMPv6I6yu5wuOfAZQI3OGWonk5wak6mbmXIYNUqadbppE/s1600-rw/Tragedi%20uang%20sepuluh%20ribu%20palsu.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi ole AI</td></tr></tbody></table><div>Sepuluh ribu bagi sebagian orang mungkin bukan uang yang banyak. Tapi bagi saya sebagai warga desil 3,5, uang sepuluh ribu sudah seperti jimat yang harus dirawat.</div>
<p>Hari itu seperti hari-hari biasanya. Cuaca panas dan berangin. Ada panggilan dari seorang kawan untuk datang. Saya diajak mengantarkan barang sekaligus menemui beberapa orang.</p>
<p>Sebelum berangkat, saya memeriksa beberapa tempat yang sekiranya memungkinkan ada uang terselip.</p>
<p>Tidak ada.</p>
<p>Saya periksa jok motor.</p>
<p>Aha!</p>
<p>Ada sepuluh ribu.</p>
<p>Cukup.</p>
<p>Saya pun berangkat dengan kepercayaan diri yang sebenarnya agak tidak sebanding dengan kekuatan finansial. Sepanjang perjalanan saya sudah membuat perhitungan matang: Pertalite satu liter di SPBU besar, sedangkan secangkir kopi nanti dibayari teman.</p>
<p>Keuangan aman.</p>
<p>Bahkan dari rumah sebenarnya saya sudah sempat merapal mantra:</p>
<p><i>“Bismillahirrahmanirrahim... kelawan nyebut asmane Gusti Kang Murbeng Dumadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala, Kang Maha Welas Asih... Ingsun ametak ajiku, aji golek duit. Modal sepuluh ewu dadi limangatus ewu, modal ngopi dibayari, kenek ngge munggah kaji.... Amin.”</i></p>
<p>Dengan modal sepuluh ribu dan doa yang target pertumbuhan investasinya mencapai lima ribu persen itu, saya berangkat dengan tenang.</p>
<p>Sesampainya di SPBU, saya antre seperti biasa, sebagaimana wajarnya warga desil 6 ke bawah.</p>
<p>Ketika tiba giliran saya, petugas memasukkan <i>nozzle</i> ke lubang tangki.</p>
<p><i>“Pinten, Mas?”</i></p>
<p>Dengan percaya diri dan sedikit merasa gagah, saya menjawab:</p>
<p><i>“Sedasa ewu, Mas.”</i></p>
<p>Pertalite dikocorkan. Angka di mesin bergerak dan berhenti tepat di Rp10.000.</p>
<p>Saya merogoh saku celana. Ketemu. Selembar uang yang sejak tadi menjadi fondasi perekonomian perjalanan hari itu saya serahkan kepada petugas.</p>
<p>Saya bahkan tidak memeriksanya lagi.</p>
<p>Lalu petugas mengatakan:</p>
<p><i>“Lha, niki palsu, Mas.”</i></p>
<p><i>“Hah... milo ta, Mas?”</i></p>
<p>Selesai.</p>
<p>Rupanya mantra <i>aji golek duit</i> yang saya rapalkan tadi ada kesalahan teknis. Bukannya mengubah sepuluh ribu menjadi lima ratus ribu, malah membuat sepuluh ribu yang saya bawa menjadi palsu.</p>
<p>Saya panik.</p>
<p>Wong uangnya hanya itu.</p>
<p>Antrean di belakang semakin panjang. Orang-orang menunggu saya yang masih berdiri di depan pompa dengan Pertalite sepuluh ribu yang sudah telanjur masuk ke tangki, sementara alat pembayarannya baru saja dinyatakan tidak sah oleh negara.</p>
<p>Saya terpaksa memajukan motor sedikit ke depan dan ke samping agar antrean tetap berjalan.</p>
<p>Lalu mulailah sebuah pertunjukan kecil untuk mempertahankan harga diri.</p>
<p>Saya merogoh saku celana. Saku satunya lagi. Membuka dompet. Membuka tas. Memeriksa tempat-tempat yang sebenarnya sudah saya tahu isinya.</p>
<p>Padahal saya sadar betul: <b>tidak ada.</b></p>
<p>Selain uang sepuluh ribu palsu tadi, saya cuma punya beberapa uang receh yang kalau dikumpulkan pun lima ribu rupiah tidak sampai.</p>
<p>Tetapi demi tetap terlihat sebagai manusia yang memiliki kendali atas perekonomian pribadi, saya terus mencari.</p>
<p>Saya kemudian mengeluarkan HP.</p>
<p>Dengan gaya seperti orang yang baru teringat bahwa dirinya hidup di zaman ekonomi digital, saya membuka <i>e-wallet</i>. Siapa tahu keselamatan datang melalui teknologi finansial.</p>
<p>Saldo: <b>Rp1.250.</b></p>
<p><b>SERIBU DUA RATUS LIMA PULUH RUPIAH.</b></p>
<p>Bukan seratus dua puluh lima ribu. Bukan pula dua belas ribu lima ratus.</p>
<p>Seribu. Dua ratus. Lima puluh.</p>
<p>Saat itulah saya sadar, digitalisasi ternyata tidak selalu membuat orang terlihat modern. Kadang ia hanya menyediakan cara yang lebih canggih untuk memastikan bahwa kita memang tidak punya uang.</p>
<p>Saya terpaksa merawat kepanikan itu selama beberapa menit.</p>
<p>Saku yang sama saya periksa lagi. Dompet dibuka lagi. Tas dilihat lagi.</p>
<p>Entah kenapa saya masih melakukannya. Mungkin manusia memang begitu. Ketika uang tidak ada, kita masih berharap hukum alam berubah hanya karena saku diperiksa untuk ketiga kalinya.</p>
<p>Dalam kondisi seperti itu, saya bahkan tidak berani menatap langit.</p>
<p>Lha kok menatap langit.</p>
<p>Mengamati wajah orang dengan teliti saja saya tidak berani. Rasanya semua mata sedang melihat ke arah saya, meskipun mungkin sebenarnya tidak ada yang peduli. Orang-orang hanya ingin mengisi bensin lalu pergi. <b>Atau mungkin sebagian dari mereka sama dengan saya, hanya beda momen.</b></p>
<p>Tetapi kalau sedang malu, kita memang sering merasa menjadi pusat perhatian dunia.</p>
<p>Sampai beberapa menit kemudian seorang petugas SPBU menghampiri.</p>
<p><i>“Wonten nopo, Mas?”</i></p>
<p>Saya masih tidak berani melihat wajahnya. Masih <i>clingak-clinguk</i>, sambil berharap entah bagaimana ada uang terselip di suatu tempat untuk membayar Pertalite yang telanjur masuk ke tangki.</p>
<p>Akhirnya saya menjawab lirih:</p>
<p><i>“Duitku sedasa ewu palsu, Mas.”</i></p>
<p><i>“Lha terus pripun?”</i></p>
<p><i>“Nggih dereng mbayar, Mas. Wong artone palsu, kok.”</i></p>
<p>Petugas itu bertanya lagi:</p>
<p><i>“Namung sedasa ewu ngisine?”</i></p>
<p><b>Namung sedasa ewu?</b></p>
<p>Saya agak <i>ndredeg</i> mendengarnya.</p>
<p>Ternyata sepuluh ribu rupiah adalah <i>“namung”</i> bagi beberapa orang dalam kondisi tertentu.</p>
<p>Padahal sejak berangkat tadi, sepuluh ribu itulah yang membuat saya cukup percaya diri meninggalkan rumah. Sepuluh ribu itu sudah saya hitung baik-baik: cukup untuk membeli Pertalite satu liter, cukup untuk membawa motor pergi dan pulang, sementara urusan kopi sudah saya masukkan ke dalam pos anggaran orang lain.</p>
<p>Bahkan ketika diketahui palsu, saya masih menghabiskan beberapa menit untuk mencari penggantinya.</p>
<p>Jadi ketika orang itu mengatakan <i>“namung sedasa ewu”</i>, saya baru sadar bahwa nilai uang ternyata tidak hanya ditentukan oleh angka yang tercetak di atasnya.</p>
<p>Sepuluh ribu bisa menjadi <i>“namung”</i> bagi seseorang, tetapi bisa menjadi seluruh rencana perjalanan bagi orang lainnya.</p>
<p>Belum selesai saya memikirkan kata <i>namung</i>, petugas tadi melanjutkan:</p>
<p><i>“Lek namung sedasa ewu mawon, sampun kersane. Panjenengan isi malih dados kalih dasa ewu, kersane mengke saget PP.”</i></p>
<p>Saya semakin <i>ndredeg</i>.</p>
<p>Saya diam sebentar, mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan orang ini.</p>
<p>Sepuluh ribu yang sudah masuk ke tangki belum saya bayar. Uang saya palsu. Receh tidak cukup. Saldo <i>e-wallet</i> Rp1.250. Secara ekonomi, posisi saya saat itu sebenarnya sudah tidak memungkinkan melakukan manuver apa pun.</p>
<p>Tapi orang ini malah menyuruh saya <b>menambah Pertalite sepuluh ribu lagi.</b></p>
<p>Katanya supaya cukup untuk pulang-pergi.</p>
<p>Dalam hati saya bertanya:</p>
<p><i>“Wong iki tenanan apa ngece...?”</i></p>
<p>Perlahan-lahan saya mulai berani mengangkat kepala.</p>
<p>Saya tatap wajah petugas itu.</p>
<p>Sebentar.</p>
<p>Kok rasanya tidak asing.</p>
<p>Saya perhatikan lagi agak lama. Setelah otak yang sejak tadi sibuk mengurus krisis moneter sepuluh ribu rupiah mulai bekerja dengan benar, saya baru sadar.</p>
<p><b>Lha... aku kenal wong iki.</b></p>
<p>Bukan saudara. Bukan pula kerabat dalam arti sebenarnya. Dia anak menantu salah seorang teman akrab bapak saya.</p>
<p>Entah kenapa mengetahui hal itu bukannya membuat saya langsung lega.</p>
<p>Malah tambah isin.</p>
<p>Kalau sejak tadi dia orang asing, setelah urusan selesai mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Saya bisa pulang, mandi, tidur, lalu perlahan menghapus kejadian itu dari sejarah hidup.</p>
<p>Tapi ini beda.</p>
<p>Ini orang yang kenal bapak saya.</p>
<p>Artinya, tragedi uang palsu sepuluh ribu ini sekarang memiliki jalur distribusi informasi.</p>
<p>Entah karena gengsi, sungkan, atau sekadar usaha terakhir menyelamatkan harga diri, saya masih sempat mengatakan:</p>
<p><i>“Gak usah repot-repot...”</i></p>
<p>Padahal dalam hati saya sadar betul bahwa kalimat itu sama sekali tidak sesuai dengan kondisi keuangan saya.</p>
<p>Kalau orang itu benar-benar menjawab, <i>“Nggih sampun,”</i> lalu pergi, saya juga tidak tahu harus berbuat apa.</p>
<p>Pertalite sudah masuk tangki dan rasanya tidak mungkin disedot kembali menggunakan sedotan es teh.</p>
<p>Kalau tidak ada orang ini, bisa-bisa saya terpaksa ikut ngepel lantai SPBU untuk melunasi utang bensin.</p>
<p>Begitulah manusia.</p>
<p>Dalam keadaan benar-benar membutuhkan pertolongan pun, mulut kadang masih berusaha menjaga gengsi.</p>
<p><i>“Gak usah repot-repot...”</i></p>
<p>Padahal kalau diterjemahkan sesuai keadaan saat itu, mungkin maksud sebenarnya:</p>
<p><b><i>“Tulung aku, Mas. Tapi tulung aku tanpa membuatku terlihat seperti sedang ditulung.”</i></b></p>
<p>Dalam hidup, sesekali kita memang perlu mengalami kejadian seperti itu.</p>
<p>Bukan supaya kapok membawa uang sepuluh ribu. Bukan pula supaya setelah ini setiap menerima uang harus diterawang seperti petugas bank. Tetapi sekadar untuk mengingatkan bahwa <b>kepercayaan diri yang dibangun di atas keadaan finansial ternyata serapuh itu.</b></p>
<p>Apalagi kalau fondasinya cuma sepuluh ribu rupiah.</p>
<p>Beberapa menit sebelumnya saya berangkat dari rumah dengan cukup percaya diri. Sudah punya perhitungan: Pertalite satu liter, kopi dibayari teman, perjalanan aman. Bahkan sempat merapal <i>aji golek duit</i>, berharap modal sepuluh ribu berkembang menjadi lima ratus ribu.</p>
<p>Ternyata tidak perlu kehilangan lima ratus ribu untuk membuat kepercayaan diri itu runtuh.</p>
<p>Cukup seorang petugas SPBU mengatakan:</p>
<p><i>“Lha, niki palsu, Mas.”</i></p>
<p>Selesai.</p>
<p>Dalam beberapa detik, orang yang tadi berangkat dengan gagah berubah menjadi manusia yang tidak berani menatap langit, memeriksa saku yang sama berkali-kali, membuka dompet kosong, lalu mencari pertolongan terakhir kepada teknologi finansial yang ternyata hanya menyimpan Rp1.250.</p>
<p>Mungkin memang begitu sifat kepercayaan diri yang terlalu bergantung pada isi dompet. Selama kita merasa punya, badan sedikit lebih tegak. Bicara lebih tenang. Pesan Pertalite sepuluh ribu pun bisa dengan suara mantap: <i>“Sedasa ewu, Mas.”</i></p>
<p>Begitu yang kita kira punya ternyata tidak ada, bahkan wajah orang lain mendadak terasa terlalu berat untuk ditatap.</p>
<p>Hari itu saya ditolong seseorang yang kebetulan masih mengenal keluarga saya. Saya beruntung. Bahkan ketika ditawari menambah bensin supaya cukup untuk pulang-pergi, saya masih sempat berkata, <i>“Gak usah repot-repot.”</i></p>
<p>Padahal saya tahu betul: tanpa pertolongan itu, mungkin saya sedang bernegosiasi apakah utang Pertalite sepuluh ribu bisa dibayar dengan ikut ngepel lantai SPBU.</p>
<p>Barangkali yang perlu ditertawakan dari kejadian itu bukan uang palsunya.</p>
<p>Melainkan betapa mudahnya kita merasa gagah hanya karena merasa memiliki sesuatu. Dan betapa cepat kegagahan itu rontok ketika sesuatu yang kita jadikan sandaran ternyata hilang, habis, atau—seperti sepuluh ribu saya hari itu—<b>ternyata palsu.</b></p>
Ilustrasi AI Belakangan ini saya sedang bereksperimen dengan satu istilah yang sebenarnya bukan barang baru. Kata dasarnya sudah lama hidup dala…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhma8WKHqayLpAtMRiJXlF5HErLGpQMQd1DafPpYGXk9q6PYu8qOe7lOURemFG_-oFh3EqY1rVko-RsBZadaYQ6V44fjX5JskDqfJkY8TqyKE_nvs8CoaPZIO0pcBBCpi__5AfOZy_6JY5UAVMVOL_R7DKhuc0mjaKdp9JSr6OmxZNlI0b4-AiGafNDEjs/s640/ilustrasi%20sholawatan_resz.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhma8WKHqayLpAtMRiJXlF5HErLGpQMQd1DafPpYGXk9q6PYu8qOe7lOURemFG_-oFh3EqY1rVko-RsBZadaYQ6V44fjX5JskDqfJkY8TqyKE_nvs8CoaPZIO0pcBBCpi__5AfOZy_6JY5UAVMVOL_R7DKhuc0mjaKdp9JSr6OmxZNlI0b4-AiGafNDEjs/s1600-rw/ilustrasi%20sholawatan_resz.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi AI</td></tr></tbody></table>
<p>Belakangan ini saya sedang bereksperimen dengan satu istilah yang sebenarnya bukan barang baru. Kata dasarnya sudah lama hidup dalam percakapan orang Jawa: <b>maido</b>.</p>
<p>Entah karena terlalu banyak waktu luang atau memang kurang kerjaan, banyak orang yang kemudian memberinya sedikit sentuhan akademis agar terdengar lebih terhormat: <b>Maido Khasanah</b>.</p>
<p>Definisinya yang saya karang-karang sendiri kira-kira begini: <i>berprasangka buruk secukupnya, demi menemukan kemungkinan berbuat baik sebanyak-banyaknya.</i></p>
<p>Tentu saja "baik" yang saya maksud adalah baik menurut versi saya sendiri. Namanya juga maido. Kalau ukuran baiknya sudah pasti benar, berlaku universal, lengkap dengan dalil dan stempel, mungkin namanya bukan maido lagi. Bisa jadi fatwa.</p>
<p>Salah satu objek <i>Maido Khasanah</i> saya belakangan ini adalah sholawat.</p>
<p>Bukan sholawatnya.</p>
<p>Saya tidak punya cukup ilmu, apalagi keberanian, untuk maido sholawat. Yang saya <i>paido</i> adalah segala sesuatu yang tumbuh di sekelilingnya.</p>
<p>Beberapa tahun terakhir, grup-grup sholawat berkembang luar biasa. Ada yang awalnya kelompok kecil, tampil dari kampung ke kampung, kemudian semakin dikenal. Penggemarnya bertambah. Jadwal manggung semakin padat. Panggung semakin besar. Namanya masuk poster dengan ukuran huruf yang semakin lama semakin besar pula.</p>
<p>Seiring popularitas itu, bisyarohnya tentu ikut naik.</p>
<p>Saya tidak sedang mempersoalkan orang menerima bisyaroh. Personel grup sholawat juga manusia. Mereka makan nasi, bukan bacaan <i>Allahumma shalli 'ala Muhammad</i>. Kendaraan perlu bahan bakar. Alat perlu dibeli dan dirawat. Latihan membutuhkan waktu. Anak-istri di rumah juga tidak bisa diberi makan dengan tepuk tangan jamaah.</p>
<p>Jadi, dibayar itu wajar.</p>
<p>Bahkan kalau grupnya bagus, terkenal, dan banyak yang ingin mengundang, lalu bisyarohnya menjadi mahal, secara ekonomi juga tidak terlalu aneh.</p>
<p>Yang membuat penyakit <i>Maido Khasanah</i> saya kambuh justru bukan mahalnya.</p>
<h2>Ketika Cinta Mulai Punya Harga Pasar</h2>
<p>Kalau seorang penyanyi membawakan lagu milik orang lain, ada urusan hak cipta dan royalti. Kalau sebuah perusahaan menggunakan merek milik pihak lain, ada lisensi. Dunia modern cukup teliti mengatur siapa memperoleh bagian ketika karya, nama, atau sesuatu yang dimiliki orang lain menghasilkan nilai ekonomi.</p>
<p>Lalu saya melihat panggung sholawat.</p>
<p>Nama Kanjeng Nabi disebut berkali-kali. Sholawat dilantunkan. Jamaah datang karena kecintaan kepada beliau. Panitia berkeliling mencari dana. Donatur menyumbang. <i>Sound system</i> disewa. Panggung didirikan. Pedagang berdatangan. Tukang parkir bekerja. Grup memperoleh bisyaroh.</p>
<p>Kalau acaranya besar, uang yang berputar di sekeliling nama Kanjeng Nabi juga tidak sedikit.</p>
<p>Tidak ada masalah.</p>
<p>Malah bagus. Pedagang dapat rezeki. Tukang parkir dapat rezeki. Penyewa kursi dapat rezeki. Pemilik <i>sound system</i> dapat rezeki. Grup sholawat juga pulang membawa rezeki.</p>
<p>Hanya saja, sebagai orang yang telanjur menganut <i>Maido Khasanah</i>, pikiran saya kemudian kurang ajar:</p>
<p><b>Lha, royaltinya Kanjeng Nabi mana?</b></p>
<p>Tentu saja pertanyaan itu ngawur.</p>
<p>Kanjeng Nabi bukan pencipta lagu yang namanya terdaftar di lembaga manajemen kolektif. Tidak ada nomor rekening atas nama Muhammad bin Abdullah yang bisa dicantumkan panitia dalam laporan pertanggungjawaban.</p>
<p>Tetapi justru dari pertanyaan ngawur itu saya mulai merasa ada sesuatu yang pantas kita <i>paido</i>.</p>
<p>Kita bisa mengeluarkan uang cukup besar untuk merayakan kecintaan kepada Kanjeng Nabi. Kita bisa urunan mendatangkan grup yang sedang populer. Kita bisa mendirikan panggung megah dan memasang <i>sound system</i> yang dentuman bass-nya membuat kaca rumah tetangga ikut bersholawat.</p>
<p>Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan itu.</p>
<p>Tetapi setelah panggung dibongkar, kabel digulung dan grup pulang, saya cuma ingin bertanya:</p>
<p><b>Orang miskin di sekitar panggung tadi kebagian apa?</b></p>
<h2>Yang Disanjung, yang Terlupakan</h2>
<p>Ini sebenarnya yang mengganggu saya.</p>
<p>Bukan perkara grup sholawat menerima satu juta, tiga juta, lima juta, sepuluh juta, atau berapa pun. Popularitas memang mempunyai harga. Selama ada yang bersedia mengundang dan membayar, silakan saja.</p>
<p>Tetapi rasanya ganjil kalau <b>ekspresi kecintaan kepada Kanjeng Nabi mampu berkembang menjadi ekosistem ekonomi, sementara kepedulian kepada manusia lemah yang begitu mendapat perhatian dalam risalah beliau justru dianggap sebagai urusan yang berbeda.</b></p>
<p>Nama beliau kita sanjung.</p>
<p>Kisah beliau kita ceritakan.</p>
<p>Kelahiran beliau kita peringati.</p>
<p>Sholawat kepada beliau kita lantunkan berjam-jam.</p>
<p>Tetapi fakir miskin, anak yatim, tetangga yang kesulitan berobat, atau orang yang rumahnya hampir roboh kadang tetap harus mencari proposalnya sendiri.</p>
<p>Di sinilah <i>maidonya</i>.</p>
<p>Bukan berarti setiap acara sholawat harus dibatalkan lalu seluruh anggarannya dibelikan beras. Cara berpikir seperti itu juga terlalu gampang. Manusia membutuhkan kesenian, perayaan, perjumpaan, dan ruang untuk mengekspresikan kegembiraan beragama.</p>
<p>Tetapi masak iya, dari seluruh kegembiraan itu tidak ada sedikit bagian yang secara sengaja kita sisihkan untuk orang-orang yang justru berkali-kali mendapat perhatian dalam ajaran Kanjeng Nabi?</p>
<p>Tentu saya juga tidak tahu apa yang dilakukan masing-masing grup sholawat.</p>
<p>Bisa saja mereka selama ini sudah menyantuni yatim. Bisa jadi ada yang rutin membantu fakir miskin. Mungkin ada yang membiayai orang sakit tanpa kamera, tanpa unggahan Instagram, tanpa tulisan "Jumat Berkah" di spanduk.</p>
<p>Kalau memang demikian, alhamdulillah.</p>
<p>Berarti <i>maido</i> saya salah alamat.</p>
<p>Malah saya yang perlu belajar.</p>
<p>Tetapi kalau belum, izinkan penyakit <i>Maido Khasanah</i> ini diteruskan sedikit lagi.</p>
<p>Sebab saya tetap penasaran: <b>kalau cinta kepada Kanjeng Nabi mampu membuat kita mengumpulkan jutaan bahkan puluhan juta rupiah untuk satu malam, mengapa cinta yang sama tidak kita beri mekanisme sederhana agar orang miskin ikut merasakannya?</b></p>
<p>Rasanya kurang lengkap kalau nama Kanjeng Nabi begitu ramai di atas panggung, <b>sementara kepedulian kepada si miskin tetap sepi di luar pagar.</b></p>
<h2>Bayar Royalti Saja</h2>
<p>Karena sudah telanjur <i>maido</i>, saya sekalian mengusulkan sesuatu yang mungkin terdengar lebih ngawur:</p>
<p><b>Royalti untuk Kanjeng Nabi.</b></p>
<p>Caranya tidak perlu rumit. Misalnya sebuah grup memperoleh bisyaroh dari satu kali manggung. Sebelum uang masuk kas, dihitung transportasi, atau dibagi kepada personel, sisihkan sebagian kecil. Katakanlah <b>tiga persen</b>. Kalau sedang longgar, lima persen.</p>
<p>Dan jangan hanya grupnya.</p>
<p>Kalau panitia ternyata memperoleh keuntungan dari penyelenggaraan acara—<b>jika untung, lho ya</b>—boleh melakukan hal yang sama. Bukan dari modal atau biaya operasional, tentu saja, tetapi dari keuntungan yang memang tersisa.</p>
<p>Kalau ternyata nombok, ya jangan. Jangan sampai niat membantu fakir miskin malah melahirkan fakir miskin baru dari kalangan panitia.</p>
<p>Lagi pula, kita tahu sendiri, laporan panitia kadang mempunyai hukum ekonomi tersendiri. Acara boleh ramai, jamaah membludak, pedagang berderet, parkiran sampai meluber ke kebun tetangga. Tetapi ketika ditanya hasilnya, jawabannya bisa tetap sama:</p>
<p><i>"Alhamdulillah, sekadar nutup operasional."</i></p>
<p>Ya sudah.</p>
<p>Namanya juga <i>Maido Khasanah</i>. Kita percaya saja sambil tetap memelihara sedikit kecurigaan agar tradisi keilmuan ini tidak punah.</p>
<p>Dan jangan salah paham. Gagasan royalti tadi bukan zakat baru. Bukan pajak. Bukan pula aturan fikih bikinan saya. Jangan sampai besok ada yang bertanya dalil <i>Royalti Kanjeng Nabi</i>, lalu nama saya dicatat sebagai pendiri mazhab baru yang pengikutnya cuma saya sendiri.</p>
<p>Anggap saja etika kecil.</p>
<p>Bagian itu disisihkan sebelum dibagi, kemudian diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, orang sakit yang kesulitan biaya, lansia yang hidup sendirian, atau siapa saja yang sedang membutuhkan.</p>
<p>Kanjeng Nabi tentu tidak akan menerima uang itu.</p>
<p>Tetapi paling tidak, uang tersebut sampai kepada orang-orang yang mendapat tempat penting dalam risalah yang beliau bawa.</p>
<p>Dan menyisihkannya sejak awal menurut saya lebih masuk akal daripada menunggu semuanya masuk kantong lalu bertanya, <i>"Sopo sing gelem nyumbang?"</i></p>
<p>Kita tahu sendiri sifat uang. Ketika masih tergeletak di meja, rasanya gampang sekali membicarakan sedekah. Begitu masuk dompet, mendadak uang mempunyai gravitasi sendiri.</p>
<p>Berat sekali keluar.</p>
<h2>Setelah Semua Pulang</h2>
<p>Saya tidak sedang mengajak orang berhenti sholawatan.</p>
<p>Saya juga tidak sedang menyuruh grup sholawat menurunkan bisyaroh. Silakan profesional. Silakan populer. Silakan mempunyai manajemen yang bagus. Dan silakan memperoleh rezeki dari kemampuan yang memang dimiliki.</p>
<p>Saya cuma sedang <i>maido</i>.</p>
<p>Sebab sayang sekali kalau kecintaan kepada Kanjeng Nabi hanya berhasil membesarkan panggung, tetapi tidak ikut memperbesar kepedulian sosial kita.</p>
<p>Dan sebenarnya yang kena <i>paido</i> bukan grup sholawat saja.</p>
<p>Panitia kena.</p>
<p>Jamaah kena.</p>
<p>Orang yang menulis tulisan ini juga kena.</p>
<p>Kita bisa begitu bersemangat memperingati kelahiran Kanjeng Nabi. Kita melantunkan sholawat kepada beliau. Kita marah ketika kehormatan beliau diganggu. Bahkan kadang kita bertengkar dengan sesama manusia karena merasa sedang membela beliau.</p>
<p>Tetapi barangkali ukuran cinta tidak selalu terletak pada seberapa keras suara kita ketika menyebut namanya.</p>
<p><b>Kadang ukuran itu justru terlihat dari siapa yang ikut merasakan manfaat setelah namanya disebut.</b></p>
<p>Maka suatu malam, ketika panggung sudah selesai, grup sudah mendapat bisyaroh, kru sudah dibayar, pemilik <i>sound system</i> sudah menerima bagian, pedagang sudah menghitung keuntungan, panitia sudah selesai menghitung laporan—tentu saja kalau tidak sekadar <i>nutup operasional</i>—dan tukang parkir sudah menggulung rompinya, mungkin tidak ada salahnya kita menengok sebentar ke luar pagar.</p>
<p>Barangkali masih ada seseorang di sana yang selama ini hanya kebagian suara dari pengeras suara.</p>
<p>Kalau ada, anggap saja ia sedang menunggu <b>Royalti untuk Kanjeng Nabi</b>.</p>
<p>Bukan karena beliau membutuhkan uang kita, tetapi karena jangan-jangan kita sudah terlalu sering memperoleh kegembiraan, keramaian, bahkan rezeki dari kecintaan kepada beliau.</p>
<p>Kalau gagasan ini keliru, ya tidak apa-apa.</p>
<p>Namanya juga <b>Maido Khasanah</b>: <i>berprasangka buruk secukupnya, demi menemukan kemungkinan berbuat baik sebanyak-banyaknya.</i></p>
<p>Meskipun, sekali lagi, baik menurut versi saya sendiri.</p>
Abstrak Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik yang sangat mendasar: mengapa dalam politik seseorang kadang justru semakin terkenal sete…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGoG1zOXx-Edv_-BYOYiHz6UikYYchqitxiEZkVxvBZHspNki2nnqF1YmSYD-ifmXwZxhn95dIBrlYlmF9Y-UtEJzW_kiSZX0DdM83sCdR-JjZw42LvjMdkXfkmPk61YkL7J0VTdWtsktNQeGobHrs_0-RK_WIcG_43gF9tUWi61UU7oEPkPS5IkReY20/s640/Ilustrasi%20Purbaya.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGoG1zOXx-Edv_-BYOYiHz6UikYYchqitxiEZkVxvBZHspNki2nnqF1YmSYD-ifmXwZxhn95dIBrlYlmF9Y-UtEJzW_kiSZX0DdM83sCdR-JjZw42LvjMdkXfkmPk61YkL7J0VTdWtsktNQeGobHrs_0-RK_WIcG_43gF9tUWi61UU7oEPkPS5IkReY20/s1600-rw/Ilustrasi%20Purbaya.png" /></a></div>
<h3 style="text-align: left;"><b>Abstrak</b></h3><p>Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik yang sangat mendasar: mengapa dalam politik seseorang kadang justru semakin terkenal setelah kehilangan jabatan? Fenomena pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan pada September 2026 menarik dikaji bukan hanya dari perspektif ekonomi-politik, tetapi juga melalui pendekatan <b>Su'dzonisme</b>—sebuah metode berpikir yang belum diakui kampus mana pun, tetapi diam-diam dipraktikkan hampir seluruh warga ketika nongkrong.</p>
<p>Penelitian ini tidak bertujuan membuktikan bahwa pencopotan Purbaya merupakan bagian dari skenario tertentu. Sebaliknya, penelitian mempertanyakan kemungkinan bahwa dalam politik modern, kehilangan jabatan tidak selalu identik dengan kehilangan modal politik. Melalui perbandingan terbatas dengan pengalaman Susilo Bambang Yudhoyono dan Sri Mulyani Indrawati, ditemukan suatu kemungkinan menarik: keluar dari pemerintahan terkadang justru menghasilkan sesuatu yang mahal—cerita, perhatian publik, dan posisi simbolik baru.</p>
<p><b>Kata kunci:</b> <i>Purbaya, politik, pencopotan menteri, Su'dzonisme, cocotologi, iklan gratis</i>.</p><h2 style="text-align: left;">Pendahuluan</h2>
<p>Sebagai kader Su'dzonisme, saya mempunyai kebiasaan buruk: ketika sesuatu terlihat sederhana, saya justru curiga.</p>
<p>Orang bilang Purbaya dicopot dari jabatan Menteri Keuangan.</p>
<p>Ya sudah.</p>
<p>Menteri bisa diangkat, bisa diganti. Presiden memang mempunyai kewenangan mengganti pembantunya. Secara administratif persoalannya bisa selesai sampai di sana.</p>
<p>Masalahnya, <b>Su'dzonisme tidak pernah puas dengan kalimat “ya sudah”.</b></p>
<p>Purbaya diberhentikan pada 14 September 2026 dan digantikan Suahasil Nazara. Pemberhentiannya cukup mengejutkan. Purbaya sendiri mengatakan kecewa, meski mengaku sudah setengah menduga hal tersebut akan terjadi.</p>
<p>Beberapa hari kemudian persoalannya semakin menarik. Reuters, berdasarkan tiga sumber pemerintah, melaporkan adanya konflik internal berkaitan dengan rencana perombakan pejabat Kementerian Keuangan, terutama di lingkungan pajak dan bea cukai. Purbaya sebelumnya juga mempunyai sejumlah perbedaan pandangan mengenai kebijakan fiskal dan kelembagaan. Namun laporan tersebut tetaplah laporan berdasarkan sumber; bukan bukti bahwa pencopotan Purbaya merupakan sebuah skenario politik yang sengaja dirancang.</p>
<p>Di sinilah penelitian ini dimulai.</p>
<p>Bukan dengan pertanyaan:</p>
<p><b>“Mengapa Purbaya dicopot?”</b></p>
<p>Pertanyaan semacam itu sudah banyak yang mengurus.</p>
<p>Penelitian ini memilih pertanyaan yang secara akademik jauh lebih tidak sopan:</p>
<p><b>“Siapa yang akhirnya memperoleh keuntungan politik dari Purbaya setelah Purbaya dicopot?”</b></p>
<h2>Kerangka Teoretis: Su'dzonisme</h2>
<p>Su'dzonisme berbeda dengan teori konspirasi.</p>
<p>Teori konspirasi biasanya mempunyai kesimpulan terlebih dahulu, kemudian mencari fakta untuk mendukung kesimpulan tersebut.</p>
<p>Su'dzonisme yang baik justru sebaliknya. Ia mempunyai kecurigaan, tetapi belum mempunyai kesimpulan.</p>
<p>Dengan demikian, seorang Su'dzonis diperbolehkan berkata:</p>
<p><b>“Jangan-jangan...”</b></p>
<p>Tetapi dilarang terburu-buru berkata:</p>
<p><b>“Sudah pasti...”</b></p>
<p>Perbedaan dua kalimat tersebut sangat tipis, tetapi penting. Yang pertama masih penelitian. Yang kedua biasanya sudah menjadi konten Facebook dengan huruf kapital semua.</p>
<p>Dalam kasus Purbaya, setidaknya terdapat tiga kemungkinan yang dapat kita letakkan di meja.</p>
<p>Pertama, Purbaya memang sekadar diganti karena pertimbangan kebijakan dan pengelolaan fiskal.</p>
<p>Kedua, Purbaya tersingkir akibat dinamika atau konflik internal pemerintahan.</p>
<p>Ketiga, tanpa harus direncanakan siapa pun, pencopotan tersebut justru menghasilkan modal baru bagi Purbaya berupa perhatian publik dan pembentukan citra tertentu.</p>
<p>Kemungkinan ketiga inilah yang paling menarik bagi Su'dzonisme.</p>
<p>Bukan karena paling benar.</p>
<p>Tetapi karena paling enak dicurigai.</p>
<h2>SBY: Keluar dari Kabinet, Masuk Panggung Politik</h2>
<p>Kita perlu berhati-hati menggunakan SBY sebagai perbandingan.</p>
<p>SBY <b>bukan dipecat</b> oleh Presiden Megawati. Ia mengundurkan diri sebagai Menko Polkam pada 11 Maret 2004 setelah hubungannya dengan lingkungan pemerintahan Megawati memburuk. Tidak lama kemudian ia maju dalam Pilpres 2004.</p>
<p>Kasusnya jelas tidak identik dengan Purbaya.</p>
<p>Tetapi ada fenomena komunikasi politik yang menarik.</p>
<p>Sebelum konflik tersebut, SBY merupakan bagian dari pemerintahan Megawati. Setelah keluar, identitas politiknya semakin berdiri sendiri.</p>
<p>Artinya, meninggalkan kekuasaan ternyata tidak selalu membuat seseorang kehilangan panggung.</p>
<p>Kadang justru panggungnya semakin besar.</p>
<p>Kalau memakai istilah pemasaran zaman sekarang, konflik politik dapat menghasilkan sesuatu yang sulit dibeli:</p>
<p><b><i>exposure.</i></b></p>
<p>Tidak perlu baliho.</p>
<p>Tidak perlu iklan televisi.</p>
<p>Tidak perlu memasang foto dengan tangan mengepal sambil menulis:</p>
<p><b>BERSAMA RAKYAT MENUJU INDONESIA LEBIH BAIK.</b></p>
<p>Beritanya sudah berjalan sendiri.</p>
<p>Tentu hal tersebut tidak membuktikan bahwa konflik SBY dahulu sengaja diciptakan sebagai strategi promosi. Yang menarik bagi penelitian ini hanyalah efeknya: seseorang dapat meninggalkan jabatan sekaligus memperoleh identitas politik baru.</p>
<p>Maka Su'dzonisme mulai menggaruk-garuk kepala.</p>
<p><b>Jangan-jangan kehilangan kursi memang tidak selalu berarti kehilangan kekuasaan?</b></p>
<h2>Sri Mulyani: Pergi Bukan Berarti Tamat</h2>
<p>Sri Mulyani memberikan pola berbeda.</p>
<p>Ia juga tidak tepat disebut sekadar “dicopot”. Pada Mei 2010, Sri Mulyani menerima tawaran menjadi Managing Director Bank Dunia dan kemudian mengundurkan diri sebagai Menteri Keuangan. Enam tahun kemudian, pada Juli 2016, Presiden Jokowi mengangkatnya kembali menjadi Menteri Keuangan.</p>
<p>Dari sini kita memperoleh pelajaran sederhana:</p>
<p><b>keluar dari kabinet tidak selalu berarti tamat.</b></p>
<p>Karier politik dan teknokrasi rupanya tidak bekerja seperti orang keluar dari grup WhatsApp keluarga. Keluar hari ini belum tentu tidak dimasukkan lagi beberapa tahun kemudian.</p>
<p>Tentu kasus Sri Mulyani berbeda dengan SBY, dan keduanya juga berbeda dengan Purbaya. Karena itu penelitian ini tidak sedang mengatakan bahwa Purbaya akan mengikuti jalan salah satu dari mereka.</p>
<p>Kita hanya mencatat satu hal:</p>
<p><b>sejarah karier seorang pejabat tidak selalu selesai ketika surat pemberhentiannya ditandatangani.</b></p>
<h2>Purbaya dan Produksi Seorang Tokoh</h2>
<p>Sekarang kita kembali kepada objek penelitian.</p>
<p>Ketika masih menjabat Menteri Keuangan, Purbaya adalah pejabat pemerintah. Kebijakan yang dibuatnya merupakan bagian dari pemerintahan.</p>
<p>Begitu dicopot, posisinya berubah.</p>
<p>Ia sekarang dapat dibicarakan sebagai <b>Purbaya</b>.</p>
<p>Bukan semata-mata sebagai Menteri Keuangan.</p>
<p>Perubahan kecil ini penting.</p>
<p>Apalagi kemudian muncul laporan mengenai konflik internal sebelum pencopotannya. Benar atau tidaknya setiap detail tentu harus terus diuji. Tetapi bagi pembentukan persepsi publik, cerita bahwa seorang pejabat tersingkir setelah mencoba melakukan perombakan mempunyai daya politik yang jauh lebih besar daripada kalimat administratif:</p>
<p><b>“Telah dilakukan pergantian Menteri Keuangan.”</b></p>
<p>Masyarakat kemudian dapat membentuk dua cerita yang sama sekali berbeda.</p>
<p>Cerita pertama:</p>
<p><b>Purbaya diganti karena pemerintah membutuhkan Menteri Keuangan baru.</b></p>
<p>Selesai.</p>
<p>Cerita kedua:</p>
<p><b>Purbaya disingkirkan setelah mengusik kepentingan tertentu.</b></p>
<p>Nah.</p>
<p>Cerita kedua jauh lebih seksi.</p>
<p>Dalam cerita pertama, Purbaya adalah mantan menteri.</p>
<p>Dalam cerita kedua, ia bisa berubah menjadi simbol seseorang yang dianggap berani melawan sistem.</p>
<p>Penelitian ini tidak mempunyai bukti yang cukup untuk menyatakan cerita kedua benar.</p>
<p>Tetapi Su'dzonisme tidak sedang meneliti kebenaran cerita itu saja.</p>
<p>Ia juga meneliti:</p>
<p><b>apa akibatnya apabila cerita tersebut dipercaya masyarakat?</b></p>
<h2>“Tuh, Kan. Setelah Purbaya Dicopot...”</h2>
<p>Fenomena berikutnya bahkan lebih menarik.</p>
<p>Ketika masih menjabat, Purbaya menunda implementasi pemungutan pajak terhadap perdagangan melalui sistem elektronik dengan pertimbangan kondisi daya beli. Setelah pergantian Menteri Keuangan, pemerintah kemudian bergerak untuk menjalankan pemungutan tersebut mulai Oktober 2026.</p>
<p>Secara administratif, tentu kebijakan dapat berubah ketika pejabat berubah.</p>
<p>Tetapi masyarakat tidak selalu membaca politik melalui dokumen kebijakan setebal ratusan halaman.</p>
<p>Masyarakat mempunyai metode analisis sendiri:</p>
<p><b>“Tuh, kan. Bar Purbaya dicopot...”</b></p>
<p>Kalimat seperti itu pendek.</p>
<p>Tidak mempunyai catatan kaki.</p>
<p>Tidak pernah melewati <i>peer review</i>.</p>
<p>Tetapi daya sebarnya kadang jauh lebih cepat daripada jurnal ilmiah.</p>
<p>Dari sinilah citra politik dapat terbentuk tanpa seorang tokoh perlu membentuknya sendiri.</p>
<p>Dan semakin banyak kebijakan setelah Purbaya yang berbeda dengan sikap Purbaya ketika menjabat, semakin mudah pula masyarakat membuat hubungan sebab-akibat sendiri.</p>
<p>Apakah hubungan itu selalu benar?</p>
<p>Belum tentu.</p>
<p>Tetapi begitulah cerita politik bekerja.</p>
<p>APBN mungkin memerlukan ribuan halaman untuk dijelaskan. Persepsi publik kadang cukup dengan:</p>
<p><b>“Tuh, kan.”</b></p>
<h2>Hipotesis Iklan Gratis</h2>
<p>Sampailah penelitian ini pada kecurigaan utama.</p>
<p>Bagaimana kalau pencopotan politik pada zaman media bukan hanya menghasilkan kehilangan jabatan, tetapi sekaligus menghasilkan <b>publisitas gratis</b>?</p>
<p>Purbaya tidak perlu melakukan apa pun.</p>
<p>Namanya diberitakan.</p>
<p>Alasan pencopotannya diperdebatkan.</p>
<p>Kebijakannya dibandingkan dengan penggantinya.</p>
<p>Pernyataannya setelah pencopotan dikutip.</p>
<p>Orang yang sebelumnya tidak terlalu mengikuti kebijakan fiskal bahkan mulai ikut membicarakan Purbaya.</p>
<p>Kalau ini iklan, biaya pemasangannya luar biasa mahal.</p>
<p>Dan di sinilah kader Su'dzonisme mulai gelisah.</p>
<p><b>Jangan-jangan Purbaya memang sedang dipopulerkan?</b></p>
<p>Oleh siapa?</p>
<p>Tidak tahu.</p>
<p>Untuk apa?</p>
<p>Belum tahu.</p>
<p>Apakah sengaja?</p>
<p>Lebih tidak tahu lagi.</p>
<p>Nah, karena terlalu banyak “tidak tahu”, kita tidak boleh mengubahnya menjadi kesimpulan.</p>
<p>Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa seseorang sengaja merancang pencopotan Purbaya sebagai strategi membangun karier politiknya.</p>
<p>Kemungkinan yang jauh lebih sederhana tetap harus kita terima: pemerintah memang menghendaki Menteri Keuangan lain.</p>
<p>Namun politik mempunyai sifat aneh.</p>
<p>Sebuah tindakan dapat menghasilkan akibat yang sama sekali berbeda dari niat awal pelakunya.</p>
<p>Orang bermaksud menghilangkan seseorang dari panggung, tetapi sorot lampu malah mengikuti orang yang turun dari panggung itu.</p>
<p>Itulah yang patut diamati.</p>
<p>Bukan siapa sutradaranya.</p>
<p>Sebab jangan-jangan memang tidak ada sutradara.</p>
<h2>Tumbal, Hukuman, atau Hadiah?</h2>
<p>Maka judul penelitian ini sebenarnya mengandung persoalan tersendiri.</p>
<p><b>Purbaya Dicopot: Hukuman, Tumbal, atau Iklan Gratis?</b></p>
<p>Bisa jadi bukan ketiganya.</p>
<p>Bisa jadi memang pergantian biasa.</p>
<p>Bisa jadi ada persoalan kebijakan.</p>
<p>Bisa jadi ada dinamika internal.</p>
<p>Bisa pula pencopotan tersebut menghasilkan efek politik yang tidak pernah direncanakan siapa pun.</p>
<p>Di sinilah Su'dzonisme harus berhenti sebelum berubah menjadi <b>Cocotologi Tingkat Lanjut</b>.</p>
<p>Sebab ada perbedaan besar antara:</p>
<p><b>“Saya curiga ada sesuatu.”</b></p>
<p>dan:</p>
<p><b>“Saya tahu siapa pelakunya.”</b></p>
<p>Yang pertama masih boleh ditulis sambil ngopi.</p>
<p>Yang kedua sebaiknya membawa bukti.</p>
<p>Kalau tidak, selain tidak ilmiah, bisa repot urusannya.</p>
<h2>Kesimpulan yang Tidak Menyimpulkan</h2>
<p>Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan metode Su'dzonisme dan sedikit bantuan <b>Cocotologi Politik Terapan</b>, belum dapat disimpulkan bahwa Purbaya merupakan tumbal, sedang dipersiapkan menjadi tokoh politik tertentu, atau sengaja dipopulerkan oleh seseorang.</p>
<p>Tidak ada bukti memadai untuk itu.</p>
<p>Yang dapat diamati hanyalah sebuah fenomena lama dalam politik:</p>
<p><b>jabatan dapat dicabut, tetapi perhatian publik tidak selalu ikut tercabut.</b></p>
<p>SBY menunjukkan bahwa keluar dari pemerintahan dapat beriringan dengan terbentuknya identitas politik yang lebih mandiri.</p>
<p>Sri Mulyani menunjukkan bahwa meninggalkan kursi menteri tidak berarti kursi tersebut tidak dapat diduduki kembali.</p>
<p>Purbaya mempunyai cerita sendiri yang akhirnya akan ditentukan oleh apa yang terjadi setelah ini.</p>
<p>Mungkin Purbaya memang selesai.</p>
<p>Mungkin beberapa tahun lagi namanya tinggal menjadi soal pilihan ganda dalam tes CPNS.</p>
<p>Mungkin pula perhatian publik setelah pencopotannya berkembang menjadi sesuatu yang mempunyai konsekuensi politik lebih panjang.</p>
<p>Kita tidak tahu.</p>
<p>Dan justru karena tidak tahu itulah seorang kader Su'dzonisme harus menahan diri untuk tidak menyimpulkan.</p>
<p>Sebab prinsip utama Su'dzonisme bukan menuduh orang. Kita hanya berusaha tidak terlalu cepat percaya bahwa segala sesuatu terjadi begitu saja.</p>
<p>Dan jangan lupa tetap:</p>
<p><b>“Berhati-hati dalam bertindak, waspada dalam bergerak. Sebab orang yang tiba-tiba baik biasanya ada unsur politik.”</b></p>
<p>Kalau ternyata tidak ada unsur politik?</p>
<p>Ya alhamdulillah.</p>
<p>Berarti su'dzon kita keliru.</p>
<p>Tetapi tetaplah waspada.</p>
<p><b>Kok dengaren men...!!</b></p>
<p>Jangan percaya teori konspirasi sebelum ada bukti. Tetapi kalau kebetulannya terlalu menarik, simpan dulu pertanyaannya.</p>
<p>Siapa tahu kelak jawabannya muncul sendiri.</p>
<p>Kalau tidak muncul?</p>
<p>Ya tidak apa-apa.</p>
<p>Namanya juga su'dzon.</p>
<p>Kalau semuanya akhirnya terbukti, namanya bukan Su'dzonisme lagi.</p>
<p><b>Itu laporan hasil pemeriksaan.</b></p>
Suudzonisme: Kerangka Dasar Hermeneutika Kecurigaan, Semiotika Ketumbenan, dan Etika Penundaan Vonis
Khafidh Khusnindzar Departemen Suudzonologi dan Studi Ketumbenan Fakultas Ilmu Kok Dengaren Naskah Dasar Suudzonisme — Versi 0.1 Abstrak Su…
<p><b>Khafidh Khusnindzar</b><br />
<i>Departemen Suudzonologi dan Studi Ketumbenan<br />
Fakultas Ilmu Kok Dengaren</i></p>
<p><b>Naskah Dasar Suudzonisme — Versi 0.1</b></p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEwYY6QtSvgCs3Li3gbPYEWuhw3CVh1B_Sjal82wYx1z5VsP54pohYOwy-B6hdrv1ATYnDFRY-xREW8zlygcTSNH2gdMzBnfml8GDkCassnxiYNetoqBbSngBJFS-4-YBY_QVfZVYsTTEEFxjY6XWLNT8cN9uhyphenhyphenBHp2lRCDaoiJ3o-ZSBbnwafm7qi6XA/s640/suudzonisme%2016-9_resz.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEwYY6QtSvgCs3Li3gbPYEWuhw3CVh1B_Sjal82wYx1z5VsP54pohYOwy-B6hdrv1ATYnDFRY-xREW8zlygcTSNH2gdMzBnfml8GDkCassnxiYNetoqBbSngBJFS-4-YBY_QVfZVYsTTEEFxjY6XWLNT8cN9uhyphenhyphenBHp2lRCDaoiJ3o-ZSBbnwafm7qi6XA/s1600-rw/suudzonisme%2016-9_resz.png" /></a></div><br /><p></p><h2>Abstrak</h2>
<p>Suudzonisme merupakan kerangka berpikir yang menempatkan kecurigaan bukan sebagai kesimpulan, melainkan sebagai pintu masuk menuju pemeriksaan. Suudzonisme berangkat dari persoalan sederhana: tindakan, ucapan, dan tanda sosial tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan apa yang tampak pada permukaan. Namun ketidakpercayaan yang berlebihan juga berisiko menjadikan kecurigaan sebagai prasangka yang kebal terhadap bukti.</p>
<p>Dengan memanfaatkan pemikiran Paul Ricoeur mengenai interpretasi, semiotika dan mitos Roland Barthes, konsep kekuasaan simbolik Pierre Bourdieu, serta kritik Friedrich Nietzsche terhadap nilai moral yang diterima begitu saja, tulisan ini merumuskan beberapa prinsip awal Suudzonisme: <b>Prinsip Ketumbenan, Prinsip Kontekstualitas, Semiotika Ketumbenan, Prinsip Kepentingan, Prinsip Penundaan Vonis, Prinsip Korektibilitas,</b> dan <b>Suudzon Reflektif</b>. Sebagai perangkat operasional awal diajukan pula <i>Kok Dengaren Method</i> (KDM), yakni prosedur membaca perubahan perilaku melalui riwayat, momentum, tanda, kemungkinan kepentingan, dan verifikasi. Suudzonisme tidak dimaksudkan untuk membenarkan prasangka, melainkan menjaga jarak antara kepercayaan, kecurigaan, dan kesimpulan.</p>
<p><b>Kata kunci:</b> Suudzonisme, hermeneutika, semiotika, kecurigaan, ketumbenan, kepentingan, penundaan vonis.</p>
<h2>Pendahuluan</h2>
<p>Manusia hidup dengan kepercayaan. Kita mempercayai ucapan orang lain, membaca tindakan sebagai representasi niat, serta menggunakan berbagai tanda untuk memahami dunia sosial. Tanpa kepercayaan semacam itu, kehidupan bersama akan menjadi sangat melelahkan.</p>
<p>Namun manusia juga mengenal pengalaman yang membuat kepercayaan tidak dapat diberikan begitu saja.</p>
<p>Seseorang yang selama bertahun-tahun tidak pernah terlihat dalam kegiatan kampung mendadak rajin hadir. Orang yang biasanya sulit ditemui tiba-tiba gemar bersalaman. Tokoh yang selama ini berbicara dari ruangan berpendingin udara mendadak rajin mengunjungi pasar, makan di warung sederhana, menggendong bayi, memeluk simbah-simbah, dan mendengarkan keluhan pedagang.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan semua itu. Perubahan menuju kebaikan bahkan patut dihargai.</p>
<p>Namun ketika perubahan terjadi secara mendadak, bertepatan dengan momentum tertentu, diproduksi menjadi gambar dan narasi, kemudian disebarkan secara sistematis kepada publik, muncul sebuah pertanyaan yang sangat sederhana:</p>
<p><b>Mengapa sekarang?</b></p>
<p>Dalam percakapan sehari-hari, pertanyaan itu kadang mempunyai bentuk yang lebih jujur:</p>
<p><b>“Kok dengaren, Men...?”</b></p>
<p>Tulisan ini berangkat dari pertanyaan tersebut.</p>
<p>Suudzonisme tidak hendak menjadikan kecurigaan sebagai kebenaran. Justru sebaliknya: ia berusaha <b>menyelamatkan kecurigaan agar tidak buru-buru berubah menjadi tuduhan</b>.</p>
<p>Dalam pengertian awal ini, Suudzonisme didefinisikan sebagai <b>cara membaca tindakan, ucapan, dan tanda dengan menunda penerimaan maupun penolakan sampai tersedia konteks yang cukup untuk menilainya</b>.</p>
<p>Karena itu, seorang Suudzonis tidak mengatakan, <i>“Pasti ada maunya.”</i></p>
<p>Ia mengatakan, <i>“Ada sesuatu yang berubah. Mari kita periksa.”</i></p>
<p>Perbedaannya tampak kecil, tetapi di situlah seluruh mazhab ini hendak didirikan.</p>
<h2>Dari Kecurigaan Menuju Interpretasi</h2>
<p>Suudzonisme bukanlah filsafat yang muncul dari ruang kosong. Kebiasaan mempertanyakan apa yang berada di balik sesuatu telah lama hadir dalam tradisi filsafat.</p>
<p>Paul Ricoeur memberi tempat penting kepada persoalan interpretasi. Teks, simbol, tindakan, dan fenomena sosial tidak selalu selesai dipahami hanya melalui apa yang dinyatakan secara langsung. Interpretasi membuka kemungkinan untuk membaca makna melalui hubungan antara teks, konteks, simbol, dan dunia yang berada di hadapannya.</p>
<p>Suudzonisme mengambil sikap interpretatif tersebut dalam pengertian yang sederhana: <b>yang tampak adalah data, bukan selalu keseluruhan kenyataan</b>.</p>
<p>Ketika seseorang mengatakan, <i>“Saya melakukan ini semata-mata untuk masyarakat,”</i> Suudzonisme tidak memiliki alasan untuk langsung menyatakan bahwa ucapan tersebut bohong.</p>
<p>Tetapi Suudzonisme juga tidak mempunyai kewajiban untuk segera mempercayainya.</p>
<p>Ucapan tersebut adalah sesuatu yang harus dibaca bersama tindakan, riwayat, konteks, momentum, dan akibatnya. Di sinilah kecurigaan memperoleh fungsi epistemologisnya.</p>
<p><b>Kecurigaan bukan jawaban. Kecurigaan adalah alasan untuk mengajukan pertanyaan berikutnya.</b></p>
<h2>Semiotika Ketumbenan</h2>
<p>Jika Ricoeur membantu Suudzonisme membaca sesuatu di balik permukaan, Roland Barthes membantu memahami bahwa kehidupan sosial dipenuhi tanda.</p>
<p>Benda tidak selalu berhenti sebagai benda. Gestur tidak selalu berhenti sebagai gerakan tubuh. Pakaian, latar tempat, foto, pilihan kata, dan cara seseorang menampilkan dirinya dapat memperoleh makna sosial yang lebih luas.</p>
<p>Peci adalah penutup kepala. Pasar adalah tempat perdagangan. Warung kopi adalah tempat minum kopi.</p>
<p>Namun dalam konfigurasi tertentu, peci dapat menandakan religiusitas; pasar dapat menjadi tanda kedekatan dengan rakyat; dan duduk di warung dapat menghasilkan citra kesederhanaan.</p>
<p>Tidak berarti orang yang memakai peci sedang berpura-pura. Tidak berarti orang yang datang ke pasar sedang melakukan pencitraan.</p>
<p><b>Suudzonisme tidak menuduh tanda. Ia membaca tanda.</b></p>
<p>Dari sini diajukan konsep <b>Semiotika Ketumbenan</b>, yakni pembacaan terhadap tanda yang memperoleh perhatian khusus karena kemunculan, intensitas, atau konteksnya berbeda secara signifikan dari kebiasaan sebelumnya.</p>
<p>Dalam bentuk paling sederhana:</p>
<p><b>Peci + hari biasa = peci.</b><br />
<b>Peci + pengajian = masih peci.</b><br />
<b>Peci + perubahan perilaku + produksi citra + momentum tertentu = perlu dibaca konteksnya.</b></p>
<p>Yang menjadi objek Suudzonisme bukan pecinya. Yang diperiksa adalah <b>hubungan antara tanda, perubahan, dan konteks</b>.</p>
<h2>Kekuasaan, Bahasa, dan Kepentingan</h2>
<p>Pierre Bourdieu membawa pembacaan tersebut menuju persoalan kekuasaan simbolik.</p>
<p>Bahasa tidak hidup dalam ruang hampa. Orang yang berbicara mempunyai posisi sosial. Pernyataan disampaikan dalam arena tertentu, kepada audiens tertentu, dan dapat menghasilkan konsekuensi tertentu.</p>
<p>Karena itu kalimat <i>“Semua ini demi kepentingan masyarakat”</i> tidak hanya mempunyai arti gramatikal.</p>
<p>Suudzonisme bertanya: siapa yang mengatakannya? Dalam posisi apa? Kepada siapa? Dalam momentum apa? Melalui medium apa? Dan keuntungan sosial atau simbolik apa yang mungkin dihasilkan oleh pernyataan tersebut?</p>
<p>Di sini perlu diberikan batas yang tegas.</p>
<p><b>Kepentingan tidak identik dengan keburukan.</b></p>
<p>Seseorang dapat benar-benar menolong orang lain sekaligus memperoleh reputasi baik. Pejabat dapat sungguh-sungguh menjalankan kewajibannya sekaligus memperoleh keuntungan politik dari pekerjaannya. Lembaga dapat melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat sekaligus memperoleh citra positif.</p>
<p>Kenyataan bahwa sebuah tindakan menghasilkan keuntungan bagi pelakunya <b>tidak dengan sendirinya membatalkan nilai baik tindakan tersebut</b>.</p>
<p>Suudzonisme justru berkepentingan membaca kemungkinan hadirnya beberapa kepentingan secara bersamaan. Sebab manusia tidak selalu sesederhana kategori <i>tulus</i> atau <i>tidak tulus</i>.</p>
<h2>Nietzsche dan Problem Kebaikan</h2>
<p>Friedrich Nietzsche penting bagi Suudzonisme bukan karena Suudzonisme hendak mengikuti seluruh filsafatnya, melainkan karena kritiknya terhadap moralitas mengajarkan keberanian untuk mempertanyakan kategori nilai yang telah dianggap selesai.</p>
<p>Ketika sebuah tindakan disebut <i>baik</i>, Suudzonisme dapat bertanya: baik menurut siapa? Dalam kerangka nilai apa? Siapa yang memperoleh manfaat? Dan bagaimana predikat “baik” tersebut dibentuk?</p>
<p>Pertanyaan demikian tidak berarti bahwa kebaikan tidak ada.</p>
<p>Sebaliknya, Suudzonisme membutuhkan kemungkinan adanya kebaikan yang nyata. Tanpa kemungkinan tersebut, pemeriksaan kehilangan makna karena kesimpulannya sudah ditentukan sejak awal.</p>
<p>Orang yang meyakini bahwa setiap kebaikan pasti menyembunyikan keburukan bukan sedang melakukan Suudzonisme.</p>
<p>Ia sedang <b>sinis</b>.</p>
<p>Dan keduanya harus dibedakan.</p>
<h2>Prinsip Dasar Mazhab Suudzonisme</h2>
<p>Berdasarkan kerangka tersebut, naskah awal ini mengusulkan sejumlah prinsip dasar Suudzonisme.</p>
<p><b>Pertama, Prinsip Ketumbenan.</b> Perubahan yang tidak biasa bukan bukti kesalahan, tetapi merupakan alasan yang sah untuk mengajukan pertanyaan.</p>
<p><b>Kedua, Prinsip Kontekstualitas.</b> Tindakan tidak boleh dibaca secara terisolasi. Riwayat, waktu, tempat, audiens, momentum, dan akibat merupakan bagian dari interpretasi.</p>
<p><b>Ketiga, Prinsip Semiotika Ketumbenan.</b> Tanda tidak boleh otomatis dianggap manipulasi. Namun produksi tanda dapat dianalisis untuk memahami makna yang sedang dibangun.</p>
<p><b>Keempat, Prinsip Kepentingan.</b> Kepentingan tidak otomatis membatalkan ketulusan atau manfaat suatu tindakan. Yang diperiksa adalah hubungan di antara keduanya.</p>
<p><b>Kelima, Prinsip Penundaan Vonis.</b> Kecurigaan tidak mempunyai kedudukan yang sama dengan kesimpulan.</p>
<p><b>Curiga adalah pertanyaan. Tuduhan adalah kesimpulan.</b></p>
<p>Karena itu beban pembuktian meningkat ketika seseorang bergerak dari pertanyaan menuju tuduhan.</p>
<p><b>Keenam, Prinsip Korektibilitas.</b> Kesimpulan Suudzonisme harus terbuka terhadap bukti baru. Jika data menunjukkan bahwa dugaan awal keliru, seorang Suudzonis wajib mengoreksi dirinya.</p>
<p>Prinsip terakhir ini penting karena tanpa kemampuan mengakui kekeliruan, Suudzonisme mudah berubah menjadi alat pembenar prasangka.</p>
<h2>Kok Dengaren Method (KDM)</h2>
<p>Untuk mengoperasionalkan prinsip tersebut, diajukan sebuah metode awal bernama <b><i>Kok Dengaren Method</i> (KDM)</b>.</p>
<p>Nama tersebut memang tidak terdengar seperti sesuatu yang akan memperoleh hibah penelitian dalam waktu dekat. Namun prosedurnya tidak dimaksudkan sebagai lelucon.</p>
<p>KDM bekerja melalui urutan:</p>
<p><b>Ketumbenan → Riwayat → Momentum → Tanda → Kepentingan → Verifikasi → Kesimpulan.</b></p>
<p><b>Ketumbenan</b> mengidentifikasi apa yang berubah. <b>Riwayat</b> membandingkan perubahan tersebut dengan perilaku sebelumnya. <b>Momentum</b> melihat konteks waktu ketika perubahan terjadi. <b>Tanda</b> memeriksa bahasa, simbol, gestur, citra, serta representasi yang menyertai tindakan. <b>Kepentingan</b> memetakan siapa yang memperoleh manfaat material maupun simbolik. <b>Verifikasi</b> menguji dugaan melalui informasi lain yang tersedia. Barulah <b>kesimpulan</b> dapat dibuat.</p>
<p>Dengan urutan tersebut, KDM secara sadar menolak metode yang lebih populer dalam percakapan media sosial:</p>
<p><b>Lihat → Curiga → Marah → Posting → Cari bukti belakangan.</b></p>
<p>Itu bukan Suudzonisme.</p>
<p><b>Itu Cocotisme.</b></p>
<h2>Suudzon Reflektif: Mencurigai Kecurigaan Sendiri</h2>
<p>Bagian terpenting dari Suudzonisme justru tidak diarahkan kepada orang yang sedang dicurigai. Ia diarahkan kepada <b>orang yang mencurigai</b>.</p>
<p>Setiap interpretasi mempunyai kemungkinan dipengaruhi pengalaman, kepentingan, kebencian, kesukaan, identitas kelompok, dan prasangka penafsir sendiri.</p>
<p>Karena itu seorang Suudzonis yang bertanya, <i>“Apa kepentingan dia?”</i>, pada saat yang sama harus sanggup bertanya:</p>
<p><b>“Apa kepentingan saya ketika ingin melihat tindakannya sebagai sesuatu yang mencurigakan?”</b></p>
<p>Prinsip ini disebut <b>Suudzon Reflektif</b>.</p>
<p>Kita mungkin menganggap tindakan seseorang mencurigakan bukan karena bukti yang kuat, tetapi karena sejak awal tidak menyukai orang tersebut. Sebaliknya, kita mungkin mengabaikan tanda yang sangat jelas karena orang yang melakukannya berasal dari kelompok yang kita sukai.</p>
<p>Suudzon Reflektif menuntut standar yang sama.</p>
<p>Jika tindakan lawan layak dicurigai berdasarkan suatu indikator, tindakan kawan dengan indikator yang sama juga harus terbuka untuk pemeriksaan.</p>
<p>Dengan demikian, Suudzonisme bukan hanya seni mencurigai orang lain. Ia adalah <b>kedisiplinan untuk mencurigai cara kita sendiri dalam mencurigai orang lain</b>.</p>
<h2>Batas Etis Suudzonisme</h2>
<p>Suudzonisme berhenti ketika kecurigaan diperlakukan sebagai fakta tanpa pembuktian.</p>
<p>Ia juga berhenti ketika tanda dianggap sebagai bukti niat, ketika kemungkinan dianggap sebagai kepastian, atau ketika seseorang tidak lagi bersedia menerima informasi yang bertentangan dengan prasangkanya.</p>
<p>Karena itu terdapat perbedaan mendasar:</p>
<p><b>Skeptisisme berkata:</b> <i>“Saya belum yakin.”</i><br />
<b>Sinisme berkata:</b> <i>“Saya sudah tahu semuanya busuk.”</i></p>
<p>Suudzonisme memilih yang pertama.</p>
<p>Kepercayaan yang terlalu mudah dapat membuat manusia gampang dimanipulasi. Namun kecurigaan yang terlalu besar membuat manusia kehilangan kemampuan mempercayai siapa pun.</p>
<p>Keduanya sama-sama bermasalah.</p>
<p><b>Suudzonisme berusaha tinggal di ruang sempit di antaranya.</b></p>
<h2>Kesimpulan: Suudzonisme sebagai Mazhab yang Belum Selesai</h2>
<p>Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai formulasi final.</p>
<p>Suudzonisme sejak awal harus menerima kemungkinan bahwa prinsip, terminologi, maupun metodenya akan mengalami koreksi. Sebuah mazhab yang menjadikan kecurigaan sebagai perangkat berpikir akan mengalami kontradiksi jika justru melarang orang mencurigai kelemahan mazhabnya sendiri.</p>
<p>Karena itu Suudzonisme harus bersifat <b>terbuka, korektif, dan sementara</b>.</p>
<p>Ia tidak mengajarkan manusia untuk berhenti percaya. Ia hanya menolak menyerahkan kepercayaan sebelum akal memperoleh kesempatan untuk bekerja.</p>
<p>Tidak semua yang tampak baik menyembunyikan kepentingan. Tidak pula keberadaan kepentingan otomatis menjadikan suatu tindakan buruk. Tidak setiap ketumbenan adalah manipulasi.</p>
<p>Tugas seorang Suudzonis bukan memastikan bahwa di balik semuanya pasti terdapat keburukan.</p>
<p>Tugasnya adalah <b>membaca sebelum percaya, memeriksa sebelum menuduh, dan bersedia mengoreksi diri setelah mengetahui</b>.</p>
<p>Maka kalimat yang selama ini terdengar seperti guyonan tongkrongan memperoleh kedudukan yang agak berbeda:</p>
<p><b>“Kok dengaren, Men...?”</b></p>
<p>Ia bukan tuduhan.</p>
<p>Bukan pula kesimpulan.</p>
<p>Ia hanyalah pertanyaan.</p>
<p><b>Tetapi hampir semua pemeriksaan yang serius memang bermula dari keberanian untuk bertanya.</b></p>
<h2>Daftar Pustaka</h2>
<p>Barthes, Roland. <i>Mitologi</i>. Terj. Nurhadi dan A. Sihabul Millah. Yogyakarta: Kreasi Wacana.</p>
<p>Bourdieu, Pierre. <i>Bahasa dan Kekuasaan Simbolik</i>. Yogyakarta: IRCiSoD.</p>
<p>Nietzsche, Friedrich. <i>Beyond Good and Evil: Melampaui Baik dan Jahat</i>. Terj. Bedita Marsela. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.</p>
<p>Ricoeur, Paul. <i>Filsafat Wacana: Membelah Makna dalam Anatomi Bahasa</i>. Terj. Musnur Hery. Yogyakarta: IRCiSoD.</p>
<p>Ricoeur, Paul. <i>Hermeneutika Ilmu Sosial</i>. Terj. Muhammad Syukri. Yogyakarta: Kreasi Wacana.</p>
<h2>Catatan Status Naskah</h2>
<p><b>Naskah Dasar Suudzonisme — Versi 0.1</b></p>
<p>Naskah ini merupakan rumusan awal dan <b>bukan doktrin final</b>. Istilah, prinsip, metode, maupun batas konseptual di dalamnya terbuka untuk pengujian, kritik, penambahan, dan revisi.</p>
<p><i>Sebab mazhab yang tidak boleh dicurigai sudah bertentangan dengan Suudzonisme sejak paragraf pertama.</i></p>
<!--CATATAN PENGEMBANGAN MAZHAB:
Versi 0.1 ini sengaja dipertahankan sebagai naskah dasar.
Jika kelak terjadi perubahan konsep, jangan menghapus jejak naskah ini.
Gunakan versi berikutnya (0.2, 0.3, 1.0, dan seterusnya) agar perkembangan
pemikiran Mazhab Suudzonisme dapat dilacak.
Prinsip yang masih terbuka untuk dikembangkan:
1. Definisi dan batas "ketumbenan".
2. Kedudukan Suudzon Reflektif.
3. Pengembangan Kok Dengaren Method (KDM).
4. Relasi Suudzonisme dengan skeptisisme, sinisme, hermeneutika, dan semiotika.
5. Batas etis antara kecurigaan, kritik, dugaan, dan tuduhan.
6. Kemungkinan penyusunan "Aksioma Suudzonisme".-->
Windows 7, Badut, dan Rasa Kasihan yang Mengecewakan. ilustrasi khafi.id “Mas, mbenjing sampean mriki nggih. Komputer kula mboten saget empan.” B…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgD5upSVtxSZCqNJr8bJDjfmXZMjXB5x3hJ-hG8M84X6qktlspnoYPC1mzGHqjr46Xeb6FHSOG7jSlNInP7iy2JF_l-x6NNVRJxLv9jC_g7kcV9QAAqfKysRqS5EdYm3tokpgsVte3VkkcnKkvrwAjxi5aP9ZkfQoyUo8Cj-sdf_Khs5ssULMvHHDX2BQ/s640/Ilsutrasi%20kasihan%20yang%20mengecewakan_resz.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img alt="Windows 7, Badut, dan Rasa Kasihan yang Mengecewakan. ilustrasi khafi.id" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgD5upSVtxSZCqNJr8bJDjfmXZMjXB5x3hJ-hG8M84X6qktlspnoYPC1mzGHqjr46Xeb6FHSOG7jSlNInP7iy2JF_l-x6NNVRJxLv9jC_g7kcV9QAAqfKysRqS5EdYm3tokpgsVte3VkkcnKkvrwAjxi5aP9ZkfQoyUo8Cj-sdf_Khs5ssULMvHHDX2BQ/s1600-rw/Ilsutrasi%20kasihan%20yang%20mengecewakan_resz.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Windows 7, Badut, dan Rasa Kasihan yang Mengecewakan. ilustrasi khafi.id</td></tr></tbody></table><p><i>“Mas, mbenjing sampean mriki nggih. Komputer kula mboten saget empan.”</i></p>
<p>Begitu kira-kira pesan yang masuk melalui WhatsApp. Besoknya saya datang ke tempat yang dimaksud. Sebagaimana lazimnya orang yang dipanggil untuk <b>memperbaiki komputer</b>, saya datang membawa sedikit perkakas, sedikit pengetahuan, dan banyak doa agar kerusakannya tidak merembet ke mana-mana.</p>
<p>Di sana tinggal sebuah keluarga dengan empat anak. Anak pertama kira-kira seusia SMA, yang kedua SMP, ketiga SD, dan yang terakhir masih balita. Tidak tampak perabotan mewah. Komputer yang harus saya benahi pun sudah cukup berumur. Di casing-nya masih tertempel stiker <b>Windows 7</b>.</p>
<p>Saya menduga komputer itu memang lahir dan dibesarkan pada zaman Windows 7. Spesifikasinya dibuat untuk hidup damai bersama sistem operasi tersebut. Sayangnya zaman berubah. Banyak perangkat lunak tak lagi mendukung Windows 7. Mau tidak mau komputer tua itu harus dipaksa menerima Windows 10, bahkan mungkin Windows 11.</p>
<p>Lelet?</p>
<p>Ya jelas.</p>
<p>Kurang lebih seperti menyuruh simbah ikut lomba lari karena panitianya sudah tidak menyediakan kategori jalan sehat.</p>
<p>Mau meningkatkan spesifikasi tentu membutuhkan biaya. Sementara dari beberapa cerita yang saya dengar, pemilik komputer sedang punya banyak pinjaman di sana-sini. Rumah satu-satunya bahkan dikontrakkan, sementara keluarganya memilih tinggal di ruko yang sekaligus menjadi tempat usaha.</p>
<p>Entah kenapa, saya merasa kasihan.</p>
<h2>Rasa Kasihan dan Kesombongan Kecil</h2>
<p>Mungkin memang begitulah manusia. Kita memiliki semacam perangkat lunak bawaan bernama <b>belas kasih</b>. Orang komputer mungkin menyebutnya <i>default application</i>; orang bengkel barangkali lebih gampang membayangkannya sebagai onderdil bawaan. Sudah ada sejak barang keluar dari pabrik. Bisa saja dicopot, tetapi setelah itu jangan heran kalau cara kerjanya tidak lagi sebagaimana mestinya.</p>
<p>Rasa kasihan kadang merepotkan. Kadang membuat kita mengambil keputusan yang secara hitung-hitungan tidak terlalu masuk akal. Tetapi saya curiga, kalau perasaan itu benar-benar berhasil di-<i>uninstall</i>—dicabut sampai ke akar-akarnya—manusia justru akan mengalami <i>bug</i>.</p>
<p>Kalau istilah itu terdengar terlalu komputer, sebut saja <b>konslet batin</b>.</p>
<p>Orangnya masih hidup. Masih makan, bekerja, bercanda, bahkan mungkin rajin datang ke tempat ibadah. Tetapi melihat orang lain kesusahan tidak ada lagi sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.</p>
<p>Ada yang tidak beres.</p>
<p>Meski demikian, belakangan saya juga mulai curiga pada rasa kasihan.</p>
<p>Sebab terkadang, <i>rasa kasihan adalah salah satu bentuk kesombongan kita atas keberadaan kita sendiri.</i></p>
<p>Ketika mengasihani seseorang, tanpa sadar kita sering membuat perbandingan. Dia kurang beruntung, saya sedikit lebih beruntung. Dia sedang kesusahan, saya tidak sesusah itu. Kita memang tidak mengucapkannya, tetapi diam-diam rasa iba menyediakan sebuah <i>dingklik </i>kecil agar posisi kita terasa beberapa sentimeter lebih tinggi.</p>
<p>Sampai kemudian saya kebelet ke kamar mandi.</p>
<p>Di samping kamar mandi itu terparkir sebuah <b>Honda CR-V</b>. Masih gres, bersih, mengilap.</p>
<p>Saya diam sebentar.</p>
<p>Lalu teringat kendaraan yang saya pakai datang ke sana.</p>
<p>Honda juga.</p>
<p>Supra.</p>
<p>Bukan produk Toyota.</p>
<p>Totoknya bahkan sudah bergetar parah dan saya belum punya cukup ongkos untuk memperbaikinya. Lebih mengenaskan lagi, motor itu bukan sepenuhnya milik saya.</p>
<p>Milik bapak.</p>
<p>Rasa kasihan saya mendadak seperti aplikasi yang mengalami <i>not responding</i>. Kalau dalam bahasa sehari-hari: saya agak bingung harus meneruskan rasa iba tadi atau justru mengajukan proposal agar dikasihani balik.</p>
<p>Tentu saya tidak tahu CR-V itu dibeli tunai, kredit, pinjaman, milik keluarga, atau bagaimana. Dan memang bukan urusan saya. Tidak adil pula kalau keberadaan sebuah mobil kemudian dipakai untuk membatalkan seluruh kesulitan hidup seseorang.</p>
<p>Tetapi setidaknya hari itu saya mendapat peringatan kecil bahwa membaca kehidupan seseorang hanya dari komputer tua, rumah sederhana, jumlah anak, dan cerita utang rupanya tidak semudah membaca spesifikasi komputer.</p>
<p>Komputer masih enak. Kita bisa klik kanan, membuka <i>Properties</i>, lalu ketahuan RAM-nya berapa, prosesornya apa, kapasitas penyimpanannya berapa, dan kira-kira sanggup menjalankan program seperti apa.</p>
<p><b>Manusia tidak punya menu semacam itu.</b></p>
<h2>Badut, Pertalite Sepuluh Ribu, dan NMAX</h2>
<p>Sayangnya, saya termasuk manusia yang tidak terlalu cepat belajar.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian kejadian serupa terulang.</p>
<p>Saya memenuhi panggilan seseorang untuk memperbaiki komputer. Lagi-lagi komputer tua yang sudah sulit ditolong. Lagi-lagi saya mencoba sebisa mungkin. Dan lagi-lagi upah yang saya terima tidak seberapa, bahkan jauh di bawah harga pasaran.</p>
<p>Selepas Magrib, menjelang Isya, saya pulang.</p>
<p>Saya mampir ke sebuah SPBU. Uang di kantong tidak banyak. Saya berniat membeli Pertalite sepuluh ribu rupiah saja. Tidak berani lebih. Hitung-hitungan ekonomi saya malam itu cukup sederhana: yang penting motor bisa sampai rumah, sementara beberapa lembar uang masih tersisa untuk kebutuhan lain.</p>
<p>Di dekat jalan keluar SPBU ada seseorang memakai kostum <b>badut Upin</b>. Atau Ipin. Saya lupa. Saya tidak sempat memeriksa apakah rambutnya satu atau tiga.</p>
<p>Di belakangnya ada seorang anak kecil yang terus merengek. Saya tidak tahu meminta apa. Mungkin jajan. Mungkin ingin segera pulang. Karena antrean cukup panjang, saya sempat memperhatikan cukup lama. Sampai akhirnya si badut mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada anak itu.</p>
<p>Anaknya kemudian sedikit lebih tenang.</p>
<p>Dan penyakit lama saya kambuh.</p>
<p><b>Kasihan.</b></p>
<p>Setelah selesai mengisi Pertalite sepuluh ribu, saya melewati mereka. Saya keluarkan selembar uang dua ribuan lalu saya berikan kepada si badut.</p>
<p>Jumlahnya memang tidak seberapa. Tetapi kalau bensin yang baru saja saya beli hanya sepuluh ribu, dua ribu sebenarnya sudah dua puluh persen dari anggaran bahan bakar malam itu.</p>
<p>Saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan perasaan telah melakukan sesuatu yang lumayan manusiawi.</p>
<p>Sampai Supra yang bukan Toyota itu sedikit rewel. Lampunya mendadak bermasalah. Mungkin bohlamnya terlepas dari fitting karena sebelumnya sempat terperosok lubang jalan, atau karena sebab lain, saya tidak tahu pasti.</p>
<p>Saya berhenti tidak jauh dari sana.</p>
<p>Kebetulan jam kerja si badut juga tampaknya selesai. Kostumnya dilepas. Barang-barangnya dirapikan. Lalu saya melihat kendaraan yang dipakainya untuk pulang.</p>
<p><b>Yamaha NMAX keyless,</b> yang harga bekasnya saja, kalau dihitung kasar, mungkin masih cukup untuk membeli empat Supra seperti yang saya kendarai.</p>
<p>Saya melihat NMAX.</p>
<p>Melihat Supra.</p>
<p>Melihat NMAX lagi.</p>
<p>Saya tidak tahu harus mengasihani siapa.</p>
<p>Sekali lagi, badut itu sama sekali tidak bersalah. Bisa jadi NMAX tersebut kredit. Bisa jadi pinjaman. Bisa jadi hasil menabung bertahun-tahun. Bahkan kalau memang miliknya sendiri dan dibeli tunai, justru bagus. Artinya pekerjaan yang sering kita pandang sebelah mata ternyata mampu memberinya penghidupan.</p>
<p>Yang bermasalah justru saya.</p>
<p>Saya rupanya terlalu mudah menyusun kelas sosial orang lain berdasarkan apa yang terlihat beberapa menit. Melihat badut di pinggir jalan, pikiran langsung menyusun cerita tentang kesusahan. Melihat komputer Windows 7, empat anak, dan rumah sederhana, pikiran segera menulis laporan kemiskinan sendiri.</p>
<p>Padahal kehidupan orang tidak sesederhana tampilan luarnya.</p>
<p>Orang Jawa mungkin cukup mengatakan, <i>uripe uwong kuwi ora isa disawang mung saka njabane.</i> Kita tidak tahu apa yang sedang ditanggung seseorang hanya dari kendaraan, pekerjaan, pakaian, rumah, atau komputer yang digunakannya.</p>
<p>Sama seperti kita tidak tahu isi dapur hanya dengan melihat genteng rumahnya.</p>
<h2>Belas Kasih Tidak Perlu Di-uninstall</h2>
<p>Barangkali karena itulah rasa kasihan tetap perlu kita pelihara. Dunia akan jauh lebih mengerikan kalau manusia kehilangan kemampuan untuk iba kepada manusia lain. Biarlah ia tetap menjadi <i>software bawaan</i>, atau kalau mau lebih sederhana, onderdil bawaan yang tidak perlu dicopot dari manusia.</p>
<p>Yang perlu diperiksa justru satu komponen lain yang kadang ikut menempel di belakangnya: <b>kesombongan.</b></p>
<p>Sebab ada perbedaan tipis antara merasa kasihan kepada seseorang dan merasa lebih tinggi daripada orang yang kita kasihani.</p>
<p>Belas kasih seharusnya membuat kita mendekat kepada sesama manusia. Bukan menyediakan dingklik agar kita bisa berdiri sedikit lebih tinggi lalu memandang orang lain dari atas.</p>
<p>Saya sendiri sudah dua kali diberi pelajaran.</p>
<p>Yang pertama, saya kasihan kepada orang yang ternyata di samping kamar mandinya terparkir CR-V.</p>
<p>Yang kedua, saya memberikan dua ribu rupiah kepada badut yang kemudian pulang naik NMAX keyless.</p>
<p>Sementara saya pulang naik Supra.</p>
<p>Bukan Toyota.</p>
<p>Milik bapak pula.</p>
<p>Mungkin Gusti Allah memang punya selera humor yang agak keterlaluan. Dua kali saya dibuat merasa menjadi orang yang sedikit lebih beruntung, dua kali pula keadaan seperti menepuk pundak saya sambil berkata:</p>
<p><i>“Durung mesti, Mas.”</i></p>
<p>Maka kalau suatu hari nanti saya kembali merasa kasihan kepada seseorang, saya berharap rasa kasihan itu tetap ada. Saya tidak ingin meng-<i>uninstall</i>-nya. Saya juga tidak ingin mengalami konslet batin hanya karena terlalu sering kecewa setelah mengetahui orang yang saya kasihani ternyata punya kendaraan lebih bagus.</p>
<p>Saya hanya perlu mengingat satu hal:</p>
<p><b>Jangan terlalu cepat merasa berada di atas hanya karena sedang menunduk untuk menolong orang lain.</b></p>
<p>Sebab bisa saja setelah itu orang yang kita tolong pulang naik mobil.</p>
<p>Atau NMAX.</p>
<p>Sementara kita masih di pinggir jalan, membujuk Supra milik bapak agar mau diajak pulang.</p>
Ilustrasi Saya selalu curiga kepada kalimat “Tuhan telah mati.” Bukan karena hendak membantah Nietzsche, tetapi karena ada satu persoalan yang ter…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUkobKhrezCnpyAxLGcaoXbbqCUTLj5jS-p2auWDuazPBTQbRILOoAXhh65EhXz4ldEiMC5Ldd-V79Rfj4q_U_BCVn84GzQ_LHenr-gEEej5X72LgLXcOkIEG8pVOliyR6ki3zfcF6S6FgUVNNNR4l78_Mf_SMTDzx0wEl8oZ0WSusrwswygcmq9SaD40/s640/Burdah%20dan%20Nietsche_Resz.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUkobKhrezCnpyAxLGcaoXbbqCUTLj5jS-p2auWDuazPBTQbRILOoAXhh65EhXz4ldEiMC5Ldd-V79Rfj4q_U_BCVn84GzQ_LHenr-gEEej5X72LgLXcOkIEG8pVOliyR6ki3zfcF6S6FgUVNNNR4l78_Mf_SMTDzx0wEl8oZ0WSusrwswygcmq9SaD40/s1600-rw/Burdah%20dan%20Nietsche_Resz.jpg" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi</td></tr></tbody></table><p>Saya selalu curiga kepada kalimat <i>“Tuhan telah mati.”</i> Bukan karena hendak membantah Nietzsche, tetapi karena ada satu persoalan yang terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: <b>bagaimana kalau setelah Tuhan kita bunuh, yang naik takhta justru hawa nafsu kita sendiri?</b></p>
<p>Sebab manusia tampaknya tidak pernah benar-benar nyaman hidup tanpa tuan. Ketika satu otoritas disingkirkan, sering kali kita hanya mencari penggantinya. Tuhan mungkin kita usir dari pusat kesadaran, tetapi kemudian ego mengambil tempat-Nya. Hasrat menggantikannya. Uang menjadi tuhan kecil. Kekuasaan menjadi sesembahan baru. Bahkan algoritma media sosial perlahan belajar menjadi penguasa atas perhatian kita.</p>
<p>Di sinilah saya teringat pada sebuah ironi: <b>saat pemilik kalimat “Tuhan telah mati” berqosidah Burdah.</b></p>
<p>Sepintas, keduanya seperti tidak mungkin dipertemukan. Di satu sisi ada Friedrich Nietzsche, filsuf yang mengguncang fondasi moralitas keagamaan dengan pernyataan terkenalnya tentang kematian Tuhan. Di sisi lain ada Imam Al-Bushiri, penyair yang menulis <i>Qasidah Burdah</i>, sebuah karya yang penuh cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.</p>
<p>Jika keduanya dipertemukan sebagai perdebatan teologi, barangkali tidak akan pernah selesai. Nietzsche akan mencurigai agama sebagai sesuatu yang berpotensi menjadikan manusia tunduk pada nilai yang diwariskan dan membatasi daya hidupnya. Al-Bushiri, dari horizon spiritualnya, tentu melihat manusia yang kehilangan Tuhan sebagai jiwa yang kehilangan arah dan tambatan cinta.</p>
<p>Tetapi mari kita tinggalkan sebentar pertengkaran dogmatis itu. Kita masuk ke sebuah lorong yang lebih sunyi: <b>lorong jiwa manusia.</b></p>
<p>Di sana, tiba-tiba sebuah bait Burdah terdengar sangat relevan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: large;">وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى</span></p><p style="text-align: right;"><span style="font-size: large;">حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ</span></p><p><i>“Wa an-nafsu kal-thifli in tuh milhu syabba ‘ala<br />
hubbi ar-radha’i wa in taftimhu yanfaṭimi.”</i></p>
<p>Nafsu itu seperti anak kecil. Jika engkau biarkan, ia akan terus mencintai susu. Tetapi jika engkau menyapihnya, ia pun akan berhenti menyusu.</p>
<p>Al-Bushiri menggunakan metafora yang sederhana, tetapi sangat dalam. Bayi tidak memiliki kemampuan untuk mengatakan, “Aku sudah cukup.” Ia hanya mengenal keinginan dan pemuasan. Haus, menangis. Diberi susu, diam. Lapar, meminta lagi.</p>
<p>Masalahnya muncul ketika pola itu dibawa sampai dewasa.</p>
<p>Manusia yang selalu menuruti keinginannya mungkin bertambah umur, tetapi belum tentu bertambah dewasa. Tubuhnya dewasa, pengetahuannya bertambah, rekeningnya mungkin membesar, tetapi mekanisme jiwanya masih seperti bayi: <i>ingin, lalu harus mendapatkan.</i></p>
<p>Karena itu, bagi Al-Bushiri, nafsu tidak cukup dibiarkan tumbuh. Ia perlu disapih.</p>
<p>Dan bukankah dunia modern justru bekerja dengan cara sebaliknya?</p>
<p>Kita terus diberi “susu”. Iklan menawarkan sesuatu yang belum kita butuhkan. Media sosial memberikan rangsangan yang tidak pernah selesai. Algoritma mempelajari apa yang membuat kita bertahan lebih lama di depan layar. Pasar mengubah keinginan menjadi kebutuhan, lalu kebutuhan menjadi identitas.</p>
<p>Kita merasa sedang memilih dengan bebas. Padahal jangan-jangan kita hanya sedang <b>memilih dari daftar keinginan yang telah dibuatkan orang lain.</b></p>
<p>Di titik inilah Nietzsche dan Al-Bushiri, meskipun tidak pernah benar-benar berjalan menuju tujuan yang sama, dapat berpapasan.</p>
<p>Nietzsche tidak mengajarkan kebebasan sebagai sekadar menuruti semua keinginan. Justru manusia yang selalu bereaksi terhadap dorongan sesaat bukanlah manusia yang telah selesai dengan dirinya. Dalam gagasan <i>Selbstüberwindung</i>, manusia dituntut untuk melampaui dirinya sendiri, mengolah kekuatan dan dorongan dalam dirinya, bukan sekadar menjadi budaknya.</p>
<p>Sementara dalam tradisi Islam, disiplin terhadap nafsu dikenal melalui <i>mujahadah</i> dan <i>riyadhatun nafs</i>. Nafsu tidak harus dimusnahkan, tetapi harus dididik agar tidak mengambil alih singgasana jiwa.</p>
<p><b>Di sini keduanya bertemu pada satu perkara: kebebasan bukan berarti melakukan segala sesuatu yang kita inginkan.</b></p>
<p>Justru ada bentuk perbudakan yang paling halus: ketika kita merasa bebas karena dapat mengikuti semua keinginan kita.</p>
<p>Tetapi setelah itu, jalan Nietzsche dan Al-Bushiri kembali berpisah.</p>
<p>Nietzsche membawa pengatasan diri menuju otonomi manusia: keberanian untuk berdiri sendiri, menciptakan nilai, dan tidak menggantungkan keberadaan pada otoritas transenden. Al-Bushiri membawa penyapihan nafsu menuju penyucian jiwa, mahabbah, dan penyerahan diri kepada Allah.</p>
<p><b>Nietzsche menyapih manusia agar ia mampu berdiri tanpa penopang transenden. Al-Bushiri menyapih manusia agar ia mampu berdiri di hadapan Yang Transenden.</b></p>
<p>Jalannya bersinggungan, tetapi tujuan akhirnya berbeda.</p>
<p>Maka mungkin Zarathustra tidak perlu berdebat ketika mendengar Burdah. Ia cukup duduk sebentar dan mendengarkan bait <i>“an-nafsu kal-thifli...”</i> Barangkali ia tidak ikut bershalawat. Barangkali ia tetap menolak seluruh bangunan metafisika yang dibawa Al-Bushiri.</p>
<p>Tetapi ia mungkin akan memahami satu hal: <b>manusia tidak menjadi merdeka hanya karena berhasil membebaskan dirinya dari Tuhan.</b></p>
<p>Ia masih harus membebaskan dirinya dari keserakahan, ego, ketakutan, kebutuhan akan pengakuan, dan keinginan yang tidak pernah selesai.</p>
<p>Sebab bisa jadi setelah satu tuan kita singkirkan, kita hanya sedang mempersiapkan singgasana untuk tuan yang lain.</p>
<p>Dan mungkin pertanyaan paling penting dari kalimat <i>“Tuhan telah mati”</i> bukanlah apakah Tuhan benar-benar mati atau tidak.</p>
<p>Pertanyaannya jauh lebih mengganggu:</p>
<p><b>Jika Tuhan kita anggap telah mati, siapa yang sekarang menjadi tuan di dalam diri kita?</b></p>
<p>Al-Bushiri mungkin telah memberi jawabannya berabad-abad lalu, melalui gambaran seorang bayi yang tidak pernah mau berhenti menyusu.</p>
<p><i>Nafsu itu seperti anak kecil.</i></p>
<p>Dan barangkali sebagian dari kita memang sudah dewasa secara usia, tetapi belum pernah benar-benar disapih.</p><p>Barangkali pula Nietzsche benar bahwa manusia modern telah membunuh Tuhan—setidaknya dalam kesadarannya. Tetapi Al-Bushiri mengajukan persoalan yang mungkin lebih merepotkan: setelah Tuhan diturunkan dari singgasana, siapa yang kita dudukkan di sana?</p><p>Akal? Kebebasan? Kekuasaan? Uang? Algoritma? Atau nafsu kita sendiri?</p><p>Sebab membunuh Tuhan ternyata belum tentu membuat manusia merdeka. Bisa jadi kita hanya mengganti tuan.</p><p>Dan ketika Burdah sampai pada bait “an-nafsu kal-thifli”, barangkali Zarathustra perlu diam sebentar.</p><p>Bukan karena Tuhan tiba-tiba hidup kembali dalam filsafatnya, tetapi karena ia menemukan seorang bayi dalam dirinya yang ternyata belum selesai disapih.</p>