Di tempat saya tinggal, sebenarnya tidak bisa disebut desa yang sangat-sangat desa. Toko sudah banyak berdiri. Ada minimarket, Pertashop, Pertamini, …
Pinned Post
All stories
Saya tidak lantas ingin menyindir salah satu majelis yang mungkin saja melakukan hal seperti ini. Sebab, fenomena yang hendak dibicarakan bukan mil…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHBNNsJeXOe__RnfbXNrGk43LoKlt5jwUYlxIx8eVI9IIooCwbcRUO6fjjv0t7lcZs6DCCsHabxaWf6zL79LY1duorx24_y8WcG79OizdyBd50w5gtZL77z1ZRI862Dnj1pOOzhCQSXJr4gxkNkFVWJiPs30ZlnYG01BzybxXc6wXGIuVQuW8-dOS6LFI/s640/Info%20hadiyah%20fatihah.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHBNNsJeXOe__RnfbXNrGk43LoKlt5jwUYlxIx8eVI9IIooCwbcRUO6fjjv0t7lcZs6DCCsHabxaWf6zL79LY1duorx24_y8WcG79OizdyBd50w5gtZL77z1ZRI862Dnj1pOOzhCQSXJr4gxkNkFVWJiPs30ZlnYG01BzybxXc6wXGIuVQuW8-dOS6LFI/s1600-rw/Info%20hadiyah%20fatihah.png" /></a></div><div><br /></div>
<p>Saya tidak lantas ingin menyindir salah satu majelis yang mungkin saja melakukan hal seperti ini. Sebab, fenomena yang hendak dibicarakan bukan milik satu majelis, satu kiai, atau satu kelompok tertentu. Di beberapa platform media sosial, kita sudah cukup sering menemukan pengumuman semacam: <i>“Kontak person hadiyah Fatihah.”</i></p>
<p>Mungkin sebagian dari kita tidak terlalu memperhatikannya. Barangkali karena sudah terlalu sering melihatnya, sehingga lama-lama terasa biasa. Tetapi percayalah, praktik semacam ini benar-benar ada.</p>
<p>Di beberapa forum pengajian, kita sudah lumrah dengan istilah <i>“info lapak”</i>. Maksudnya, para pedagang yang ingin berjualan dalam sebuah kegiatan dipersilakan menghubungi panitia untuk mendapatkan tempat. Ada lapak, ada lokasi, ada fasilitas, lalu ada biaya tertentu yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan slot tersebut.</p>
<p>Nah, belakangan muncul sesuatu yang agak menarik untuk direnungkan: <i>slot hadiyah Fatihah.</i></p>
<p>Konsepnya sekilas hampir mirip. Jika pedagang mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan tempat berjualan, seseorang juga dapat menghubungi panitia untuk mendapatkan slot pembacaan Fatihah yang ditujukan kepada orang tua, leluhur, atau seseorang yang telah meninggal dunia. Bisa pula ditujukan untuk sebuah hajat.</p>
<p>Di sinilah pertanyaan kecil itu muncul: <i>apakah doa juga sudah mengenal sistem booking?</i></p>
<p>Barangkali pertanyaan tersebut terdengar kurang sopan. Bahkan mungkin dianggap sinis. Padahal persoalannya bukan pada doa yang dipanjatkan. Mendoakan orang yang telah meninggal tentu saja merupakan sesuatu yang baik. Membaca Al-Fatihah untuk orang tua, guru, keluarga, atau siapa pun yang telah mendahului kita juga bukan persoalan.</p>
<p>Yang menarik justru ketika kesempatan untuk “didoakan” mulai disusun seperti sebuah layanan: ada panitia, ada kontak person, ada pemesanan, dan ada nominal tertentu.</p>
<p>Lebih menarik lagi karena pemesanannya terkadang cukup banyak. Maka kalau dahulu kita mengenal ungkapan <i>“khususon ila ruhi...”</i>, sekarang bisa saja menjadi “khususon” untuk beberapa nama sekaligus. Maklum, kalau pemesanannya banyak, barangkali tidak efisien kalau satu nama harus mendapatkan satu sesi khusus.</p>
<p>Akhirnya doa pun mengenal istilah yang sangat modern: <i>slot.</i></p>
<p>Saya sering mendengar dalam sebuah pengajian sebuah nasihat yang kurang lebih mengatakan bahwa banyak hal yang sebenarnya berkaitan dengan akhirat dapat berubah menjadi urusan dunia karena niat. Sebaliknya, banyak pula pekerjaan duniawi yang justru dapat bernilai sebagai amal akhirat karena niat pula.</p>
<p>Saya tidak tahu persis redaksi dan dari siapa nasihat tersebut berasal. Tetapi gagasannya sederhana: <i>niat dapat menentukan nilai sebuah perbuatan.</i></p>
<p>Karena itu, ketika urusan doa mulai diletakkan dalam mekanisme transaksi, pertanyaan tentang niat menjadi semakin penting. Bukan untuk menghakimi niat orang lain—karena niat adalah wilayah yang tidak bisa kita lihat—melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan sesuatu yang semestinya menjadi jalan menuju akhirat perlahan-lahan kita tarik kembali menjadi urusan dunia.</p>
<p>Barangkali tidak demikian. Barangkali uang tersebut memang untuk membantu biaya kegiatan, panitia, atau kebutuhan lain. Dan tentu tidak adil pula menyimpulkan bahwa setiap pemberian uang dalam kegiatan keagamaan otomatis berarti seseorang sedang “membeli doa”.</p>
<p>Tetapi justru karena persoalannya berada di wilayah yang samar, kita perlu lebih berhati-hati.</p>
<p>Filsuf Immanuel Kant pernah mengingatkan, manusia semestinya diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan lain. Gagasan itu tentu bukan sedang membicarakan hadiyah Fatihah. Tetapi ia memberi kita sebuah kaca untuk melihat persoalan ini.</p>
<p>Jangan sampai orang yang datang membawa hajat, membawa nama orang tua yang telah meninggal, atau membawa kerinduan kepada leluhurnya, perlahan-lahan kita lihat hanya sebagai “pemesan”. Ada nama, ada nominal, ada slot.</p>
<p>Manusia kemudian menjadi angka dalam daftar.</p>
<p>Di sisi lain, Karl Marx punya gagasan tentang <i>komodifikasi</i>: sesuatu yang sebelumnya memiliki nilai sosial atau nilai tertentu di luar pasar dapat berubah menjadi sesuatu yang memiliki harga ketika masuk ke dalam logika pertukaran.</p>
<p>Barangkali Marx akan tersenyum melihat zaman kita. 😂 Bahkan sesuatu yang tidak bisa ditimbang pun kadang-kadang menemukan cara untuk diberi harga.</p>
<p>Sekali lagi, bukan berarti setiap pemberian uang dalam kegiatan keagamaan otomatis merupakan jual beli doa. Tetapi pertanyaannya menjadi menarik ketika doa, nama orang yang didoakan, waktu pembacaan, dan nominal mulai tersusun dalam satu mekanisme yang mirip dengan transaksi.</p>
<p>Sebab ketika doa mulai memiliki tarif, kita tidak hanya sedang berhadapan dengan persoalan uang. Kita sedang berhadapan dengan kemungkinan munculnya sebuah cara pandang baru: bahwa semakin banyak uang yang dikeluarkan, semakin besar pula kesempatan seseorang mendapatkan perhatian dalam ruang spiritual.</p>
<p>Dan di titik ini saya justru lebih khawatir kepada orang-orang miskin.</p>
<p>Jangan sampai kelak ruang doa menjadi seperti ruang-ruang lain dalam kehidupan kita yang semakin mengenal kelas. Ada tempat khusus bagi yang mampu membayar, sementara yang tidak mampu cukup berdiri di luar pagar.</p>
<p>Padahal orang miskin juga punya orang tua yang telah meninggal. Mereka juga punya leluhur yang ingin didoakan. Mereka juga memiliki hajat. Bahkan mungkin, karena keterbatasan hidupnya, doa adalah salah satu hal paling murah yang masih bisa mereka harapkan.</p>
<p>Dan apa yang saya bayangkan?</p>
<p>Saya membayangkan seorang panitia yang miskin. Sejak kegiatan itu hendak dimulai, sejak bersih-bersih lokasi, menata kursi, memasang perlengkapan, sampai acara benar-benar dimulai, si miskin ini bekerja tanpa banyak bicara. Tangannya mungkin lebih dulu kotor daripada tangan siapa pun. Keringatnya mungkin sudah bercucuran ketika sebagian orang baru datang dan mencari tempat duduk.</p>
<p>Dan kita tahu, dalam banyak kegiatan masyarakat, <i>rewang</i> yang paling rajin justru sering datang dari kalangan seperti ini. Mereka mungkin tidak punya banyak uang, tetapi punya tenaga. Tidak punya banyak fasilitas, tetapi punya waktu. Ketika ada kegiatan, mereka datang. Ketika dibutuhkan, mereka membantu.</p>
<p>Lalu tibalah sesi hadiyah Fatihah.</p>
<p>Nama-nama mulai dibacakan. Satu per satu. Atau mungkin beberapa nama sekaligus. Orang-orang yang sebelumnya sudah memesan slot didoakan, dikhususkan untuk orang tua, leluhur, keluarga, atau hajat masing-masing.</p>
<p>Si miskin tadi hanya diam.</p>
<p>Bukan karena dia tidak punya orang tua yang ingin didoakan. Bukan karena dia tidak punya leluhur. Bukan pula karena hidupnya tidak memiliki hajat.</p>
<p>Dia hanya tidak punya cukup uang untuk membeli slot.</p>
<p>Dan di situlah saya membayangkan sebuah ironi yang agak pahit: <i>orang yang sejak awal ikut menyiapkan tempat untuk orang lain berdoa, justru tidak mendapatkan tempat dalam doa karena tidak mampu membayar.</i></p>
<p>Kalau sampai suatu hari keadaan seperti itu benar-benar dianggap biasa, barangkali ada sesuatu yang perlu kita pikirkan kembali.</p>
<p>Sebab agama mestinya menjadi ruang yang lapang. Orang kaya boleh masuk. Orang miskin juga boleh masuk. Orang yang membawa banyak sedekah boleh datang. Orang yang hanya membawa tenaga juga tidak semestinya merasa asing.</p>
<p>Jangan sampai kita membuat ukuran baru dalam kehidupan spiritual: yang punya uang mendapatkan slot, sementara yang tidak punya uang cukup mendapatkan tugas <i>rewang</i>.</p>
<p>Yang satu mendapatkan namanya disebut dalam doa, yang lain cukup disebut ketika panitia membutuhkan tambahan tenaga.</p>
<p>Kalau sampai begitu, saya khawatir kita sedang membangun sebuah ironi yang tidak lucu: <i>si miskin membantu menyediakan panggung bagi doa, tetapi tidak mampu membeli tempat di dalam doa itu sendiri.</i></p>
<p>Saya tidak sedang mengatakan bahwa praktik semacam ini sudah sampai sejauh itu. Belum tentu. Tetapi bukankah banyak hal besar dalam kehidupan kita bermula dari sesuatu yang awalnya dianggap kecil dan biasa?</p>
<p>Dulu mungkin kita datang ke pengajian untuk mendengarkan nasihat. Sekarang ada <i>info lapak</i>. Itu tidak masalah. Pedagang memang membutuhkan tempat dan panitia membutuhkan biaya.</p>
<p>Tetapi kalau suatu hari doa juga mulai dipasarkan dengan mekanisme yang sama, barangkali kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: jangan-jangan bukan doanya yang berubah, melainkan cara kita memperlakukan doa.</p>
<p>Sebab ada sesuatu yang agak lucu sekaligus menggelitik. Di dunia perdagangan, kita membayar agar mendapatkan tempat untuk menjual barang. Di dunia spiritual, jangan sampai kita membayar agar mendapatkan tempat dalam doa.</p>
<p>Jangan-jangan suatu hari nanti kita akan sampai pada keadaan ketika amal tidak lagi terasa sebagai buah keikhlasan, melainkan sesuatu yang harus dicari slotnya.</p>
<p>Dan kalau sampai begitu, mungkin kita tidak lagi bertanya, <i>“Kapan pengajiannya?”</i> tetapi mulai bertanya, <i>“Masih ada slot Fatihah, Pak?”</i></p>
Cuaca di Ponorogo demikian panas. Bahkan Ponorogo masuk dalam juara pertama kota terpanas Jawa Timur. Mungkin ini bagian dari dampak perubahan ikli…
<p></p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi59dJgQue-Fqi90Z7H-YzVqzpzutNkVlAlIqEZ8IdXO0w9PKbxkhncdZQvXXbHigKjUIhCtKSQGVE8vliED8p-1Cq-sEubFYM3t-wedONrfV3fI6eN_EkJJ8D_TixEEiiRvG4Vn6yx8W0-txgqTpMsEFFM-XA6L_3ojDgCz2jA8ijWXwRcekvTl-Dh1wI/s800/Eco-eco.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="447" data-original-width="800" height="358" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi59dJgQue-Fqi90Z7H-YzVqzpzutNkVlAlIqEZ8IdXO0w9PKbxkhncdZQvXXbHigKjUIhCtKSQGVE8vliED8p-1Cq-sEubFYM3t-wedONrfV3fI6eN_EkJJ8D_TixEEiiRvG4Vn6yx8W0-txgqTpMsEFFM-XA6L_3ojDgCz2jA8ijWXwRcekvTl-Dh1wI/w640-h358-rw/Eco-eco.jpg" width="640" /></a></div><p>Cuaca di Ponorogo demikian panas. Bahkan Ponorogo masuk dalam juara pertama kota terpanas Jawa Timur. Mungkin ini bagian dari dampak perubahan iklim. Mungkin, sebab saya bukan bagian dari komunitas <i>eco-eco</i> sehingga tidak bisa memastikan apakah panasnya cuaca ini benar-benar berkaitan dengan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan atau tidak sama sekali.</p>
<p>Bicara soal <i>eco-eco</i> yang tidak ada “Umberto”-nya, saya kira sudah banyak komunitas, kelompok kajian, seminar, diskusi, penelitian, dan berbagai macam perkumpulan yang membicarakan lingkungan dari banyak sudut pandang. Ada <i>eco-sufisme</i>, <i>eco-feminisme</i>, <i>eco-theology</i>, <i>eco-spirituality</i>, dan entah berapa lagi <i>eco</i> yang bisa ditempelkan di depan istilah lain.</p>
<p>Semua terdengar penting. Semua terdengar perlu. Dan mungkin memang demikian. Saya tidak sedang memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa berbagai kajian tersebut tidak berguna. Bisa jadi justru dari sanalah kita mendapatkan cara baru untuk memahami hubungan manusia dengan alam.</p>
<p>Hanya saja, ada satu pertanyaan sederhana yang terus mengganggu pikiran saya.</p>
<p><b>Setelah semua itu dibicarakan, siapa yang mengawal kelestarian lingkungannya?</b></p>
<p>Sebab lingkungan tidak ikut seminar. Sungai tidak membaca makalah. Pohon tidak menghadiri diskusi. Tanah juga tidak peduli apakah orang yang menjaganya memahami <i>eco-theology</i> atau tidak.</p>
<p>Di kampung-kampung, orang mungkin tidak mengenal istilah-istilah itu. Ada yang membersihkan saluran air karena kalau mampet rumahnya kebanjiran. Ada yang menjaga mata air karena kalau sumbernya rusak, warga sekampung kesulitan mendapatkan air. Ada yang mempertahankan pohon karena sejak kecil tahu bahwa pohon itu membuat tanah tetap kuat.</p>
<p>Mereka mungkin tidak pernah menyebut pekerjaannya sebagai gerakan ekologis.</p>
<p>Tidak ada <i>framework</i>. Tidak ada seminar. Tidak ada sertifikat. Tidak ada <i>eco</i> di depan pekerjaannya.</p>
<p>Tetapi ada tindakan.</p>
<p>Dan mungkin benar, <i>eco</i> yang tidak ada “Umberto”-nya ini telah kehilangan “Umberto”-nya. Atau malah jangan-jangan ia sedang masuk ke dalam prediksi Umberto Eco tentang dunia yang semakin dipenuhi tanda, simbol, dan produksi makna.</p>
<p>Umberto Eco memang banyak memikirkan bagaimana manusia menciptakan, menggunakan, dan membaca tanda. Dunia manusia bukan hanya dunia benda, tetapi juga dunia yang penuh dengan nama dan makna. Sesuatu tidak cukup hadir; kita juga ingin menamainya, menjelaskannya, menafsirkannya.</p>
<p>Barangkali itu pula yang terjadi pada lingkungan.</p>
<p>Kerusakan lingkungan diberi nama. Kepedulian terhadap lingkungan diberi nama. Gerakan diberi nama. Perspektif diberi nama. Komunitas diberi nama. Lalu lahirlah berbagai macam <i>eco</i> untuk menerangkan hubungan kita dengan alam.</p>
<p>Semakin banyak nama, semakin banyak pula cara kita membicarakan lingkungan.</p>
<p>Tetapi nama bukan tindakan.</p>
<p>Menamai sebuah persoalan tidak otomatis menyelesaikan persoalan tersebut. Menjelaskan hubungan spiritual manusia dengan alam tidak otomatis membuat orang berhenti membuang sampah ke sungai. Membicarakan kesakralan hutan tidak otomatis membuat hutan aman dari penebangan.</p>
<p>Di sinilah saya mulai curiga kepada <i>eco-eco</i>.</p>
<p>Bukan karena <i>eco-eco</i> itu salah.</p>
<p>Melainkan karena <i>eco-eco</i> bisa menjadi terlalu nyaman.</p>
<p>Kita bisa berbicara tentang lingkungan tanpa harus berurusan dengan lingkungan itu sendiri.</p>
<p>Kita bisa membahas sungai tanpa harus turun ke sungai. Bisa membicarakan hutan tanpa harus ikut menjaganya. Bisa mendiskusikan perubahan iklim tanpa harus mengawal kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan.</p>
<p>Diskusi selesai. Foto bersama. Pulang.</p>
<p>Sementara sungai tetap mengalir membawa sampah.</p>
<p>Barangkali di sinilah perbedaan antara <i>mengetahui</i> dan <i>mengawal</i>.</p>
<p>Orang yang mengawal lingkungan tidak selalu orang yang paling tahu istilah ekologis. Bisa jadi ia hanya tahu bahwa sungai di belakang rumahnya harus tetap bersih. Ia tidak tahu apa itu <i>eco-theology</i>, tetapi tahu bahwa air yang tercemar tidak bisa diminum. Ia tidak pernah membaca teori <i>land ethic</i>, tetapi tahu bahwa pohon yang ditebang akan membuat bukit gundul.</p>
<p>Dan mungkin orang semacam itu justru lebih dekat dengan inti persoalan.</p>
<p><a href="https://journals.ecotas.org/index.php/ems/id/article/view/56/37" target="_blank">Aldo Leopold</a>, melalui gagasan <i><a href="https://lsfdiscourse.org/filosofi-land-ethic-untuk-masa-depan-bumi/" target="_blank">land ethic</a></i>, mengajak kita melihat hubungan manusia dengan tanah dan komunitas kehidupan bukan semata-mata sebagai hubungan ekonomi, tetapi juga sebagai persoalan etika. Ukuran moralitas kita terhadap alam pada akhirnya tidak berhenti pada apa yang kita pikirkan tentang alam, tetapi juga pada bagaimana kita memperlakukannya.</p>
<p>Kalau begitu, barangkali ukuran sederhana kepedulian lingkungan bukanlah berapa banyak istilah ekologis yang kita kuasai.</p>
<p>Melainkan: <b>apa yang kita lakukan ketika tidak ada lagi yang sedang berdiskusi?</b></p>
<p>Apakah sungai tetap kita jaga setelah seminar selesai?</p>
<p>Apakah pohon tetap kita rawat setelah acara penanaman berakhir?</p>
<p>Apakah masyarakat tetap kita dampingi setelah kamera dan wartawan pergi?</p>
<p>Apakah kebijakan yang merusak lingkungan tetap kita awasi ketika isu tersebut sudah tidak lagi menarik perhatian?</p>
<p>Sebab lingkungan tidak rusak dalam satu seminar dan tidak pulih dalam satu seminar pula.</p>
<p>Ia membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih sepi: mengawasi, membersihkan, menanam, merawat, menegur, mendampingi, dan datang lagi ketika tidak ada yang memotret.</p>
<p>Mungkin pekerjaan seperti itu kurang menarik untuk dijadikan judul acara.</p>
<p>Kurang menarik untuk dijadikan tema seminar.</p>
<p>Kurang menarik untuk dijadikan nama komunitas.</p>
<p>Tetapi justru di situlah lingkungan membutuhkan kita.</p>
<p>Dan saya kembali kepada cuaca panas tadi.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah panasnya Ponorogo hari ini merupakan akibat langsung perubahan iklim, kerusakan lingkungan, atau gabungan banyak faktor yang jauh lebih rumit daripada yang mampu saya jelaskan.</p>
<p>Saya bukan ahli iklim.</p>
<p>Saya juga bukan anggota komunitas <i>eco-eco</i>.</p>
<p>Tetapi saya tahu satu hal sederhana: kalau lingkungan memang sedang bermasalah, kita tidak mungkin menyelesaikannya hanya dengan menambah jumlah orang yang pandai menjelaskan masalah.</p>
<p>Kita membutuhkan orang yang mau mengawalnya.</p>
<p>Dan kalau orang yang mengawal itu tidak tahu istilah <i>eco-sufisme</i>, <i>eco-feminisme</i>, <i>eco-theology</i>, atau <i>eco-apa pun</i>, saya kira tidak masalah.</p>
<p>Barangkali lingkungan memang tidak pernah meminta kita memberinya nama.</p>
<p>Ia hanya meminta kita tidak merusaknya.</p>
<p>Selebihnya, biarlah para <i>eco</i> bertemu dengan “Umberto”-nya masing-masing.</p>
<p>Asalkan setelah pertemuan selesai, ada yang pulang membawa sapu.</p>
<p>Karena kalau tidak, jangan-jangan yang semakin hijau hanya judul acaranya.</p>
<p>Dan... mungkin tulisan ini juga tidak <i>eco</i> sama sekali. Ia tidak membersihkan sungai, tidak menanam pohon, tidak menyelamatkan mata air. Ia hanya menambah satu lagi tulisan tentang lingkungan ke internet yang sudah terlalu penuh dengan tulisan tentang lingkungan..</p>
Ilustrasi oleh AI Di panggung-panggung pengajian, media sosial, hingga potongan video motivasi berdurasi satu menit, kita kerap menjumpai wacana yang…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL8v1VBfhvprJReHCVdJ8qiQDDuh7G0SB_5Clt41c96tPu-nofMVemfFWQmPebLQoPopaLp3nFAmtCO3sDnxSJzxEFaQ-pKdVDMYw-C8EcdGxrkBZuC_S0p3upTJEKnT8s0Bg3gHEJILBI5nr9MsIvBIMsU_aQZgeGt51RAegZ3b4hGAUyjaTCjqlv5-o/s640/ilustrasi%20sedekah.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL8v1VBfhvprJReHCVdJ8qiQDDuh7G0SB_5Clt41c96tPu-nofMVemfFWQmPebLQoPopaLp3nFAmtCO3sDnxSJzxEFaQ-pKdVDMYw-C8EcdGxrkBZuC_S0p3upTJEKnT8s0Bg3gHEJILBI5nr9MsIvBIMsU_aQZgeGt51RAegZ3b4hGAUyjaTCjqlv5-o/s1600-rw/ilustrasi%20sedekah.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi oleh AI</td></tr></tbody></table><p>Di panggung-panggung pengajian, media sosial, hingga potongan video motivasi berdurasi satu menit, kita kerap menjumpai wacana yang kurang lebih berbunyi seperti ini: <b>sedekah akan dibalas berkali-kali lipat.</b></p>
<p>Saya tidak sedang membantahnya. Saya tidak cukup alim untuk itu.</p>
<p>Yang agak menggelitik justru cara kita memahami balasan tersebut.</p>
<p>Sebab entah bagaimana, kalau yang kita sedekahkan berupa uang, kita juga berharap balasannya berupa uang. Sedekah seribu rupiah, kalau bisa kembali satu juta. Kalau hanya kembali seribu, selain tidak berkali-kali lipat, mungkin kita merasa investasinya kurang menarik.</p>
<p>Maka sedekah kadang terdengar sangat mirip proposal investasi.</p>
<p>Hari ini keluar satu juta, besok berharap datang sepuluh juta. Seolah-olah langit bekerja seperti <b>mesin ATM spiritual</b>: setor amal, tunggu saldo bertambah.</p>
<p>Padahal mungkin justru di situlah masalahnya.</p>
<p>Bukan pada keyakinan bahwa kebaikan akan mendapat balasan, tetapi pada kebiasaan kita yang diam-diam ikut menentukan bentuk balasannya.</p>
<p><b>Yang keluar rupiah, maunya pulang rupiah.</b></p>
<p>Kalau yang datang justru badan sehat, anak-anak tidak sakit, pekerjaan masih ada, tidur lebih nyenyak, atau ketika sedang kesusahan tiba-tiba ada orang yang membantu, semua itu kadang tidak masuk pembukuan.</p>
<p>Sebab sejak awal kita sudah telanjur membawa kalkulator.</p>
<p>Atau, <i>amit-amit jabang bayi</i>, kita sudah mengantre BBM selama satu jam. Ketika tinggal beberapa meter lagi sampai pompa, petugas mengumumkan stok habis. Kita bisa menerima, menghidupkan motor, lalu pulang tanpa mengumpat petugas yang sebenarnya juga tidak bersalah.</p>
<p>Kemampuan untuk tidak marah seperti itu pun barangkali tidak pernah kita hitung sebagai <i>imbal hasil</i>.</p>
<p>Padahal siapa tahu kemampuan untuk tidak gampang jengkel, tidak merasa dunia harus selalu berjalan sesuai keinginan kita, dan tidak menjadikan orang lain sasaran kemarahan adalah kekayaan yang jauh lebih sulit dikumpulkan daripada uang.</p>
<p><b>Kita terlalu sibuk memeriksa apakah saldo bertambah sampai lupa memeriksa apakah diri kita berubah.</b></p>
<p>Di situlah saya kira sedekah menjadi menarik.</p>
<p>Sebab uang sebenarnya tidak otomatis berbahaya hanya karena jumlahnya banyak. Orang yang tidak punya banyak uang pun bisa sangat diperbudak olehnya. Sebaliknya, orang kaya belum tentu rakus.</p>
<p>Masalahnya mungkin bukan terutama berapa banyak uang yang kita miliki, tetapi seberapa besar ruang yang kita izinkan untuk ditempatinya di dalam kepala.</p>
<p>Ketika uang mulai menentukan harga diri, manusia perlahan melihat dunia melalui angka. Kehilangan sedikit terasa seperti kiamat kecil. Penurunan status dianggap kehancuran martabat. Kekayaan tidak lagi menjadi sesuatu yang dimiliki, tetapi justru sesuatu yang balik memiliki pemiliknya.</p>
<p>Dan yang mengerikan dari kekayaan bukan selalu kemewahan yang tampak di luar. Bisa jadi justru kesombongan kecil yang tumbuh diam-diam di dalam kepala: perasaan bahwa karena kita punya cukup uang, segala sesuatu bisa diatur, dibeli, bahkan dikendalikan.</p>
<p>Barangkali karena itulah sedekah dalam tradisi Islam tidak hanya menarik kalau dilihat sebagai cara membantu orang yang membutuhkan.</p>
<p><b>Ia juga bisa dibaca sebagai cara menyelamatkan orang yang memiliki harta dari keterikatannya sendiri.</b></p>
<p>Kita bisa melihat kegelisahan semacam itu pada Abdurrahman bin Auf.</p>
<p>Ia dikenal sebagai saudagar dengan kekayaan besar. Tetapi kekayaan rupanya tidak selalu membuatnya merasa telah selesai dengan urusan dunia. Ada satu cerita menarik tentang dirinya yang tercatat dalam <i>Sahih al-Bukhari</i>, hadis nomor 1274.</p>
<p>Saya sengaja mencantumkan nomor hadisnya. Minimal sedikit <i>tribute</i> kepada pesantren yang pernah saya tumpangi untuk belajar, tidur, makan, dan tentu saja buang air. Masa pernah jadi santri, menulis soal beginian sumbernya cuma, <i>“kalau tidak salah pernah dengar.”</i></p>
<p>Dalam riwayat itu diceritakan, suatu hari ketika makanan dihidangkan di hadapannya, Abdurrahman bin Auf justru teringat Mus‘ab bin ‘Umair yang telah gugur. Mus‘ab, katanya, lebih baik darinya, tetapi ketika wafat bahkan kain yang tersedia untuk mengafaninya sangat terbatas.</p>
<p>Lalu muncul kegelisahan yang bagi kita hari ini mungkin terasa agak asing: jangan-jangan kenikmatan telah disegerakan kepada mereka dalam kehidupan dunia.</p>
<p>Abdurrahman bin Auf menangis.</p>
<p>Menariknya, yang membuatnya gelisah bukan karena hartanya kurang.</p>
<p><b>Justru karena ia mempunyai banyak.</b></p>
<p>Bagi manusia modern, kegelisahan semacam itu mungkin agak sulit dipahami.</p>
<p>Hari ini kekayaan justru dipamerkan sebagai trofi keberhasilan. Rumah, kendaraan, perjalanan, saldo, barang bermerek—semuanya bisa menjadi pengumuman bahwa seseorang telah berhasil menjalani hidup.</p>
<p>Tidak salah juga. <i>Wong</i> punya barang bagus masa harus disembunyikan di kandang ayam.</p>
<p>Persoalannya menjadi lain ketika apa yang kita miliki mulai menjadi ukuran tentang siapa diri kita.</p>
<p>Di titik itu, sedekah mestinya mempunyai pekerjaan yang lebih dalam daripada sekadar memindahkan sebagian uang dari satu dompet ke dompet lain.</p>
<p><b>Ia melatih manusia melepaskan.</b></p>
<p>Bukan berarti manusia dilarang kaya. Islam tidak mengharamkan perdagangan atau kemakmuran. Yang dilatih barangkali justru kemampuan untuk mempunyai tanpa merasa harus menggenggam semuanya.</p>
<p>Sebab semakin takut manusia kehilangan uang, semakin besar kemungkinan uang mengendalikan hidupnya.</p>
<p>Mungkin itu sebabnya sedekah kadang terasa berat.</p>
<p>Yang sesungguhnya sedang dilawan bukan hanya kemiskinan orang lain, tetapi rasa takut dalam diri sendiri.</p>
<p>Takut berkurang. Takut jatuh. Takut tidak aman.</p>
<p>Ketika tangan mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya masih ingin disimpan, ada latihan kecil untuk mengatakan kepada diri sendiri: <i>“Saya masih bisa hidup meskipun tidak menggenggam semuanya.”</i></p>
<p>Pada titik itulah sedekah mulai menjauh dari transaksi.</p>
<p><b>Kita tidak lagi memberi seribu agar seribu itu pulang membawa sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu temannya.</b></p>
<p>Kita memberi karena sedang belajar bahwa tidak semua yang berada dalam genggaman harus dipertahankan mati-matian.</p>
<p>Dan mungkin di sinilah pembicaraan tentang “keajaiban sedekah” bisa kita lihat dari arah yang sedikit berbeda.</p>
<p>Kita sering terpukau kepada orang dermawan yang hidupnya tampak lapang, usahanya berkembang, dan hartanya terus bertambah. Lalu hubungan sebab-akibat segera dibuat: ia banyak bersedekah, maka hartanya banyak.</p>
<p>Bisa jadi.</p>
<p>Tetapi mungkin ada proses lain yang tidak terlihat.</p>
<p>Orang yang tidak terlalu diperbudak ketakutan kehilangan bisa lebih tenang mengambil keputusan. Ia mungkin lebih mudah dipercaya, lebih ringan membantu orang, lebih luas membangun hubungan, dan tidak menghabiskan seluruh tenaga hidupnya untuk mempertahankan apa yang sudah dimiliki.</p>
<p>Artinya, yang berubah pertama-tama mungkin bukan saldo rekeningnya.</p>
<p><b>Yang berubah adalah manusianya.</b></p>
<p>Karena itu saya mulai berpikir, mungkin kita terlalu sempit ketika bertanya: <i>“Setelah bersedekah, apa yang saya dapat?”</i></p>
<p>Sesekali pertanyaannya perlu dibalik:</p>
<p><b>“Setelah bersedekah, apa yang berkurang dari diri saya?”</b></p>
<p>Apakah ketakutan kehilangan sedikit berkurang?</p>
<p>Apakah kerakusan berkurang?</p>
<p>Apakah kebutuhan untuk selalu merasa lebih tinggi daripada orang lain berkurang?</p>
<p>Apakah kita menjadi sedikit lebih tenang ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan?</p>
<p>Kalau iya, jangan-jangan balasannya sudah datang.</p>
<p>Hanya saja kita tidak mengenalinya karena sejak awal menunggu notifikasi <i>mobile banking</i>.</p>
<p>Di zaman ketika hampir segala sesuatu diukur dengan untung-rugi, kemampuan untuk memberi tanpa sibuk menentukan balasannya mungkin merupakan salah satu bentuk kemerdekaan yang masih tersisa.</p>
<p>Dan bisa jadi manusia yang paling kaya bukanlah manusia yang paling banyak menyimpan, melainkan yang paling sedikit diperbudak oleh apa yang ia simpan.</p>
<p>Maka silakan tetap percaya bahwa sedekah seribu rupiah bisa dibalas berkali-kali lipat.</p>
<p>Saya juga ingin percaya demikian.</p>
<p>Hanya saja, barangkali kita tidak perlu terlalu cerewet mengatur bentuk pembayarannya.</p>
<p>Sebab kalau yang kita sedekahkan uang lalu kita bersikeras balasannya harus uang, jangan-jangan sejak awal kita memang tidak sedang belajar melepaskan apa-apa.</p>
<p><b>Kita cuma sedang menunggu uang itu pulang membawa teman.</b></p>
<p>Dan kalau suatu hari balasannya justru berupa hati yang sedikit lebih lapang, kemampuan menerima kehilangan, atau kesanggupan mengantre BBM satu jam lalu tetap tersenyum ketika stok habis tepat di depan kita, jangan buru-buru merasa sedekah kita belum menghasilkan apa-apa.</p>
<p><b>Bisa jadi imbal hasilnya sudah masuk. Cuma memang tidak tercatat di rekening.</b></p>
Ilustrasi. Jika ada kesamaan tokoh dan lokasi hanya kebetulan belaka. Jujur saja, saya adalah penyintas pendidikan S1 keagamaan, Tafsir Hadis—tapi b…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUf-HLzMms0Mk9pJ1NnX7v0ldE__WFv8X2MSDsLnw7cmwfcuGLUyB97xDvpFlHUcCDoh_CQ-_yZ1Sq-fy9wPUFFv5W34mA8qUtIL9XmJdIAEsn501rg7su2xBiBazebp4IxoQF7oDmtIIKRz878MfeST0zz6hJ3vIINlcnl08HxtNNh_ycDKdjPgG3lPs/s640/Ilustrasi%20pendidikan%20dan%20pemiskinan.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUf-HLzMms0Mk9pJ1NnX7v0ldE__WFv8X2MSDsLnw7cmwfcuGLUyB97xDvpFlHUcCDoh_CQ-_yZ1Sq-fy9wPUFFv5W34mA8qUtIL9XmJdIAEsn501rg7su2xBiBazebp4IxoQF7oDmtIIKRz878MfeST0zz6hJ3vIINlcnl08HxtNNh_ycDKdjPgG3lPs/s1600-rw/Ilustrasi%20pendidikan%20dan%20pemiskinan.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi. Jika ada kesamaan tokoh dan lokasi hanya kebetulan belaka.</td></tr></tbody></table>
<p>Jujur saja, saya adalah penyintas pendidikan S1 keagamaan, Tafsir Hadis—tapi bukan temannya Menteri Kehutanan. Pendidikan ketafsirhadisan itu tentu tidak lantas membuat saya bisa mengamandemen hadis, apalagi mengamandemen Al-Qur'an. Saya justru termasuk salah satu mantan calon sarjana yang akhirnya terlempar di tengah <i>blethokan</i>, lumpur sawah.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan sawah. Tidak ada pula yang salah dengan menjadi petani. Masalahnya, saya sendiri tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa setelah menempuh pendidikan tinggi, salah satu kemungkinan masa depan saya adalah berdiri di tengah lumpur sambil memikirkan tanaman, pupuk, hujan, dan harga panen.</p>
<p>Bertani bagi saya lebih dekat sebagai keterpaksaan daripada cita-cita.</p>
<p>Dan barangkali justru di situlah masalahnya.</p>
<p>Kita hidup di negeri yang sejak sekolah dasar diperkenalkan sebagai negeri agraris. Sawah membentang, tanah subur, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Tetapi entah sejak kapan, menjadi petani bahkan sudah kalah sebelum masuk ke dalam daftar cita-cita.</p>
<p>Coba tanyakan kepada anak-anak: kelak ingin menjadi apa?</p>
<p>Dokter, polisi, tentara, guru, insinyur, pengusaha, programmer, bahkan YouTuber. Semuanya terdengar wajar. Tetapi ketika seorang anak menjawab ingin menjadi petani, mungkin kita justru akan memastikan sekali lagi:</p>
<p><b>“Petani? Tenan?”</b></p>
<p>Seolah-olah cita-cita itu membutuhkan verifikasi.</p>
<p><b>Dalam angan-angan saja, pertanian sudah dianggap tidak mapan.</b></p><p><b>___</b></p>
<h2>Pendidikan Adalah Kunci</h2>
<p>Ada nasihat yang hampir tidak pernah kita persoalkan: <b>pendidikan adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan.</b></p>
<p>Saya percaya pendidikan memang dapat membuka kesempatan. Orang yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan memungkinkan anak dari keluarga sederhana memasuki ruang sosial dan ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau. Banyak keluarga mengalami perubahan kehidupan karena pendidikan.</p>
<p>Tetapi ada pertanyaan yang mengganggu: <b>kalau pendidikan adalah kunci agar orang miskin dapat memperbaiki kehidupannya, mengapa untuk memperoleh pendidikan terbaik orang miskin sering harus berjuang jauh lebih keras?</b></p>
<p>Sekolah unggulan mencari anak-anak unggulan. Kampus terbaik menyeleksi calon mahasiswa dengan nilai terbaik. Sebelum diterima, mereka diuji untuk memastikan bahwa mereka memang cukup pintar.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, kampus membanggakan lulusannya yang pintar-pintar.</p>
<p>Tidak salah. Tetapi sedikit lucu.</p>
<p>Itu seperti restoran yang hanya menerima bahan terbaik, lalu seluruh kelezatan masakannya dianggap semata-mata sebagai prestasi koki.</p>
<p>Tentu seleksi diperlukan. Daya tampung terbatas. Ada beasiswa, KIP, jalur afirmasi, dan berbagai program bantuan pendidikan. Mengatakan bahwa pendidikan bagus sepenuhnya tertutup bagi orang miskin jelas berlebihan.</p>
<p>Persoalannya bukan sekadar apakah pintunya terbuka.</p>
<p>Persoalannya adalah <b>seberapa jauh jarak masing-masing orang menuju pintu tersebut.</b></p>
<p>Seorang anak dapat tumbuh dengan kamar belajar, laptop, internet, buku, les tambahan, orang tua yang mampu mendampingi, serta kesempatan gagal sekali lalu mencoba lagi.</p>
<p>Anak lain mungkin belajar sambil membantu orang tua, berbagi perangkat, memikirkan ongkos sekolah, bahkan memilih kampus bukan berdasarkan mana yang terbaik, tetapi mana yang masih mungkin dijangkau.</p>
<p>Kemudian keduanya dipertemukan di ruang ujian.</p>
<p>Soalnya sama. Waktunya sama.</p>
<p>Hasilnya kita sebut <b>prestasi individual</b>.</p><p>___</p>
<h2>Ketika Kemiskinan Ikut Masuk Sekolah</h2>
<p>Di sinilah <i>The Education Trap: Schools and the Remaking of Inequality in Boston</i> karya Cristina Viviana Groeger menarik untuk dibaca. Konteks Boston yang dibahas Groeger tentu berbeda dengan Indonesia hari ini. Tetapi kegelisahannya terasa dekat: pendidikan dapat menjadi jalan mobilitas sosial, sementara sistem pendidikan dan kredensial pada saat yang sama dapat ikut membentuk kembali ketimpangan.</p>
<p>Pierre Bourdieu memberi perangkat lain untuk melihat persoalan tersebut. Seorang anak tidak datang ke sekolah sebagai kertas kosong dengan titik keberangkatan yang sama.</p>
<p>Mereka membawa bekal dari rumah.</p>
<p>Dan bekal itu bukan hanya uang.</p>
<p>Ada kebiasaan membaca, cara berbicara, lingkungan pergaulan, pengetahuan orang tua tentang pendidikan, jaringan sosial, keberanian menghadapi institusi, bahkan pengetahuan tentang sekolah mana yang sebaiknya dipilih dan bagaimana cara memasukinya.</p>
<p>Sebagian bekal semacam inilah yang dapat kita pahami sebagai <b>modal budaya</b>.</p>
<p>Maka hubungan kemiskinan dan pendidikan menjadi lebih rumit daripada nasihat, “kalau miskin, sekolah yang rajin.”</p>
<p>Orang miskin membutuhkan pendidikan bagus agar kesempatan ekonominya meningkat. Tetapi kemiskinan dapat membuat akses terhadap pendidikan bagus menjadi lebih berat. Pendidikan memengaruhi kesempatan kerja. Pekerjaan memengaruhi pendapatan. Pendapatan keluarga kemudian ikut menentukan pendidikan generasi berikutnya.</p>
<p>Lingkarannya berputar kembali.</p>
<p>Di sinilah istilah <b>pemiskinan struktural</b> menjadi relevan. Bukan dalam pengertian bahwa setiap malam ada sekelompok pejabat berkumpul sambil merancang bagaimana caranya supaya rakyat tetap bodoh. Kita tidak membutuhkan teori konspirasi sejauh itu.</p>
<p>Cukup melihat bagaimana distribusi sumber daya, kualitas pelayanan publik, kondisi keluarga, pasar kerja, dan kebijakan dapat membuat seseorang harus berlari lebih jauh hanya untuk mencapai garis awal yang sama.</p>
<p>Keberhasilan beberapa orang keluar dari keadaan tersebut tentu patut dirayakan. Tetapi keberhasilan seseorang melewati rintangan tidak otomatis membuktikan bahwa <b>tinggi rintangannya sama bagi semua orang.</b></p><p><b>___</b></p>
<h2>Sekolah yang Rajin, Biar Tidak Jadi Petani</h2>
<p>Persoalan pendidikan ternyata tidak berhenti pada siapa yang dapat memasuki sekolah terbaik.</p>
<p>Pendidikan, bersama keluarga dan masyarakat, juga ikut membentuk imajinasi tentang <b>kehidupan seperti apa yang pantas disebut berhasil.</b></p>
<p>Dan di sinilah saya kembali teringat <i>blethokan</i>.</p>
<p>Kita mengenal nasihat semacam:</p>
<p><b>“Sekolah sing sregep, ben uripmu kepenak. Ojo koyok bapakmu, dadi tani.”</b></p>
<p>Nasihat itu sebenarnya lahir dari kasih sayang. Orang tua yang puluhan tahun merasakan beratnya menjadi petani tentu berharap anaknya mempunyai kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Jadi tidak adil kalau bapaknya yang kita salahkan.</p>
<p>Pertanyaan yang lebih penting justru: <b>mengapa kehidupan petani bisa sedemikian berat sampai ukuran keberhasilan seorang bapak adalah ketika anaknya kelak tidak perlu menjadi seperti dirinya?</b></p>
<p>Kalau pertanian memang penting bagi negeri ini, seharusnya pendidikan memungkinkan anak petani membayangkan bahwa sekolah tinggi dapat membuatnya menjadi <b>petani yang lebih berdaya</b>.</p>
<p>Ia bisa memahami teknologi pertanian, tanah, cuaca dan tanaman. Menghitung biaya produksi, mengolah hasil panen, memahami pasar, membangun koperasi, menggunakan teknologi, memperpendek rantai distribusi, sampai memahami kebijakan yang menentukan kehidupannya.</p>
<p>Seharusnya kita tidak dipaksa memilih antara <b>menjadi terdidik</b> dan <b>tetap menjadi petani</b>.</p>
<p>Tetapi dalam imajinasi sosial kita, semakin tinggi pendidikan seseorang, terkadang semakin aneh kalau akhirnya ia kembali ke sawah.</p>
<p><b>“Sarjana kok macul?”</b></p>
<p>Kalimat pendek itu menyimpan persoalan panjang.</p>
<p>Cangkul diam-diam menjadi simbol kegagalan pendidikan. Sementara meja, komputer, sepatu, seragam, dan ruangan ber-AC menjadi tanda bahwa sekolah seseorang akhirnya berguna.</p>
<p>Sarjana pertanian yang bekerja di kantor perusahaan menjual produk kepada petani tidak terasa terlalu aneh.</p>
<p>Yang kadang justru dianggap aneh adalah sarjana pertanian yang benar-benar menjadi petani.</p><p>___</p>
<h2>Abdul Butun, Ibnu Jahil, dan Definisi Keberhasilan</h2>
<p>Pada akhirnya, tidak terlalu mengejutkan kalau kita terus dipusingkan oleh persoalan pengangguran terdidik. Sebab persoalannya mungkin bukan semata-mata tersedia atau tidak tersedianya pekerjaan, tetapi juga <b>apa yang sejak awal kita bayangkan sebagai pekerjaan</b>.</p>
<p>Dalam imajinasi kolektif kita, orang yang sudah “bekerja” biasanya adalah mereka yang pagi-pagi mandi, memakai sepatu, berangkat ke kantor, mempunyai atasan, lalu setiap akhir bulan menerima slip gaji.</p>
<p>Petani, peternak, nelayan, perajin, atau orang yang mengelola usaha kecil sendiri tentu bekerja. Tetapi secara sosial, pekerjaan semacam itu sering belum mendapatkan kehormatan yang sama dengan kalimat:</p>
<p><b>“Anaknya sekarang sudah diterima kerja.”</b></p>
<p>Apalagi kalau orangnya sarjana.</p>
<p>Kita hampir tidak pernah menemukan spanduk di pinggir jalan bertuliskan:</p>
<p><b>“Selamat dan sukses kepada Abdul Butun, S.Pd.I., atas keberhasilannya memanen dua ton tomat.”</b></p>
<p>Padahal dua ton tomat itu nyata. Bisa ditimbang, bisa dijual, dan bisa memberi makan orang.</p>
<p>Sebaliknya, kita sangat akrab dengan:</p>
<p><b>“Selamat dan sukses kepada Ibnu Jahil, S.H.I., atas diterimanya sebagai pegawai di Mahkamah Agung.”</b></p>
<p>Yang satu menghasilkan dua ton tomat. Yang lainnya memperoleh meja kerja dan slip gaji.</p>
<p>Entah mengapa, dalam hierarki kebanggaan kita, yang kedua terdengar jauh lebih berhasil.</p>
<p>Dan barangkali pada pemandangan semacam inilah <i>anecdotal evidence</i> secara komunal telah berlaku.</p>
<p>Kita melihat anak tetangga lulus kuliah kemudian menjadi pegawai bank.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Anak Pak RT diterima sebagai ASN.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Keponakan Pakde bekerja di perusahaan besar dan setiap Lebaran pulang membawa mobil.</p>
<p><b>Berhasil.</b></p>
<p>Cerita-cerita itu dikumpulkan oleh ingatan masyarakat, diceritakan kembali di warung, hajatan, teras rumah, grup WhatsApp keluarga, lalu perlahan berubah menjadi semacam kesimpulan bersama:</p>
<p><b>sekolah tinggi berarti pekerjaan formal; pekerjaan formal berarti kemapanan; kemapanan berarti keberhasilan.</b></p>
<p>Sementara cerita yang lain jarang memperoleh panggung serupa.</p>
<p>Anak petani yang berhasil menggandakan hasil panen tidak menjadi bahan pembicaraan sekampung. Peternak muda yang berhasil mengembangkan usahanya mungkin tetap disebut sekadar <i>ngingu wedhus</i>. Orang yang mengelola sawahnya sendiri tetap menjawab “tani” ketika ditanya pekerjaannya—kadang dengan intonasi yang hampir terdengar seperti permintaan maaf.</p>
<p>Dari contoh-contoh kecil yang berulang itulah persepsi sosial perlahan dibentuk.</p>
<p>Bukan berdasarkan penelitian panjang tentang pekerjaan mana yang paling produktif, bermanfaat atau sejahtera. Tetapi berdasarkan <b>kisah keberhasilan mana yang paling sering kita lihat, dengar, ceritakan, dan rayakan.</b></p>
<p>Maka spanduk ucapan selamat kepada Ibnu Jahil sebenarnya bukan sekadar ucapan selamat.</p>
<p>Ia juga papan pengumuman kecil mengenai <b>definisi keberhasilan yang berlaku di masyarakat.</b></p>
<p>Besok pagi anak-anak melewatinya dalam perjalanan menuju sekolah.</p>
<p>Dan tanpa perlu ada mata pelajaran bernama <i>Cara Meninggalkan Pertanian</i>, mereka perlahan belajar sendiri tentang masa depan macam apa yang pantas dicita-citakan.</p>
<p><b>Barangkali pendidikan yang paling efektif memang tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kadang-kadang ia tercetak pada spanduk ucapan selamat di pinggir jalan.</b></p>
<h2>Sarjana yang “Belum Bekerja”</h2>
<p>Dari sini kita bisa memahami sebuah ironi lain.</p>
<p>Seorang sarjana dapat berbulan-bulan menunggu lowongan yang dianggap sesuai dengan pendidikannya. Sementara ketika ada sawah di belakang rumah, ternak yang bisa dikembangkan atau usaha keluarga yang bisa diperbesar, kita tetap mengatakan:</p>
<p><b>“Kasihan, belum dapat pekerjaan.”</b></p>
<p>Mungkin ia memang belum memperoleh pekerjaan yang diinginkannya.</p>
<p>Tetapi bisa jadi persoalan lainnya adalah kita terlalu sempit menentukan <b>kegiatan ekonomi macam apa yang pantas disebut pekerjaan dan keberhasilan.</b></p>
<p>Ini tentu bukan alasan untuk mengatakan, “Sarjana nganggur ya suruh macul saja.”</p>
<p>Itu sama simplistisnya dengan anggapan bahwa sekolah tinggi otomatis menyelesaikan kemiskinan.</p>
<p>Bertani membutuhkan lahan, modal, keterampilan, akses pasar, kepastian harga, teknologi, dan berbagai hal yang tidak selesai hanya dengan menyerahkan cangkul kepada penganggur.</p>
<p>Masalahnya justru lebih dalam.</p>
<p>Anak petani disekolahkan agar tidak menjadi petani.</p>
<p>Ia sekolah tinggi.</p>
<p>Pekerjaan formal yang sesuai dengan imajinasi keberhasilannya terbatas.</p>
<p>Untuk kembali ke pertanian ia ragu, sebab sejak kecil pertanian ditempatkan sebagai kehidupan yang hendak ditinggalkan.</p>
<p>Lalu kita bertanya:</p>
<p><b>Mengapa anak muda sekarang tidak mau bertani?</b></p>
<p>Pertanyaan tentang regenerasi itu bukan sepenuhnya mengada-ada. Sensus Pertanian 2023 mencatat petani berusia 19–39 tahun sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari keseluruhan petani Indonesia.</p><p>___</p>
<h2>Pengetahuan Siapa yang Disebut Ilmu?</h2>
<p>Ada lapisan lain yang sering luput.</p>
<p>Mengoperasikan spreadsheet disebut keterampilan.</p>
<p>Membuat presentasi disebut kompetensi.</p>
<p>Membaca laporan disebut kemampuan analitis.</p>
<p>Sementara kemampuan seorang petani membaca perubahan warna daun, mengenali kondisi tanah, memahami air, memperkirakan datangnya hama, membaca musim, dan mengenali perilaku tanaman sering hanya disebut <b>pengalaman</b>.</p>
<p>Tentu pengalaman petani tidak selalu benar. Pengetahuan tradisional juga tidak perlu diromantisasi seolah-olah selalu lebih bijaksana daripada ilmu modern.</p>
<p>Tetapi kita patut bertanya:</p>
<p><b>Pengetahuan siapa yang memperoleh kehormatan untuk disebut ilmu?</b></p>
<p>Seharusnya pendidikan mempertemukan keduanya.</p>
<p>Anak petani pergi ke sekolah membawa pengalaman keluarganya, kemudian memperoleh pengetahuan baru untuk memperkuatnya. Bukan pulang dengan keyakinan bahwa dunia tempat bapaknya hidup adalah dunia yang harus ditinggalkan.</p>
<p>Sebab ketika itu terjadi, pendidikan bukan hanya memberikan pengetahuan baru.</p>
<p>Ia juga bisa <b>mencerabut</b>.</p>
<p>Bukan dengan tulisan besar dalam buku pelajaran berbunyi: <b>JANGAN MENJADI PETANI.</b></p>
<p>Pesannya jauh lebih halus.</p>
<p>Ia hadir melalui cita-cita yang kita puji, pekerjaan yang kita banggakan, ukuran kemapanan yang kita gunakan, cerita keberhasilan yang terus kita ulang, sampai wajah keluarga yang berseri-seri ketika anaknya diterima bekerja di kantor tetapi sedikit kebingungan ketika anak sarjananya memilih menggarap sawah.</p>
<p>Lalu beberapa puluh tahun kemudian kita sibuk membicarakan <b>regenerasi petani</b>.</p>
<h2>Kembali ke Blethokan</h2>
<p>Saya tidak sedang meromantisasi pertanian.</p>
<p>Sawah bukan tempat piknik. Ada pupuk, hama, cuaca, modal, harga panen, tenaga, kepemilikan lahan, dan berbagai persoalan yang membuat bertani memang bukan pekerjaan ringan.</p>
<p>Saya juga bukan petani sukses yang sedang mengajak semua sarjana meninggalkan kantor dan kembali ke desa.</p>
<p>Saya bahkan berada pada posisi yang lebih lucu.</p>
<p>Seperti saya katakan di awal, saya adalah mantan calon sarjana Tafsir Hadis yang terlempar ke <i>blethokan</i>. Bertani bagi saya sendiri lebih dekat kepada keterpaksaan daripada cita-cita.</p>
<p>Dan justru itulah kegelisahannya.</p>
<p>Saya lahir di negeri yang katanya agraris. Saya pernah menempuh pendidikan tinggi. Tetapi bahkan saya sendiri tidak pernah benar-benar dididik untuk membayangkan pertanian sebagai salah satu masa depan yang layak diperjuangkan.</p>
<p>Kita mengatakan <b>pendidikan adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan</b>.</p>
<p>Mungkin benar.</p>
<p>Tetapi bagi banyak anak desa, jangan-jangan kalimat itu selama puluhan tahun diterjemahkan secara tidak sadar menjadi:</p>
<p><b>“Sekolahlah setinggi-tingginya agar kelak kamu bisa keluar dari sawah.”</b></p>
<p>Anak-anak itu kemudian benar-benar pergi.</p>
<p>Sawah kehilangan generasi penerusnya.</p>
<p>Petaninya semakin tua.</p>
<p>Lalu kita membuat seminar, program, pelatihan, dan diskusi panjang tentang bagaimana menarik minat generasi muda agar kembali bertani.</p>
<p>Padahal mungkin pertanyaannya harus dimulai jauh sebelum itu:</p>
<p><b>Kalau Indonesia memang negeri agraris, mengapa ukuran keberhasilan pendidikan anak-anaknya justru sering ditandai oleh seberapa jauh mereka berhasil meninggalkan pertanian?</b></p>
<p>Saya belum menemukan jawabannya.</p>
<p><b>Saya masih di <i>blethokan</i>.</b></p>