Madilog, Iman, dan Cara Kita Menganggap Benar
Dalam keseharian, kita sering ingin segala sesuatu tampak jelas dan pasti, seolah-olah hidup selalu bisa dibagi dengan rapi antara yang benar dan yang salah, yang masuk akal dan yang tidak, padahal ketika dijalani, hidup tidak pernah sesederhana itu. Di satu sisi ada orang yang merasa bahwa kebenaran harus bisa dibuktikan, harus bisa dihitung, dilihat, dan diuji secara nyata, kalau tidak maka dianggap tidak rasional, sementara di sisi lain ada juga yang merasa bahwa tidak semua hal harus dibuktikan secara keras, ada hal-hal yang cukup diyakini, cukup dirasakan, dan cukup diimani saja, dan dari dua cara pandang ini, kita sering melihat mereka bertemu tapi tidak selalu berjalan searah.
Yang satu merasa dirinya paling masuk akal, yang lain merasa dirinya paling benar, padahal kalau dilihat lebih pelan, keduanya sebenarnya sedang berdiri di tempat yang berbeda dengan cara kerja yang juga berbeda. Akal yang sering digunakan dalam dunia sains bekerja dengan cara menguji, ia tidak mudah menerima sesuatu sebelum ada bukti, sebelum bisa diperiksa dan diulang, sementara iman tidak selalu bergerak dengan cara yang sama, ia tidak selalu berbicara dalam bentuk bukti yang bisa diukur, tapi tetap punya cara sendiri untuk membuat seseorang merasa yakin dan mantap, meskipun tidak selalu bisa dijelaskan dengan angka atau percobaan.
Masalahnya mulai terasa ketika salah satu pihak ingin menguasai semuanya, ketika semua hal dipaksa harus masuk ke standar yang sama, maka iman dianggap tidak rasional karena tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, sementara ketika iman tidak boleh dipertanyakan, maka akal dianggap berbahaya karena dianggap mengganggu keyakinan, dan di titik itu pertengkaran sering mulai, padahal mungkin masalahnya bukan pada iman atau akal itu sendiri, tetapi pada cara kita memahami keduanya.
Kita sering mengira bahwa rasional itu hanya yang bisa dihitung dan diukur, padahal banyak hal dalam hidup yang tidak bekerja seperti itu, seperti cinta yang tidak bisa ditimbang tapi semua orang tahu itu ada, atau keadilan yang tidak bisa dipegang tetapi sangat terasa ketika dilanggar, artinya ada banyak hal yang tidak bisa dibuktikan secara sederhana namun tetap tidak bertentangan dengan akal sehat. Apalagi sebagai seorang Muslim, dalam Al-Qur’an—yang kita imani sebagai firman Tuhan—perintah untuk berpikir dan menggunakan akal itu justru sering diulang, bahkan seolah tidak pernah absen, ironisnya kadang yang paling sering membaca justru paling jarang benar-benar memakainya dalam kehidupan sehari-hari.
Perdebatan antara iman dan rasionalitas sebenarnya bukan hal baru, dalam dunia pemikiran kita bisa menemukan banyak upaya yang datang dari arah berbeda, ada yang menekankan rasio dan pengalaman sebagai dasar berpikir seperti dalam Madilog, dan ada juga yang mencoba merumuskan hubungan antara iman dan akal seperti dalam Falsafatuna, keduanya tidak perlu dipaksakan untuk selalu sejalan atau disatukan secara paksa, tapi juga tidak harus saling meniadakan, karena dari perbedaan itulah kita justru bisa melihat bahwa cara manusia memahami kebenaran tidak pernah tunggal sejak awal.
Di sisi lain, iman juga tidak seharusnya menutup diri dari pertanyaan, karena ketika semua hal diterima begitu saja tanpa proses berpikir, maka orang bisa saja percaya pada banyak hal tanpa batas, termasuk hal yang keliru, jadi di antara iman dan akal sebenarnya selalu ada jarak, tapi jarak itu bukan untuk diputuskan sepenuhnya, melainkan untuk disadari dan dijalani dengan hati-hati. Kadang keduanya berjalan sendiri, kadang bertemu di titik tertentu, dan kadang juga bersitegang, namun ketegangan itu tidak selalu buruk selama masih ada ruang untuk saling mendengar dan tidak buru-buru mengunci diri dalam kebenaran masing-masing.
Di titik itu, bukan iman yang bermasalah dan bukan juga akal yang salah, tetapi cara kita memegang keduanya yang sering terlalu kaku. Mungkin bukan soal memilih salah satu, tetapi bagaimana menjaga keduanya tetap hidup dalam diri kita, berani percaya tetapi tidak menutup diri dari pertanyaan, berani berpikir tetapi tidak meremehkan hal yang belum bisa dijelaskan, karena dalam hidup tidak semua hal harus pasti dulu baru dijalani, kadang kita berjalan sambil percaya, dan kadang kita percaya sambil terus belajar, dan mungkin yang paling penting bukan siapa yang paling benar, tetapi siapa yang masih mau memperbaiki cara berpikirnya ketika ternyata keliru.

Post a Comment for "Madilog, Iman, dan Cara Kita Menganggap Benar"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.