Warisan Kiai Mukti untuk NU: Besar karena Gedung, Hidup karena Ranting

Menjelang setiap muktamar, percakapan warga Nahdlatul Ulama selalu menghangat. Nama-nama mulai diperbincangkan, dukungan bermunculan, dan berbagai harapan kembali dititipkan kepada jam'iyah. Semua itu wajar. Organisasi sebesar NU memang membutuhkan kepemimpinan dan proses yang sehat.

Namun, menjelang musim muktamar kali ini, saya teringat pada seorang kiai dari Ngawi yang hampir seabad lalu mengayuh sepeda ontel menuju Banyuwangi hanya untuk menghadiri Muktamar NU. Beliau adalah KH. Abdul Mukti.

Hari ini, perjalanan sejauh itu mungkin hanya memerlukan beberapa jam dengan kendaraan yang nyaman. Tetapi pada tahun 1934, perjalanan ratusan kilometer adalah perkara yang sangat berbeda. Jalan belum seluruhnya beraspal, sebagian masih berbatu, bahkan melewati kawasan yang saat itu masih didominasi hutan. Di atas jalan-jalan itulah Kiai Mukti terus mengayuh sepedanya, pelan tetapi pasti.

Konon, perjalanan itu melahirkan kisah tentang karamah Tayyul Ardhi, kemampuan melipat bumi, karena waktu tempuh beliau dianggap melampaui nalar. Percaya atau tidak tentu menjadi wilayah keyakinan masing-masing. Namun, rasanya kita justru akan kehilangan makna apabila hanya berhenti memperdebatkan karamah tersebut.

Sebab warisan terbesar Kiai Mukti bukanlah cerita tentang bumi yang dilipat, melainkan tentang hati yang tidak pernah lelah berkhidmat.

Dulu, menghadiri muktamar sering kali berarti siap "tekor". Tekor ongkos, tekor tenaga, dan tekor waktu. Orang datang bukan karena fasilitasnya lengkap, bukan pula karena berharap memperoleh jabatan. Mereka datang karena merasa menjaga jam'iyah adalah bagian dari menjaga amanah para ulama. Cara berpikirnya sederhana: lebih sibuk memikirkan apa yang bisa diberikan daripada apa yang bisa didapatkan.

Tentu saja zaman telah berubah. Dan perubahan tidak selalu berarti kemunduran.

Hari ini NU tumbuh menjadi salah satu organisasi masyarakat terbesar di dunia. Gedung-gedungnya semakin layak. Lembaga pendidikannya berkembang. Rumah sakit, perguruan tinggi, dan berbagai program sosial terus bertambah. Semua itu patut disyukuri. Organisasi yang besar memang membutuhkan tata kelola yang baik dan manajemen yang profesional.

Namun, setiap pertumbuhan selalu membawa ujian baru. Ketika fasilitas bertambah, kepentingan pun ikut berdatangan. Ketika jabatan menjadi semakin strategis, selalu ada godaan untuk memandang organisasi bukan lagi sebagai ladang pengabdian, melainkan sebagai tangga menuju tujuan-tujuan lain.

Di sinilah kisah Kiai Mukti terasa kembali hidup. Beliau mengingatkan bahwa perjalanan menuju muktamar bukanlah soal kendaraan yang digunakan, melainkan soal niat yang dibawa sepanjang perjalanan.

Orang-orang pesantren memiliki cara yang unik untuk menyampaikan kritik. Mereka membungkusnya dengan guyonan. Salah satunya adalah seloroh yang mengatakan bahwa urusan PBNU, PWNU, dan PCNU adalah urusan dunia, sedangkan urusan akhirat berada di MWC dan ranting. Tentu saja ini bukan dalil, apalagi ukuran mutlak. Tetapi sebagaimana banyak guyonan pesantren lainnya, ia lahir dari kegelisahan yang dibungkus senyum.

Sebab di rantinglah denyut NU paling mudah dirasakan. Di sanalah para pengurus berkumpul selepas bekerja di sawah, pasar, atau bengkel. Mereka menggelar pengajian dengan uang patungan, mengajar anak-anak mengaji tanpa honor, membantu warga yang tertimpa musibah, memandikan jenazah, dan menjaga tradisi keagamaan tanpa pernah merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa.

Barangkali justru di tempat-tempat seperti itulah semangat Kiai Mukti masih terus dikayuh.

Saya sering membayangkan, seandainya Kiai Mukti hadir pada muktamar hari ini. Mungkin beliau akan tersenyum melihat NU yang jauh lebih besar daripada masa beliau. Gedungnya lebih megah, lembaganya lebih banyak, dan pengaruhnya lebih luas. Namun setelah itu, saya kira beliau akan mengajukan satu pertanyaan sederhana: apakah semangat yang dahulu mengayuh sepeda itu masih ikut sampai ke sini?

Pertanyaan itulah yang seharusnya terus menemani setiap langkah NU memasuki abad keduanya. Sebab organisasi sebesar apa pun tidak akan kehilangan arah karena kekurangan gedung atau program. Ia justru bisa kehilangan ruh ketika terlalu jauh dari akar yang selama ini menghidupkannya.

Pada akhirnya, warisan Kiai Mukti bukanlah sepeda ontel yang telah lama berhenti berputar. Warisan itu adalah cara memandang pengabdian. Bahwa khidmat tidak selalu membutuhkan panggung, tepuk tangan, atau jabatan. Khidmat tumbuh ketika seseorang bersedia bekerja meski tidak dilihat, melayani meski tidak disebut namanya, dan tetap datang meski tidak ada yang memanggil.

Mungkin benar, NU hari ini besar karena gedung-gedungnya semakin kokoh, lembaga-lembaganya semakin banyak, dan pengaruhnya semakin luas. Namun NU tetap hidup karena di ranting-ranting masih ada orang-orang yang menganggap mengajar mengaji, mengurus jenazah, menemani warga yang berduka, dan menjaga tradisi sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar tugas organisasi.

Selama semangat itu tetap dirawat, sepeda Kiai Mukti sebenarnya tidak pernah berhenti dikayuh. Ia hanya berganti pengayuh, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

© Khafi.id

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berpikir bersama.

Post a Comment for "Warisan Kiai Mukti untuk NU: Besar karena Gedung, Hidup karena Ranting"