Saat Lagu MBG Disalahpahami Golkar: Satir yang Dianggap Apresiasi

Dunia politik kita sepertinya memang tidak pernah kehabisan bahan hiburan. Belakangan ini, jagat digital diramaikan oleh fenomena yang cukup unik: viralnya lagu “MBG”—plesetan dari “Mas Bahlil Ganteng”. Bagi sebagian netizen yang sehari-hari harus berhadapan dengan realitas ekonomi yang tidak selalu ramah, lagu semacam ini terasa seperti jeda yang menyegarkan. Semacam katarsis kolektif yang dibungkus dalam nada ringan dan jenaka.

Namun, yang menarik justru bukan lagunya. Melainkan bagaimana ia diterima oleh mereka yang menjadi objeknya.

Alih-alih merasa tersindir, atau setidaknya bertanya-tanya, respons dari internal Golkar justru bergerak ke arah yang cukup tak terduga. Viralitas lagu tersebut dianggap sebagai bentuk apresiasi publik. Sebuah tanda bahwa masyarakat menaruh simpati, bahkan kekaguman, terhadap sosok yang dimaksud.

Sebuah kesimpulan yang, kalau dipikir-pikir, terasa terlalu mulus untuk sebuah dunia yang biasanya penuh gesekan. Saking mulusnya, sampai kita seperti perlu membuka ulang catatan lama dari buku psikologi untuk mencari pijakan.

Puncak Kepercayaan Diri yang Kolektif

Dalam psikologi kognitif, dikenal sebuah istilah bernama Dunning-Kruger Effect. Ia menggambarkan kondisi ketika seseorang yang memiliki keterbatasan dalam memahami suatu hal justru menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Dalam ilustrasi yang lebih populer, ada titik yang sering disebut sebagai Peak of Mount Stupid—semacam puncak di mana keyakinan memuncak, sementara pemahaman belum benar-benar matang.

Melihat respons terhadap fenomena lagu plesetan tadi, rasanya kita tidak sedang menyaksikan kasus individual. Yang tampak justru seperti versi yang lebih luas: semacam Dunning-Kruger yang hidup secara kolektif.

Ketika sebuah kelompok terlalu lama berada dalam lingkaran yang sama, mereka perlahan membangun ruang gema—echo chamber. Di ruang itu, suara dari luar tidak lagi terdengar sebagaimana adanya. Kritik bisa berubah menjadi pujian. Sindiran terdengar seperti dukungan. Bahkan lelucon pun bisa dipersepsikan sebagai bentuk legitimasi.

Yang terjadi bukan sekadar salah tafsir, melainkan semacam kegagalan bersama dalam membaca realitas. Batas antara “ditertawakan” dan “dirayakan” menjadi kabur.

Saat Satir Dianggap Prestasi

Sejak lama, satir memang menjadi salah satu cara masyarakat untuk menyampaikan kegelisahan. Ketika jalur formal terasa jauh atau buntu, humor sering kali menjadi pintu darurat. Ia tidak frontal, tapi justru karena itu sering lebih jujur.

Namun, ada satu kemungkinan yang jarang dibicarakan: bagaimana jika satir tidak lagi terbaca sebagai satir?

Di titik itulah situasinya menjadi agak ganjil. Sindiran yang dimaksudkan untuk “mencubit” justru diterima seperti tepukan di bahu. Kritik yang seharusnya mengganggu malah dipeluk sebagai prestasi.

Kalau logika ini terus dipelihara, bukan tidak mungkin ke depan kita akan melihat hal-hal yang lebih aneh. Demonstrasi dianggap sebagai festival partisipasi. Keluhan publik dipahami sebagai bukti tingginya keterlibatan warga. Bahkan kemarahan bisa saja dibaca sebagai bentuk perhatian.

Refleksi di Balik Tawa

Barangkali memang tidak perlu lagi berharap semua hal bisa dipahami sebagaimana mestinya. Ada jarak yang tidak selalu bisa dijembatani dengan penjelasan, apalagi dengan data. Ketika satu pihak berbicara tentang kegelisahan, dan pihak lain menerimanya sebagai pujian, mungkin yang berubah bukan sekadar cara mendengar, tapi juga cara memaknai dunia.

Di titik itu, kritik tidak benar-benar hilang—ia hanya berubah bentuk. Menjadi lelucon, menjadi plesetan, menjadi tawa yang terdengar ringan, tapi menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya lucu.

Maka biarkan saja semuanya berjalan seperti sekarang. Biarkan para elite tetap merasa dirayakan, sementara di sisi lain, orang-orang biasa terus mencari cara agar waras tetap punya tempat.

Sebab kadang, satu-satunya bentuk kejujuran yang masih bisa bertahan bukanlah pernyataan serius, melainkan hal-hal yang terdengar sepele: candaan, sindiran tipis, dan tawa yang tidak pernah benar-benar kosong.

© khafi.id

Post a Comment for "Saat Lagu MBG Disalahpahami Golkar: Satir yang Dianggap Apresiasi"