Ilusi Kemajuan Pendidikan: Ketika Ganti Istilah Lebih Penting
Kita pernah melewati masa KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), kemudian KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), hingga kini diperkenalkan lagi Deep Learning yang dijabarkan ke dalam konsep Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning, lengkap dengan wacana pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI). Setiap istilah hadir membawa janji pembaruan, seolah pendidikan Indonesia sedang melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Pergantian istilah tentu bukan sesuatu yang salah. Ilmu pengetahuan berkembang, tantangan zaman berubah, dan pendidikan memang tidak boleh berhenti berbenah. Namun, di balik deretan istilah yang semakin canggih itu, ada satu pertanyaan yang terus menggelayut: apakah kualitas pendidikan kita benar-benar sedang bergerak maju, atau jangan-jangan yang berubah hanya cara kita menamainya?
Ketika Guru Lebih Sibuk Mengikuti Istilah
Realitas di lapangan sering kali memperlihatkan cerita yang berbeda. Begitu sebuah istilah baru diresmikan, sekolah-sekolah segera disibukkan dengan berbagai penyesuaian. Pelatihan digelar, dokumen diperbarui, format administrasi diubah, platform digital disesuaikan, dan guru kembali belajar menerjemahkan bahasa birokrasi ke dalam pekerjaan sehari-hari. Tidak sedikit yang akhirnya lebih sibuk memastikan berkasnya sesuai dengan istilah terbaru daripada memikirkan bagaimana seorang murid memahami pelajaran di kelas.
Sering kali yang paling cepat berubah dalam pendidikan bukanlah ruang kelasnya, melainkan kamusnya.
Ironisnya, sebagian besar istilah itu sesungguhnya bukan penemuan baru. Joyful Learning, Meaningful Learning, atau pembelajaran yang berpusat pada peserta didik telah lama menjadi pembahasan dalam dunia pendidikan. Jauh sebelum istilah-istilah itu ramai digunakan, Ki Hadjar Dewantara telah berbicara tentang pendidikan yang memerdekakan manusia melalui sistem among. Bahkan semangat serupa pernah muncul dalam CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Nama boleh berganti, tetapi gagasan dasarnya sering kali tetap sama.
Masalahnya Bukan Kekurangan Konsep
Persoalannya memang tidak pernah terletak pada kurangnya konsep. Yang selama ini terasa menganga justru jarak antara konsep dan kenyataan. Kita sangat piawai merumuskan pendidikan ideal di atas kertas, tetapi sering kesulitan memastikan cita-cita itu benar-benar hadir di ruang kelas.
Mengganti istilah tanpa memperbaiki ekosistem pendidikan ibarat mengganti papan nama sebuah sekolah sementara atap ruang kelasnya masih bocor ketika hujan datang.
Kontras itu semakin terasa ketika kita menengok berbagai indikator pendidikan. Di atas panggung seminar, kita berbicara tentang kecerdasan artifisial, computational thinking, dan kemampuan abad ke-21. Namun pada saat yang sama, hasil berbagai asesmen internasional masih menunjukkan bahwa kemampuan dasar literasi dan numerasi peserta didik Indonesia belum beranjak ke posisi yang menggembirakan.
Di sejumlah daerah, akses terhadap buku bacaan yang layak, laboratorium, bahkan jaringan internet yang stabil masih menjadi kemewahan. Tidak sedikit sekolah yang masih harus berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar. Ada ruang kelas yang rusak, perpustakaan yang sepi koleksi, laboratorium yang hanya menjadi pelengkap laporan, hingga guru yang harus mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus karena keterbatasan tenaga pendidik.
Guru Tidak Hanya Membutuhkan Pelatihan
Yang lebih memprihatinkan adalah posisi guru sendiri. Kita berharap mereka menghadirkan pembelajaran yang penuh perhatian, menyenangkan, dan bermakna. Harapan itu tentu baik. Namun harapan tersebut sering lupa bertanya apakah para guru memiliki ruang untuk mewujudkannya.
Masih banyak guru yang waktunya habis untuk memenuhi tuntutan administrasi. Masih ada guru honorer yang harus memikirkan penghasilan sebelum memikirkan inovasi pembelajaran. Sulit meminta seseorang menebarkan ketenangan di kelas jika hidupnya sendiri terus dibayangi kecemasan.
Kita terlalu sering meminta guru berubah, tetapi terlalu jarang bertanya apakah sistem telah memberi mereka kesempatan untuk berubah.
Pendidikan Bukan Proyek Lima Tahunan
Di titik inilah kita mulai melihat bahwa persoalan pendidikan bukan semata persoalan kurikulum. Pendidikan adalah sebuah ekosistem. Kurikulum hanyalah salah satu bagiannya. Ia tidak akan bekerja sendirian tanpa guru yang dihargai, sekolah yang layak, kepemimpinan yang konsisten, serta kebijakan yang memberi waktu bagi setiap perubahan untuk bertumbuh.
Sayangnya, pendidikan kita terlalu sering mengikuti siklus lima tahunan. Setiap pergantian kepemimpinan membawa semangat baru, sekaligus kecenderungan untuk meninggalkan jejak berupa istilah baru. Kurikulum yang belum sempat dievaluasi secara utuh sudah lebih dahulu diganti. Guru kembali menyesuaikan diri. Sekolah kembali memulai dari awal.
Padahal pendidikan bukan proyek yang hasilnya bisa dipanen dalam satu masa jabatan. Ia bekerja perlahan. Hasilnya kadang baru tampak setelah belasan, bahkan puluhan tahun.
Ilusi yang Terus Kita Pelihara
Mungkin di situlah letak ilusi yang selama ini kita pelihara. Kita terlalu mudah menganggap perubahan istilah sebagai tanda kemajuan, seolah bahasa yang lebih modern otomatis melahirkan pendidikan yang lebih baik. Padahal murid tidak belajar dari nama kurikulum. Mereka belajar dari guru yang hadir sepenuh hati, ruang kelas yang memungkinkan mereka bertumbuh, dan lingkungan yang memberi kesempatan untuk bertanya, mencoba, bahkan keliru.
Karena itu, ukuran kemajuan pendidikan semestinya tidak berhenti pada seberapa mutakhir istilah yang diperkenalkan kementerian. Ukurannya jauh lebih sederhana, tetapi jauh lebih penting.
- Apakah semakin banyak anak yang mampu membaca dengan baik?
- Apakah guru memiliki cukup waktu untuk mendidik, bukan sekadar mengisi administrasi?
- Apakah sekolah menjadi tempat yang lebih layak untuk belajar dibanding lima tahun yang lalu?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih belum berubah, mungkin yang sedang bertambah bukan kemajuan pendidikan, melainkan hanya daftar istilah yang kita hafalkan.
Barangkali, itulah ironi terbesar pendidikan kita: kamusnya terus diperbarui, sementara pekerjaan rumahnya tetap yang itu-itu saja.
© Khafi.id
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berpikir bersama.

Post a Comment for "Ilusi Kemajuan Pendidikan: Ketika Ganti Istilah Lebih Penting"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.