Shodik Al-Manooki: Filosofi Reseg, Omnipresen tanpa Kompeten
Bagi sekte pemikir warung kopi, tidak ada fenomena sosial yang luput dari meja analisis. Mulai dari kebijakan pemerintah yang plin-plan, fluktuasi harga pupuk yang mencekik leher petani, hingga urusan eksistensi manusia di muka bumi.
Sementara para sosiolog akademis di kampus sibuk membedah stratifikasi sosial dengan teori-teori besar, di sebuah sudut warung kopi yang remang, lahirlah satu mazhab pemikiran yang tidak kalah radikal, sekaligus lebih membumi: Filosofi Reseg, digagas oleh seorang tokoh yang namanya sendiri sudah cukup problematis—Shodik Al-Manooki.
Nama “Al-Manooki” itu bukan nama asli. Lebih seperti laqab—atau, kalau mau sedikit serius, semacam nisbah—yang sengaja kami sematkan, merujuk pada asal-usulnya dari desa Manuk. Seperti para ulama klasik yang dikenali dari kampung halamannya, hanya saja dalam kasus ini, nuansanya sedikit lebih bercanda daripada ilmiah.
Dengan bekal nama yang terdengar setengah sakral dan setengah guyon itu, ia memegang otoritas tertinggi dalam disiplin ilmu cangkrukan—sebuah bidang yang sampai hari ini belum juga diakui oleh kampus mana pun.
Lewat kepulan asap kretek lintingan independen proletar (tingwe) dan gelas kopi hitam yang ampasnya tak pernah benar-benar habis, Shodik merumuskan satu teori sosial yang sederhana, tetapi ganjilnya terasa sangat akurat.
Omnipresen tanpa Kompeten
Objek kajian Shodik tidak membutuhkan dana hibah, tidak perlu survei, apalagi kuesioner. Ia cukup menunjuk satu orang yang kebetulan tampak unik dan tidak ada yang bisa menyerupainya.
Dalam satu kajian rasan-rasan—alias ghibah, yang jelas bukan harta hibah dari pemda—nama seseorang akhirnya ikut disebut. Seorang yang usianya sedikit di atas kami, tetapi kesaktiannya melampaui batas kewajaran sosial. Ia dikenal memiliki beberapa ajian tingkat tinggi: mlipir muntir, endo semoyo, dan tentu saja ajian pamungkas—pengasihan—yang membuatnya di mana-mana selalu “dikasihani” untuk ikut terlibat.
Sosok ini, entah bagaimana, selalu ada. Acara kajian budaya ada. Kegiatan keagamaan ada. Latihan kesenian ada. Diskusi sastra ada. Dan, mungkin di luar dugaan banyak orang, dalam acara politik pun ia tetap hadir.
Dan seperti biasanya, dari obrolan yang awalnya tidak ke mana-mana itu, tiba-tiba Shodik menemukan bentuknya sendiri. Dengan nada datar, tanpa pretensi ingin terdengar pintar, ia nyeletuk:
“Wong kae, koyo reseg. Neng ngendi-ngendi enek…”
Di situlah, tanpa disadari siapa pun di meja itu, sebuah teori sosial lahir—terlalu sederhana untuk disebut teori, tetapi terlalu tepat untuk diabaikan.
Manusia yang omnipresent, tetapi tanpa kompetensi yang jelas.
Ia tidak memimpin, tidak menentukan arah, tidak pula menjadi pusat perhatian. Namun kehadirannya konstan. Disapu di satu tempat, ia muncul di tempat lain. Hilang di satu acara, ia sudah duduk santai di acara berikutnya—seolah-olah keberadaannya tidak pernah benar-benar bergantung pada undangan.
Reseg sebagai Cara Hidup
Dalam bahasa sehari-hari, reseg merujuk pada sesuatu yang ringan, tidak terlalu kotor, tidak berbahaya, tetapi selalu ada. Daun kering, bungkus plastik, serpihan kecil yang tidak cukup penting untuk dipermasalahkan, tetapi juga tidak pernah benar-benar hilang.
Karakter utamanya bukan pada bentuknya, melainkan pada daya tahannya.
Disapu hari ini, besok sudah kembali.
Dan entah bagaimana, selalu berada di tempat yang tidak diundang, tetapi juga tidak pernah benar-benar ditolak.
Begitu pula kawan kami itu. Pagi terlihat di warung kopi, siang nyempil di acara politik, sore sudah berdiri di pinggir panggung acara kebudayaan. Kadang memegangi kabel, kadang sekadar ikut mengangguk-angguk, seolah memahami sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia dalami.
Bukan karena ia ahli di banyak bidang, melainkan karena ia cukup lentur untuk masuk ke semuanya tanpa perlu benar-benar menjadi bagian dari salah satunya—dan mungkin justru di situlah keahliannya.
Mazhab Eman-Eman
Shodik tidak berhenti pada deskripsi. Ia mencoba memahami mengapa sosok seperti ini justru dipelihara dalam banyak lingkaran sosial, bahkan hingga level yang cukup serius.
Jawabannya sederhana, dan agak jujur: eman-eman.
Sayang kalau dibuang, meskipun tidak benar-benar dibutuhkan.
Dalam kerangka berpikir Shodik, kawan kami ini adalah utility man yang sesungguhnya. Bukan karena kecakapan strategis, tetapi karena fleksibilitasnya dalam hal-hal yang sering tidak ingin dikerjakan orang lain.
Butuh tambahan massa untuk foto kegiatan? Ia ada di barisan depan.
Butuh orang untuk mengurus hal-hal teknis yang tidak terlihat? Ia siap bergerak.
Tidak menuntut banyak, tidak protes, dan tidak pernah benar-benar absen. Dalam banyak kasus, justru tipe seperti inilah yang paling sulit digantikan—bukan karena penting, tapi karena selalu ada.
“Dibuang yo sayang, dinggo terus yo ora ono bobote,” kata Shodik suatu malam, setengah bergurau, setengah serius.
Pengisi Ruang Kosong
Dunia ini tidak hanya diisi oleh tokoh besar, pemikir hebat, atau pengambil keputusan. Ada juga mereka yang tidak menentukan arah, tetapi memastikan ruang-ruang itu tetap terisi.
Mereka tidak memimpin sejarah, tetapi selalu hadir di latar belakangnya.
Jika diperhatikan lebih saksama, hampir semua foto kegiatan—dari tingkat desa sampai pejabat daerah—memiliki satu kesamaan: selalu ada wajah yang sama, berdiri di sudut yang berbeda, dengan peran yang tidak pernah benar-benar jelas.
Tanpa mereka, mungkin tidak ada yang benar-benar hilang. Tetapi entah mengapa, semuanya terasa sedikit lebih kosong. Terlalu rapi. Terlalu serius. Seolah ada bagian kecil dari kehidupan sosial yang ikut tersapu bersih.
Dalam dunia yang, kata Bauman, semakin cair, barangkali menjadi “reseg” adalah bentuk adaptasi paling jujur. Tidak perlu menetap, tidak perlu jelas, yang penting tetap ada.
Dan mungkin, di situlah letak kejujuran paling sederhana dari teori ini: bahwa tidak semua orang perlu menjadi penting untuk tetap memiliki tempat.
Cukup dengan hadir. Berkali-kali. Di tempat yang berbeda. Dengan wajah yang sama.

Post a Comment for "Shodik Al-Manooki: Filosofi Reseg, Omnipresen tanpa Kompeten"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.