Romantisasi ber-NU
Menjadi warga NU tidak pernah sesederhana memakai seragam, memasang foto para muassis, atau mengutip petuah para kiai. Sebab sejak awal, NU tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang pandai mengingat masa lalu. NU dibangun oleh orang-orang yang berani membaca zamannya. Di titik inilah saya mulai khawatir: jangan-jangan kita sedang mewarisi nama mereka, tetapi perlahan meninggalkan cara berpikir mereka.
Kegelisahan ini bukan lahir karena saya meragukan Nahdlatul Ulama. Justru sebaliknya. Kegelisahan ini muncul karena saya percaya bahwa NU adalah organisasi yang dibangun di atas tradisi keilmuan, musyawarah, dan keberanian menjawab persoalan masyarakat. Karena itulah, ketika warisan para pendahulu lebih sering dipuja daripada dipraktikkan, saya merasa ada sesuatu yang perlu direnungkan bersama.
Romantisasi yang Menghentikan Dialog
Belakangan ini kita semakin akrab dengan nama-nama besar para muassis. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Chasbullah, hingga Gus Dur hampir selalu hadir dalam berbagai forum, pidato, maupun media sosial. Itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Yang menjadi persoalan adalah ketika nama-nama tersebut lebih sering dipakai sebagai pembenaran daripada sebagai inspirasi.
Di titik inilah romantisasi mulai bekerja. Romantisasi bukan berarti terlalu mencintai. Romantisasi adalah ketika kita lebih mencintai bayangan tentang sesuatu daripada keberanian untuk menghidupi nilai-nilainya.
Ironisnya, nama para pendahulu terkadang berubah menjadi "kata akhir" yang menutup ruang dialog. Ketika ada kritik terhadap kebijakan, terhadap sikap seorang tokoh, atau terhadap arah organisasi, yang muncul bukan pembahasan mengenai isi kritik itu, melainkan kekhawatiran dianggap melawan kiai, tidak hormat, bahkan "kualat".
Padahal adab dan daya kritis tidak pernah saling bertentangan. Menghormati guru bukan berarti mematikan akal. Justru guru yang baik menginginkan muridnya tumbuh, bukan sekadar mengangguk.
Sami'na wa atha'na memang indah. Namun bukankah mendengar juga berarti memahami? Kalau mendengar hanya berarti menerima tanpa berpikir, radio pun bisa melakukannya.
Mewarisi Nama atau Mewarisi Cara Berpikir?
Menurut saya, para pendiri NU tidak pernah mewariskan kumpulan jawaban yang berlaku untuk sepanjang masa. Mereka mewariskan cara berpikir. Mereka mengajarkan bagaimana membaca realitas, berdialog dengan masyarakat, bermusyawarah, lalu mengambil keputusan berdasarkan kemaslahatan.
Sayangnya, kita terkadang lebih sibuk mencari kutipan lama daripada membaca persoalan baru. Seolah-olah semua jawaban telah selesai ditulis puluhan tahun lalu. Padahal para pendahulu sendiri dihormati karena keberanian mereka menghadapi tantangan zamannya, bukan karena sibuk mengulang jawaban generasi sebelumnya.
Filsuf Jerman Hans-Georg Gadamer pernah mengingatkan bahwa tradisi tidak hidup hanya karena diulang. Tradisi tetap hidup karena terus diajak berdialog dengan kenyataan yang selalu berubah. Tradisi yang berhenti berdialog hanya akan menjadi museum: indah dikenang, tetapi kehilangan daya hidupnya.
Barangkali di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita sedang meneruskan tradisi NU, atau hanya merawat nostalgia tentang NU?
Ketika Wong Cilik Tidak Lagi Menjadi Pusat Perhatian
Hal lain yang patut direnungkan adalah hubungan NU dengan kekuasaan. Tidak ada yang salah ketika warga NU terlibat dalam politik. Politik merupakan salah satu jalan untuk memperjuangkan kemaslahatan. Namun kedekatan dengan kekuasaan selalu membawa ujian yang tidak ringan.
Ujian terbesar bukan kehilangan jabatan, melainkan kehilangan keberpihakan.
Di tengah berbagai dinamika politik, kita sering mendengar pidato tentang membela wong cilik. Namun pertanyaannya sederhana: apakah petani yang kehilangan lahan, buruh yang hidup dengan upah minim, masyarakat adat yang tergusur, guru madrasah yang bertahun-tahun mengabdi dengan penghasilan seadanya, masih mendapatkan perhatian yang sama besarnya?
Ataukah mereka hanya hadir sebagai tema pidato, sementara keputusan-keputusan penting justru semakin jauh dari kehidupan mereka?
Saya justru lebih khawatir kepada mereka yang selama ini diam-diam menjaga NU tetap hidup. Guru ngaji di kampung. Kiai langgar. Ibu-ibu Muslimat yang memasak setiap ada pengajian. Petani yang menyisihkan hasil panennya untuk kegiatan ranting. Mereka mungkin tidak pernah tampil di televisi atau duduk di forum-forum besar. Namun tanpa mereka, NU tidak akan memiliki akar yang kuat.
Kalau ada yang pantas terus diperjuangkan, merekalah orang-orang itu.
Keberanian Membaca Zaman
Pemikiran Paulo Freire terasa relevan untuk direnungkan. Ia mengingatkan bahwa pendidikan yang membebaskan bukanlah pendidikan yang membuat manusia sekadar menghafal warisan, melainkan pendidikan yang membuat manusia mampu membaca kenyataan hidupnya sendiri.
Warisan para muassis juga semestinya dipahami seperti itu. Warisan bukan untuk menghentikan pikiran, melainkan untuk membimbing cara berpikir. Para pendiri NU tidak sedang menyelesaikan persoalan abad ke-21. Mereka menyelesaikan persoalan zamannya dengan keberanian, keluasan ilmu, dan kepekaan sosial. Tugas generasi hari ini bukan sekadar mengulang kesimpulan mereka, melainkan mewarisi keberanian mereka membaca kenyataan baru.
Karena itu, yang perlu kita romantiskan bukanlah nama besar para pendahulu, melainkan laku intelektual mereka. Bukan foto-fotonya, melainkan keberanian mereka berdialog dengan realitas. Bukan kutipan-kutipannya, melainkan keberpihakan mereka kepada masyarakat kecil yang selama ini menjadi denyut kehidupan NU.
Pada akhirnya, NU tidak akan kehilangan jati dirinya karena kritik. Organisasi sebesar NU justru akan tetap hidup apabila tradisi berpikirnya tetap hidup. Sebab organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang anti kritik, melainkan organisasi yang mampu menjadikan kritik sebagai bagian dari ikhtiar memperbaiki diri.
Mungkin di situlah romantisasi ber-NU perlu kita akhiri. Bukan agar kita berhenti mencintai NU, tetapi agar kita kembali mencintainya sebagaimana dicontohkan para pendirinya: berpikir, bermusyawarah, berpihak kepada yang lemah, dan terus berani membaca zaman.
© Khafi.id
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berpikir bersama.

Post a Comment for "Romantisasi ber-NU"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.