Mein Kampf dalam MBG

Kita ini sebenarnya cukup kritis—setidaknya di awal. Setiap ada sesuatu yang terasa aneh, kita bertanya, mengernyit, bahkan kadang mencibir.

Masalahnya, kita juga punya satu kelemahan kecil: mudah lelah dan pelupa.

Adolf Hitler, bagi banyak orang hari ini, jelas bukan sosok yang bisa disebut baik. Sejarah mencatat jejak panjang kekerasan dan korban yang ditinggalkannya. Namun, di luar itu, ada satu hal yang barangkali jarang disadari: beberapa pola pikir yang pernah ia gunakan tampaknya tidak sepenuhnya hilang, hanya muncul dalam bentuk yang berbeda-beda.

Ada cukup banyak peninggalan yang masih dikenang hingga sekarang. Salah satunya sebuah buku yang, secara tidak sengaja, pernah saya baca: Mein Kampf.

Di dalam buku bersampul gelap, tebal, dan terasa “berat” itu, terselip sebuah gagasan yang ditulis dengan nada dingin: semacam teori psikologi massa tentang apa yang sering disebut sebagai kebohongan besar (the big lie).

Dalam salah satu bagiannya—sering dirujuk sebagai pembahasan tentang sebab-sebab keruntuhan—buku itu menyinggung sesuatu yang terasa tidak nyaman untuk diakui. Bahwa manusia, dalam kesederhanaan pikirannya, justru lebih mudah menjadi korban kebohongan besar daripada kebohongan kecil.

Alasannya sederhana, dan mungkin justru itu yang membuatnya mengganggu. Kita terbiasa dengan kebohongan kecil, yang remeh dan personal. Tapi untuk kebohongan dalam skala besar, pikiran kita seperti menolak mempercayainya—terlalu berlebihan, terlalu tidak masuk akal.

Dan mungkin karena itulah, ketika sesuatu yang ganjil terus diulang tanpa henti, kita tidak lagi bertanya apakah itu benar atau tidak. Kita hanya berhenti mempertanyakannya.

Mengapa bisa begitu?

Barangkali karena dalam keseharian, kebohongan yang akrab dengan kita hanyalah hal-hal kecil. Kita tidak terbiasa membayangkan bahwa ada sesuatu yang bisa bekerja dalam skala yang begitu besar, begitu masif, dan begitu rapi.

Jika gagasan itu dibawa ke hari ini, barangkali kita tidak perlu mencari figur-figur ekstrem untuk melihatnya bekerja. Cukup tengok bagaimana program-program besar berskala masif—dengan segala niat baik yang menyertainya—pelan-pelan masuk ke dalam kehidupan masyarakat.

Ambil contoh program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pada awalnya, program semacam ini tidak langsung diterima begitu saja. Di warung kopi, di gardu ronda, atau di sela obrolan santai, selalu ada yang bertanya: “Ini sebenarnya urgensinya apa?”, “Apakah semua daerah memang butuh?”, atau “Jangan-jangan ini sekadar cara mahal untuk menghabiskan anggaran?”

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar. Ia lahir dari kebiasaan kita yang, setidaknya di awal, masih ingin memahami. Kita membandingkan dengan kebutuhan yang lebih terasa dekat: harga pupuk yang stabil, saluran irigasi yang berfungsi, atau penghasilan yang tidak mudah goyah. Dibandingkan itu semua, program besar sering terasa jauh, asing, bahkan sedikit “gak jelas”.

Namun, ada satu hal yang sering luput: sebuah program besar tidak selalu berdiri di atas logika penerimaan, tetapi di atas logika pengulangan.

Ketika baliho mulai berdiri di setiap tikungan jalan, ketika berita di televisi dan media sosial serempak membicarakan hal yang sama, ketika laporan-laporan administratif mulai diproduksi tanpa henti, sesuatu yang awalnya terasa asing perlahan berubah. Bukan karena ia sepenuhnya dipahami, tetapi karena ia terlalu sering hadir untuk terus ditolak.

Pada titik tertentu, kita lelah untuk terus curiga.

Dan di situlah kita mengenal satu ungkapan sederhana, tapi jujur: “yo wis benelah...

Yo wis benelah” bukan sekadar kalimat pasrah. Ia adalah fase ketika penolakan berhenti bukan karena telah diyakinkan, tetapi karena sudah terlalu lelah untuk melawan. Ketidakjelasan tidak lagi diperdebatkan; ia diterima sebagai latar belakang, seperti suara bising yang lama-lama tidak lagi disadari.

Jika suatu hari ada truk logistik lewat membawa bagian dari program itu, orang hanya akan melihat sekilas, lalu kembali ke aktivitasnya. Tidak lagi bertanya, tidak lagi mencurigai. Sesuatu yang dulu terasa ganjil, kini menjadi bagian dari keseharian.

Namun, prosesnya tidak berhenti di situ.

Tahap berikutnya jauh lebih halus, sekaligus lebih dalam: terbentuknya ketergantungan.

Pelan-pelan, sebuah ekosistem tumbuh. Rantai pasokan menyesuaikan, anggaran daerah ikut berputar ke arah yang sama, dan ritme kehidupan masyarakat mulai menyesuaikan keberadaan program tersebut. Sesuatu yang awalnya terasa dipaksakan, lama-lama berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar—bahkan perlu.

Hingga suatu saat, entah karena anggaran yang mulai seret atau perubahan arah kebijakan, program itu tersendat. Truk logistik tidak lagi lewat. Distribusi berhenti.

Di situlah ironi muncul.

Mereka yang dulu bertanya, yang dulu mengernyitkan dahi, yang dulu mengucapkan “yo wis benelah” dengan setengah hati, kini mulai celingukan. Mereka melihat ke kanan dan ke kiri, lalu bertanya:

“Lho, kok gak enek MBG?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Bukan lagi soal benar atau tidaknya program sejak awal, bukan lagi soal rasional atau tidaknya kebijakan. Yang hilang adalah rasa “terbiasa”.

Dan ketika sesuatu yang semula dipertanyakan berubah menjadi sesuatu yang dirindukan, di situlah kita tahu bahwa yang bekerja bukan sekadar kebijakan, melainkan cara halus dalam membentuk realitas.

Buku bersampul hitam itu memang lahir dari sosok kelam di masa lalu. Namun, bagian tentang bagaimana nalar manusia bisa dijinakkan tampaknya tidak pernah benar-benar usang. Ia seperti terus dipelajari, disesuaikan, lalu dipraktikkan kembali dalam bentuk yang berbeda-beda.

Masukkan sesuatu yang terasa aneh, ulangi terus sampai orang lelah menolak, lalu biarkan ia pelan-pelan menjadi biasa. Dari yang semula dipertanyakan, berubah menjadi diterima, lalu tanpa sadar dirindukan.

Dan kita? Mungkin hanya akan duduk di sudut warung, menyeruput kopi pahit, sambil menyaksikan semuanya berputar seperti biasa—tanpa benar-benar tahu, sejak kapan kita berhenti bertanya.

© khafi.id

Post a Comment for "Mein Kampf dalam MBG"