Ultranasionalisme: Antara Hitler, Mussolini dan… Anda Tahu Sendiri…
Dunia akademik itu kadang seperti lemari arsip yang terlalu rapi. Kalau membahas ultranasionalisme, yang dibuka ya itu-itu saja: Mein Kampf, pidato-pidato Benito Mussolini di balkon, atau analisis panjang tentang Eropa abad ke-20. Seolah-olah nasionalisme ekstrem itu sudah selesai, sudah dipajang, sudah diberi label: jangan disentuh.
Padahal, kalau mau sedikit menoleh ke luar jendela—atau sekadar menonton berita malam—kita akan tahu satu hal sederhana: nasionalisme itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya ganti baju. Dulu pakai seragam militer, sekarang cukup kemeja rapi dan senyum yang terukur. Dulu teriak-teriak, sekarang cukup bilang pelan: “ini demi kepentingan bersama.”
Di titik ini, mungkin kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: sebenarnya apa itu ultranasionalisme? Kalau diringkas tanpa bahasa yang terlalu tinggi, ultranasionalisme adalah nasionalisme yang didorong sampai melewati batas sehatnya. Ketika rasa cinta pada negara tidak lagi memberi ruang untuk kritik, tidak lagi nyaman dengan perbedaan, dan mulai merasa bahwa kepentingan bangsa selalu lebih benar daripada apa pun—bahkan ketika ia jelas-jelas perlu dipertanyakan.
Ia bukan sekadar bangga pada negara. Itu wajar. Ia juga bukan sekadar ingin negara kuat. Itu juga bisa dipahami. Masalahnya mulai muncul ketika “cinta” itu berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa disentuh, tidak bisa dikoreksi, dan tidak boleh dipertanyakan.
Kalau mau iseng, kita bisa bayangkan ini seperti festival kecil. Festival ideologi. Tiga kontestan, satu panggung, dan satu tema besar: cinta tanah air.
Kontestan pertama: Adolf Hitler. Yang ini agak melelahkan. Baginya, nasionalisme itu urusan darah. Bukan perasaan, bukan komitmen, tapi benar-benar darah. Bangsa diperlakukan seperti klub eksklusif; bukan soal apakah kita tinggal di sana, tapi apakah kita cukup layak untuk diakui. Masalahnya, standar kelayakan itu tidak pernah sederhana. Sedikit berbeda langsung dicurigai, sedikit tidak sama langsung dianggap masalah. Dari situ, nasionalisme berubah pelan-pelan: dari rasa memiliki, menjadi alat memilah. Dan kita tahu, ketika sebuah bangsa terlalu sibuk memilah, biasanya yang tersisa bukan lagi kebersamaan.
Kontestan kedua: Benito Mussolini. Kalau yang pertama sibuk pada darah, yang ini lebih fokus pada bangunan: negara. Segalanya harus kembali ke sana, segalanya harus tunduk ke sana. Individu tetap ada, tapi lebih mirip bahan bangunan. Tidak perlu terlalu menonjol, tidak perlu terlalu berbeda. Yang penting pas, yang penting menyatu. Kalau semua rapi, semua seragam, semua searah, negara akan terlihat kuat. Dan entah kenapa, “terlihat kuat” sering kali sudah dianggap cukup.
Lalu kita sampai pada kontestan ketiga: Anda tahu sendiri. Yang ini justru menarik karena tidak terlalu sibuk pada darah, dan tidak juga terlalu keras soal ketaatan mutlak. Lebih fleksibel. Lebih akomodatif. Di tangan yang satu ini, nasionalisme tidak lagi terasa seperti doktrin berat, tapi berubah menjadi kalimat pendek yang bisa dipakai di mana saja: “ini demi kepentingan nasional.”
Kalimat ini punya kemampuan yang agak unik. Ia bisa menjelaskan banyak hal tanpa benar-benar menjelaskan apa-apa. Menyatukan yang dulu berseberangan? Demi kepentingan nasional. Mengambil keputusan yang terasa janggal? Demi kepentingan nasional. Menghindari pertanyaan yang terlalu jauh? Ya, demi kepentingan nasional.
Pelan-pelan, kalimat itu jadi seperti pintu otomatis. Kalau dibuka, semua bisa masuk. Kalau ditutup, tidak banyak yang berani mengetuk. Dan yang lebih menarik lagi, definisi tentang “kepentingan nasional” itu sendiri terasa lentur. Hari ini bisa berarti stabilitas, besok bisa berarti pertumbuhan, lusa bisa berarti hal lain lagi. Selalu terdengar masuk akal, selalu terdengar penting, dan karena itu jarang sekali dipertanyakan.
Kalau yang pertama terlalu kaku dan yang kedua terlalu menekan, yang ketiga ini terasa lebih ramah, lebih bisa diajak kompromi, lebih enak dilihat. Tapi mungkin justru di situ letak keunikannya. Karena sesuatu yang terlalu keras biasanya mudah dikenali, sedangkan yang halus, yang fleksibel, yang terasa masuk akal, sering lewat tanpa banyak curiga.
Jadi, jangan buru-buru mengira nasionalisme itu selalu menakutkan. Kadang ia justru datang sebagai sesuatu yang terasa wajar, bahkan menyenangkan. Dan mungkin, di titik itu, kita tidak lagi bertanya apakah ia berbahaya atau tidak—karena kita sudah terlalu nyaman untuk mempertanyakannya.

Post a Comment for "Ultranasionalisme: Antara Hitler, Mussolini dan… Anda Tahu Sendiri…"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.