Merawat Kekanak-kanakan

Kadang, yang paling cepat membuat orang sadar bahwa ia tidak sendirian justru bukan sapaan, melainkan gangguan. Cahaya yang tiba-tiba menyilaukan dari arah berlawanan, atau suara knalpot yang meraung tanpa diminta, seringkali datang seperti pengingat kasar: ada orang lain di sekitar, tapi ia memilih hadir dengan cara yang tidak peduli.

Kalau diperhatikan lebih lama, ini bukan kejadian yang berdiri sendiri. Ada pola yang terasa berulang, bahkan hampir bisa ditebak. Motor bodi besar, seringkali skutik (Karena yang benar-benar moge harganya mahal), dipasangi lampu ala kendaraan dinas—terang, berkedip, seolah meminta prioritas di jalan. Di sisi lain, knalpot murah yang suaranya memekakkan dipasang bukan sekadar untuk fungsi, tapi untuk efek: agar keberadaannya tidak bisa diabaikan.

Di titik ini, jalan raya seperti kehilangan makna awalnya. Ia bukan lagi ruang bersama untuk berpindah tempat dengan aman, melainkan berubah menjadi semacam panggung kecil. Di sana, sebagian orang tampil—memperlihatkan sesuatu yang barangkali tidak selalu mereka sadari: keinginan untuk diakui, untuk dianggap penting, atau setidaknya untuk tidak dilupakan.

Jika dipinjam sedikit cara membaca dari Sigmund Freud, ada satu hal yang menarik: manusia tidak pernah benar-benar meninggalkan masa kecilnya. Ia hanya mengubah bentuknya. Dorongan untuk diperhatikan, untuk diakui, bahkan untuk menjadi pusat perhatian, tidak hilang begitu saja ketika usia bertambah. Ia hanya mencari medium baru.

Pada anak-anak, dorongan itu tampil dengan cara yang polos. Mereka bermain peran, pura-pura menjadi polisi, tentara, atau tokoh yang punya otoritas. Ada kegembiraan di situ, sekaligus proses belajar memahami dunia. Namun, pada sebagian orang dewasa, fase ini seperti tidak pernah benar-benar selesai. Ia tidak hilang, hanya berganti rupa—dari permainan menjadi modifikasi, dari imajinasi menjadi ekspresi yang nyata di ruang publik.

Freud pernah mengisyaratkan bahwa dorongan yang tidak terselesaikan cenderung mencari jalan keluar lain. Ia tidak hilang, hanya berpindah. Dalam konteks ini, kebutuhan untuk diakui mungkin tidak lagi bisa disampaikan secara langsung, lalu diterjemahkan menjadi sesuatu yang lebih keras—secara harfiah maupun simbolik.

Hal ini bisa dipertajam dengan pandangan Carl Jung tentang “bayangan” dalam diri manusia. Ada sisi-sisi yang tidak sepenuhnya kita sadari, tapi tetap bekerja di balik perilaku kita. Seringkali, justru bagian yang belum matang itu yang muncul tanpa izin—terutama ketika tidak pernah diajak untuk dikenali.

Maka, kekanak-kanakan itu sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang harus dimusuhi. Ia bagian dari manusia. Setiap orang pernah melewati fase itu, dan sebagian darinya akan selalu tinggal. Yang menjadi persoalan adalah ketika ia tidak dikenali, lalu dibiarkan tumbuh tanpa arah—terutama ketika ia mulai mengganggu orang lain.

Di jalan raya, dampaknya terasa nyata. Lampu yang terlalu terang bisa menyilaukan dan membahayakan pengendara lain. Knalpot yang terlalu bising bisa mengganggu, bahkan melelahkan secara psikologis, terutama bagi mereka yang berada di sekitar jalan kecil atau permukiman. Tapi yang lebih mengganggu dari itu semua mungkin adalah pesan yang diam-diam disampaikan: bahwa kenyamanan orang lain bisa dikorbankan demi ekspresi diri.

Di titik ini, batas antara kebebasan dan tanggung jawab menjadi kabur. Setiap orang memang punya hak untuk mengekspresikan diri, termasuk melalui kendaraan yang ia gunakan. Namun, ketika ekspresi itu mulai merugikan orang lain, pertanyaannya menjadi sederhana: apakah itu masih ekspresi, atau sudah menjadi gangguan?

Menariknya, semua ini sering terjadi tanpa kesadaran penuh. Tidak banyak yang benar-benar berniat mengganggu. Tapi dampaknya tetap sama. Karena yang bekerja bukan selalu niat yang disadari, melainkan dorongan yang lebih dalam—yang kadang tidak sempat dipertanyakan.

Barangkali di sinilah makna kedewasaan perlu dibaca ulang. Ia bukan sekadar soal usia, pekerjaan, atau status sosial. Ia juga soal kemampuan untuk mengenali diri sendiri, termasuk dorongan-dorongan kecil yang sering luput dari perhatian. Termasuk keinginan untuk diakui, untuk terlihat, untuk merasa penting.

Karena tanpa itu, yang terjadi bukanlah kedewasaan, melainkan sekadar perubahan alat. Kekanak-kanakan itu tetap ada, hanya naik kelas—dengan lampu yang lebih terang, suara yang lebih keras, dan dampak yang lebih luas.

Dan seperti banyak hal lain dalam hidup, yang tampak sepele seringkali justru yang paling jujur. Dari cara seseorang membawa motornya di jalan, kadang kita bisa membaca bagaimana ia membawa dirinya sendiri. Apakah ia cukup selesai dengan dirinya, sehingga tidak perlu berteriak untuk diakui, atau justru masih membutuhkan dunia yang lebih bising agar keberadaannya terasa.

Namun demikian, ada satu hal yang juga perlu diakui: menjadi “anak-anak” dalam batas tertentu justru bisa menjadi cara sederhana untuk tetap waras. Kemampuan untuk bermain, untuk tidak selalu serius, untuk tidak terus-menerus membuktikan diri—barangkali itulah yang menjaga manusia dari kelelahan hidup yang terlalu kaku.

Masalahnya bukan pada kekanak-kanakan itu sendiri, melainkan pada tempatnya. Ketika ia hadir sebagai keluwesan batin, ia menenangkan. Tapi ketika ia berubah menjadi kebutuhan untuk diakui dengan cara memaksa, di situlah ia mulai mengganggu.

© khafi.id

Post a Comment for "Merawat Kekanak-kanakan"