Desil 4 yang Semakin Diminati

Desil naik, bantuan hilang, dapur tetap sama. Ironi kesejahteraan ketika warga ingin desil rendah tetapi gengsi hidup seperti desil 13.

Pemuda lingkungan kami sedang membuat lubang pemakaman yang di kampung kami disebut ruwat. Sebagian bekerja keras menggali tanah. Sebagian lagi, sebagaimana lazimnya kerja bakti di kampung, mengambil bagian yang tidak kalah penting: mengobrol ngalor-ngidul sambil sesekali memberi semangat kepada mereka yang benar-benar bekerja.

Dan tahu apa yang mereka obrolkan?

Desil.

Ya, desil. Istilah yang beberapa waktu lalu mungkin lebih pantas ditemukan dalam laporan statistik, kini sudah sampai ke pinggir lubang kuburan.

Ada yang mengaku desilnya naik. Ada yang heran karena tetangganya masih mendapat bantuan sementara dirinya tidak. Ada yang mencoba menerangkan desil satu sampai sepuluh dengan pengetahuan yang diperoleh entah dari mana. Dan tentu saja ada yang paling meyakinkan: tidak tahu persis bagaimana desil dihitung, tetapi sangat yakin desilnya keliru.

Saya mendengarkan obrolan itu sambil berpikir: luar biasa juga negeri ini. Bahkan di depan lubang yang kelak membuat semua manusia berada pada desil yang sama, kita masih sempat memperdebatkan siapa yang lebih miskin.

Belakangan, desil memang menjadi istilah baru dalam percakapan kampung. Orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak pernah merasa perlu mengenal istilah statistik kini mulai akrab dengan angka-angka itu. Bukan karena masyarakat mendadak gemar membaca laporan ekonomi, melainkan karena angka tersebut ternyata bisa menentukan sesuatu yang jauh lebih konkret: bantuan masih datang atau berhenti.

Ketika Naik Kelas Justru Membuat Cemas

Secara sederhana, desil merupakan cara mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan. Penduduk diurutkan menurut kondisi sosial-ekonominya, kemudian dibagi menjadi sepuluh kelompok. Desil 1 berada pada kelompok terbawah, terus naik hingga desil 10 pada kelompok teratas.

Mestinya, semakin tinggi desil semakin menggembirakan.

Kalau kemarin desil 3 lalu sekarang menjadi desil 6, seharusnya kita mengadakan syukuran kecil-kecilan. Minimal membeli gorengan lima ribu rupiah sambil mengucapkan selamat karena menurut statistik kehidupan telah membaik.

Anehnya, yang terjadi justru sebaliknya.

Orang-orang kaget ketika desilnya naik. Sebagian malah ingin turun lagi. Mereka yang sebelumnya menerima bantuan mendadak tidak lagi masuk kelompok prioritas. Padahal ketika pulang ke rumah, membuka dompet, melihat dapur, menghitung biaya sekolah dan cicilan, mereka tidak menemukan tanda-tanda bahwa kesejahteraan telah mengalami peningkatan sebagaimana yang diumumkan angka.

“Munggah apane?”

Di sinilah statistik mulai berhadapan dengan kehidupan.

Kenaikan kesejahteraan versi data tidak selalu sama dengan kenaikan kemampuan hidup versi dapur.

Rumah mungkin sekarang sudah berkeramik karena dibangun sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Motor ada karena dipakai bekerja. Televisi sudah ada sejak lama. Kulkas dibeli ketika kebetulan mendapat rezeki agak banyak. Anak-anak semakin besar dan biaya sekolah justru semakin mahal. Barang-barang di rumah bertambah, tetapi penghasilan belum tentu ikut bertambah.

Belum lagi jika data yang dipakai memang tidak sepenuhnya akurat atau belum menggambarkan keadaan terbaru. Kehidupan keluarga berubah cepat. Orang yang kemarin bekerja bisa kehilangan pekerjaan. Penghasilan yang tahun lalu lumayan bisa merosot. Anggota keluarga bertambah, kebutuhan berubah, utang muncul, sementara data membutuhkan waktu untuk mengejar semua perubahan itu.

Sistem statistik tentu membutuhkan indikator. Negara tidak mungkin mengetuk pintu setiap rumah setiap pagi untuk bertanya, “Hari ini masih miskin, Pak?” Tetapi ketika angka dipakai untuk menentukan siapa yang layak mendapat pertolongan, ketepatan angka itu menjadi sangat penting.

Sebab kesalahan satu atau dua tingkat desil bukan sekadar angka yang bergeser di layar komputer.

Di ujung angka itu bisa ada beras, biaya sekolah, pengobatan, atau kebutuhan keluarga.

Maka rasanya terlalu mudah jika setiap orang yang mempertanyakan kenaikan desil langsung dicurigai ingin terus menjadi miskin agar mendapat bantuan. Bisa jadi mereka memang sedang mempertanyakan sesuatu yang masuk akal: negara mengatakan hidup mereka sudah lebih baik, sementara kehidupan sehari-hari tidak memberikan kesaksian yang sama.

Desil Empat di Depan Negara, Desil Tiga Belas di Depan Tetangga

Namun, kalau seluruh kesalahan kita timpakan kepada sistem, rasanya juga kurang adil.

Sebab hubungan kita dengan kemiskinan memang agak rumit.

Di hadapan negara, sebagian dari kita ingin desil serendah mungkin. Kalau bisa jangan lewat desil empat. Ketika tercatat desil enam, mulai gelisah. Ketika bantuan berhenti, mulai bertanya ke sana-kemari bagaimana caranya memperbaiki data.

Kita ingin negara mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa kehidupan masih pas-pasan.

Tetapi keadaan berubah ketika berhadapan dengan tetangga.

Di sini desil empat kadang terasa kurang terhormat.

Kalau punya hajatan, jangan sampai terlihat terlalu sederhana. Kalau membeli HP, kalau bisa yang kameranya banyak, meskipun sebagian besar tidak pernah kita pahami kegunaannya. Motor lama sebenarnya masih bisa berjalan, tetapi motor baru tentu lebih menyenangkan diparkir di depan rumah. Kalau pergi agak jauh, foto perlu diunggah. Kalau makan di tempat yang sedikit bagus, kadang kamera bekerja lebih dulu sebelum mulut.

Kemiskinan yang tadi ingin kita buktikan kepada negara mendadak menjadi sesuatu yang sebisa mungkin tidak diketahui tetangga.

Maka kita rupanya memiliki dua cita-cita kesejahteraan sekaligus.

Di hadapan negara, kalau bisa jangan lewat desil empat.

Di hadapan tetangga, kalau bisa terlihat seperti desil tiga belas.

Tentu saja desil tiga belas tidak pernah ada dalam statistik resmi. Ia hanya ada dalam statistik pergaulan kita. Sebuah kelas sosial yang unik: penghasilan pas-pasan, cicilan berjalan, bantuan masih diharapkan, tetapi kalau urusan penampilan jangan sampai orang lain tahu bahwa tanggal tua masih menjadi peristiwa ekonomi penting di dalam rumah.

Namun, jangan pula buru-buru menuduh bahwa motor bagus, HP mahal, atau rumah layak membuktikan seseorang sebenarnya kaya.

Bisa saja motor itu alat bekerja. HP dibeli dengan cicilan dua tahun. Rumah bagus dibangun dari hasil menjadi buruh bertahun-tahun. Hajatan yang tampak mewah mungkin menyisakan utang yang baru selesai ketika tamu undangan sudah lupa rasa sotonya.

Justru di situlah ironinya.

Kita kadang bersedia menanggung beban ekonomi untuk mempertahankan penampilan sosial yang berada di atas kemampuan ekonomi kita sendiri.

Di hadapan birokrasi, kemiskinan harus dibuktikan agar memperoleh perlindungan. Di hadapan lingkungan sosial, kemiskinan harus disembunyikan agar memperoleh penghormatan.

Negara melihat rumah, aset, pekerjaan, konsumsi dan berbagai indikator kemudian menghasilkan angka. Tetangga melihat motor, pakaian, hajatan dan unggahan media sosial kemudian menghasilkan kesimpulan. Sementara orang yang menjalani kehidupan itu melihat sesuatu yang jauh lebih sederhana: berapa uang yang tersisa setelah semua kebutuhan dibayar.

Ketiganya belum tentu memberikan jawaban yang sama.

Mengapa Orang Takut Dianggap Lebih Sejahtera?

Karena itu, fenomena orang ingin tetap berada di desil bawah sebenarnya layak dibaca lebih jauh daripada sekadar tuduhan mental bansos.

Pertanyaan yang lebih menarik justru: mengapa orang takut dianggap sedikit lebih sejahtera?

Mungkin karena ada wilayah yang sangat tipis antara miskin dan mapan. Orang-orang di wilayah ini mungkin sudah mempunyai motor, rumahnya tembok, televisinya ada, bahkan sesekali mampu makan di luar. Tetapi satu anggota keluarga sakit, satu anak masuk sekolah, pekerjaan hilang, atau harga kebutuhan naik beberapa bulan saja, seluruh keseimbangan rumah tangga bisa goyah.

Mereka terlalu sejahtera untuk disebut miskin oleh angka, tetapi belum cukup sejahtera untuk merasa aman tanpa pertolongan.

Maka desil empat perlahan terdengar seperti posisi yang menarik.

Bukan karena orang bercita-cita menjadi miskin. Bukan pula karena bantuan sosial telah membuat semua orang malas bekerja. Bisa jadi karena sistem menciptakan batas administratif yang membuat naik kelas menurut statistik mempunyai konsekuensi yang tidak selalu diikuti kemampuan ekonomi yang benar-benar naik kelas.

Desil akhirnya menjadi sesuatu yang paradoksal.

Dalam kehidupan biasa kita ingin naik. Gaji naik, usaha naik, hasil panen naik, pangkat naik, tabungan naik. Hanya satu yang belakangan justru membuat sebagian orang waswas ketika naik:

desil.

Pada Akhirnya Semua Desil Sama

Obrolan di pinggir ruwat tadi akhirnya terasa tidak terlalu aneh.

Di sana orang-orang masih memperdebatkan siapa desil tiga, siapa desil lima, siapa yang seharusnya menerima bantuan dan siapa yang dianggap sudah mampu. Ada yang merasa angka negara salah membaca kehidupannya. Ada pula yang mungkin memang lebih suka berada sedikit lebih rendah di dalam data.

Sementara lubang di depan mereka terus digali semakin dalam.

Barangkali ruwat memang tempat yang tepat untuk membicarakan desil. Sebab ia mengingatkan bahwa segala peringkat kesejahteraan itu pada akhirnya bersifat sementara.

Kelak, ketika tiba giliran masuk ke sana, tidak ada lagi desil satu atau desil sepuluh. Tidak ada penerima bantuan, tidak ada orang kaya, tidak ada yang perlu memperbaiki data.

Semua kembali berada pada kelas yang sama.

Tetapi itu urusan nanti.

Selama masih hidup, kita tetap mempunyai cita-cita yang sedikit lebih rumit:

di hadapan negara, semoga tetap desil empat.

Di hadapan tetangga, usahakan tetap desil tiga belas.

© khafi.id Terima kasih telah berkenan berpikir bersama.