Suket Jawan dan Malware
“Jika ada tumbuhan seperti padi berdiri kokoh seperti padi, meskipun lebih subur dari padi, tetapi tidak berdiri di barisan padi, maka dipastikan itu bukanlah padi. Tapi ini bukan hanya soal padi.”
Kalimat itu muncul begitu saja ketika saya sedang berdiri di pematang sawah. Tidak ada buku filsafat di tangan, tidak sedang membaca teori sosial, apalagi sengaja mencari bahan tulisan. Hanya melihat padi yang berjajar rapi, lalu entah bagaimana pikiran berjalan sendiri.
Padi ditanam dengan jarak tertentu, tumbuh dalam petak yang sudah ditentukan, mendapatkan air dan pupuk yang diatur, lalu kelak dipanen bersama-sama. Semuanya tampak biasa. Tetapi kemudian muncul pertanyaan: bagaimana kalau ada satu tumbuhan yang bentuknya seperti padi, berdiri kokoh seperti padi, bahkan tumbuh jauh lebih subur daripada padi di sekitarnya, tetapi posisinya melenceng dari barisan? Apakah ia masih padi?
Secara biologis tentu saja. Tetapi dalam logika sawah, jawabannya bisa berbeda. Ia mungkin justru akan dicabut, disiangi, atau dianggap gulma. Bukan karena ia tidak subur. Bukan karena ia tidak berguna. Dosanya cuma satu: ia tumbuh di luar barisan.
Barisan Padi dan Cara Kita Menentukan yang Normal
Barisan padi sebenarnya bukan sesuatu yang dibuat oleh padi. Padi tidak pernah bermusyawarah untuk menentukan jarak tanam, membuat garis, atau menetapkan batas petak. Manusialah yang membuat semuanya. Kita menentukan jaraknya, mengatur petaknya, memilih tanaman mana yang dipelihara dan mana yang harus dicabut. Setelah semuanya tertata, kita kemudian terbiasa menganggap keteraturan itu sebagai sesuatu yang alamiah.
Yang berdiri di dalam barisan adalah padi. Yang tumbuh di luar barisan mulai dicurigai sebagai gulma.
Sederhana.
Mungkin terlalu sederhana.
Sebab pola seperti itu ternyata tidak hanya berlaku di sawah. Masyarakat juga punya “barisan” sendiri. Ada standar tentang bagaimana seseorang seharusnya sekolah, bekerja, menikah, memiliki rumah, mempunyai anak, membangun karier, bahkan menikmati hidup.
Tanpa sadar, kita hidup dalam berbagai standar sosial yang sudah tersedia jauh sebelum kita lahir.
Standar Kesuksesan dan Tekanan Sosial
Kita mengenal jalurnya sejak kecil: sekolah, lulus, kuliah, mencari pekerjaan, mendapatkan pekerjaan tetap, menikah, punya rumah, membeli kendaraan, kemudian mencicilnya. Jalurnya sudah tersedia. Selama seseorang berjalan mengikuti garis tersebut, lingkungan biasanya akan mengangguk setuju.
Ia dianggap normal.
Ia dianggap berhasil.
Ia dianggap menjalani hidup dengan benar.
Tidak terlalu penting apakah orang yang berdiri di barisan itu sebenarnya bahagia atau tidak. Ia bisa saja setiap pagi bangun dengan perasaan berat, bekerja hanya karena takut kehilangan penghasilan, pulang dalam keadaan lelah, lalu menghabiskan akhir pekan untuk memulihkan tenaga sebelum kembali bekerja. Secara sosial, ia tetap terlihat seperti tanaman yang tumbuh sehat.
Sebab ia berada di barisan.
Di sinilah tekanan sosial bekerja dengan cara yang sering kali tidak terasa seperti tekanan. Tidak ada orang yang memaksa secara langsung. Tidak ada polisi yang datang membawa surat perintah. Tetapi ada pertanyaan-pertanyaan kecil yang terus berulang: “Kapan menikah?”, “Kapan punya rumah?”, “Kapan punya anak?”, “Kapan punya pekerjaan tetap?”
Pertanyaan itu tampak sederhana. Tetapi jika datang terus-menerus, ia bisa berubah menjadi semacam garis tancap yang mengarahkan seseorang ke jalur tertentu.
Ketika Orang yang Berbeda Dianggap Aneh
Sekarang tengok orang yang memilih tumbuh sedikit di luar garis.
Petani muda yang memilih mengelola sawah daripada mengejar pekerjaan kantoran. Pekerja lepas yang bekerja dari desa. Orang yang tidak terlalu tertarik mengejar jabatan. Pasangan yang memilih tidak mempunyai anak. Atau seseorang yang tidak ingin menghabiskan hidupnya membeli berbagai hal hanya untuk membuktikan kepada orang lain bahwa hidupnya berhasil.
Tentu saja tidak semuanya berhasil. Pilihan hidup yang berbeda bukan jaminan kebahagiaan.
Tetapi sebagian dari mereka bisa saja tumbuh jauh lebih subur: punya lebih banyak waktu, lebih bebas mengatur hidup, lebih dekat dengan keluarga, atau bahkan lebih sejahtera.
Namun keberhasilan semacam itu kadang justru terasa janggal.
Bukan karena mereka gagal.
Justru karena mereka berhasil tanpa mengikuti seluruh barisan.
Dan di situlah orang yang berbeda mulai menjadi persoalan bagi sistem sosial.
Jika seseorang ternyata bisa hidup baik tanpa mengikuti semua aturan tidak tertulis yang selama ini kita anggap wajib, kita mungkin terpaksa bertanya: jangan-jangan beberapa hal yang selama ini kita sebut “keharusan” sebenarnya hanya kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Pertanyaan semacam itu tidak selalu nyaman. Sebab ia bisa membuat kita menengok kembali pengorbanan yang sudah dilakukan untuk tetap berada di barisan.
Software, Malware, dan Siapa yang Berhak Memberi Label
Barangkali logika yang sama bisa ditemukan di tempat yang jauh dari sawah: dunia software.
Sebuah program dari pengembang yang tidak dikenal bisa melakukan sesuatu yang dianggap mencurigakan—mengakses sistem, berjalan di latar belakang, mengubah konfigurasi, mengirim data, atau melakukan pembaruan otomatis. Kita bisa menyebutnya malware, riskware, atau setidaknya sesuatu yang patut dicurigai.
Tetapi ketika aktivitas yang kurang lebih mirip dilakukan oleh software yang sudah berada dalam ekosistem yang dipercaya, istilahnya bisa berubah menjadi fitur, layanan, telemetry, atau background process.
😂
Tentu saja bukan berarti software resmi pasti buruk dan software dari luar pasti baik. Persoalannya bukan itu. Yang menarik adalah bagaimana legitimasi ikut menentukan nama.
Sebuah tindakan tidak hanya dinilai berdasarkan apa yang dilakukan, tetapi juga berdasarkan siapa yang melakukannya dan di mana ia berdiri.
Dan ternyata manusia juga tidak jauh berbeda.
Ketika Identitas Lebih Penting daripada Isi
Kita sering tidak cukup melihat apakah seseorang benar-benar kompeten. Kita ingin tahu ia lulusan mana.
Tidak cukup seseorang mempunyai pengetahuan. Kita ingin tahu gelarnya.
Tidak cukup gagasannya masuk akal. Kita ingin tahu ia berbicara dari lembaga mana.
Bahkan kritik yang sebenarnya benar bisa lebih dahulu dicurigai hanya karena datang dari orang yang dianggap “bukan bagian dari kita”.
“Dia orang mana?”
“Kelompoknya apa?”
“Siapa gurunya?”
“Organisasinya apa?”
Baru setelah itu kita menentukan apakah perkataannya layak didengar.
Padahal mungkin yang sedang kita lakukan bukan menilai gagasannya.
Kita sedang memeriksa barisannya.
Ini bukan berarti aturan, lembaga, gelar, sertifikasi, atau organisasi tidak penting. Semua itu mempunyai fungsi. Masalahnya muncul ketika identitas dan posisi seseorang menjadi ukuran yang lebih penting daripada apa yang sebenarnya ia katakan atau kerjakan.
Apakah Semua yang di Luar Barisan Harus Dibenarkan?
Tentu tidak.
Tidak semua yang berbeda adalah baik. Tidak semua yang berada di luar sistem adalah pembaharu. Tidak semua tanaman liar harus dipelihara. Dan tidak semua aturan adalah kebodohan.
Barisan diperlukan.
Sistem diperlukan.
Aturan diperlukan.
Tanpa itu semua, kehidupan mungkin justru menjadi kacau.
Masalahnya muncul ketika kita mulai menganggap bahwa yang berada di dalam barisan pasti benar, sedangkan yang berada di luar barisan pasti salah.
Pada titik itu, barisan tidak lagi sekadar membantu kita mengatur. Ia mulai menentukan cara kita melihat dunia.
Sesuatu tidak diperiksa terlebih dahulu untuk mengetahui apakah ia baik atau buruk. Ia lebih dahulu dilihat posisinya.
Kalau berada di dalam, aman.
Kalau berada di luar, mencurigakan.
Siapa yang Membuat Barisan?
Mungkin itu sebabnya menjadi berbeda sering terasa lebih mahal daripada sekadar menjadi berbeda. Ada harga sosialnya. Ada komentar, pertanyaan, cibiran, bahkan kadang usaha untuk mengembalikan kita ke garis.
“Kenapa tidak seperti yang lain?”
“Kenapa harus begitu?”
“Memangnya tidak bisa mengikuti yang umum?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi kadang membawa pesan yang sangat jelas:
Kembalilah ke barisan.
Sebab manusia memang lebih nyaman melihat sesuatu berada pada tempatnya. Kita lebih tenang ketika semua tanaman tumbuh lurus, semua orang mempunyai jalur yang hampir sama, dan semua orang menggunakan ukuran keberhasilan yang sama.
Sejak pikiran itu muncul di sawah, saya jadi sedikit curiga kepada kata “normal”.
Normal menurut siapa?
Benar menurut siapa?
Salah menurut siapa?
Bermanfaat untuk siapa?
Dan yang paling penting:
Siapa yang membuat barisannya?
Sebab barisan tidak pernah sekadar barisan. Ia menentukan siapa yang terlihat sebagai tanaman, siapa yang terlihat sebagai gulma, siapa yang dianggap tumbuh dengan benar, dan siapa yang harus dicabut sebelum sempat menjelaskan mengapa ia tumbuh di sana.
Mungkin persoalannya memang bukan apakah kita padi atau bukan. Mungkin kita terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya karena melihat di mana ia berdiri.
Padahal bisa saja ia memang padi.
Hanya saja ia tumbuh di luar garis yang kita buat.
Dan kalau ternyata ia tumbuh lebih subur daripada padi yang berjajar rapi di sebelahnya, mungkin yang perlu kita periksa bukan tanamannya.
Mungkin garisnya.
Filsuf Michel Foucault banyak membahas bagaimana kekuasaan tidak hanya bekerja dengan melarang, tetapi juga melalui norma—menentukan apa yang dianggap normal, wajar, menyimpang, atau tidak dapat diterima. Dalam kerangka itu, barisan padi menjadi metafora yang cukup sederhana tentang bagaimana sebuah sistem bekerja: ia tidak harus mencabut semua yang berbeda. Cukup dengan membuat kita percaya bahwa hanya ada satu cara untuk tumbuh dengan benar.
Dan mungkin di situlah persoalannya.
Kita terlalu sibuk memastikan semua padi berdiri dalam barisan, sampai lupa bertanya siapa yang pertama kali menggambar garisnya.
Sebab kadang-kadang yang perlu disiangi bukan tanamannya, melainkan keyakinan kita bahwa hanya tanaman yang berdiri di dalam barisan yang berhak disebut padi.

Join the conversation