Presiden yang Lebih Percaya pada Kartun

Saya selalu percaya bahwa komedi yang baik bukanlah komedi yang membuat kita tertawa. Melainkan komedi yang membuat kita tertawa terlebih dahulu, lalu perlahan kehilangan alasan untuk tertawa.

Begitulah saya mengingat salah satu adegan dalam film The Dictator yang dibintangi Sacha Baron Cohen. Di sebuah laboratorium, seorang ilmuwan nuklir bernama Nadal berusaha menjelaskan sesuatu yang sangat sederhana kepada Aladeen, penguasa Republik Wadiya. Bahwa bentuk hulu ledak tidak menentukan kekuatan ledakannya. Penjelasannya ilmiah, rasional, dan berdasarkan disiplin yang memang ia tekuni seumur hidup.

Namun Aladeen menolak mentah-mentah. Baginya, rudal harus dibuat runcing. Lebih gagah. Lebih menyeramkan. Titik.

Nadal mulai curiga. Dari mana sebenarnya sang penguasa memperoleh pengetahuan tentang senjata nuklir? Jawabannya justru mengundang tawa: dari film kartun.

Adegan itu memang lucu. Akan tetapi, seperti kebanyakan satire yang baik, ia tidak berhenti pada kelucuan. Di balik gelak tawa, film itu sedang mengajukan pertanyaan yang jauh lebih serius: apa yang terjadi ketika seorang penguasa berhenti mempercayai ilmu pengetahuan?

Ketika Ilmu Hanya Menjadi Pelengkap

Sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan sebuah bangsa jarang diawali oleh kekurangan orang-orang pintar. Akademisi tetap ada. Peneliti tetap bekerja. Para ahli tetap menyusun kajian. Data tetap dikumpulkan.

Yang berubah adalah hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan.

Ilmu tidak lagi dipanggil untuk menguji sebuah gagasan. Ia dipanggil untuk membenarkan gagasan yang telah diputuskan sebelumnya. Ahli hadir, tetapi hanya sebagai pelengkap legitimasi. Pendapat mereka didengar sejauh mendukung keputusan yang telah dibuat.

Filsuf ilmu pengetahuan Karl Popper pernah mengingatkan bahwa ilmu berkembang bukan karena seseorang merasa paling benar, melainkan karena setiap teori harus selalu terbuka terhadap kritik dan kemungkinan salah. Dalam ilmu pengetahuan, kesalahan bukanlah musuh. Justru kesediaan mengoreksi kesalahan adalah syarat kemajuan.

Sayangnya, logika kekuasaan sering berjalan sebaliknya. Kekuasaan menyukai kepastian. Ia cenderung lebih nyaman dengan keyakinan daripada keraguan. Padahal keraguan yang sehat sering kali menjadi pintu lahirnya kebijakan yang lebih matang.

Ketika Visi Tidak Lagi Berdialog dengan Fakta

Belakangan ini kita sering menyaksikan bagaimana kebijakan-kebijakan besar lahir dengan narasi optimisme yang begitu kuat. Visi memang penting. Tidak ada bangsa yang dapat berjalan tanpa visi.

Namun visi saja tidak pernah cukup.

Visi membutuhkan data. Keberanian membutuhkan koreksi. Keyakinan membutuhkan verifikasi.

Ketika sebuah kebijakan lebih banyak dijelaskan melalui narasi daripada argumentasi, ketika kritik dipandang sebagai penghambat, dan ketika pertanyaan dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan, maka ruang dialog perlahan mengecil. Kebijakan publik kehilangan salah satu penyangga terpentingnya: kemampuan untuk dikoreksi.

Adegan Aladeen menolak penjelasan Nadal sebenarnya sedang memperlihatkan bahaya itu. Masalahnya bukan semata-mata karena ia tidak memahami ilmu nuklir. Masalah yang jauh lebih serius adalah ia tidak merasa perlu belajar kepada orang yang memang memahami ilmu tersebut.

Orang yang tidak tahu masih dapat belajar. Tetapi orang yang merasa sudah tahu biasanya berhenti mendengarkan.

Realitas Tidak Pernah Tunduk kepada Pidato

Filsuf politik Hannah Arendt pernah menunjukkan bahwa salah satu kecenderungan kekuasaan yang kehilangan arah adalah ketika ia mulai membangun dunianya sendiri, dunia yang lebih dipenuhi narasi daripada kenyataan.

Masyarakat mungkin mengeluhkan harga kebutuhan pokok. Sebagian orang merasakan lapangan pekerjaan yang semakin sulit. Sebagian lainnya merasa daya beli terus menurun. Semua itu adalah pengalaman yang nyata bagi mereka yang mengalaminya.

Karena itu, tugas seorang pemimpin bukan sekadar mengatakan bahwa keadaan baik-baik saja. Tugasnya adalah memastikan bahwa optimisme yang ia bangun tetap berpijak pada kenyataan. Sebab kenyataan tidak pernah tunduk kepada pidato. Kenyataan hanya tunduk kepada fakta.

Belajar dari Sebuah Film Satire

Mungkin itulah sebabnya The Dictator masih terasa relevan hingga sekarang. Film itu bukan semata-mata mengejek seorang diktator dari negara fiktif. Ia sedang menyindir watak kekuasaan yang selalu mungkin muncul di mana pun: merasa tidak lagi membutuhkan koreksi.

Padahal sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memiliki mimpi besar. Bangsa juga membutuhkan pemimpin yang bersedia menguji mimpinya di hadapan data, ilmu pengetahuan, dan kritik yang jujur.

Pada akhirnya, tidak ada bangsa yang runtuh hanya karena kekurangan mimpi. Banyak bangsa justru mengalami kemunduran ketika para pemimpinnya mulai lebih mempercayai keyakinannya sendiri daripada kenyataan yang berbicara di hadapan mereka.

Barangkali di situlah letak satire paling tajam dari The Dictator. Kita tertawa melihat Aladeen belajar nuklir dari kartun. Namun setelah tawa itu reda, film tersebut diam-diam bertanya kepada kita: apakah dalam kehidupan nyata, kita sungguh telah memastikan bahwa setiap kebijakan lahir dari pengetahuan, atau jangan-jangan hanya dari keyakinan yang kebetulan memiliki kekuasaan?

© Khafi.id

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berpikir bersama.

Post a Comment for "Presiden yang Lebih Percaya pada Kartun"