Jika Hidup di Zaman Nabi, Jangan-Jangan Kita Malah Jadi Pengikut Abu Lahab
Belakangan kutipan berikut ini cukup sering muncul di status WhatsApp:
“Penak ya yen urip neng jamane Kanjeng Nabi. Yen enek opo-opo iso cerito neng Kanjeng Nabi. Yen enek masalah, nyedek Kanjeng Nabi, ati iso ayem tentrem.”
Narasi seperti ini memang indah. Bahkan sangat menyejukkan. Membayangkan hidup pada zaman Rasulullah, ketika ada masalah tinggal sowan, ada ganjalan batin tinggal menyampaikan, lalu hati menjadi tenang karena bisa langsung mendekat kepada manusia yang paling kita cintai.
Saya pun bisa memahami kerinduan itu.
Tetapi setelah membaca beberapa status semacam itu, saya malah ingin berhenti sebentar.
Tarik napas.
Lalu mbatin:
"Cermin mana cermin?"
Mari kita lihat dapurane awake dhewe tanpa tanding, tanpa merasa lebih baik daripada orang lain.
Sebab muncul pertanyaan yang agak mengganggu:
Kalau benar-benar dilempar hidup ke Makkah abad ke-7, apakah kita akan otomatis berbaris rapi di belakang Kanjeng Nabi?
Saya sendiri tidak berani menjawab iya.
Dengan kapasitas iman yang kadang tipisnya mirip tisu dibagi dua, jangan-jangan saya justru termasuk rombongan pertama yang memilih jalan paling aman. Bukan karena membenci Nabi. Bukan pula karena tidak percaya. Tetapi karena takut kehilangan kenyamanan.
Jangan-jangan kita akan berkata, “Saya sebenarnya percaya, tetapi jangan terang-terangan dulu.”
Atau, “Saya mendukung dalam hati.”
Atau versi paling modern, “Saya tidak mau ikut terlalu jauh. Situasinya sedang sensitif.”
š
Ujian Gerimis Kecil dan Batu Terik Makkah
Kita sering membayangkan para sahabat sebagai manusia dengan keberanian iman yang luar biasa. Dan memang demikian adanya.
Tetapi menjadi pengikut Kanjeng Nabi pada masa itu bukan sekadar mengganti status keyakinan. Ada konsekuensi nyata yang harus ditanggung.
Ada tekanan keluarga, pengucilan, kehilangan harta, ancaman, bahkan penyiksaan.
Kisah Sayyidina Bilal bin Rabah menjadi salah satu contoh yang paling sulit kita lupakan.
Hari ini nama Bilal terdengar begitu mulia. Kita mengenalnya sebagai sahabat Nabi dan muazin Rasulullah. Kita menyebut namanya dengan penuh penghormatan.
Tetapi sebelum menjadi nama yang harum dalam sejarah, Bilal adalah manusia yang harus menanggung siksaan karena mempertahankan keyakinannya.
Ia tidak sedang diuji dengan pertanyaan apakah konsumsi majelisnya enak atau tidak.
Ia diuji dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: apakah keyakinan masih akan dipertahankan ketika mempertahankannya membuat hidup menjadi sangat tidak nyaman?
Sekarang coba kita lihat diri sendiri.
Gerimis sedikit, niat berjamaah mulai goyah.
Imam membaca surat agak panjang, kita mulai aras-arasen.
Mikrofon masjid feedback sedikit, telinga langsung tidak nyaman.
Sandal tertukar, mood beribadah bisa rusak seharian.
Belum lagi kalau tempat duduk kurang nyaman.
š
Ambang ketidaknyamanan kita kadang memang sangat rendah.
Lalu dengan percaya diri kita mengatakan, “Andai saya hidup pada zaman Nabi, pasti saya akan ikut beliau.”
Lha, jangankan ditindih batu di terik Makkah.
Kena gerimis saja kadang kita sudah sibuk mencari alasan.
Filter Prasmanan dalam Mencari Berkah
Di sinilah saya merasa ada ironi kecil dalam cara kita membayangkan kedekatan dengan Kanjeng Nabi.
Kita sering mengatakan ingin hidup pada zaman beliau karena membayangkan betapa tenangnya hidup jika bisa langsung bertanya dan sowan kepada Rasulullah.
Tetapi dalam kehidupan sekarang, kadang kita sendiri memilih majelis berdasarkan ukuran-ukuran yang sangat duniawi.
Majelis yang hidangannya istimewa lebih menarik.
Yang tempatnya nyaman lebih menggoda.
Yang penceramahnya terkenal lebih ramai.
Yang dihadiri para tokoh dan orang-orang penting terasa lebih bergengsi.
Sedangkan majelis kecil di mushala kampung, dengan teh hangat dan kerupuk kaleng, kadang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan perhatian kita.
Ini bukan berarti makanan tidak boleh menjadi pertimbangan.
Nasi tetap nasi. Lauk tetap lauk. Dan orang datang ke majelis dalam keadaan lapar juga bukan dosa.
Masalahnya bukan pada nasi.
Masalahnya adalah ketika berkat mulai menjadi semacam filter dalam menentukan ke mana kaki kita mau melangkah.
Kita bahkan bisa menjadi sangat selektif.
“Majelise neng endi?”
“Sing rawuh sapa?”
“Pengisi acarane siapa?”
“Entuk konsumsi ora?”
Kalau semua jawabannya meyakinkan, langkah kaki mendadak mantap.
Kalau jawabannya tidak menarik, tiba-tiba ada urusan keluarga.
š
Kemudian kita masih bisa menulis status:
“Penak ya hidup di zaman Kanjeng Nabi...”
Saya jadi curiga.
Jangan-jangan kalau benar-benar hidup pada zaman itu, sebelum menentukan akan ikut siapa, kita tetap akan ndelok menune dhisik.
Ketika Elite Juga Menjadi Bagian dari Romantisme
Yang membuat persoalan ini semakin menarik adalah ketika ukuran tersebut tidak hanya berlaku di kalangan jamaah biasa.
Kadang majelis yang dihadiri para tokoh, orang-orang berpengaruh, atau elite tertentu justru mendapatkan daya tarik tersendiri.
Bukan karena ilmu yang disampaikan lebih benar. Bukan pula otomatis karena keberkahan lebih besar.
Tetapi karena ada semacam gengsi sosial yang ikut menempel.
Akhirnya kita tidak hanya mencari majelis.
Kita mencari siapa yang ada di majelis itu.
Dan di titik tertentu, romantisme terhadap Kanjeng Nabi bisa berubah menjadi romantisme terhadap orang-orang yang dianggap dekat dengan beliau.
Kita mengagumi kesederhanaan Nabi, tetapi kadang lebih tertarik kepada majelis yang fasilitasnya tidak sederhana.
Kita memuji Bilal yang rela kehilangan kenyamanan demi iman, tetapi kita sendiri masih sibuk menghitung kenyamanan sebelum berangkat.
Tentu ini bukan tuduhan kepada siapa pun.
Ini adalah cermin.
Dan kalau cermin itu terlalu jujur, ya memang kadang wajah kita sendiri yang membuat kita tidak nyaman.
Kita Beruntung Tidak Hidup di Masa Itu
Mungkin justru kita perlu berhenti meromantisasi zaman Nabi sebagai zaman yang “enak”.
Benar, alangkah indahnya membayangkan bisa bertemu Rasulullah.
Tetapi jangan lupa: hidup di zaman beliau juga berarti hidup ketika iman belum menjadi sejarah yang selesai.
Kita sekarang punya kemewahan yang luar biasa.
Kita sudah tahu bahwa Nabi berada di jalan yang benar.
Kita sudah tahu bagaimana sejarah berakhir.
Kita tahu siapa Bilal.
Kita tahu siapa Abu Jahal.
Kita tahu bahwa Islam akhirnya menjadi agama yang dianut jutaan manusia.
Sedangkan mereka yang hidup pada masa itu harus mengambil keputusan ketika semuanya masih berlangsung.
Mereka tidak memiliki spoiler sejarah seperti kita.
Karena itu, mungkin lebih tepat jika kita bersyukur hidup di zaman sekarang.
Bukan karena zaman kita lebih mulia.
Bukan pula karena ujian kita lebih ringan.
Tetapi karena kita telah diberi begitu banyak kemudahan untuk mengenal Islam.
Kita tidak perlu menunggu wahyu.
Tidak perlu mencari seseorang yang pernah bertemu Rasulullah untuk bertanya tentang ajaran beliau.
Al-Qur’an ada.
Hadis ada.
Kitab-kitab ulama ada.
Masjid ada.
Majelis ilmu ada.
Dan hidayah bahkan bisa sampai ke layar ponsel kita ketika kita sedang rebahan.
Masalahnya justru di situ.
Kemudahan juga bisa menjadi ujian.
Kita tidak disiksa seperti Bilal.
Tetapi apakah kita mampu mempertahankan iman ketika tidak ada seorang pun yang memaksa kita meninggalkannya?
Kita tidak ditindih batu di tengah padang pasir.
Tetapi apakah kita mampu menahan diri ketika dunia menawarkan keuntungan dengan syarat kita mengorbankan sedikit prinsip?
Kita tidak diusir dari kampung karena mengikuti Nabi.
Tetapi apakah kita berani tetap melakukan yang benar ketika pilihan itu membuat kita tidak populer?
Barangkali itulah bentuk ujian kita.
Bukan batu besar di atas dada.
Kadang justru hal-hal kecil yang kelihatannya sepele.
Status sosial.
Kenyamanan.
Konsumsi.
Pujian.
Kedekatan dengan orang penting.
Dan tentu saja...
Nasi kotak.
š
Jangan-Jangan Kita Bukan Bilal
Karena itu, saya tidak terlalu percaya diri mengatakan bahwa seandainya hidup pada zaman Nabi, saya pasti akan menjadi pengikut beliau.
Saya justru lebih nyaman mengakui kemungkinan sebaliknya.
Dengan iman yang masih kembang-kempis, saya mungkin saja menjadi orang yang memilih jalan aman.
Mungkin saya akan menunggu keadaan.
Mungkin saya akan melihat siapa yang menang.
Mungkin saya akan berkata, “Nanti saja kalau situasinya sudah jelas.”
Dan mungkin, kalau pada zaman itu sudah ada grup WhatsApp, saya akan menjadi orang yang rajin membagikan status:
“Penak ya hidup di zaman Kanjeng Nabi. Kalau ada masalah tinggal sowan, hati langsung ayem...”
Sementara di luar rumah, saya masih sibuk mencari majelis mana yang konsumsi dan fasilitasnya paling meyakinkan.
š
Maka mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk berandai-andai ingin hidup pada zaman Nabi.
Sebab kita sudah diberi kesempatan untuk mencintainya dari zaman kita sendiri.
Kita mungkin tidak pernah melihat wajah beliau. Tidak pernah mendengar suara beliau. Tidak pernah duduk di hadapan beliau. Bahkan, kalau jujur kepada diri sendiri, kita pun belum tentu memiliki keteguhan iman seperti Bilal, kesetiaan seperti para sahabat, atau kesungguhan seperti orang-orang yang hidup bersama beliau.
Tetapi anehnya, di antara jarak empat belas abad itu, ada sesuatu yang tetap membuat kita ingin menyebut namanya.
Ketika nama beliau disebut, kita bershalawat.
Ketika bulan Maulud tiba, kita berkumpul.
Kita membaca kisah hidupnya, menyenandungkan pujian kepadanya, dan mengulang-ulang nama yang mungkin belum pernah kita lihat dengan mata, tetapi begitu akrab di hati.
Mungkin begitulah cinta seorang umat kepada nabinya.
Tidak sempurna.
Kadang masih bercampur dengan kepentingan, kenyamanan, gengsi, bahkan urusan nasi kotak.
š
Tetapi mudah-mudahan, di balik segala kekurangan itu, ada kerinduan yang sungguh-sungguh.
Kerinduan untuk menjadi umat yang beliau kenali.
Umat yang ketika disebut, membuat beliau tidak berpaling.
Umat yang meskipun jauh dari sempurna, tetap berusaha berjalan di jalan yang beliau ajarkan.
Maka di bulan Maulud ini, barangkali kita tidak perlu terlalu banyak mengaku bahwa seandainya hidup pada zaman beliau kita pasti akan menjadi Bilal.
Cukup kita berdoa agar di zaman kita sendiri, dengan segala kelemahan dan segala kemudahan yang kita miliki, kita tidak kehilangan jalan yang beliau tunjukkan.
Dan jika suatu hari kelak kita benar-benar berjumpa dengan beliau, semoga kita tidak datang sebagai orang yang hanya pandai mengatakan pernah mencintainya, tetapi sebagai umat yang berusaha membawa sedikit saja dari akhlak dan ajarannya dalam kehidupan.
Sebab mungkin kita tidak pantas berharap banyak.
Tetapi sebagai umat, kita selalu punya satu keberanian kecil: berharap dicintai oleh Nabi yang kita cintai.
Maka biarlah segala kelakar dan cermin tadi berhenti di sini.
Kita tundukkan kepala.
Kita kirimkan sholawat kepada manusia yang namanya membuat hati jutaan umat bergetar, meski tidak pernah melihat wajahnya.
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.
Semoga sholawat itu sampai sebagai tanda cinta.
Dan semoga cinta yang sederhana dari umat yang serba kurang ini, kelak menjadi alasan bagi kita untuk mendapatkan syafaatnya.
Amin.
© Khafi.id
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berpikir bersama.

Post a Comment for "Jika Hidup di Zaman Nabi, Jangan-Jangan Kita Malah Jadi Pengikut Abu Lahab"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.