Ketika Tuhan Dibunuh di Tengah Qosidah Burdah
Saya selalu curiga kepada kalimat “Tuhan telah mati.” Bukan karena hendak membantah Nietzsche, tetapi karena ada satu persoalan yang terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana kalau setelah Tuhan kita bunuh, yang naik takhta justru hawa nafsu kita sendiri?
Sebab manusia tampaknya tidak pernah benar-benar nyaman hidup tanpa tuan. Ketika satu otoritas disingkirkan, sering kali kita hanya mencari penggantinya. Tuhan mungkin kita usir dari pusat kesadaran, tetapi kemudian ego mengambil tempat-Nya. Hasrat menggantikannya. Uang menjadi tuhan kecil. Kekuasaan menjadi sesembahan baru. Bahkan algoritma media sosial perlahan belajar menjadi penguasa atas perhatian kita.
Di sinilah saya teringat pada sebuah ironi: saat pemilik kalimat “Tuhan telah mati” berqosidah Burdah.
Sepintas, keduanya seperti tidak mungkin dipertemukan. Di satu sisi ada Friedrich Nietzsche, filsuf yang mengguncang fondasi moralitas keagamaan dengan pernyataan terkenalnya tentang kematian Tuhan. Di sisi lain ada Imam Al-Bushiri, penyair yang menulis Qasidah Burdah, sebuah karya yang penuh cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Jika keduanya dipertemukan sebagai perdebatan teologi, barangkali tidak akan pernah selesai. Nietzsche akan mencurigai agama sebagai sesuatu yang berpotensi menjadikan manusia tunduk pada nilai yang diwariskan dan membatasi daya hidupnya. Al-Bushiri, dari horizon spiritualnya, tentu melihat manusia yang kehilangan Tuhan sebagai jiwa yang kehilangan arah dan tambatan cinta.
Tetapi mari kita tinggalkan sebentar pertengkaran dogmatis itu. Kita masuk ke sebuah lorong yang lebih sunyi: lorong jiwa manusia.
Di sana, tiba-tiba sebuah bait Burdah terdengar sangat relevan:
وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى
حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
“Wa an-nafsu kal-thifli in tuh milhu syabba ‘ala
hubbi ar-radha’i wa in taftimhu yanfaṭimi.”
Nafsu itu seperti anak kecil. Jika engkau biarkan, ia akan terus mencintai susu. Tetapi jika engkau menyapihnya, ia pun akan berhenti menyusu.
Al-Bushiri menggunakan metafora yang sederhana, tetapi sangat dalam. Bayi tidak memiliki kemampuan untuk mengatakan, “Aku sudah cukup.” Ia hanya mengenal keinginan dan pemuasan. Haus, menangis. Diberi susu, diam. Lapar, meminta lagi.
Masalahnya muncul ketika pola itu dibawa sampai dewasa.
Manusia yang selalu menuruti keinginannya mungkin bertambah umur, tetapi belum tentu bertambah dewasa. Tubuhnya dewasa, pengetahuannya bertambah, rekeningnya mungkin membesar, tetapi mekanisme jiwanya masih seperti bayi: ingin, lalu harus mendapatkan.
Karena itu, bagi Al-Bushiri, nafsu tidak cukup dibiarkan tumbuh. Ia perlu disapih.
Dan bukankah dunia modern justru bekerja dengan cara sebaliknya?
Kita terus diberi “susu”. Iklan menawarkan sesuatu yang belum kita butuhkan. Media sosial memberikan rangsangan yang tidak pernah selesai. Algoritma mempelajari apa yang membuat kita bertahan lebih lama di depan layar. Pasar mengubah keinginan menjadi kebutuhan, lalu kebutuhan menjadi identitas.
Kita merasa sedang memilih dengan bebas. Padahal jangan-jangan kita hanya sedang memilih dari daftar keinginan yang telah dibuatkan orang lain.
Di titik inilah Nietzsche dan Al-Bushiri, meskipun tidak pernah benar-benar berjalan menuju tujuan yang sama, dapat berpapasan.
Nietzsche tidak mengajarkan kebebasan sebagai sekadar menuruti semua keinginan. Justru manusia yang selalu bereaksi terhadap dorongan sesaat bukanlah manusia yang telah selesai dengan dirinya. Dalam gagasan Selbstüberwindung, manusia dituntut untuk melampaui dirinya sendiri, mengolah kekuatan dan dorongan dalam dirinya, bukan sekadar menjadi budaknya.
Sementara dalam tradisi Islam, disiplin terhadap nafsu dikenal melalui mujahadah dan riyadhatun nafs. Nafsu tidak harus dimusnahkan, tetapi harus dididik agar tidak mengambil alih singgasana jiwa.
Di sini keduanya bertemu pada satu perkara: kebebasan bukan berarti melakukan segala sesuatu yang kita inginkan.
Justru ada bentuk perbudakan yang paling halus: ketika kita merasa bebas karena dapat mengikuti semua keinginan kita.
Tetapi setelah itu, jalan Nietzsche dan Al-Bushiri kembali berpisah.
Nietzsche membawa pengatasan diri menuju otonomi manusia: keberanian untuk berdiri sendiri, menciptakan nilai, dan tidak menggantungkan keberadaan pada otoritas transenden. Al-Bushiri membawa penyapihan nafsu menuju penyucian jiwa, mahabbah, dan penyerahan diri kepada Allah.
Nietzsche menyapih manusia agar ia mampu berdiri tanpa penopang transenden. Al-Bushiri menyapih manusia agar ia mampu berdiri di hadapan Yang Transenden.
Jalannya bersinggungan, tetapi tujuan akhirnya berbeda.
Maka mungkin Zarathustra tidak perlu berdebat ketika mendengar Burdah. Ia cukup duduk sebentar dan mendengarkan bait “an-nafsu kal-thifli...” Barangkali ia tidak ikut bershalawat. Barangkali ia tetap menolak seluruh bangunan metafisika yang dibawa Al-Bushiri.
Tetapi ia mungkin akan memahami satu hal: manusia tidak menjadi merdeka hanya karena berhasil membebaskan dirinya dari Tuhan.
Ia masih harus membebaskan dirinya dari keserakahan, ego, ketakutan, kebutuhan akan pengakuan, dan keinginan yang tidak pernah selesai.
Sebab bisa jadi setelah satu tuan kita singkirkan, kita hanya sedang mempersiapkan singgasana untuk tuan yang lain.
Dan mungkin pertanyaan paling penting dari kalimat “Tuhan telah mati” bukanlah apakah Tuhan benar-benar mati atau tidak.
Pertanyaannya jauh lebih mengganggu:
Jika Tuhan kita anggap telah mati, siapa yang sekarang menjadi tuan di dalam diri kita?
Al-Bushiri mungkin telah memberi jawabannya berabad-abad lalu, melalui gambaran seorang bayi yang tidak pernah mau berhenti menyusu.
Nafsu itu seperti anak kecil.
Dan barangkali sebagian dari kita memang sudah dewasa secara usia, tetapi belum pernah benar-benar disapih.
Barangkali pula Nietzsche benar bahwa manusia modern telah membunuh Tuhan—setidaknya dalam kesadarannya. Tetapi Al-Bushiri mengajukan persoalan yang mungkin lebih merepotkan: setelah Tuhan diturunkan dari singgasana, siapa yang kita dudukkan di sana?
Akal? Kebebasan? Kekuasaan? Uang? Algoritma? Atau nafsu kita sendiri?
Sebab membunuh Tuhan ternyata belum tentu membuat manusia merdeka. Bisa jadi kita hanya mengganti tuan.
Dan ketika Burdah sampai pada bait “an-nafsu kal-thifli”, barangkali Zarathustra perlu diam sebentar.
Bukan karena Tuhan tiba-tiba hidup kembali dalam filsafatnya, tetapi karena ia menemukan seorang bayi dalam dirinya yang ternyata belum selesai disapih.

Join the conversation