Merayakan Ala Kadarnya, Sebab Perjuangan Belum Selesai

Setiap kali bulan Agustus tiba, bendera merah putih kembali berkibar di halaman rumah. Jalan-jalan kampung mulai ramai. Musik perayaan diputar, perlombaan digelar, anak-anak berlarian mengejar hadiah, sementara orang-orang dewasa sibuk menyiapkan berbagai macam acara. Sesekali kita tertawa lebih lepas dari biasanya. Rasanya memang menyenangkan.

Tidak ada yang salah dengan itu. Kemerdekaan adalah kabar baik. Kemerdekaan adalah kebahagiaan. Setelah melewati sejarah yang panjang dan berdarah, tentu kita berhak bergembira.

Namun, di tengah semua kegembiraan itu, barangkali ada baiknya kita mengingat satu hal: kemerdekaan bukan pekerjaan yang sudah selesai.

Sebab kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Ia diraih dengan darah, keringat, kehilangan, dan nyawa. Banyak orang meninggal agar kita yang lahir jauh setelah mereka dapat hidup tanpa harus tunduk kepada bangsa lain. Mereka kehilangan anak, orang tua, rumah, harta, bahkan masa depan. Mereka mempertaruhkan sesuatu yang paling mahal agar generasi sesudahnya dapat merasakan sesuatu yang mungkin tidak sempat mereka nikmati sendiri.

Maka, ketika kita merayakan kemerdekaan, sesekali barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa mereka dahulu mati?

Kita Sampai di Depan Pintu

Ada sesuatu yang menarik dalam Pembukaan UUD 1945. Di sana disebutkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia telah “mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia.”

Perhatikan baik-baik: ke depan pintu gerbang.

Bukan dikatakan bahwa seluruh pekerjaan bangsa telah selesai. Bukan pula dikatakan bahwa setelah pintu gerbang itu berdiri, kita boleh duduk santai dan menganggap semua persoalan telah beres.

Barangkali di sinilah kita sering keliru memahami kemerdekaan.

Kita terlalu sibuk merayakan keberhasilan sampai di depan pintu, tetapi lupa bahwa sebuah pintu tentu dibuat untuk dilewati.

Dan jangan-jangan, selama puluhan tahun kita justru terlalu sibuk mengecat pintunya. Membuat gapura. Memasang bendera. Mengadakan lomba di halaman. Berpidato tentang betapa hebatnya bangsa ini telah berhasil sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan.

Sementara rakyat masih berdiri di luar.

😁

Tentu saja ini bukan berarti Indonesia belum merdeka. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah fakta sejarah yang tidak perlu diperdebatkan. Indonesia telah menjadi negara merdeka dan berdaulat.

Yang belum selesai adalah pekerjaan memaknai kemerdekaan itu sendiri.

Sebab kemerdekaan politik hanyalah salah satu pintu. Setelahnya masih ada pekerjaan besar: memastikan rakyat dapat hidup layak, memperoleh pendidikan, mendapatkan pelayanan kesehatan, memperoleh keadilan, bekerja dengan manusiawi, dan tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh kekuasaan.

Ketika Penjajahan Berganti Wajah

Penjajah asing memang telah pergi. Belanda, Jepang, dan kekuatan kolonial lainnya akhirnya meninggalkan panggung sejarah. Tetapi kepergian penjajah tidak otomatis membuat seluruh bentuk penindasan ikut pergi.

Penindasan dapat berganti wajah. Ia dapat berganti bahasa, seragam, bahkan nama. Dulu ia datang dari seberang lautan. Kini, bentuk-bentuk penindasan bisa saja muncul dari rumah sendiri.

Pemerintah tentu bukan penjajah. Negara tetap dibutuhkan. Kekuasaan publik diperlukan untuk mengatur kehidupan bersama. Tetapi kekuasaan kehilangan alasan moralnya ketika berubah menjadi alat memperkaya segelintir orang, sementara rakyat harus terus membayar akibatnya.

Korupsi, misalnya, bukan sekadar soal uang negara yang hilang. Di balik angka-angka dalam laporan keuangan, ada sekolah yang tidak dibangun, pelayanan yang tidak diperbaiki, jalan yang dibiarkan rusak, bantuan yang tidak sampai, dan kesempatan hidup yang dirampas dari orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa yang telah mengambil hak mereka.

Di titik inilah gagasan Tan Malaka tentang Merdeka 100% terasa masih relevan. Kemerdekaan tidak cukup hanya berarti terbebas dari penjajahan asing. Selama rakyat masih mengalami pemerasan dan penindasan, termasuk oleh bangsanya sendiri, pekerjaan kemerdekaan belumlah selesai.

Sebab apa artinya sebuah bangsa telah merdeka jika sebagian rakyatnya masih belum merdeka dari kemiskinan? Apa artinya bendera telah berkibar tinggi jika orang kecil masih takut berhadapan dengan kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin terasa tidak nyaman. Tetapi barangkali memang begitulah seharusnya sebuah peringatan kemerdekaan bekerja: bukan hanya membuat kita gembira, melainkan juga membuat kita berpikir.

Merayakan Ala Kadarnya

Maka, kalau tahun ini kita ingin merayakan kemerdekaan ala kadarnya, tidak perlu merasa bersalah.

Pasang saja bendera di depan rumah. Ikuti lomba jika ingin. Berkumpullah dengan tetangga. Makan bersama. Tertawalah. Anak-anak boleh berlarian mengejar hadiah. Orang-orang tua boleh duduk sambil mengenang masa lalu.

Kita boleh menikmati semuanya.

Yang perlu dihindari bukan kegembiraannya, melainkan kemabukan terhadap perayaan.

Jangan sampai satu hari penuh perlombaan membuat kita lupa pada pekerjaan yang harus dilakukan selama tiga ratus enam puluh empat hari berikutnya. Jangan sampai musik kemerdekaan terlalu keras sehingga suara rakyat yang sedang kesusahan tidak terdengar. Jangan sampai upacara membuat kita merasa telah menyelesaikan tugas sejarah hanya karena setiap tahun kita mengibarkan bendera.

Merayakan ala kadarnya bukan berarti tidak mencintai kemerdekaan. Justru sebaliknya. Barangkali itu cara sederhana untuk mengakui bahwa kita masih memiliki pekerjaan rumah yang terlalu banyak untuk dirayakan dengan perasaan seolah-olah semuanya telah selesai.

Karena masih ada orang yang belum merdeka dari kemiskinan. Masih ada anak-anak yang belum merdeka dari kebodohan. Masih ada orang kecil yang belum merdeka dari ketidakadilan. Masih ada pekerja yang belum merdeka dari upah yang tidak layak. Dan masih ada kekuasaan yang harus terus diingatkan bahwa negara ini dibangun untuk rakyat, bukan rakyat yang diciptakan untuk melayani kekuasaan.

Besok Kita Kembali Berjuang

Barangkali para pendahulu kita tidak berjuang agar kita selamanya menjadi penonton sebuah perayaan. Mereka berjuang agar generasi setelahnya memiliki kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.

Mereka telah melakukan bagian mereka. Mengangkat senjata. Bertahan dalam kekurangan. Kehilangan orang-orang yang dicintai. Menghadapi penjajahan dengan segala risikonya.

Sekarang giliran kita.

Perjuangan hari ini mungkin tidak lagi dilakukan dengan senjata. Ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih rumit: bekerja dengan jujur, tidak mengambil yang bukan hak kita, berani mengatakan yang salah sebagai salah, tidak menjual suara, tidak menyalahgunakan jabatan, mendidik anak-anak dengan baik, dan tidak membiarkan ketidakadilan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Sebab kemerdekaan bukan kursi untuk beristirahat. Ia adalah jalan yang masih harus ditempuh.

Maka, rayakanlah kemerdekaan. Sewajarnya saja.

Pasang benderamu. Ikuti perlombaan jika ingin. Tertawalah bersama tetangga. Kirimkan doa kepada mereka yang telah gugur. Nikmati hari itu sebagai kebahagiaan yang memang layak kita syukuri.

Namun setelah musik berhenti dan bendera tetap berkibar di halaman rumah, jangan lupa bahwa kita baru sampai di depan pintu gerbang. Pintu itu masih harus dibuka. Kita masih harus masuk. Dan di dalam sana, masih ada pekerjaan yang menunggu.

Kita sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi kita belum selesai memerdekakan manusia.

© Khafi.id

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berpikir bersama.

Post a Comment for "Merayakan Ala Kadarnya, Sebab Perjuangan Belum Selesai"