Kiai Hasan dan Kiai-Kiai NU yang Tidak Seperti Beliau

Pidato Kiai Hasan di depan Prabowo ramai dipuji. Masalah muncul ketika kekaguman itu dipakai untuk menghakimi kiai-kiai lain.
Gambar hanya ilustrasi AI. Jika ada kesamaan hanya kebetulan belaka.

Belakangan ini ramai sekali pidato KH Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, di hadapan Prabowo. Banyak orang memuji keberanian beliau karena dianggap berani berbicara terang-terangan, menyampaikan nasihat di depan presiden tanpa terlihat ewuh pakewuh.

Ramainya bukan main. Beranda media sosial saya sampai dipenuhi potongan video, kutipan, pujian, dan status orang-orang yang mendadak seperti baru menemukan definisi tentang bagaimana seharusnya seorang kiai berdiri di hadapan kekuasaan.

Saya sendiri sangat menyukai pidato Kiai Hasan. Dalam perkara ini, saya mungkin tidak berbeda dengan kebanyakan orang yang membagikan video tersebut.

Pidato itu memang disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, 19 September 2026, yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Salah satu bagian yang kemudian ramai dibicarakan adalah ketika Kiai Hasan mempersilakan dirinya diprotes, dikritik, bahkan didemo apabila makanan, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggalnya melebihi para santri.

Belum lagi cerita mengenai kesederhanaan hidup beliau. Pimpinan salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia itu dikenal menjalani kehidupan yang sederhana. Maka lengkap sudah kekaguman publik: berani di hadapan kekuasaan, sekaligus tidak silau oleh kemewahan.

Sampai di sini, tidak ada masalah.

Masalah mulai muncul ketika kekaguman kepada Kiai Hasan perlahan berubah menjadi alat pemukul untuk kiai-kiai lain.

"Begini seharusnya kiai."

"Berani menasihati penguasa."

"Tidak silau harta dan jabatan."

Lalu mulailah muncul perbandingan. Ada yang menyindir kiai dari pesantren lain. Ada yang membawa-bawa kiai NU. Ada yang mempertentangkan kesederhanaan Kiai Hasan dengan beberapa kiai yang dianggap hidup bermewah-mewahan.

Seolah-olah setelah video itu viral, seluruh kiai di Indonesia mendadak harus mengikuti ujian kompetensi dengan Kiai Hasan sebagai kisi-kisinya.

Padahal ada satu persoalan sederhana yang sering kita lupakan:

Banyak juga kiai NU yang sederhana. Banyak pula yang berani. Cuma mungkin mereka belum pernah kebagian kesempatan bertemu Presiden Prabowo.

Ketika Kekaguman Menjadi Kacamata

Dalam psikologi ada istilah halo effect. Sederhananya, ketika kita menemukan satu sifat positif yang sangat menonjol pada seseorang, kesan positif tersebut dapat memengaruhi penilaian kita terhadap sifat-sifat lainnya.

Kiai Hasan tampil sederhana. Beliau berbicara lugas. Di depannya kebetulan duduk orang nomor satu di republik ini. Kombinasi ketiganya memang dahsyat.

Lalu otak kita bekerja cepat.

Sederhana berarti baik.

Berani bicara di depan presiden berarti independen.

Tidak bermewah-mewahan berarti tidak dekat dengan kepentingan.

Sebagian kesimpulan itu mungkin benar. Tetapi masalahnya muncul ketika kesan tersebut tidak lagi digunakan untuk mengagumi Kiai Hasan, melainkan dipakai sebagai penggaris untuk mengukur semua kiai lain.

Kiai Hasan sederhana, maka kiai yang rumahnya bagus mulai dicurigai.

Kiai Hasan berani bicara di depan presiden, maka kiai yang tidak pernah kita lihat melakukan hal serupa dianggap tidak berani.

Padahal bisa jadi persoalannya jauh lebih sederhana:

Presidennya memang belum pernah mampir.

Moral Benchmark Syndrome

Di sinilah saya kira kita sedang terkena penyakit yang untuk sementara boleh kita beri nama Moral Benchmark Syndrome.

Ini tentu bukan istilah psikologi. Jangan dicari di jurnal ilmiah. Apalagi dibawa konsultasi ke dokter.

Gejalanya adalah kecenderungan menganggap orang yang kebetulan memperoleh panggung untuk menunjukkan suatu kualitas sebagai satu-satunya orang yang memiliki kualitas tersebut.

Kita melihat seorang kiai berani berbicara di hadapan presiden, lalu lupa bahwa ada banyak bentuk keberanian yang tidak direkam kamera.

Ada kiai yang mungkin tidak pernah bertemu presiden, tetapi berani berhadapan dengan kepala desa ketika tanah warga bermasalah.

Ada yang berani menegur pejabat kabupaten.

Ada yang mendampingi petani.

Ada yang menolak proyek yang dianggap merugikan masyarakat.

Ada pula yang mungkin sepanjang hidupnya tidak pernah masuk televisi, tetapi tetap hidup sederhana bersama jamaahnya.

Apakah semuanya ada? Tentu perlu dilihat satu per satu. Justru itu pokok persoalannya: jangan menyimpulkan keadaan ribuan kiai hanya dari siapa yang kebetulan sedang viral.

Media sosial memang punya kebiasaan aneh. Ia membuat yang terlihat terasa seperti satu-satunya yang ada.

Yang tidak masuk kamera dianggap tidak melakukan apa-apa.

Yang tidak viral dianggap diam.

Yang tidak berfoto dengan pejabat dianggap tidak pernah bertemu pejabat.

Dan yang kebetulan tidak pernah memperoleh kesempatan menasihati presiden di depan umum akhirnya dianggap tidak berani menasihati presiden.

Lha presidennya saja belum pernah ketemu.

Mau dinasihati lewat apa? Kolom komentar Instagram?

Dari Mengagumi Menjadi Menghakimi

Ada kekeliruan lain yang lebih menggelitik.

Kita sering tidak puas hanya dengan mengagumi seseorang. Kekaguman terasa kurang lengkap kalau belum digunakan untuk merendahkan orang lain.

Kita tidak cukup berkata:

"Kiai Hasan sederhana."

Harus ditambah:

"Tidak seperti kiai anu."

Tidak cukup berkata:

"Kiai Hasan berani."

Harus diteruskan:

"Coba kiai-kiai yang lain seperti beliau."

Akhirnya pujian membutuhkan korban.

Padahal keutamaan seseorang tidak otomatis membuktikan keburukan orang lain.

Kalau tetangga saya rajin salat malam, itu merupakan kebaikan tetangga saya. Tidak otomatis membuktikan bahwa saya setiap malam mabuk.

Logikanya tidak sampai ke sana.

Begitu pula kesederhanaan Kiai Hasan tidak otomatis menjadi bukti bahwa kiai pesantren lain hidup bermewah-mewahan. Dan keberanian beliau berbicara di depan Presiden Prabowo tidak otomatis membuktikan bahwa kiai lain takut kepada kekuasaan.

Kalau memang ada kiai yang hidup berlebihan, kritiklah berdasarkan kenyataan hidupnya.

Kalau ada kiai yang menjilat kekuasaan, kritiklah berdasarkan ucapan dan tindakannya.

Kalau ada yang menggunakan umat sebagai tangga menuju jabatan, ya silakan dibicarakan berdasarkan bukti.

Tetapi jangan menjadikan satu orang baik sebagai bukti bahwa semua orang yang tidak menyerupainya pasti buruk.

Itu bukan kritik.

Itu kemalasan berpikir yang kebetulan memakai peci.

Kiai NU Juga Tidak Dicetak Satu Pabrik

Terlebih ketika perbandingan mulai diarahkan kepada "kiai NU".

Istilah ini sendiri sudah sangat luas.

Ada kiai pesantren besar, ada kiai kampung. Ada yang mengasuh ribuan santri, ada yang santrinya tiga puluh orang. Ada yang dekat dengan pejabat, ada yang jangankan bertemu presiden, ketemu camat saja mungkin setahun sekali ketika acara Agustusan.

Ada yang berkecukupan. Ada yang rumahnya sederhana. Ada yang vokal. Ada yang memilih berbicara melalui pengajian. Ada yang bergerak mendampingi masyarakat tanpa pernah masuk berita.

Menyimpulkan semuanya dengan kalimat "kiai NU begini" atau "kiai NU begitu" sama saja seperti melihat satu pengendara Supra menerobos lampu merah lalu menyimpulkan bahwa seluruh pemilik Honda Supra tidak mengenal rambu lalu lintas.

Motornya sama. Kelakuan pengendaranya belum tentu.

Begitu pula organisasi, pesantren, atau tradisi keagamaan tidak otomatis membuat semua orang di dalamnya memiliki watak yang sama.

Karena itu, membandingkan seorang Kiai Hasan yang konkret dengan sebuah kelompok besar bernama "kiai NU" sejak awal memang tidak seimbang.

Yang satu orang.

Yang satunya entah berapa ribu.

Tetap Kagum, Tidak Perlu Mendadak Goblok

Kita tetap boleh—bahkan layak—mengagumi KH Hasan Abdullah Sahal.

Pidatonya menarik. Sikapnya mengenai kesederhanaan pemimpin layak direnungkan. Keberaniannya menyampaikan prinsip tersebut di sebuah acara yang dihadiri Presiden Republik Indonesia juga merupakan peristiwa publik yang wajar mendapat perhatian.

Tetapi kekaguman seharusnya membuat pikiran kita semakin jernih, bukan malah kehilangan kemampuan membedakan.

Kita bisa berkata Kiai Hasan sederhana tanpa harus menuduh semua kiai lain bermewah-mewahan.

Kita bisa menghargai keberaniannya tanpa harus menganggap orang yang tidak muncul dalam video itu pengecut.

Kita juga bisa mengkritik kiai, pesantren, NU, Gontor, pejabat, bahkan presiden sekalipun berdasarkan tindakan konkret mereka masing-masing—bukan berdasarkan perbandingan yang kita bangun dari potongan video yang sedang viral.

Sebab pada akhirnya, mungkin persoalan kita bukan kekurangan teladan.

Kita justru sering terlalu cepat menemukan teladan, terlalu cepat mengangkatnya menjadi standar universal, lalu terlalu bersemangat menggunakannya untuk memukul kepala orang lain.

Kiai Hasan tidak salah.

Pidatonya juga tidak salah.

Yang kadang agak bermasalah adalah kita: baru beberapa menit kagum kepada kebijaksanaan seorang kiai, sudah menggunakan kekaguman itu dengan cara yang tidak begitu bijaksana.

Dan kalau besok muncul video kiai lain yang lebih viral, entah siapa lagi yang akan kita pukul dengannya.

Begitulah algoritma bekerja.

Hari ini kita mendapat teladan. Besok kita mencari korban perbandingan.

© khafi.id Terima kasih telah berkenan berpikir bersama.