Tragedi Uang Sepuluh Ribu Palsu
![]() |
| Ilustrasi ole AI |
Hari itu seperti hari-hari biasanya. Cuaca panas dan berangin. Ada panggilan dari seorang kawan untuk datang. Saya diajak mengantarkan barang sekaligus menemui beberapa orang.
Sebelum berangkat, saya memeriksa beberapa tempat yang sekiranya memungkinkan ada uang terselip.
Tidak ada.
Saya periksa jok motor.
Aha!
Ada sepuluh ribu.
Cukup.
Saya pun berangkat dengan kepercayaan diri yang sebenarnya agak tidak sebanding dengan kekuatan finansial. Sepanjang perjalanan saya sudah membuat perhitungan matang: Pertalite satu liter di SPBU besar, sedangkan secangkir kopi nanti dibayari teman.
Keuangan aman.
Bahkan dari rumah sebenarnya saya sudah sempat merapal mantra:
“Bismillahirrahmanirrahim... kelawan nyebut asmane Gusti Kang Murbeng Dumadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala, Kang Maha Welas Asih... Ingsun ametak ajiku, aji golek duit. Modal sepuluh ewu dadi limangatus ewu, modal ngopi dibayari, kenek ngge munggah kaji.... Amin.”
Dengan modal sepuluh ribu dan doa yang target pertumbuhan investasinya mencapai lima ribu persen itu, saya berangkat dengan tenang.
Sesampainya di SPBU, saya antre seperti biasa, sebagaimana wajarnya warga desil 6 ke bawah.
Ketika tiba giliran saya, petugas memasukkan nozzle ke lubang tangki.
“Pinten, Mas?”
Dengan percaya diri dan sedikit merasa gagah, saya menjawab:
“Sedasa ewu, Mas.”
Pertalite dikocorkan. Angka di mesin bergerak dan berhenti tepat di Rp10.000.
Saya merogoh saku celana. Ketemu. Selembar uang yang sejak tadi menjadi fondasi perekonomian perjalanan hari itu saya serahkan kepada petugas.
Saya bahkan tidak memeriksanya lagi.
Lalu petugas mengatakan:
“Lha, niki palsu, Mas.”
“Hah... milo ta, Mas?”
Selesai.
Rupanya mantra aji golek duit yang saya rapalkan tadi ada kesalahan teknis. Bukannya mengubah sepuluh ribu menjadi lima ratus ribu, malah membuat sepuluh ribu yang saya bawa menjadi palsu.
Saya panik.
Wong uangnya hanya itu.
Antrean di belakang semakin panjang. Orang-orang menunggu saya yang masih berdiri di depan pompa dengan Pertalite sepuluh ribu yang sudah telanjur masuk ke tangki, sementara alat pembayarannya baru saja dinyatakan tidak sah oleh negara.
Saya terpaksa memajukan motor sedikit ke depan dan ke samping agar antrean tetap berjalan.
Lalu mulailah sebuah pertunjukan kecil untuk mempertahankan harga diri.
Saya merogoh saku celana. Saku satunya lagi. Membuka dompet. Membuka tas. Memeriksa tempat-tempat yang sebenarnya sudah saya tahu isinya.
Padahal saya sadar betul: tidak ada.
Selain uang sepuluh ribu palsu tadi, saya cuma punya beberapa uang receh yang kalau dikumpulkan pun lima ribu rupiah tidak sampai.
Tetapi demi tetap terlihat sebagai manusia yang memiliki kendali atas perekonomian pribadi, saya terus mencari.
Saya kemudian mengeluarkan HP.
Dengan gaya seperti orang yang baru teringat bahwa dirinya hidup di zaman ekonomi digital, saya membuka e-wallet. Siapa tahu keselamatan datang melalui teknologi finansial.
Saldo: Rp1.250.
SERIBU DUA RATUS LIMA PULUH RUPIAH.
Bukan seratus dua puluh lima ribu. Bukan pula dua belas ribu lima ratus.
Seribu. Dua ratus. Lima puluh.
Saat itulah saya sadar, digitalisasi ternyata tidak selalu membuat orang terlihat modern. Kadang ia hanya menyediakan cara yang lebih canggih untuk memastikan bahwa kita memang tidak punya uang.
Saya terpaksa merawat kepanikan itu selama beberapa menit.
Saku yang sama saya periksa lagi. Dompet dibuka lagi. Tas dilihat lagi.
Entah kenapa saya masih melakukannya. Mungkin manusia memang begitu. Ketika uang tidak ada, kita masih berharap hukum alam berubah hanya karena saku diperiksa untuk ketiga kalinya.
Dalam kondisi seperti itu, saya bahkan tidak berani menatap langit.
Lha kok menatap langit.
Mengamati wajah orang dengan teliti saja saya tidak berani. Rasanya semua mata sedang melihat ke arah saya, meskipun mungkin sebenarnya tidak ada yang peduli. Orang-orang hanya ingin mengisi bensin lalu pergi. Atau mungkin sebagian dari mereka sama dengan saya, hanya beda momen.
Tetapi kalau sedang malu, kita memang sering merasa menjadi pusat perhatian dunia.
Sampai beberapa menit kemudian seorang petugas SPBU menghampiri.
“Wonten nopo, Mas?”
Saya masih tidak berani melihat wajahnya. Masih clingak-clinguk, sambil berharap entah bagaimana ada uang terselip di suatu tempat untuk membayar Pertalite yang telanjur masuk ke tangki.
Akhirnya saya menjawab lirih:
“Duitku sedasa ewu palsu, Mas.”
“Lha terus pripun?”
“Nggih dereng mbayar, Mas. Wong artone palsu, kok.”
Petugas itu bertanya lagi:
“Namung sedasa ewu ngisine?”
Namung sedasa ewu?
Saya agak ndredeg mendengarnya.
Ternyata sepuluh ribu rupiah adalah “namung” bagi beberapa orang dalam kondisi tertentu.
Padahal sejak berangkat tadi, sepuluh ribu itulah yang membuat saya cukup percaya diri meninggalkan rumah. Sepuluh ribu itu sudah saya hitung baik-baik: cukup untuk membeli Pertalite satu liter, cukup untuk membawa motor pergi dan pulang, sementara urusan kopi sudah saya masukkan ke dalam pos anggaran orang lain.
Bahkan ketika diketahui palsu, saya masih menghabiskan beberapa menit untuk mencari penggantinya.
Jadi ketika orang itu mengatakan “namung sedasa ewu”, saya baru sadar bahwa nilai uang ternyata tidak hanya ditentukan oleh angka yang tercetak di atasnya.
Sepuluh ribu bisa menjadi “namung” bagi seseorang, tetapi bisa menjadi seluruh rencana perjalanan bagi orang lainnya.
Belum selesai saya memikirkan kata namung, petugas tadi melanjutkan:
“Lek namung sedasa ewu mawon, sampun kersane. Panjenengan isi malih dados kalih dasa ewu, kersane mengke saget PP.”
Saya semakin ndredeg.
Saya diam sebentar, mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan orang ini.
Sepuluh ribu yang sudah masuk ke tangki belum saya bayar. Uang saya palsu. Receh tidak cukup. Saldo e-wallet Rp1.250. Secara ekonomi, posisi saya saat itu sebenarnya sudah tidak memungkinkan melakukan manuver apa pun.
Tapi orang ini malah menyuruh saya menambah Pertalite sepuluh ribu lagi.
Katanya supaya cukup untuk pulang-pergi.
Dalam hati saya bertanya:
“Wong iki tenanan apa ngece...?”
Perlahan-lahan saya mulai berani mengangkat kepala.
Saya tatap wajah petugas itu.
Sebentar.
Kok rasanya tidak asing.
Saya perhatikan lagi agak lama. Setelah otak yang sejak tadi sibuk mengurus krisis moneter sepuluh ribu rupiah mulai bekerja dengan benar, saya baru sadar.
Lha... aku kenal wong iki.
Bukan saudara. Bukan pula kerabat dalam arti sebenarnya. Dia anak menantu salah seorang teman akrab bapak saya.
Entah kenapa mengetahui hal itu bukannya membuat saya langsung lega.
Malah tambah isin.
Kalau sejak tadi dia orang asing, setelah urusan selesai mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Saya bisa pulang, mandi, tidur, lalu perlahan menghapus kejadian itu dari sejarah hidup.
Tapi ini beda.
Ini orang yang kenal bapak saya.
Artinya, tragedi uang palsu sepuluh ribu ini sekarang memiliki jalur distribusi informasi.
Entah karena gengsi, sungkan, atau sekadar usaha terakhir menyelamatkan harga diri, saya masih sempat mengatakan:
“Gak usah repot-repot...”
Padahal dalam hati saya sadar betul bahwa kalimat itu sama sekali tidak sesuai dengan kondisi keuangan saya.
Kalau orang itu benar-benar menjawab, “Nggih sampun,” lalu pergi, saya juga tidak tahu harus berbuat apa.
Pertalite sudah masuk tangki dan rasanya tidak mungkin disedot kembali menggunakan sedotan es teh.
Kalau tidak ada orang ini, bisa-bisa saya terpaksa ikut ngepel lantai SPBU untuk melunasi utang bensin.
Begitulah manusia.
Dalam keadaan benar-benar membutuhkan pertolongan pun, mulut kadang masih berusaha menjaga gengsi.
“Gak usah repot-repot...”
Padahal kalau diterjemahkan sesuai keadaan saat itu, mungkin maksud sebenarnya:
“Tulung aku, Mas. Tapi tulung aku tanpa membuatku terlihat seperti sedang ditulung.”
Dalam hidup, sesekali kita memang perlu mengalami kejadian seperti itu.
Bukan supaya kapok membawa uang sepuluh ribu. Bukan pula supaya setelah ini setiap menerima uang harus diterawang seperti petugas bank. Tetapi sekadar untuk mengingatkan bahwa kepercayaan diri yang dibangun di atas keadaan finansial ternyata serapuh itu.
Apalagi kalau fondasinya cuma sepuluh ribu rupiah.
Beberapa menit sebelumnya saya berangkat dari rumah dengan cukup percaya diri. Sudah punya perhitungan: Pertalite satu liter, kopi dibayari teman, perjalanan aman. Bahkan sempat merapal aji golek duit, berharap modal sepuluh ribu berkembang menjadi lima ratus ribu.
Ternyata tidak perlu kehilangan lima ratus ribu untuk membuat kepercayaan diri itu runtuh.
Cukup seorang petugas SPBU mengatakan:
“Lha, niki palsu, Mas.”
Selesai.
Dalam beberapa detik, orang yang tadi berangkat dengan gagah berubah menjadi manusia yang tidak berani menatap langit, memeriksa saku yang sama berkali-kali, membuka dompet kosong, lalu mencari pertolongan terakhir kepada teknologi finansial yang ternyata hanya menyimpan Rp1.250.
Mungkin memang begitu sifat kepercayaan diri yang terlalu bergantung pada isi dompet. Selama kita merasa punya, badan sedikit lebih tegak. Bicara lebih tenang. Pesan Pertalite sepuluh ribu pun bisa dengan suara mantap: “Sedasa ewu, Mas.”
Begitu yang kita kira punya ternyata tidak ada, bahkan wajah orang lain mendadak terasa terlalu berat untuk ditatap.
Hari itu saya ditolong seseorang yang kebetulan masih mengenal keluarga saya. Saya beruntung. Bahkan ketika ditawari menambah bensin supaya cukup untuk pulang-pergi, saya masih sempat berkata, “Gak usah repot-repot.”
Padahal saya tahu betul: tanpa pertolongan itu, mungkin saya sedang bernegosiasi apakah utang Pertalite sepuluh ribu bisa dibayar dengan ikut ngepel lantai SPBU.
Barangkali yang perlu ditertawakan dari kejadian itu bukan uang palsunya.
Melainkan betapa mudahnya kita merasa gagah hanya karena merasa memiliki sesuatu. Dan betapa cepat kegagahan itu rontok ketika sesuatu yang kita jadikan sandaran ternyata hilang, habis, atau—seperti sepuluh ribu saya hari itu—ternyata palsu.

Join the conversation