Bait Imrithi dan Keyakinan yang Mengecewakan

Bait Imrithi tentang i‘tiqad bertemu pengalaman kehabisan bensin: tentang keyakinan, ekspektasi, ego, dan manfaat yang tak selalu sesuai harapan.

Di tempat saya tinggal, sebenarnya tidak bisa disebut desa yang sangat-sangat desa. Toko sudah banyak berdiri. Ada minimarket, Pertashop, Pertamini, warung kelontong, dan penjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Maka saya punya satu keyakinan sederhana: kalau bepergian malam-malam dan kehabisan bensin, mestinya masih ada tempat untuk membelinya.

Keyakinan sederhana itu pernah diuji pada suatu malam.

Dalam perjalanan menuju suatu tempat, bensin motor saya habis. Mesin mati. Saya turun.

Tentu saja motor tidak bisa berjalan hanya dengan modal keyakinan.

Tetapi saya masih tenang. Di depan ada Pertashop. Saya yakin masih buka.

Motor saya dorong sampai ke sana.

Tutup.

Di depannya terpasang tulisan: “Menunggu Kiriman.”

Tidak masalah. Keyakinan saya belum habis meskipun bensin sudah habis. Sekitar satu kilometer di depan ada toko Pak Anu. Ada Pertamini di sana dan biasanya buka sampai malam.

Maka saya berjalan lagi sambil mendorong motor. Sampai di sana, toko Pak Anu ternyata tutup.

Ada tetangga yang meninggal.

Dua kali kenyataan sebenarnya sudah memberi isyarat agar saya sedikit meragukan perkiraan sendiri. Tetapi manusia memang makhluk yang luar biasa. Ketika satu keyakinan gagal, kita sering tidak kehilangan keyakinan. Kita hanya mencari objek baru untuk diyakini.

Saya masih yakin.

Di depan masih ada toko lain.

Motor kembali saya dorong. Tentu saja didorong, masa saya panggul. Wong motornya sendiri sudah tidak bisa berjalan.

Kurang lebih dua kilometer kemudian saya sampai.

Tutup juga.

Kali ini alasannya jauh lebih sederhana: jam sudah menunjukkan sekitar pukul sembilan malam.

Kita Memang Butuh Keyakinan

Saya tidak lantas ingin menyelisihi bait Imrithi yang ini:

إِذِ الْفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعْ
وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ

Artinya: “Seorang pemuda akan diangkat sesuai kadar keyakinannya, dan siapa yang tidak memiliki keyakinan tidak akan memperoleh manfaat.”

Saya tidak berani menyelisihinya. Kiai-kiai saya sejak dulu mengajarkan bahwa i‘tiqad itu penting. Dan saya yakin itu.

Sebab tanpa i‘tiqad, sebagai manusia kita mungkin hanya seperti plastik yang terbang diterpa angin. Ada angin ke timur, ikut ke timur. Angin berbalik ke barat, ikut ke barat. Tidak ada angin, ya tidak terbang. Paling nyangkut di pagar tetangga.

Manusia memang membutuhkan sesuatu yang diyakini agar tahu ke mana harus melangkah, untuk apa berjalan, dan mengapa perlu bertahan ketika perjalanan mulai tidak menyenangkan.

Tetapi pada konteks tertentu, keyakinan juga perlu dipertanyakan.

Bukan keyakinan kepada Tuhan atau perkara akidah yang sedang saya maksud. Saya sedang membicarakan keyakinan-keyakinan yang kita produksi sendiri setiap hari: tentang orang lain, pekerjaan, masa depan, kebaikan, keberhasilan, bahkan tentang bagaimana dunia seharusnya memperlakukan kita.

Sebab keyakinan punya tetangga dekat bernama ekspektasi. Dan kalau tidak hati-hati, di belakang ekspektasi sering bersembunyi sesuatu yang lebih sulit kita akui: ego.

Kata Bernama “Seharusnya”

Kita berbuat baik kepada seseorang. Awalnya sederhana: karena kita yakin berbuat baik memang baik.

Tetapi beberapa tahun kemudian orang itu tidak membantu ketika kita kesusahan.

Mulailah muncul suara kecil:

“Setelah semua yang pernah saya lakukan untuk dia...”

Nah.

Rupanya kebaikan yang dulu kita kira sudah diberikan cuma-cuma masih menyimpan kuitansi.

Kita berharap anak yang disekolahkan tinggi kelak memiliki pekerjaan bagus. Kita berharap orang yang kita perlakukan dengan baik akan memperlakukan kita dengan baik. Kita berharap kerja keras menghasilkan keberhasilan. Kita berharap orang yang selama ini kita kenal baik tidak melakukan sesuatu yang mengecewakan.

Semua itu wajar.

Masalah biasanya dimulai ketika kata “berharap” pelan-pelan berubah menjadi “seharusnya”.

Dia seharusnya membalas kebaikan saya.

Anak saya seharusnya menjadi seperti yang saya harapkan.

Setelah bekerja sekeras ini, saya seharusnya berhasil.

Setelah berdoa sedemikian rupa, apa yang saya inginkan seharusnya terjadi.

Di situlah ekspektasi mulai ditempeli ego.

Kita tidak lagi sekadar berharap kenyataan berjalan ke suatu arah. Kita mulai merasa kenyataan berkewajiban berjalan ke arah itu.

Padahal kenyataan tidak pernah ikut rapat ketika kita menyusun rencana tersebut.

___

Kontrak yang Tidak Pernah Ditandatangani

Mungkin sebagian kekecewaan kita sebenarnya lahir dari kontrak sepihak.

Kita menulis sendiri pasal-pasalnya di kepala: kalau saya melakukan A, kehidupan harus memberikan B. Kalau saya berbuat baik, orang lain harus baik. Kalau saya bekerja keras, saya harus berhasil. Kalau saya sudah mengenal seseorang bertahun-tahun, dia tidak mungkin berubah atau melakukan sesuatu di luar dugaan saya.

Kontrak selesai dibuat.

Masalahnya, kehidupan tidak pernah membubuhkan tanda tangan.

Lalu ketika hasilnya berbeda, kita kecewa. Bahkan kadang marah.

Padahal bisa jadi tidak ada siapa-siapa yang mengkhianati kita. Kita hanya terlalu yakin bahwa skenario yang ada di kepala adalah satu-satunya skenario yang layak terjadi.

Persis seperti saya malam itu.

Pertashop tidak pernah berjanji kepada saya bahwa stok bensinnya akan tersedia. Pak Anu juga tidak pernah menandatangani perjanjian bahwa tokonya harus buka ketika bensin saya habis. Pemilik toko terakhir bahkan mungkin tidak tahu bahwa beberapa kilometer sebelumnya ada orang sedang mendorong motor sambil menggantungkan harapan kepadanya.

Mereka tidak mengecewakan saya.

Ekspektasi saya sendiri yang melakukannya.

Dan mungkin ego membuat kekecewaan itu terasa lebih berat karena ada bagian dalam diri kita yang sulit menerima satu kenyataan sederhana: bahwa apa yang kita yakini belum tentu benar hanya karena kita sangat meyakininya.

Barangkali itu sebabnya kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang saya yakini ini memang benar, atau saya hanya sangat ingin ia menjadi benar?”

Pertanyaan itu tidak harus membuat kita kehilangan keyakinan. Justru mungkin membuat keyakinan sedikit lebih waras.

Kita tetap boleh berharap. Tetap boleh merencanakan masa depan. Tetap boleh percaya kepada seseorang. Tetap boleh berusaha sekuat tenaga. Sebab hidup tanpa semua itu juga sulit dibayangkan.

Hanya saja, sisakan sedikit ruang untuk kemungkinan bahwa kenyataan mempunyai jalannya sendiri.

___

Manfaat Itu Soal Persepsi

Sebab menjadi manusia tanpa keyakinan mungkin memang seperti plastik yang diterpa angin.

Tetapi malam itu saya juga belajar sesuatu yang lain.

Keyakinan memang mampu membuat saya terus berjalan. Sayangnya, ia hanya membuat saya berjalan kaki. Untuk membuat motor ikut berjalan, tetap saja saya membutuhkan bensin.

Tapi percayalah, bahkan dalam situasi saya malam itu, potongan bait Imrithi tadi tetap relevan. Keyakinan saya bahwa di depan masih ada toko yang buka ternyata tetap memberikan manfaat.

Memang bukan manfaat seperti yang saya harapkan. Bensin tidak saya dapatkan, motor tetap tidak mau hidup, dan saya tetap harus mendorongnya beberapa kilometer.

Tetapi setidaknya saya berkeringat.

Dan bertahun-tahun kemudian, dari keyakinan yang berkali-kali mengecewakan itu, lahirlah tulisan ini.

Barangkali manfaat memang sedikit banyak soal persepsi. Kita sering merasa sesuatu tidak bermanfaat hanya karena manfaat yang datang tidak berbentuk seperti yang sudah kita tentukan sebelumnya.

Kita meminta bensin, lalu mendapat keringat. Kita berharap perjalanan menjadi mudah, malah mendapat cerita. Kita mengharapkan sesuatu terjadi sesuai rencana, tetapi justru dari kegagalan rencana itulah kita memperoleh sesuatu yang sebelumnya bahkan tidak terpikirkan.

Maka saya jadi teringat lagi pada separuh terakhir bait tadi:

وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ

Artinya: “Dan siapa yang tidak memiliki keyakinan, tidak akan memperoleh manfaat.”

Mungkin benar, keyakinan tetap membawa manfaat. Hanya saja kita perlu sedikit berhati-hati agar ego tidak buru-buru menentukan manfaat itu harus datang dalam bentuk apa.

Sebab kalau dipikir-pikir lagi, bait Imrithi itu hanya mengatakan yantafi‘: memperoleh manfaat.

Soal manfaatnya berbentuk apa, rupanya bait itu tidak pernah berjanji.

© khafi.id Terima kasih telah berkenan berpikir bersama.