Mbah Hasyim Ngalim, Sugih, Zuhud Dhisik, Lagek Ber-NU

Mbah Hasyim ngalim, sugih, zuhud dhisik lagek ber-NU. Sebuah satire tentang niat berorganisasi, proyek, kekuasaan, dan makna berkhidmat.

Kami ini cuma rakyat jelata NU. Tidak punya proyek yang bisa dikeroyok, tidak punya jabatan yang bisa didekati, dan kalau ketemu pejabat paling banter ya minggir sedikit sambil menghabiskan kopi.

Suatu ketika, seperti biasanya, kami sedang ngopi. Obrolannya ke mana-mana. Dari hal remeh sampai hal yang tiba-tiba menjadi serius. Entah bagaimana, pembicaraan kemudian sampai kepada NU dan Mbah Hasyim. Lalu terlontarlah sebuah kalimat yang awalnya terdengar seperti kelakar.

“Mbah Hasyim biyen ngalim, sugih, zuhud dhisik lagek ber-NU. Lha modelmu, melu NU kok drembo proyek, pengen sugih, pengen cedek pejabat...”

Kami tertawa. Tetapi setelah tawanya habis, kalimat itu ternyata belum selesai bekerja.

Ber-NU untuk Apa?

Satire memang kadang begitu. Ia tidak perlu berpidato panjang. Cukup satu kalimat pendek untuk membuat kita bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya kita ber-NU untuk apa?

Kalimat tentang Mbah Hasyim itu bukan berarti orang NU tidak boleh kaya. Justru sebaliknya. Kekayaan, kemandirian ekonomi, dan kemampuan menghidupi diri sendiri adalah sesuatu yang baik. Persoalannya bukan pada sugih-nya, tetapi pada urutan dan orientasinya.

Mbah Hasyim dikenal sebagai ulama yang membangun kapasitas dirinya melalui ilmu, pesantren, kemandirian ekonomi, dan laku spiritual. Ketika Nahdlatul Ulama lahir pada 1926, organisasi itu tidak menjadi tangga untuk mencari kemapanan pribadi. Ia justru menjadi salah satu wadah untuk mengorganisasi perjuangan, pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial keagamaan masyarakat.

Dalam bahasa sederhana: beliau datang membawa sesuatu.

Ilmu dibawa. Pengalaman dibawa. Harta dan tenaga dibawa. Bahkan hidupnya sendiri dipertaruhkan untuk menghidupi perjuangan.

Di sinilah ungkapan yang sering terdengar di kalangan nahdliyin menjadi relevan: “Ojo golek urip nang NU, tapi urip-uripno NU.”

Ketika NU Menjadi Jalan Mencari

Masalahnya muncul ketika logika tersebut berbalik.

Bukan lagi “apa yang bisa saya berikan kepada organisasi?”, melainkan “apa yang bisa saya dapatkan dari organisasi?”

Di titik inilah kata drembo terasa pas. Drembo bukan sekadar mencari. Ia mengandung rasa tidak pernah cukup. Sudah dapat ingin lagi. Sudah punya akses ingin lebih dekat. Sudah mendapatkan sesuatu masih mencari sesuatu yang lain.

Drembo proyek. Pengen sugih. Pengen cedek pejabat.

Kalau semua itu dibawa atas nama organisasi, kita patut bertanya: apakah kita sedang menghidupi NU, atau justru sedang berusaha membuat NU menghidupi kita?

Menjadi dekat dengan pejabat tentu tidak otomatis salah. Organisasi sosial dan keagamaan memang perlu berkomunikasi dengan kekuasaan. Begitu pula menjadi pengusaha, mencari proyek, atau ingin hidup sejahtera bukan sesuatu yang harus dicurigai.

Yang menjadi persoalan adalah ketika identitas organisasi berubah menjadi modal untuk memperoleh sesuatu yang seharusnya diperoleh melalui kapasitas, kerja, dan integritas.

Zuhud yang Mungkin Kita Lupakan

Karena itu, kata zuhud dalam kelakar tadi menjadi penting. Zuhud bukan berarti miskin. Orang bisa memiliki banyak harta tetapi tidak diperbudak oleh hartanya. Sebaliknya, orang bisa tidak punya banyak harta tetapi pikirannya terus-menerus dikuasai oleh keinginan untuk memiliki.

Di sinilah zuhud dan drembo seperti berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Zuhud berkata: cukup.

Drembo terus berkata: kurang.

Maka barangkali yang sedang dikritik oleh kelakar di meja warung kopi itu bukan orang yang ingin kaya. Yang sedang disentil adalah ketidakmampuan merasa cukup ketika organisasi, jaringan, dan kedekatan dengan kekuasaan telah berubah menjadi alat untuk memuaskan keinginan pribadi.

Kami pun akhirnya sadar, kalimat tadi sebenarnya tidak hanya pantas diarahkan kepada orang lain. Ia juga layak diarahkan kepada diri sendiri.

Sebab pertanyaan paling penting mungkin bukan “Kamu NU atau bukan?”

Melainkan: “Ketika kamu masuk NU, apa yang sudah kamu bawa?”

Ilmu? Tenaga? Harta? Keikhlasan? Kemandirian? Atau justru daftar keinginan?

Mungkin Mbah Hasyim tidak perlu kita romantisasi. Yang perlu kita pelajari justru logika sederhananya: selesaikan sebisanya urusan pribadi, lalu datanglah untuk menghidupi perjuangan.

Karena organisasi akan menjadi besar bukan hanya karena banyak orang yang memakai namanya, tetapi karena banyak orang yang datang dengan sesuatu untuk diberikan.

Dan mungkin, setelah kopi habis, yang tersisa dari kelakar sore itu hanya satu pertanyaan kecil:

“Kita ini ber-NU untuk menghidupi NU, atau sedang drembo agar NU menghidupi kita?”

© khafi.id Terima kasih telah berkenan berpikir bersama.