Windows 7, Badut, dan Rasa Kasihan yang Mengecewakan
![]() |
| Windows 7, Badut, dan Rasa Kasihan yang Mengecewakan. ilustrasi khafi.id |
“Mas, mbenjing sampean mriki nggih. Komputer kula mboten saget empan.”
Begitu kira-kira pesan yang masuk melalui WhatsApp. Besoknya saya datang ke tempat yang dimaksud. Sebagaimana lazimnya orang yang dipanggil untuk memperbaiki komputer, saya datang membawa sedikit perkakas, sedikit pengetahuan, dan banyak doa agar kerusakannya tidak merembet ke mana-mana.
Di sana tinggal sebuah keluarga dengan empat anak. Anak pertama kira-kira seusia SMA, yang kedua SMP, ketiga SD, dan yang terakhir masih balita. Tidak tampak perabotan mewah. Komputer yang harus saya benahi pun sudah cukup berumur. Di casing-nya masih tertempel stiker Windows 7.
Saya menduga komputer itu memang lahir dan dibesarkan pada zaman Windows 7. Spesifikasinya dibuat untuk hidup damai bersama sistem operasi tersebut. Sayangnya zaman berubah. Banyak perangkat lunak tak lagi mendukung Windows 7. Mau tidak mau komputer tua itu harus dipaksa menerima Windows 10, bahkan mungkin Windows 11.
Lelet?
Ya jelas.
Kurang lebih seperti menyuruh simbah ikut lomba lari karena panitianya sudah tidak menyediakan kategori jalan sehat.
Mau meningkatkan spesifikasi tentu membutuhkan biaya. Sementara dari beberapa cerita yang saya dengar, pemilik komputer sedang punya banyak pinjaman di sana-sini. Rumah satu-satunya bahkan dikontrakkan, sementara keluarganya memilih tinggal di ruko yang sekaligus menjadi tempat usaha.
Entah kenapa, saya merasa kasihan.
Rasa Kasihan dan Kesombongan Kecil
Mungkin memang begitulah manusia. Kita memiliki semacam perangkat lunak bawaan bernama belas kasih. Orang komputer mungkin menyebutnya default application; orang bengkel barangkali lebih gampang membayangkannya sebagai onderdil bawaan. Sudah ada sejak barang keluar dari pabrik. Bisa saja dicopot, tetapi setelah itu jangan heran kalau cara kerjanya tidak lagi sebagaimana mestinya.
Rasa kasihan kadang merepotkan. Kadang membuat kita mengambil keputusan yang secara hitung-hitungan tidak terlalu masuk akal. Tetapi saya curiga, kalau perasaan itu benar-benar berhasil di-uninstall—dicabut sampai ke akar-akarnya—manusia justru akan mengalami bug.
Kalau istilah itu terdengar terlalu komputer, sebut saja konslet batin.
Orangnya masih hidup. Masih makan, bekerja, bercanda, bahkan mungkin rajin datang ke tempat ibadah. Tetapi melihat orang lain kesusahan tidak ada lagi sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.
Ada yang tidak beres.
Meski demikian, belakangan saya juga mulai curiga pada rasa kasihan.
Sebab terkadang, rasa kasihan adalah salah satu bentuk kesombongan kita atas keberadaan kita sendiri.
Ketika mengasihani seseorang, tanpa sadar kita sering membuat perbandingan. Dia kurang beruntung, saya sedikit lebih beruntung. Dia sedang kesusahan, saya tidak sesusah itu. Kita memang tidak mengucapkannya, tetapi diam-diam rasa iba menyediakan sebuah dingklik kecil agar posisi kita terasa beberapa sentimeter lebih tinggi.
Sampai kemudian saya kebelet ke kamar mandi.
Di samping kamar mandi itu terparkir sebuah Honda CR-V. Masih gres, bersih, mengilap.
Saya diam sebentar.
Lalu teringat kendaraan yang saya pakai datang ke sana.
Honda juga.
Supra.
Bukan produk Toyota.
Totoknya bahkan sudah bergetar parah dan saya belum punya cukup ongkos untuk memperbaikinya. Lebih mengenaskan lagi, motor itu bukan sepenuhnya milik saya.
Milik bapak.
Rasa kasihan saya mendadak seperti aplikasi yang mengalami not responding. Kalau dalam bahasa sehari-hari: saya agak bingung harus meneruskan rasa iba tadi atau justru mengajukan proposal agar dikasihani balik.
Tentu saya tidak tahu CR-V itu dibeli tunai, kredit, pinjaman, milik keluarga, atau bagaimana. Dan memang bukan urusan saya. Tidak adil pula kalau keberadaan sebuah mobil kemudian dipakai untuk membatalkan seluruh kesulitan hidup seseorang.
Tetapi setidaknya hari itu saya mendapat peringatan kecil bahwa membaca kehidupan seseorang hanya dari komputer tua, rumah sederhana, jumlah anak, dan cerita utang rupanya tidak semudah membaca spesifikasi komputer.
Komputer masih enak. Kita bisa klik kanan, membuka Properties, lalu ketahuan RAM-nya berapa, prosesornya apa, kapasitas penyimpanannya berapa, dan kira-kira sanggup menjalankan program seperti apa.
Manusia tidak punya menu semacam itu.
Badut, Pertalite Sepuluh Ribu, dan NMAX
Sayangnya, saya termasuk manusia yang tidak terlalu cepat belajar.
Beberapa waktu kemudian kejadian serupa terulang.
Saya memenuhi panggilan seseorang untuk memperbaiki komputer. Lagi-lagi komputer tua yang sudah sulit ditolong. Lagi-lagi saya mencoba sebisa mungkin. Dan lagi-lagi upah yang saya terima tidak seberapa, bahkan jauh di bawah harga pasaran.
Selepas Magrib, menjelang Isya, saya pulang.
Saya mampir ke sebuah SPBU. Uang di kantong tidak banyak. Saya berniat membeli Pertalite sepuluh ribu rupiah saja. Tidak berani lebih. Hitung-hitungan ekonomi saya malam itu cukup sederhana: yang penting motor bisa sampai rumah, sementara beberapa lembar uang masih tersisa untuk kebutuhan lain.
Di dekat jalan keluar SPBU ada seseorang memakai kostum badut Upin. Atau Ipin. Saya lupa. Saya tidak sempat memeriksa apakah rambutnya satu atau tiga.
Di belakangnya ada seorang anak kecil yang terus merengek. Saya tidak tahu meminta apa. Mungkin jajan. Mungkin ingin segera pulang. Karena antrean cukup panjang, saya sempat memperhatikan cukup lama. Sampai akhirnya si badut mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada anak itu.
Anaknya kemudian sedikit lebih tenang.
Dan penyakit lama saya kambuh.
Kasihan.
Setelah selesai mengisi Pertalite sepuluh ribu, saya melewati mereka. Saya keluarkan selembar uang dua ribuan lalu saya berikan kepada si badut.
Jumlahnya memang tidak seberapa. Tetapi kalau bensin yang baru saja saya beli hanya sepuluh ribu, dua ribu sebenarnya sudah dua puluh persen dari anggaran bahan bakar malam itu.
Saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan perasaan telah melakukan sesuatu yang lumayan manusiawi.
Sampai Supra yang bukan Toyota itu sedikit rewel. Lampunya mendadak bermasalah. Mungkin bohlamnya terlepas dari fitting karena sebelumnya sempat terperosok lubang jalan, atau karena sebab lain, saya tidak tahu pasti.
Saya berhenti tidak jauh dari sana.
Kebetulan jam kerja si badut juga tampaknya selesai. Kostumnya dilepas. Barang-barangnya dirapikan. Lalu saya melihat kendaraan yang dipakainya untuk pulang.
Yamaha NMAX keyless, yang harga bekasnya saja, kalau dihitung kasar, mungkin masih cukup untuk membeli empat Supra seperti yang saya kendarai.
Saya melihat NMAX.
Melihat Supra.
Melihat NMAX lagi.
Saya tidak tahu harus mengasihani siapa.
Sekali lagi, badut itu sama sekali tidak bersalah. Bisa jadi NMAX tersebut kredit. Bisa jadi pinjaman. Bisa jadi hasil menabung bertahun-tahun. Bahkan kalau memang miliknya sendiri dan dibeli tunai, justru bagus. Artinya pekerjaan yang sering kita pandang sebelah mata ternyata mampu memberinya penghidupan.
Yang bermasalah justru saya.
Saya rupanya terlalu mudah menyusun kelas sosial orang lain berdasarkan apa yang terlihat beberapa menit. Melihat badut di pinggir jalan, pikiran langsung menyusun cerita tentang kesusahan. Melihat komputer Windows 7, empat anak, dan rumah sederhana, pikiran segera menulis laporan kemiskinan sendiri.
Padahal kehidupan orang tidak sesederhana tampilan luarnya.
Orang Jawa mungkin cukup mengatakan, uripe uwong kuwi ora isa disawang mung saka njabane. Kita tidak tahu apa yang sedang ditanggung seseorang hanya dari kendaraan, pekerjaan, pakaian, rumah, atau komputer yang digunakannya.
Sama seperti kita tidak tahu isi dapur hanya dengan melihat genteng rumahnya.
Belas Kasih Tidak Perlu Di-uninstall
Barangkali karena itulah rasa kasihan tetap perlu kita pelihara. Dunia akan jauh lebih mengerikan kalau manusia kehilangan kemampuan untuk iba kepada manusia lain. Biarlah ia tetap menjadi software bawaan, atau kalau mau lebih sederhana, onderdil bawaan yang tidak perlu dicopot dari manusia.
Yang perlu diperiksa justru satu komponen lain yang kadang ikut menempel di belakangnya: kesombongan.
Sebab ada perbedaan tipis antara merasa kasihan kepada seseorang dan merasa lebih tinggi daripada orang yang kita kasihani.
Belas kasih seharusnya membuat kita mendekat kepada sesama manusia. Bukan menyediakan dingklik agar kita bisa berdiri sedikit lebih tinggi lalu memandang orang lain dari atas.
Saya sendiri sudah dua kali diberi pelajaran.
Yang pertama, saya kasihan kepada orang yang ternyata di samping kamar mandinya terparkir CR-V.
Yang kedua, saya memberikan dua ribu rupiah kepada badut yang kemudian pulang naik NMAX keyless.
Sementara saya pulang naik Supra.
Bukan Toyota.
Milik bapak pula.
Mungkin Gusti Allah memang punya selera humor yang agak keterlaluan. Dua kali saya dibuat merasa menjadi orang yang sedikit lebih beruntung, dua kali pula keadaan seperti menepuk pundak saya sambil berkata:
“Durung mesti, Mas.”
Maka kalau suatu hari nanti saya kembali merasa kasihan kepada seseorang, saya berharap rasa kasihan itu tetap ada. Saya tidak ingin meng-uninstall-nya. Saya juga tidak ingin mengalami konslet batin hanya karena terlalu sering kecewa setelah mengetahui orang yang saya kasihani ternyata punya kendaraan lebih bagus.
Saya hanya perlu mengingat satu hal:
Jangan terlalu cepat merasa berada di atas hanya karena sedang menunduk untuk menolong orang lain.
Sebab bisa saja setelah itu orang yang kita tolong pulang naik mobil.
Atau NMAX.
Sementara kita masih di pinggir jalan, membujuk Supra milik bapak agar mau diajak pulang.

Join the conversation