Kelompok “Eco-eco” yang Tidak Nge-“Eco”

Kelompok eco-eco semakin banyak, tetapi benarkah wacana ekologis selalu menghasilkan tindakan nyata untuk menjaga lingkungan?

Cuaca di Ponorogo demikian panas. Bahkan Ponorogo masuk dalam juara pertama kota terpanas Jawa Timur. Mungkin ini bagian dari dampak perubahan iklim. Mungkin, sebab saya bukan bagian dari komunitas eco-eco sehingga tidak bisa memastikan apakah panasnya cuaca ini benar-benar berkaitan dengan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan atau tidak sama sekali.

Bicara soal eco-eco yang tidak ada “Umberto”-nya, saya kira sudah banyak komunitas, kelompok kajian, seminar, diskusi, penelitian, dan berbagai macam perkumpulan yang membicarakan lingkungan dari banyak sudut pandang. Ada eco-sufisme, eco-feminisme, eco-theology, eco-spirituality, dan entah berapa lagi eco yang bisa ditempelkan di depan istilah lain.

Semua terdengar penting. Semua terdengar perlu. Dan mungkin memang demikian. Saya tidak sedang memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa berbagai kajian tersebut tidak berguna. Bisa jadi justru dari sanalah kita mendapatkan cara baru untuk memahami hubungan manusia dengan alam.

Hanya saja, ada satu pertanyaan sederhana yang terus mengganggu pikiran saya.

Setelah semua itu dibicarakan, siapa yang mengawal kelestarian lingkungannya?

Sebab lingkungan tidak ikut seminar. Sungai tidak membaca makalah. Pohon tidak menghadiri diskusi. Tanah juga tidak peduli apakah orang yang menjaganya memahami eco-theology atau tidak.

Di kampung-kampung, orang mungkin tidak mengenal istilah-istilah itu. Ada yang membersihkan saluran air karena kalau mampet rumahnya kebanjiran. Ada yang menjaga mata air karena kalau sumbernya rusak, warga sekampung kesulitan mendapatkan air. Ada yang mempertahankan pohon karena sejak kecil tahu bahwa pohon itu membuat tanah tetap kuat.

Mereka mungkin tidak pernah menyebut pekerjaannya sebagai gerakan ekologis.

Tidak ada framework. Tidak ada seminar. Tidak ada sertifikat. Tidak ada eco di depan pekerjaannya.

Tetapi ada tindakan.

Dan mungkin benar, eco yang tidak ada “Umberto”-nya ini telah kehilangan “Umberto”-nya. Atau malah jangan-jangan ia sedang masuk ke dalam prediksi Umberto Eco tentang dunia yang semakin dipenuhi tanda, simbol, dan produksi makna.

Umberto Eco memang banyak memikirkan bagaimana manusia menciptakan, menggunakan, dan membaca tanda. Dunia manusia bukan hanya dunia benda, tetapi juga dunia yang penuh dengan nama dan makna. Sesuatu tidak cukup hadir; kita juga ingin menamainya, menjelaskannya, menafsirkannya.

Barangkali itu pula yang terjadi pada lingkungan.

Kerusakan lingkungan diberi nama. Kepedulian terhadap lingkungan diberi nama. Gerakan diberi nama. Perspektif diberi nama. Komunitas diberi nama. Lalu lahirlah berbagai macam eco untuk menerangkan hubungan kita dengan alam.

Semakin banyak nama, semakin banyak pula cara kita membicarakan lingkungan.

Tetapi nama bukan tindakan.

Menamai sebuah persoalan tidak otomatis menyelesaikan persoalan tersebut. Menjelaskan hubungan spiritual manusia dengan alam tidak otomatis membuat orang berhenti membuang sampah ke sungai. Membicarakan kesakralan hutan tidak otomatis membuat hutan aman dari penebangan.

Di sinilah saya mulai curiga kepada eco-eco.

Bukan karena eco-eco itu salah.

Melainkan karena eco-eco bisa menjadi terlalu nyaman.

Kita bisa berbicara tentang lingkungan tanpa harus berurusan dengan lingkungan itu sendiri.

Kita bisa membahas sungai tanpa harus turun ke sungai. Bisa membicarakan hutan tanpa harus ikut menjaganya. Bisa mendiskusikan perubahan iklim tanpa harus mengawal kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan.

Diskusi selesai. Foto bersama. Pulang.

Sementara sungai tetap mengalir membawa sampah.

Barangkali di sinilah perbedaan antara mengetahui dan mengawal.

Orang yang mengawal lingkungan tidak selalu orang yang paling tahu istilah ekologis. Bisa jadi ia hanya tahu bahwa sungai di belakang rumahnya harus tetap bersih. Ia tidak tahu apa itu eco-theology, tetapi tahu bahwa air yang tercemar tidak bisa diminum. Ia tidak pernah membaca teori land ethic, tetapi tahu bahwa pohon yang ditebang akan membuat bukit gundul.

Dan mungkin orang semacam itu justru lebih dekat dengan inti persoalan.

Aldo Leopold, melalui gagasan land ethic, mengajak kita melihat hubungan manusia dengan tanah dan komunitas kehidupan bukan semata-mata sebagai hubungan ekonomi, tetapi juga sebagai persoalan etika. Ukuran moralitas kita terhadap alam pada akhirnya tidak berhenti pada apa yang kita pikirkan tentang alam, tetapi juga pada bagaimana kita memperlakukannya.

Kalau begitu, barangkali ukuran sederhana kepedulian lingkungan bukanlah berapa banyak istilah ekologis yang kita kuasai.

Melainkan: apa yang kita lakukan ketika tidak ada lagi yang sedang berdiskusi?

Apakah sungai tetap kita jaga setelah seminar selesai?

Apakah pohon tetap kita rawat setelah acara penanaman berakhir?

Apakah masyarakat tetap kita dampingi setelah kamera dan wartawan pergi?

Apakah kebijakan yang merusak lingkungan tetap kita awasi ketika isu tersebut sudah tidak lagi menarik perhatian?

Sebab lingkungan tidak rusak dalam satu seminar dan tidak pulih dalam satu seminar pula.

Ia membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih sepi: mengawasi, membersihkan, menanam, merawat, menegur, mendampingi, dan datang lagi ketika tidak ada yang memotret.

Mungkin pekerjaan seperti itu kurang menarik untuk dijadikan judul acara.

Kurang menarik untuk dijadikan tema seminar.

Kurang menarik untuk dijadikan nama komunitas.

Tetapi justru di situlah lingkungan membutuhkan kita.

Dan saya kembali kepada cuaca panas tadi.

Saya tidak tahu apakah panasnya Ponorogo hari ini merupakan akibat langsung perubahan iklim, kerusakan lingkungan, atau gabungan banyak faktor yang jauh lebih rumit daripada yang mampu saya jelaskan.

Saya bukan ahli iklim.

Saya juga bukan anggota komunitas eco-eco.

Tetapi saya tahu satu hal sederhana: kalau lingkungan memang sedang bermasalah, kita tidak mungkin menyelesaikannya hanya dengan menambah jumlah orang yang pandai menjelaskan masalah.

Kita membutuhkan orang yang mau mengawalnya.

Dan kalau orang yang mengawal itu tidak tahu istilah eco-sufisme, eco-feminisme, eco-theology, atau eco-apa pun, saya kira tidak masalah.

Barangkali lingkungan memang tidak pernah meminta kita memberinya nama.

Ia hanya meminta kita tidak merusaknya.

Selebihnya, biarlah para eco bertemu dengan “Umberto”-nya masing-masing.

Asalkan setelah pertemuan selesai, ada yang pulang membawa sapu.

Karena kalau tidak, jangan-jangan yang semakin hijau hanya judul acaranya.

Dan... mungkin tulisan ini juga tidak eco sama sekali. Ia tidak membersihkan sungai, tidak menanam pohon, tidak menyelamatkan mata air. Ia hanya menambah satu lagi tulisan tentang lingkungan ke internet yang sudah terlalu penuh dengan tulisan tentang lingkungan..

© khafi.id Terima kasih telah berkenan berpikir bersama.