Komersialisasi Doa: Fakir Miskin Terancam Tidak Dapat Hadiyah Fatihah
Saya tidak lantas ingin menyindir salah satu majelis yang mungkin saja melakukan hal seperti ini. Sebab, fenomena yang hendak dibicarakan bukan milik satu majelis, satu kiai, atau satu kelompok tertentu. Di beberapa platform media sosial, kita sudah cukup sering menemukan pengumuman semacam: “Kontak person hadiyah Fatihah.”
Mungkin sebagian dari kita tidak terlalu memperhatikannya. Barangkali karena sudah terlalu sering melihatnya, sehingga lama-lama terasa biasa. Tetapi percayalah, praktik semacam ini benar-benar ada.
Di beberapa forum pengajian, kita sudah lumrah dengan istilah “info lapak”. Maksudnya, para pedagang yang ingin berjualan dalam sebuah kegiatan dipersilakan menghubungi panitia untuk mendapatkan tempat. Ada lapak, ada lokasi, ada fasilitas, lalu ada biaya tertentu yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan slot tersebut.
Nah, belakangan muncul sesuatu yang agak menarik untuk direnungkan: slot hadiyah Fatihah.
Konsepnya sekilas hampir mirip. Jika pedagang mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan tempat berjualan, seseorang juga dapat menghubungi panitia untuk mendapatkan slot pembacaan Fatihah yang ditujukan kepada orang tua, leluhur, atau seseorang yang telah meninggal dunia. Bisa pula ditujukan untuk sebuah hajat.
Di sinilah pertanyaan kecil itu muncul: apakah doa juga sudah mengenal sistem booking?
Barangkali pertanyaan tersebut terdengar kurang sopan. Bahkan mungkin dianggap sinis. Padahal persoalannya bukan pada doa yang dipanjatkan. Mendoakan orang yang telah meninggal tentu saja merupakan sesuatu yang baik. Membaca Al-Fatihah untuk orang tua, guru, keluarga, atau siapa pun yang telah mendahului kita juga bukan persoalan.
Yang menarik justru ketika kesempatan untuk “didoakan” mulai disusun seperti sebuah layanan: ada panitia, ada kontak person, ada pemesanan, dan ada nominal tertentu.
Lebih menarik lagi karena pemesanannya terkadang cukup banyak. Maka kalau dahulu kita mengenal ungkapan “khususon ila ruhi...”, sekarang bisa saja menjadi “khususon” untuk beberapa nama sekaligus. Maklum, kalau pemesanannya banyak, barangkali tidak efisien kalau satu nama harus mendapatkan satu sesi khusus.
Akhirnya doa pun mengenal istilah yang sangat modern: slot.
Saya sering mendengar dalam sebuah pengajian sebuah nasihat yang kurang lebih mengatakan bahwa banyak hal yang sebenarnya berkaitan dengan akhirat dapat berubah menjadi urusan dunia karena niat. Sebaliknya, banyak pula pekerjaan duniawi yang justru dapat bernilai sebagai amal akhirat karena niat pula.
Saya tidak tahu persis redaksi dan dari siapa nasihat tersebut berasal. Tetapi gagasannya sederhana: niat dapat menentukan nilai sebuah perbuatan.
Karena itu, ketika urusan doa mulai diletakkan dalam mekanisme transaksi, pertanyaan tentang niat menjadi semakin penting. Bukan untuk menghakimi niat orang lain—karena niat adalah wilayah yang tidak bisa kita lihat—melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan sesuatu yang semestinya menjadi jalan menuju akhirat perlahan-lahan kita tarik kembali menjadi urusan dunia.
Barangkali tidak demikian. Barangkali uang tersebut memang untuk membantu biaya kegiatan, panitia, atau kebutuhan lain. Dan tentu tidak adil pula menyimpulkan bahwa setiap pemberian uang dalam kegiatan keagamaan otomatis berarti seseorang sedang “membeli doa”.
Tetapi justru karena persoalannya berada di wilayah yang samar, kita perlu lebih berhati-hati.
Filsuf Immanuel Kant pernah mengingatkan, manusia semestinya diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan lain. Gagasan itu tentu bukan sedang membicarakan hadiyah Fatihah. Tetapi ia memberi kita sebuah kaca untuk melihat persoalan ini.
Jangan sampai orang yang datang membawa hajat, membawa nama orang tua yang telah meninggal, atau membawa kerinduan kepada leluhurnya, perlahan-lahan kita lihat hanya sebagai “pemesan”. Ada nama, ada nominal, ada slot.
Manusia kemudian menjadi angka dalam daftar.
Di sisi lain, Karl Marx punya gagasan tentang komodifikasi: sesuatu yang sebelumnya memiliki nilai sosial atau nilai tertentu di luar pasar dapat berubah menjadi sesuatu yang memiliki harga ketika masuk ke dalam logika pertukaran.
Barangkali Marx akan tersenyum melihat zaman kita. 😂 Bahkan sesuatu yang tidak bisa ditimbang pun kadang-kadang menemukan cara untuk diberi harga.
Sekali lagi, bukan berarti setiap pemberian uang dalam kegiatan keagamaan otomatis merupakan jual beli doa. Tetapi pertanyaannya menjadi menarik ketika doa, nama orang yang didoakan, waktu pembacaan, dan nominal mulai tersusun dalam satu mekanisme yang mirip dengan transaksi.
Sebab ketika doa mulai memiliki tarif, kita tidak hanya sedang berhadapan dengan persoalan uang. Kita sedang berhadapan dengan kemungkinan munculnya sebuah cara pandang baru: bahwa semakin banyak uang yang dikeluarkan, semakin besar pula kesempatan seseorang mendapatkan perhatian dalam ruang spiritual.
Dan di titik ini saya justru lebih khawatir kepada orang-orang miskin.
Jangan sampai kelak ruang doa menjadi seperti ruang-ruang lain dalam kehidupan kita yang semakin mengenal kelas. Ada tempat khusus bagi yang mampu membayar, sementara yang tidak mampu cukup berdiri di luar pagar.
Padahal orang miskin juga punya orang tua yang telah meninggal. Mereka juga punya leluhur yang ingin didoakan. Mereka juga memiliki hajat. Bahkan mungkin, karena keterbatasan hidupnya, doa adalah salah satu hal paling murah yang masih bisa mereka harapkan.
Dan apa yang saya bayangkan?
Saya membayangkan seorang panitia yang miskin. Sejak kegiatan itu hendak dimulai, sejak bersih-bersih lokasi, menata kursi, memasang perlengkapan, sampai acara benar-benar dimulai, si miskin ini bekerja tanpa banyak bicara. Tangannya mungkin lebih dulu kotor daripada tangan siapa pun. Keringatnya mungkin sudah bercucuran ketika sebagian orang baru datang dan mencari tempat duduk.
Dan kita tahu, dalam banyak kegiatan masyarakat, rewang yang paling rajin justru sering datang dari kalangan seperti ini. Mereka mungkin tidak punya banyak uang, tetapi punya tenaga. Tidak punya banyak fasilitas, tetapi punya waktu. Ketika ada kegiatan, mereka datang. Ketika dibutuhkan, mereka membantu.
Lalu tibalah sesi hadiyah Fatihah.
Nama-nama mulai dibacakan. Satu per satu. Atau mungkin beberapa nama sekaligus. Orang-orang yang sebelumnya sudah memesan slot didoakan, dikhususkan untuk orang tua, leluhur, keluarga, atau hajat masing-masing.
Si miskin tadi hanya diam.
Bukan karena dia tidak punya orang tua yang ingin didoakan. Bukan karena dia tidak punya leluhur. Bukan pula karena hidupnya tidak memiliki hajat.
Dia hanya tidak punya cukup uang untuk membeli slot.
Dan di situlah saya membayangkan sebuah ironi yang agak pahit: orang yang sejak awal ikut menyiapkan tempat untuk orang lain berdoa, justru tidak mendapatkan tempat dalam doa karena tidak mampu membayar.
Kalau sampai suatu hari keadaan seperti itu benar-benar dianggap biasa, barangkali ada sesuatu yang perlu kita pikirkan kembali.
Sebab agama mestinya menjadi ruang yang lapang. Orang kaya boleh masuk. Orang miskin juga boleh masuk. Orang yang membawa banyak sedekah boleh datang. Orang yang hanya membawa tenaga juga tidak semestinya merasa asing.
Jangan sampai kita membuat ukuran baru dalam kehidupan spiritual: yang punya uang mendapatkan slot, sementara yang tidak punya uang cukup mendapatkan tugas rewang.
Yang satu mendapatkan namanya disebut dalam doa, yang lain cukup disebut ketika panitia membutuhkan tambahan tenaga.
Kalau sampai begitu, saya khawatir kita sedang membangun sebuah ironi yang tidak lucu: si miskin membantu menyediakan panggung bagi doa, tetapi tidak mampu membeli tempat di dalam doa itu sendiri.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa praktik semacam ini sudah sampai sejauh itu. Belum tentu. Tetapi bukankah banyak hal besar dalam kehidupan kita bermula dari sesuatu yang awalnya dianggap kecil dan biasa?
Dulu mungkin kita datang ke pengajian untuk mendengarkan nasihat. Sekarang ada info lapak. Itu tidak masalah. Pedagang memang membutuhkan tempat dan panitia membutuhkan biaya.
Tetapi kalau suatu hari doa juga mulai dipasarkan dengan mekanisme yang sama, barangkali kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: jangan-jangan bukan doanya yang berubah, melainkan cara kita memperlakukan doa.
Sebab ada sesuatu yang agak lucu sekaligus menggelitik. Di dunia perdagangan, kita membayar agar mendapatkan tempat untuk menjual barang. Di dunia spiritual, jangan sampai kita membayar agar mendapatkan tempat dalam doa.
Jangan-jangan suatu hari nanti kita akan sampai pada keadaan ketika amal tidak lagi terasa sebagai buah keikhlasan, melainkan sesuatu yang harus dicari slotnya.
Dan kalau sampai begitu, mungkin kita tidak lagi bertanya, “Kapan pengajiannya?” tetapi mulai bertanya, “Masih ada slot Fatihah, Pak?”

Join the conversation