Hidup yang "Pating Krenthil"
“Gawanmu kok koyo uripmu, pating krenthil. Sajak kok repot banget to uripmu ki?
Kalimat itu beberapa kali terdengar, waktu sedang bawa barang ke mana-mana. Di punggung ada tas, di samping ada tas, di depan masih nyantol lagi. Lengkap seperti tukang sayur keliling. Dari luar memang kelihatan repot. Dan memang repot. Gerak jadi terbatas, mau belok harus mikir, mau berhenti juga tidak sesimpel biasanya. Apalagi kalau dibawa naik motor agak jauh, yang dibawa bukan cuma barang, tapi juga kekhawatiran kalau ada yang jatuh satu-satu di jalan.
Tapi ya mau bagaimana lagi. Dalam realitas hidup sehari-hari, kadang satu-satunya cara untuk bertahan ya memang itu: membawa banyak hal sekaligus. Bukan karena enak, tapi karena memang belum ada pilihan lain. Kalau tidak begitu, ya tidak jalan. Di titik ini, hidup sederhana bukan berarti tanpa beban, tapi sering kali hanya soal bagaimana kita membawa beban itu.
Di situ mulai terasa, kerepotan hidup itu bukan sesuatu yang benar-benar bisa dihindari. Paling cuma dipindah. Seperti yang sering dibahas Sigmund Freud: sesuatu yang ditekan itu jarang benar-benar hilang, biasanya cuma muncul lagi dalam bentuk lain.
Banyak orang ingin hidup yang tidak repot: tidak ribet urusan uang, tidak pusing masa depan, tidak capek menghadapi macam-macam orang. Lalu dipilihlah jalan yang kelihatan lebih aman: kerja tetap, gaji jelas, ada jaminan hari tua. Kelihatannya enak. Tapi di dalamnya ya tetap ada repotnya: absen pagi, target kerja, aturan ini-itu. Yang dulu tidak ada, sekarang harus dijalani. Bukan hilang repotnya, cuma ganti bentuk dalam pilihan hidup yang berbeda.
Hal-hal kecil juga begitu. Biar tidak capek jalan, orang beli motor. Perjalanan jadi lebih cepat, tidak terlalu melelahkan. Tapi habis itu mikir pajak, bensin, surat-surat, kadang juga was-was kalau ada razia, dan tetap saja kehujanan kalau langit sedang tidak ramah. Naik lagi, belilah mobil. Lebih nyaman, tidak kehujanan, bisa bawa keluarga. Tapi tambah lagi urusannya: biaya, parkiran, jalan sempit, harus menyediakan garasi. Yang satu selesai, muncul yang lain. Dalam banyak hal, solusi hidup justru membawa konsekuensi baru yang tidak selalu lebih ringan.
Akhirnya ya begitu. Keluar dari satu kerepotan hidup, masuk ke kerepotan yang lain.
Seolah-olah hidup ini bukan soal menghilangkan pating krenthil, tapi tentang memilih mau pating krenthil yang mana. Seperti yang pernah dikatakan Albert Camus, dalam buku Mitos Sisifus yang tidak sengaja kebaca:
"hidup ini ya tetap dijalani, meski rasanya seperti mendorong beban yang itu-itu saja."
Kalau benar-benar tidak mau repot, ya bisa saja: diam di tempat, tidak ke mana-mana, tidak melakukan apa-apa. Tapi biasanya, yang repot malah orang lain. Paling tidak, tetangga...karena harus melihat kita begitu terus-menerus.

Post a Comment for "Hidup yang "Pating Krenthil""
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.