Kami Tentaranen

Di dalam khazanah bahasa Jawa, ada sebuah awalan yang menarik: kami- atau kemi-. Ia mungkin tidak banyak ditemukan dalam kamus resmi, tetapi hidup akrab di percakapan sehari-hari. Awalan ini biasanya menggambarkan keadaan ketika seseorang seolah "dikuasai" oleh sesuatu hingga kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Kita mengenal istilah kamitenggengen untuk orang yang terpaku karena bingung, atau kamisesegen untuk seseorang yang menangis tersedu-sedu.

Belakangan, rasanya kita perlu menambah satu kosakata baru.

Kami tentaranen.

Bukan berarti menjadi tentara. Melainkan keadaan ketika seseorang—atau bahkan sebuah lembaga—mendadak melihat hampir semua persoalan dengan cara pandang kemiliteran. Sedikit-sedikit harus baris-berbaris. Sedikit-sedikit harus dibentak agar dianggap disiplin. Sedikit-sedikit merasa ketegasan hanya sah bila disampaikan dengan suara keras dan langkah yang seragam.

Yang menarik, gejala ini justru banyak muncul di ruang-ruang yang sama sekali bukan milik militer.

Barangkali kita pernah melihatnya sejak lama. Masa orientasi sekolah yang sibuk menghafal aba-aba. Pelatihan pegawai yang diawali apel berjam-jam. Bahkan kegiatan yang tujuan utamanya mengasah keterampilan teknis pun sering kali merasa belum lengkap sebelum peserta diajak lencang kanan, grak!

Seolah-olah bangsa ini diam-diam menyepakati satu keyakinan: tidak ada disiplin tanpa aroma barak.

Disiplin Tidak Selalu Berbentuk Baris-Berbaris

Padahal disiplin memiliki banyak wajah.

Disiplin seorang prajurit memang diwujudkan melalui kepatuhan, koordinasi, dan kesiapan menghadapi situasi hidup atau mati. Namun disiplin seorang teknisi terletak pada ketelitian membaca rangkaian. Disiplin seorang akuntan ada pada kejujuran menyusun laporan. Disiplin seorang desainer grafis lahir dari kemampuan menjaga tenggat tanpa kehilangan kreativitas.

Masing-masing profesi memiliki bentuk kedisiplinannya sendiri.

Karena itu, selalu terasa janggal ketika peserta pelatihan elektronika atau desain grafis lebih dulu diajak menyempurnakan langkah kaki sebelum menyempurnakan keterampilan yang sebenarnya mereka butuhkan. Sulit menemukan hubungan antara kemampuan menyolder komponen elektronik dengan ketepatan melakukan penghormatan. Sama sulitnya dengan menjelaskan mengapa kemampuan memilih palet warna harus diawali dengan berjemur sambil menghitung langkah.

Di negeri ini, kadang-kadang orang lebih dipercaya karena langkahnya seragam daripada karena pikirannya matang.

Persoalannya bukan pada latihan fisiknya, melainkan pada cara berpikir yang menganggap semua jenis kedisiplinan dapat dicetak menggunakan cetakan yang sama.

Barangkali inilah yang pernah dikritik Ivan Illich. Ia melihat bagaimana institusi sering kali jatuh pada kebiasaan menawarkan jawaban yang tidak benar-benar berkaitan dengan persoalan yang hendak diselesaikan. Lama-kelamaan solusi berubah menjadi ritual. Yang penting prosedurnya dijalankan, meski manfaatnya makin sulit ditemukan.

Cara berpikir semacam ini memang terasa praktis. Tinggal satu resep untuk semua persoalan. Jika masyarakat dianggap kurang disiplin, panggil instruktur militer. Jika pegawai dianggap kurang sigap, buat apel pagi lebih lama. Jika mahasiswa dianggap kurang berkarakter, tambah latihan fisik.

Padahal kehidupan tidak pernah sesederhana itu.

Ketika Logika Militer Masuk ke Ruang Sipil

Michel Foucault pernah menunjukkan bahwa disiplin bukan sekadar aturan, melainkan cara sebuah institusi membentuk tubuh agar patuh. Tubuh diajari berdiri, berjalan, bergerak, hingga bereaksi menurut pola tertentu. Dalam konteks tertentu, cara semacam itu memang diperlukan. Militer, misalnya, memang dibangun untuk menghadapi peperangan yang menuntut koordinasi mutlak.

Masalah muncul ketika logika yang sama dipindahkan begitu saja ke dunia sipil.

Belum lama ini, publik dikejutkan oleh kabar meninggalnya beberapa peserta dalam program pelatihan calon pengelola koperasi desa yang diawali dengan latihan dasar kemiliteran. Peristiwa itu mengingatkan bahwa kekaguman pada simbol ketegasan dapat berubah menjadi tragedi ketika melupakan kebutuhan nyata manusia yang sedang dilatih.

Padahal persoalan koperasi bukan kekurangan barisan yang rapi. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan mengelola keuangan, memahami tata kelola, membangun kepercayaan, dan mencegah penyalahgunaan wewenang. Semua itu lebih dekat dengan latihan berpikir daripada latihan tiarap.

Kami Tentaranen

Di sinilah barangkali kita sedang mengalami sesuatu yang bisa disebut kami tentaranen.

Kita terlalu mudah mengira bahwa ketegasan selalu tampak seperti sepatu lars. Bahwa karakter hanya lahir dari bentakan. Bahwa kepemimpinan identik dengan suara yang keras. Sementara kesabaran, dialog, kemampuan mendengar, atau kecermatan berpikir sering dianggap terlalu lunak untuk disebut disiplin.

Padahal sejarah justru berkali-kali menunjukkan sebaliknya. Banyak kemajuan lahir bukan dari mereka yang paling keras bersuara, melainkan dari mereka yang paling tekun berpikir.

Tentara memiliki peran yang mulia menjaga kedaulatan negara. Namun kemuliaan itu tidak berarti seluruh kehidupan sipil harus meniru cara kerjanya. Sama seperti dokter yang mulia menyelamatkan nyawa, tetapi bukan berarti setiap persoalan bangsa harus diselesaikan di ruang operasi.

Setiap bidang memiliki logikanya sendiri.

Kedewasaan sebuah bangsa bukan ditentukan oleh seberapa sering warganya berbaris lurus, melainkan oleh kemampuannya membedakan kapan sebuah pendekatan memang tepat digunakan, dan kapan ia hanya menjadi kebiasaan yang diwariskan tanpa pernah lagi dipertanyakan.

Kalau suatu hari nanti semua pelatihan—mulai dari membuat batik, merancang aplikasi, sampai menanam padi—masih merasa perlu diawali dengan lencang kanan, mungkin yang sedang kita alami bukan lagi kekurangan disiplin.

Melainkan kami tentaranen.

Sebuah keadaan ketika kita terlalu mudah percaya bahwa cara terbaik membentuk manusia adalah membuat mereka seragam, padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kemajuan justru lahir dari keberanian berpikir dengan caranya sendiri.

© khafi.id

Post a Comment for "Kami Tentaranen"