Ibnu Khaldun Khawatir Kebaikan Menjadi Profesi. Saya Khawatir Ia Menjadi Fitur.


Saya pernah membaca Muqaddimah dari sebuah PDF bajakan. Ironis memang. Belajar tentang runtuhnya peradaban dari hasil meruntuhkan hak cipta. Namun justru dari berkas yang beredar diam-diam itu saya menemukan sebuah kegelisahan Ibnu Khaldun yang terasa semakin nyata hari ini.

Ia mengkhawatirkan satu hal: suatu hari nanti, kebaikan akan berubah menjadi profesi.

Bagi Ibnu Khaldun, itu bukan sekadar perubahan jenis pekerjaan. Ia melihatnya sebagai gejala sebuah peradaban. Ketika masyarakat semakin makmur dan segala urusan semakin terlembagakan, sesuatu yang dahulu tumbuh sebagai kebiasaan bersama perlahan diserahkan kepada orang-orang yang memang dibayar untuk melakukannya. Mengajar, merawat, membela yang lemah, hingga mengurus kepentingan publik tidak lagi semata lahir dari dorongan moral, melainkan menjadi bagian dari pekerjaan.

Kebaikan masih ada. Bahkan mungkin dilakukan dengan lebih rapi dan lebih terorganisasi. Namun ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang: ia tidak lagi menjadi kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat.

Barangkali, bagi Ibnu Khaldun, di situlah awal kemundurannya.

Namun, jika beliau hidup hari ini, mungkin kegelisahannya justru akan bertambah. Sebab profesi ternyata belum menjadi dasar jurang. Peradaban digital berhasil membawa kebaikan turun satu tingkat lagi.

Hari ini, kebaikan sering kali tidak lagi menjadi profesi.

Ia cukup menjadi fitur.

Fitur adalah pelengkap. Ia membuat sebuah aplikasi tampak lebih menarik, lebih nyaman digunakan, dan lebih layak dipasarkan. Tanpa fitur tertentu, sebuah aplikasi tetap dapat berjalan. Fitur hanya ditambahkan agar pengalaman penggunanya terasa lebih baik.

Celakanya, logika itu perlahan merembes ke dalam cara kita memperlakukan kebaikan.

Kebaikan tidak lagi menjadi fondasi yang menopang kehidupan bersama. Ia berubah menjadi pelengkap citra. Sesuatu yang diaktifkan ketika diperlukan, lalu dimatikan ketika dianggap mengganggu kenyamanan.

Ketika Kamera Menyala Lebih Dulu

Lihatlah media sosial.

Tidak sedikit aksi berbagi yang terasa lebih sibuk menata sudut pengambilan gambar daripada memastikan martabat orang yang dibantu tetap terjaga. Kamera sering kali menyala lebih dulu daripada tangan yang hendak memberi. Tangisan, pelukan, dan rasa haru dikurasi menjadi bagian dari alur cerita yang mengundang simpati sekaligus keterlibatan. Kebaikan akhirnya bekerja sebagai fitur untuk memperkuat jangkauan, membangun personal branding, atau sekadar menjaga statistik tetap bergerak naik.

Masalahnya bukan pada kamera. Dokumentasi kadang memang diperlukan. Persoalannya muncul ketika dokumentasi menjadi tujuan, sementara manusia hanya berubah menjadi properti yang mempercantik narasi.

Fitur yang Bernama Empati

Gejala serupa juga mudah ditemukan di tempat lain.

Perusahaan berlomba memamerkan kepedulian sosial karena publik menyukainya. Politikus tiba-tiba akrab dengan warga kecil ketika musim pemilu mulai mendekat. Bahkan kita sendiri, tanpa sadar, mulai mengaktifkan "fitur kebaikan" hanya ketika ada manfaat sosial yang bisa dipetik. Kita bersikap ramah agar dipandang santun, berdonasi agar dianggap peduli, atau lantang membela keadilan selama tidak mengganggu kenyamanan hidup kita sendiri.

Empati perlahan bekerja seperti tombol di layar gawai: aktif ketika menguntungkan, lalu dinonaktifkan ketika mulai menuntut pengorbanan.

Turun Pangkat

Di sinilah perbedaannya.

Kebaikan yang menjadi profesi masih menuntut konsistensi. Seorang guru tetap mengajar setiap hari. Seorang perawat tetap merawat pasien. Seorang pekerja sosial tetap menjalankan tugasnya, meskipun motifnya mungkin sudah bercampur dengan kebutuhan mencari nafkah.

Sementara kebaikan yang berubah menjadi fitur tidak menuntut apa pun selain penampilan. Ia cukup hadir ketika dibutuhkan untuk mempercantik citra, lalu menghilang tanpa meninggalkan kewajiban.

Mungkin itulah bentuk kemunduran yang tidak terlalu kita sadari. Kita hidup di zaman yang begitu mudah menggalang donasi, menyebarkan kampanye kemanusiaan, dan mengumpulkan dukungan hanya melalui beberapa sentuhan jari. Semua tampak lebih cepat, lebih praktis, dan lebih modern.

Namun kemudahan tidak selalu melahirkan kedalaman.

Bisa jadi kita sedang memasuki masa ketika kebaikan tidak pernah benar-benar hilang, tetapi juga tidak pernah benar-benar hidup. Ia selalu hadir di layar, selalu muncul di lini masa, selalu menjadi bahan kampanye, tetapi semakin jarang menjadi watak.

Barangkali itulah ironi yang bahkan belum sempat dibayangkan oleh Ibnu Khaldun. Yang datang setelah kebaikan menjadi profesi ternyata bukan kembalinya ketulusan, melainkan kebaikan yang turun pangkat menjadi fitur.

Dan seperti semua fitur lain pada gawai kita, ia bisa dinyalakan kapan saja, lalu dimatikan tanpa rasa bersalah.

© Khafi.id

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berpikir bersama.

Post a Comment for "Ibnu Khaldun Khawatir Kebaikan Menjadi Profesi. Saya Khawatir Ia Menjadi Fitur."