Cerita Nabi Sulaiman dan Saya
Seingat saya, sejak masih Taman Kanak-kanak, kita sudah akrab dengan satu nasihat yang terdengar mulia: perbanyaklah ilmu, supaya kelak hidup lebih terarah. Waktu itu, tentu saja belum ada jawaban yang benar-benar dipahami. Kita hanya “nggih-nggih” saja, seperti kebanyakan anak kecil yang belum sempat curiga.
Beberapa tahun setelahnya, ketika sudah agak lancar membaca, kita mulai dikenalkan dengan buku-buku seperti Kisah-kisah Teladan Islami. Dari sana, pelan-pelan terbentuk keyakinan bahwa orang berilmu itu hidupnya lebih baik. Bahkan, ada cerita yang mengatakan bahwa tidurnya orang berilmu lebih bernilai daripada ibadahnya orang yang tidak berilmu. Setan pun, katanya, lebih takut pada orang berilmu, bahkan saat ia sedang tidur.
Kita percaya saja. Bukan karena sudah mengerti, tapi karena tidak ingin dianggap meragukan sesuatu yang dibungkus sebagai sabda Nabi. Pada usia itu, kepercayaan memang bekerja tanpa banyak tanya. Sesuatu dianggap benar bukan karena telah diuji, tetapi karena sering diulang dan disampaikan oleh orang-orang yang kita hormati.
Masih dari cerita-cerita serupa, kita juga dikenalkan pada ungkapan yang sering diulang-ulang: barang siapa menghendaki dunia, maka dengan ilmu; barang siapa menghendaki akhirat, maka dengan ilmu; dan barang siapa menghendaki keduanya, maka dengan ilmu. Sejak titik itu, arah hidup seperti sudah ditentukan secara halus, pilihlah ilmu, karena ia seolah menjadi kunci untuk semuanya.
Pilihan itu terasa makin masuk akal ketika kita mendengar kisah Nabi Sulaiman. Dalam salah satu versi cerita yang populer, beliau konon diberi pilihan: ilmu, harta, atau tahta. Dengan kebijaksanaan yang diberikan Tuhan, beliau memilih ilmu. Hasilnya, bukan hanya ilmu yang didapat, tapi juga harta dan tahta sekaligus.
Cerita yang rapi. Terlalu rapi, mungkin.
Sebab yang sering luput diingat, yang diceritakan adalah Nabi Sulaiman, bukan kita.
Berbekal cerita-cerita itu dan dorongan dari orang-orang yang lebih dulu hadir dalam hidup, banyak dari kita akhirnya tumbuh dengan keyakinan yang sama, ilmu lebih utama daripada harta. Maka, pilihan pun diambil dengan penuh kesungguhan, meski mungkin tanpa benar-benar mengerti konsekuensinya.
Masalahnya, hidup tidak selalu mengikuti alur cerita.
Tidak semua yang memilih ilmu kemudian menjadi berilmu. Dan tentu saja, tidak semua yang tidak kaya otomatis menjadi pintar. Realitasnya lebih sederhana sekaligus lebih pahit, ada yang tidak kaya, tapi juga tidak pandai-pandai amat. Di titik ini, kita mulai sadar bahwa kehidupan tidak bekerja seperti rumus yang pernah diajarkan dengan begitu yakin.
Kadang muncul pikiran yang agak tidak enak diakui, jangan-jangan yang selama ini diyakini terlalu disederhanakan sejak awal. Ilmu memang penting, tapi mungkin tidak pernah dijanjikan sebagai jalan yang otomatis membawa kesejahteraan. Atau barangkali, yang keliru bukan pada ajarannya, melainkan pada cara kita memahaminya.
Di titik tertentu, imajinasi mulai bekerja. Barangkali ini semacam cara halus untuk menenangkan diri, atau sekadar memberi jeda dari kenyataan yang tidak selalu ramah.
Bayangkan, sebelum lahir ke dunia, kita pernah ditanya, “Untuk bekal hidupmu, kamu memilih apa, ilmu atau harta?” Lalu dengan penuh keyakinan, kita menjawab, “Ilmu, ya Allah.” Dengan harapan, melalui ilmu itu, kelak semua yang lain akan mengikuti.
Lalu hidup dimulai.
Mak kluthik, cenger…!!
Ternyata, kita bukan Nabi Sulaiman. Ilmu tidak datang seistimewa itu. Harta juga tidak tiba-tiba mengikuti. Yang tersisa hanya potongan-potongan kecil, sedikit pengetahuan, sedikit pengalaman, dan cukup banyak kebingungan. Kita belajar, tapi tidak selalu merasa cukup. Kita berusaha, tapi tidak selalu sampai.
Hasil akhirnya sederhana, tidak kaya, pandai pun belum tentu.
Di situ, dunia mulai terlihat dengan cara yang berbeda.
Ada yang dibekali kekayaan, lalu menggunakan itu untuk “membeli” kepandaian. Ada yang dibekali kepandaian, lalu menjualnya pada yang punya kekayaan. Sementara itu, ada juga yang tidak memiliki keduanya, tapi tetap diminta membayar mahal, misalnya untuk sekadar mengakses pendidikan. Di titik ini, ilmu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang bebas diambil, melainkan seperti sesuatu yang harus ditebus.
Dari kejauhan, semuanya terlihat seperti sistem yang rapi. Tapi jika diamati lebih dekat, ada yang terasa janggal. Ilmu yang dulu diajarkan sebagai jalan pembebasan, pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang bisa ditakar dengan tarif. Nilainya tidak lagi diukur dari manfaatnya, tetapi dari harga yang sanggup dibayar.
Di titik itu, penyesalan kadang muncul dengan cara yang sederhana dan agak konyol, “Kenapa dulu tidak memilih harta saja?”
Tentu saja itu hanya gumaman dalam hati. Tidak benar-benar serius. Atau mungkin justru terlalu serius.
Lalu, seperti biasa, kita tidur. Berharap tidurnya pulas, siapa tahu, sesuai cerita lama, ada nilainya juga. Pagi harinya bangun, membuat kopi, dan melanjutkan hidup.
Sambil, diam-diam, mulai mempertanyakan ulang cerita-cerita yang dulu kita telan mentah-mentah.

1 comment for "Cerita Nabi Sulaiman dan Saya"
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.