Drama Cina dan Kebencian Instan

Ada satu kebiasaan kecil yang belakangan diam-diam tumbuh: menonton drama China. Bukan yang panjang berpuluh episode itu, tapi yang pendek-pendek, cepat, padat, dan entah bagaimana terasa “nagih”.

Padahal, kalau mau jujur, polanya itu-itu saja. Ada tokoh yang dipermalukan, diremehkan, diinjak-injak—kadang tanpa alasan yang terlalu masuk akal. Lalu pelan-pelan, atau justru sangat cepat, ia bangkit. Membalas. Menang. Selesai.

Penonton pun lega.

Aneh sebenarnya. Kita sudah tahu alurnya, sudah bisa menebak siapa yang akan jatuh dan siapa yang akan berdiri di akhir cerita. Tapi tetap saja ditonton. Diulang lagi. Pindah judul, tapi rasa yang dicari tetap sama. Seolah-olah bukan ceritanya yang penting, melainkan sesuatu yang ikut bergerak di dalam diri saat menonton.

Beberapa aplikasi memang memberi imbalan koin. Katanya bisa ditukar rupiah. Tapi kalau dihitung pelan-pelan, sering kali yang keluar lebih banyak daripada yang masuk. Kuota habis, waktu ikut terseret, sementara hasilnya ya… sekadar cukup untuk merasa tidak sepenuhnya sia-sia. Mirip pekerjaan yang tidak benar-benar ingin dikerjakan, tapi tetap dijalani.

Meski begitu, rasanya terlalu sederhana kalau semua ini dijelaskan hanya karena koin. Ada yang memang suka. Ada yang sekadar mengisi waktu. Dan ada juga yang barangkali tidak tahu kenapa tetap menonton, selain karena rasanya “kena”.

Jika dibahas lebih jauh, mungkin yang “kena” itu bukan ceritanya, tapi perasaannya.

Perasaan yang muncul cepat, memuncak cepat, lalu dilunasi juga dengan cepat. Semacam kebencian yang instan.

Tokoh jahat dibuat menjengkelkan dalam hitungan menit. Kadang berlebihan, bahkan tidak masuk akal. Tapi justru di situlah letaknya: penonton tidak perlu berpikir panjang untuk membenci. Tidak perlu memahami latar belakang. Tidak perlu ragu. Cukup kesal, lalu menunggu balasan.

Pada tahap ini, apa yang terjadi sebenarnya tidak jauh dari apa yang pernah dibicarakan Aristotle  asebagai catharsis—pelepasan emosi melalui tontonan. Dalam tragedi, penonton diajak merasakan takut dan iba, lalu dilepaskan di akhir cerita. Hanya saja, dalam drama pendek hari ini, yang dilepas bukan lagi iba, melainkan kemarahan. Versinya lebih cepat, lebih ringkas, dan barangkali lebih praktis.

Sementara itu, dalam pandangan Sigmund Freud, emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah bentuk, mencari jalan keluar yang lain. Bisa lewat mimpi, bisa lewat kebiasaan kecil, atau mungkin lewat tontonan yang terasa dekat tanpa harus diakui secara sadar.

Maka ketika ada tokoh yang dipermalukan di layar, lalu membalas dengan telak, yang terasa bukan hanya kepuasan mengikuti cerita, tapi juga semacam pelunasan kecil dari sesuatu yang selama ini mengendap. Kita tidak benar-benar membalas siapa-siapa, tapi melihat orang lain melakukannya, rasanya sudah cukup.

Seolah-olah sebagian dari yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata, selesai di dalam layar.

Pada akhirnya, rasanya sulit untuk tidak teringat pada apa yang pernah ditulis Roland Barthes dalam Mythologies. Ia melihat gulat bukan sebagai olahraga, tapi sebagai semacam teater moral. Di sana, yang jahat tampil sangat jahat, yang baik tampil sangat baik, dan penonton datang bukan untuk mencari siapa yang paling kuat, melainkan untuk melihat keadilan ditegakkan dengan cara yang jelas dan memuaskan.

Tidak ada yang samar. Tidak ada yang menggantung.

Dan barangkali, drama-drama pendek itu bekerja dengan cara yang tidak terlalu berbeda. Kita tidak benar-benar mencari cerita yang realistis. Kita hanya ingin melihat sesuatu yang sejak awal terasa tidak adil, akhirnya dibetulkan—cepat, tegas, dan tanpa banyak tawar-menawar. Seperti penonton gulat yang sudah tahu ini hanya pertunjukan, tapi tetap bersorak saat “yang jahat” akhirnya dijatuhkan.

Masalahnya, ketika pola seperti ini terus diulang, ia tidak berhenti sebagai hiburan. Ia pelan-pelan menjadi kebiasaan rasa. Marah yang serba cepat, benci yang tidak perlu dipikir panjang, dan puas yang datang tanpa proses.

Lalu tanpa sadar, dunia nyata mulai terasa terlalu lambat.

Padahal hidup tidak bekerja seperti skenario. Tidak semua yang jahat akan kalah dengan cara yang rapi. Tidak semua yang tersakiti mendapat kesempatan untuk membalas. Bahkan sering kali tidak ada momen klimaks yang jelas. Hidup berjalan saja, tanpa adegan penutup yang memuaskan.

Akhirnya, mungkin yang terjadi bukan sekadar hiburan, tapi juga pergeseran cara kita merasakan dunia. Apa yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai hiperrealitas: ketika sesuatu yang ditampilkan terasa lebih jelas, lebih tegas, bahkan lebih “nyata” daripada kenyataan itu sendiri.

Di layar, siapa yang salah terlihat terang. Di hidup, tidak selalu seperti itu.

Dan karena yang di layar lebih mudah dipahami, kita pelan-pelan lebih nyaman di sana. Bukan karena tidak bisa membedakan, tapi karena yang sederhana memang lebih mudah diterima.

Barangkali memang bukan dramanya yang terlalu sederhana.

Kitalah yang kadang sedang lelah menghadapi kenyataan yang sering kali tidak memberi kejelasan.

Maka ketika ada cerita yang menawarkan kemarahan yang jelas dan balasan yang cepat, kita menerimanya tanpa banyak tanya.

Bukan karena percaya sepenuhnya.

Tapi karena ia memberi sesuatu yang jarang kita temukan: kepastian. Meski instan, dan kadang tidak terlalu masuk akal.

© khafi.id

Post a Comment for "Drama Cina dan Kebencian Instan"