Menjadi Buruh bagi Tai Sendiri

Ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan tentang kerja: kita terlalu sibuk melihat keluar, sampai lupa bahwa di dalam diri sendiri pun ada semacam “relasi kerja” yang diam-diam berlangsung setiap hari.

Kita ini, kalau dipikir-pikir, tidak selalu benar-benar merdeka.

Sering kali kita merasa menjadi buruh bagi orang lain—bekerja untuk atasan, untuk sistem, untuk tuntutan hidup. Kita menukar waktu dengan upah, tenaga dengan angka, bahkan kadang kesehatan dengan sesuatu yang tidak selalu jelas manfaatnya. Semua itu terasa masuk akal, karena begitulah hidup berjalan.

Tapi ada satu bentuk “kerja” yang jarang kita sadari. Ia tidak tercatat di kontrak mana pun, tidak ada gajinya, dan tidak pernah benar-benar bisa ditolak.

Kerja yang satu ini, anehnya, justru paling patuh kita jalani.

Tubuh, misalnya.

Ia tidak banyak bicara, tapi kalau sudah “memanggil”, kita tidak punya banyak pilihan selain menuruti. Tidak peduli sedang apa, di mana, atau bersama siapa. Ada saat-saat di mana semua aktivitas mendadak menjadi nomor dua, hanya karena satu urusan sederhana: perut yang tidak bisa diajak kompromi.

Dan di situ, mau tidak mau, kita ini seperti buruh dari sesuatu yang kita hasilkan sendiri.

Buruh dari… ya, tidak usah dipoles: tai kita sendiri.

Terdengar kasar, memang. Tapi justru di situ letak kejujurannya. Sesuatu yang kita anggap paling “rendah” itu, justru punya kuasa yang tidak kecil. Ia tidak bicara panjang, tidak memberi alasan, tapi ketika waktunya tiba, kita menurut tanpa banyak tanya.

Saat ia “memerintahkan” kita pergi ke WC, kita berangkat dengan patuh—tanpa sempat bertanya soal upah, tanpa menimbang untung rugi. Anehya, kita menjalaninya dengan ringan, bahkan cenderung ikhlas.

Ya… meski sesekali tetap ada keluhan kecil. Dan itu, barangkali, yang paling manusiawi dari semuanya.

Di titik itu, semua hal yang biasanya kita banggakan—kesibukan, status, bahkan rasa percaya diri—tiba-tiba mengecil. Kita bergegas, mencari tempat yang layak, dan menyelesaikan urusan yang sebenarnya sangat dasar, tapi tidak bisa ditawar.

Lucu, kalau dipikir lagi.

Kita sering berbicara tentang kebebasan, tentang kendali atas hidup, tentang menjadi “tuan” bagi diri sendiri. Tapi untuk hal yang sesederhana itu saja, kita tetap menurut. Tanpa debat. Tanpa teori.

Barangkali, di situlah letak kejujurannya.

Bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas dirinya sendiri.

Ada bagian dari diri kita yang bekerja dengan logikanya sendiri, tanpa menunggu persetujuan. Tubuh punya ritme, punya kebutuhan, punya cara memaksa yang tidak bisa dinegosiasikan. Dan kita—yang merasa sebagai “aku”—sering kali hanya mengikuti saja.

Kalau ditarik sedikit lebih jauh, ini tidak berhenti pada urusan perut saja.

Dalam banyak hal, kita juga seperti itu.

Kita mengejar sesuatu, lalu kelelahan, lalu kita sendiri yang mencari cara untuk memulihkan diri. Kita membangun rutinitas yang padat, lalu kita juga yang sibuk mencari waktu untuk “kabur” sejenak darinya. Kita menetapkan standar hidup tertentu, lalu kita pula yang pontang-panting menjaganya agar tidak runtuh.

Seolah-olah kita ini bukan hanya pekerja, tapi juga yang menciptakan pekerjaan itu sendiri—termasuk “sisa-sisa” yang harus kita bereskan setiap hari, seperti "tai" tadi.

Dan ketika semuanya mulai terasa berat, kita tetap menjalankannya. Tidak selalu karena dipaksa orang lain, tapi karena kita sudah terlanjur menyusunnya seperti itu.

Di situ, batas antara “yang memerintah” dan “yang diperintah” jadi kabur.

Apakah kita benar-benar sedang mengendalikan hidup, atau hanya sedang menjalankan sesuatu yang sudah kita setujui tanpa sadar?

Tapi mungkin, kerja itu sendiri bukan masalahnya.

Bekerja—atau, dengan kata yang lebih ringan, berusaha—memang bagian dari fitrah makhluk hidup untuk mempertahankan hidup. Dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, semua bergerak karena dorongan yang sama: bertahan.

Yang sering kita kejar dengan penuh ambisi—kaya, mapan, atau sekadar terlihat berhasil—barangkali hanyalah efek samping dari kerja itu sendiri.

Masalahnya, kita sering terbalik: bukan lagi bekerja untuk hidup, tapi hidup untuk mengejar efeknya.

Di titik itu, kerja tidak lagi sekadar usaha untuk bertahan, tapi berubah menjadi beban yang kita pikul sendiri. Bukan karena harus, tapi karena kita sudah percaya bahwa di sanalah nilai hidup kita ditentukan.

Ada satu anekdot sederhana yang sering terdengar seperti candaan, tapi diam-diam terasa jujur:

Kita ingin hidup sejahtera, lalu bekerja untuk mendapatkan uang.
Saat sudah bekerja, kita justru menunggu libur untuk menikmati uang itu.

Seolah-olah hidup selalu ditunda—antara bekerja dan menunggu jeda.

Manusia memang, kalau dipikir-pikir, agak merepotkan.

Hari Buruh sering diperingati dengan suara yang lantang: tentang hak, tentang keadilan, tentang perlawanan terhadap sistem yang tidak adil. Itu penting, tentu saja. Tapi mungkin ada satu hal yang lebih sunyi, yang jarang ikut dibicarakan.

Tentang bagaimana kita memperlakukan diri sendiri.

Tentang bagaimana kita, tanpa banyak sadar, juga menjadi “buruh” bagi pilihan-pilihan yang kita buat sendiri—bahkan untuk mengurus hal-hal yang kita anggap sepele, remeh, atau bahkan kotor.

Bukan berarti semua ini salah. Hidup memang tidak bisa lepas dari kerja, dari tuntutan, dari kebutuhan yang harus dipenuhi. Tapi mungkin, sesekali, tidak ada salahnya melihat ke dalam—bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memahami.

Bahwa di balik semua yang kita jalani, ada relasi yang lebih dekat dari sekadar pekerjaan dan upah.

Relasi antara kita dan diri kita sendiri.

Dan anehnya, di relasi yang paling dekat itu, kita sering kali justru paling jarang bertanya.

Kita jalani saja.

Seperti ketika tubuh memberi tanda, dan kita menurut tanpa banyak pikir. Tidak ada diskusi panjang, tidak ada perlawanan berarti. Hanya kepatuhan yang sederhana, tapi jujur.

Mungkin, dari situ, kita bisa mulai melihat sesuatu.

Bahwa tidak semua hal dalam hidup ini benar-benar kita pegang kendalinya. Bahwa ada bagian-bagian yang berjalan sendiri, dan kita hanya mengikuti alurnya.

Lalu, di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan yang pelan-pelan mengganggu.

Kalau urusan sekecil itu saja kita tidak berkuasa,
lantas selama ini yang kita sebut “aku” itu siapa?

Lalu bagaimana dengan konsep will to power-nya Nietzsche?
Soal kuasa itu, barangkali ia lebih paham.
Tapi urusan “panggilan” majikan bernama tai ini… sepertinya kita semua setara.

Selamat hari buruh...

© khafi.id

Post a Comment for "Menjadi Buruh bagi Tai Sendiri"