Anak “Cengeng”, Guru Takut, Orang Tua Tersinggung
Ada yang pelan-pelan berubah di ruang-ruang kelas kita. Bukan sekadar kurikulum atau metode belajar, tapi suasana—cara orang dewasa berdiri di hadapan anak-anak, dan cara anak-anak membaca itu. Belakangan ini, keluhan yang muncul nadanya hampir sama: anak sekarang cenderung “cengeng”. Sedikit tidak nyaman, mengeluh. Sedikit ditegur, tersinggung. Sedikit ditekan, merasa diserang. Di sisi lain, ada keluhan yang tidak kalah sering: guru sekarang tidak berani. Menegur khawatir dilaporkan, mendisiplinkan takut dianggap melanggar aturan. Akhirnya, banyak yang memilih aman—diam, atau sekadar mengingatkan seperlunya. Lalu datang satu lapisan lagi yang tidak kalah rumit: orang tua yang lebih cepat membela anak daripada memahami persoalan. Anak salah, tapi yang dipersoalkan justru cara guru menegur. Di titik ini, kita seperti melihat potret yang agak ganjil: anak makin sulit diatur, guru makin hati-hati, orang tua makin sensitif. Pertanyaannya: ini sebenarnya salah siapa?
Barangkali kita terlalu cepat mencari kambing hitam. Ada yang menyalahkan zaman, ada yang menyalahkan generasi, dan ada juga yang menunjuk satu istilah yang belakangan sering disebut: Hak Asasi Manusia (HAM). Katanya, karena HAM, anak-anak jadi terlalu dilindungi, guru tidak bisa tegas, dan akhirnya lahirlah generasi yang kurang tahan banting. Kalimat seperti ini terdengar masuk akal, tapi justru di situlah letak bahayanya—karena yang terdengar masuk akal belum tentu tepat.
HAM, dalam pengertian dasarnya, tidak pernah melarang disiplin. Ia hanya membatasi kekerasan. Ia tidak pernah mengatakan anak tidak boleh ditegur, hanya mengingatkan bahwa teguran tidak boleh merendahkan martabat. Masalahnya sering bukan pada HAM itu sendiri, tapi pada cara kita memahaminya. Melindungi anak dari kekerasan itu perlu, tapi melindungi anak dari semua bentuk ketidaknyamanan adalah perkara lain. Di antara dua hal itu, kita sering tergelincir tanpa sadar.
Di rumah, banyak anak tumbuh dalam suasana yang lebih lunak dibanding generasi sebelumnya. Tidak selalu salah, bahkan dalam banyak hal ini kemajuan. Anak sekarang lebih sering diajak bicara, bukan sekadar disuruh. Ketika menangis, ditanya kenapa, bukan langsung diminta diam. Ketika marah, dipeluk, bukan dimarahi balik. Perasaan anak diakui sebagai sesuatu yang penting.
Tapi di saat yang sama, ada hal lain yang diam-diam berkurang: latihan menghadapi batas.
Misalnya hal sederhana. Anak ingin sesuatu, lalu menangis. Orang tua, karena tidak tega, akhirnya mengalah. Anak tidak belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi. Atau ketika anak melakukan kesalahan kecil: tidak membereskan mainan, berbicara kasar, atau melanggar aturan, sering kali cukup diingatkan sekali, tanpa konsekuensi yang benar-benar terasa. Akhirnya, anak tidak belajar bahwa setiap tindakan ada akibatnya.
Ada juga kebiasaan lain: anak terlalu cepat dibantu. Sedikit kesulitan, langsung ditolong. Sedikit tidak nyaman, segera dicari jalan keluar. Niatnya baik, ingin anak tidak merasa susah. Tapi tanpa sadar, anak jadi jarang bersentuhan dengan rasa “tidak enak” yang sebenarnya penting untuk dilatih.
Akibatnya, bukan berarti anak menjadi buruk. Mereka justru tumbuh lebih terbuka, lebih ekspresif, dan lebih berani mengungkapkan perasaan. Tapi di sisi lain, mereka juga bisa kurang terbiasa menghadapi penolakan, kurang siap ketika keinginan tidak terpenuhi, dan mudah goyah ketika berhadapan dengan aturan yang tidak bisa ditawar.
Lalu anak datang ke sekolah, membawa seluruh kebiasaan itu—bertemu dengan dunia yang tidak selalu bisa mengikuti ritme rumahnya.
Di sekolah, situasinya tidak lebih sederhana. Guru bukan tidak tahu bahwa ada perilaku yang harus diluruskan, tapi mereka juga sadar satu langkah yang keliru bisa berujung panjang. Di sinilah muncul sikap yang sering disalahartikan sebagai “tidak berani”, padahal yang terjadi sering kali adalah perhitungan risiko. Menegur terlalu keras bisa dipersoalkan, menegur terlalu lunak tidak mempan. Di antara dua pilihan itu, diam kadang terasa paling aman.
Sementara itu, orang tua berada di posisi yang juga tidak kalah rumit. Ada yang benar-benar berusaha mendidik, tapi ada juga yang tanpa sadar memindahkan sebagian tanggung jawab itu ke sekolah.
Kadang kejadiannya sederhana. Anak berbicara kasar di sekolah: mengumpat, membentak teman, atau menjawab guru dengan nada tidak pantas. Sekolah menegur. Tapi ketika sampai ke rumah, yang dipertanyakan justru: “Guru itu ngomongnya bagaimana ke anak saya?” Padahal, bisa jadi kebiasaan bahasa itu tidak muncul tiba-tiba. Anak mendengar dari lingkungan terdekatnya, dari percakapan sehari-hari yang mungkin dianggap biasa.
Hal yang sama juga terjadi soal disiplin. Anak tidak terbiasa antre, tidak mau mengikuti aturan, atau sulit diatur di kelas. Ketika sekolah mencoba menertibkan, respons yang muncul kadang bukan kerja sama, tapi pembelaan: “Anak saya memang aktif,” atau “Namanya juga anak-anak.” Kalimat seperti ini terdengar ringan, tapi kalau terus diulang, anak bisa menangkap satu pesan sederhana: apa pun yang dilakukan, akan ada yang membela.
Ada juga situasi ketika anak mengeluh karena ditegur guru. Ceritanya sampai ke rumah, tapi hanya dari satu sisi: versi anak. Orang tua, karena sayang, langsung percaya. Guru dipanggil, sekolah diprotes. Padahal belum tentu gambaran yang diterima utuh. Di titik ini, sekolah bukan lagi mitra, tapi seperti pihak yang harus berhati-hati setiap saat.
Semua ini bukan berarti orang tua tidak peduli. Justru sering kali sebaliknya: terlalu peduli, tapi dalam bentuk yang kurang tepat. Membela anak itu naluri, tapi jika tidak diimbangi dengan keberanian melihat kesalahan anak sendiri, pembelaan itu bisa berubah menjadi penghalang.
Karena memang tidak mudah menerima bahwa anak kita keliru. Tidak nyaman mengakui bahwa ada yang luput dari cara kita mendidik. Tapi tanpa itu, anak kehilangan satu hal penting: kesempatan untuk belajar dari kesalahan.
Akhirnya, terbentuklah sebuah lingkaran yang tidak nyaman: rumah memberi dasar yang kurang kuat, sekolah ragu memperbaiki, orang tua cepat tersinggung, dan anak tidak melihat batas yang jelas. Lalu kita menyebutnya dengan satu kata sederhana: “urakan”. Padahal, di balik kata itu, ada persoalan yang jauh lebih panjang.
Mungkin yang sedang kita hadapi bukan sekadar perubahan generasi, tapi masa transisi. Dulu, ketegasan sering lahir dari posisi kuasa, guru dihormati karena tidak bisa dilawan, orang tua didengar karena tidak banyak ruang untuk membantah. Sekarang, kuasa itu berkurang, dan itu tidak selalu buruk. Masalahnya, kita belum sepenuhnya menemukan penggantinya. Bagaimana menjadi tegas tanpa harus keras, memberi batas tanpa menekan, melindungi tanpa memanjakan, pertanyaan-pertanyaan ini belum benar-benar selesai kita jawab.
Barangkali yang perlu kita akui dengan jujur: ketahanan tetap penting. Hidup tidak selalu ramah, dunia tidak selalu memberi ruang nyaman. Akan selalu ada tekanan, kegagalan, dan situasi yang tidak bisa ditawar. Tanpa ketahanan, semua itu akan terasa terlalu berat. Tapi di saat yang sama, kita juga tahu bahwa kekuatan yang lahir dari luka bukan satu-satunya jalan.
Maka persoalannya bukan memilih antara keras atau lembut, antara disiplin atau empati, melainkan bagaimana keduanya bisa berjalan bersama. Anak tetap boleh merasa, tapi tidak selalu diselamatkan. Anak boleh mengeluh, tapi tetap diajak bertanggung jawab. Anak dilindungi, tapi tidak dari semua kesulitan. Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar generasi seperti apa yang akan datang, tapi apakah kita, sebagai orang dewasa, masih mampu berdiri cukup utuh untuk menjadi batas yang jelas...tanpa harus menjadi ancaman.

Post a Comment for "Anak “Cengeng”, Guru Takut, Orang Tua Tersinggung"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.