Anak Masa Kini: Dilahirkan Manusia, Dididik Android

Mbak Bojo pernah bercerita kepada saya tentang anak kami. Suatu hari, anak kami pulang dengan cerita yang membuat kami saling pandang agak lama. Katanya, ada salah satu temannya yang bertanya kepada teman lainnya: “apa bahasa Arabnya… (sebuah kalimat yang, jujur saja, bahkan orang dewasa pun mungkin akan berpikir dua kali untuk mengucapkannya).”

Sebagai orang tua yang masih berusaha tetap waras di tengah zaman yang entahlah ini, cerita itu menyisakan kegelisahan yang tidak langsung selesai. Bukan karena kami tidak percaya pada anak kami sendiri, tapi karena kami sadar: ada dunia lain di luar sana yang pelan-pelan ikut membentuknya—tanpa pernah benar-benar kami kenal sepenuhnya.

Di situ, percakapan kami tidak berhenti. Justru dari situ, kami mulai saling mengingat hal-hal lama. Tentang apa yang pernah kami baca, kami dengar, dan kami bincangkan di warung sambil ngopi, jauh sebelum kami menikah. Salah satunya adalah tulisan Garin Nugroho yang berjudul Awas Anak-Anak Posmo—yang waktu itu mungkin kami baca sambil lalu, tapi ternyata diam-diam sedang menunggu waktunya untuk terasa.

Dulu, peringatannya sederhana. Anak-anak yang tumbuh bersama televisi, sinetron, video klip, pelan-pelan hidup di antara citra. Yang ditonton lama-lama terasa seperti kenyataan, yang ditampilkan terasa lebih penting daripada yang dialami. Waktu itu, ancamannya masih “ramah”, sekadar layar kaca di ruang tamu.

Sekarang, layar itu pindah ke tangan, masuk saku, dan bisa dibawa ke mana pun; bukan cuma menampilkan, tapi juga mengajak. Anak-anak hari ini tidak lagi sekadar menonton, mereka ikut masuk: ke dalam permainan, ke dalam percakapan, ke dalam dunia yang tidak sepenuhnya kita kenal. Dunia yang bahasanya cepat, reaksinya spontan, dan kadang terlalu bebas.

Menariknya, yang dulu disebut “pengaruh buruk” sekarang sering datang dalam bentuk yang menyenangkan: main game, nonton video, ikut tren. Tidak ada yang tampak berbahaya, sampai tiba-tiba satu-dua kata yang terasa kurang pantas keluar dari mulut anak, dan kita berhenti sejenak.

“Ini dapat dari mana?”

Jawabannya sering sederhana: teman.

Di tahap ini, kita mulai sadar satu hal yang agak tidak enak: rumah bukan satu-satunya tempat anak belajar. Ada “sekolah lain” yang tidak punya gedung—namanya pergaulan. Di sana, kurikulumnya tidak pernah disusun, tapi berjalan terus: cara bercanda, cara mengejek, cara marah. Dan yang sering lulus dari sana justru bukan yang paling baik, tapi yang paling “diterima”.

Masalahnya, standar “diterima” itu kadang aneh: semakin berani, semakin lucu; semakin kasar, semakin dianggap biasa.

Di rumah, kita bisa mengatur tontonan, memilihkan permainan, membatasi layar. Tapi kita tidak bisa sepenuhnya memilihkan teman. Dan di situlah kegelisahan itu tumbuh—bukan karena tidak percaya pada anak sendiri, tapi karena sadar bahwa dunia di luar tidak selalu memberi pilihan yang sehat.

Di tengah situasi seperti ini, ada satu kalimat yang terasa mengganggu sekaligus relevan dari Jean Baudrillard: 

“Kita hidup dalam dunia di mana citra lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.”

Dulu mungkin terasa jauh, seperti milik ruang diskusi kampus atau buku filsafat yang agak berat. Tapi sekarang, ia terasa dekat. Karena anak-anak tidak hanya melihat citra, mereka hidup di dalamnya.

Bahasa yang mereka pakai, reaksi yang mereka tunjukkan, bahkan cara mereka bercanda, sering kali adalah pantulan dari dunia yang mereka lihat berulang-ulang. Dan karena diulang, ia terasa wajar.

Mungkin di sinilah peringatan “awas anak-anak posmo” perlu dibaca ulang. Dulu maksudnya: hati-hati, anak-anak dibentuk oleh tontonan. Sekarang, mungkin perlu ditambah sedikit: hati-hati, anak-anak dibentuk oleh apa yang mereka ulang, apa yang mereka dengar, apa yang mereka tiru, dan apa yang mereka anggap biasa.

Dan sering kali, semua itu datang bukan dari niat buruk, tapi dari kebiasaan yang terus-menerus.

Di tengah semua itu, peran orang tua mungkin bukan lagi menjadi penjaga gerbang yang bisa menutup semuanya. Lebih mirip penjaga arah. Tidak selalu bisa menghentikan apa yang datang, tapi setidaknya bisa memberi anak satu hal yang semakin jarang: pembanding. Bahwa ada cara lain untuk berbicara, bahwa bercanda tidak harus menyakiti, bahwa tidak semua yang ramai itu layak diikuti.

Sisanya, mungkin memang tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan. Dan di situlah kita, pelan-pelan, belajar menerima satu kenyataan yang agak pahit: membesarkan anak di zaman ini bukan lagi soal memastikan semuanya aman, tapi memastikan anak tidak kehilangan arah—meskipun dunia di sekitarnya terus berubah.

Karena pada akhirnya, anak-anak itu tetap lahir dari manusia. Tapi cara mereka melihat dunia, cara mereka berbicara, bahkan cara mereka memahami batas—pelan-pelan bisa dibentuk oleh sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita kenal sepenuhnya.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, di situlah kegelisahan itu menemukan bentuknya:

anak-anak yang kita lahirkan sebagai manusia,
perlahan belajar menjadi anak didik Android.

© khafi.id

Post a Comment for "Anak Masa Kini: Dilahirkan Manusia, Dididik Android"