Catatan Kejengkelan: Dari Agen Perubahan ke Penjaga Kursi
Ada hari-hari ketika kejengkelan tidak datang sebagai amarah yang besar. Ia tidak berteriak. Tidak menuntut penjelasan. Ia hanya duduk di sudut kepala, diam, tapi mengganjal. Rasanya seperti batu kecil di sandal: tidak melukai, tapi cukup untuk membuat langkah terasa salah.
Entah perasaan apa yang sebenarnya singgah. Jengkel, marah, kecewa, atau sekadar ingin misuh-misuh. Saya tidak terlalu tertarik memberi nama yang presisi. Barangkali memang tidak semua perasaan perlu definisi. Ada yang cukup dicatat saja, lalu dibiarkan mengendap.
Dulu, ketika pertama kali masuk kampus, para mahasiswa senior—atau seniir, agar lebih jujur—datang dengan suara lantang dan keyakinan penuh. Mereka mengatakan mahasiswa adalah agent of change. Kalimat itu diucapkan dengan nada hampir sakral, seolah status mahasiswa otomatis membawa mandat sejarah. Belakangan istilah itu diplesetkan menjadi agen of ceng. Bukan tanpa sebab. Mungkin karena kenyataan memang sering lebih kocak daripada slogan.
Kami diberi tahu bahwa mahasiswa harus kritis terhadap kebijakan pemerintah. Katanya, pemerintah selalu punya celah untuk menipu rakyat. Negara tidak pernah benar-benar netral. Kekuasaan, jika tidak diawasi, pasti menyimpang. Semua terdengar masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal untuk tidak dipercaya.
Lalu tibalah fase berikutnya. Saat kami resmi menjadi mahasiswa, punya NIM, dan mulai merasa sedikit penting. Di fase inilah kami pelan-pelan diarahkan—kadang dengan bujuk rayu, kadang dengan tekanan moral—untuk masuk ke organisasi ekstra tertentu. Organisasi yang katanya besar. Punya jaringan kuat. Menguasai kampus, bahkan nasional. Mendengar cerita itu, rasanya seperti sedang diajak masuk ke ruang mesin sejarah.
Belakangan saya tahu, klaim itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan cenderung keliru. Ternyata yang benar-benar menguasai peta politik bukan organisasi ini. Ada kelompok lain yang lebih lihai membaca arah angin, lebih disiplin merawat loyalitas, dan lebih berani bermain di wilayah abu-abu. Tapi saat itu, kami belum tahu. Atau mungkin belum mau tahu.
Para senior juga mengatakan bahwa organisasi ini berada di bawah naungan NU. Klaim ini menarik, sebab memberi kesan legitimasi moral sekaligus kultural. Dan memang, belakangan klaim itu terbukti—meski dengan catatan penting: ia baru benar setelah organisasi ini resmi dijadikan banom. Seolah-olah kebenaran datang belakangan, setelah struktur selesai dibangun.
Kami pun masuk. Menjadi aktivis. Menghadiri rapat-rapat panjang yang sering kali lebih melelahkan daripada mencerahkan. Diajari idealisme. Diajari cara berpikir kritis. Diajari membaca ketidakadilan sebagai sesuatu yang harus dilawan, bukan sekadar disesali. Kami belajar istilah-istilah besar: hegemoni, struktural, pembebasan, keberpihakan.
Semua itu terdengar mulia. Dan mungkin, pada satu fase, memang tulus.
Namun waktu punya kebiasaan buruk: ia membongkar hal-hal yang dulu tampak rapi. Satu per satu, para senior yang dulu paling lantang bicara soal rakyat kecil, mulai berubah arah. Yang dulu mengecam politisi busuk, kini justru sibuk mencari foto bersama mereka. Yang dulu menertawakan kekuasaan, sekarang berusaha merapat ke pusatnya.
Idealisme yang dulu diajarkan sebagai nilai, perlahan berubah menjadi modal. Analisis kritis tidak lagi dipakai untuk membongkar ketidakadilan, tapi untuk membaca peluang. Kepedulian terhadap yang tertindas menyempit menjadi slogan di spanduk, cukup untuk konsumsi dokumentasi.
Orwell pernah menulis, kekuasaan tidak pernah benar-benar ingin memperbaiki apa pun. Ia hanya ingin bertahan. Dan barangkali, di titik inilah sebagian orang mulai menganggap bertahan lebih penting daripada jujur pada apa yang dulu mereka ajarkan.
Di titik inilah kejengkelan itu tumbuh. Bukan kejengkelan yang meledak-ledak. Melainkan yang pelan, dingin, dan bertahan lama. Sebab yang menjengkelkan bukan fakta bahwa orang berubah. Itu biasa. Yang menjengkelkan adalah ketika perubahan itu dibungkus seolah-olah konsistensi. Seolah-olah menjilat kekuasaan adalah bentuk baru dari perjuangan.
Ironisnya, mereka yang paling cepat menyesuaikan diri dengan politisi busuk, sering kali adalah mereka yang dulu paling keras mengajarkan moral. Yang dulu paling rajin mengutip teori pembebasan, kini lebih fasih menyusun strategi bertahan. Yang dulu bicara soal keberpihakan, sekarang sibuk memastikan diri tidak tersingkir dari lingkaran.
Dan kita yang di bawah, hanya bisa mencatat. Pelan-pelan. Tanpa banyak suara. Sebab marah pun kadang terasa percuma. Yang tersisa hanyalah kejengkelan kecil yang terus disimpan. Seperti catatan ini.
Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Juga bukan untuk mengklaim diri paling bersih. Catatan ini hanya ingin jujur: bahwa ada idealisme yang tidak mati, tetapi ditukar. Bahwa ada nilai yang tidak hilang, hanya digadaikan. Dan bahwa kejengkelan semacam ini barangkali adalah bentuk terakhir dari kepedulian yang belum sepenuhnya menyerah.
Kalau pun ingin misuh-misuh, mungkin cukup di catatan seperti ini saja. Agar tidak ikut busuk. Agar masih ada jarak. Sedikit saja.

Post a Comment for "Catatan Kejengkelan: Dari Agen Perubahan ke Penjaga Kursi"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.