Ketika Orang Kampung Tidak Diberi Hak untuk Salah

Ada satu keanehan yang jarang dibicarakan dengan jujur dalam dunia kesehatan. Keanehan ini tidak gaduh, tidak viral, dan karena itu sering lolos dari perhatian.

Ketika seorang pasien dirawat di rumah sakit lalu meninggal karena kesalahan obat, peristiwa itu dicatat rapi. Bahasanya tenang. Teknis. Menenangkan. Ia disebut komplikasi. Atau human error yang tidak mewakili sistem. Tidak ada kegemparan moral. Tidak ada kesimpulan bahwa metode medis modern berbahaya.

Namun ketika perawatan dilakukan oleh orang kampung—dipijat, diberi ramuan, atau dirawat ala kadarnya—lalu terjadi kesalahan, ceritanya berubah total. Satu kejadian kecil cukup untuk dibesarkan. Digeneralisasi. Dijadikan bukti bahwa cara-cara tradisional selalu mencelakakan.

Di sini persoalannya bukan semata soal aman atau tidak aman. Persoalannya adalah siapa yang diberi hak untuk keliru tanpa kehilangan legitimasi.


Pijat adalah contoh paling sederhana.
Jika dilakukan orang kampung, ia dicurigai.
Jika dilakukan di klinik, dengan istilah massage therapy, ia menjadi sah.

Jamu-jamuan pun demikian.
Diracik nenek di dapur: berbahaya.
Dikemas rapi, diberi label, dan dijual di apotek: alternatif kesehatan.

Bahkan gurita bayi—yang sejak lama dipakai untuk menjaga kenyamanan dan posisi tubuh—tiba-tiba dianggap bermasalah. Banyak larangan disampaikan dengan nada pasti, meski tidak selalu disertai bukti empiris yang sepadan. Pengalaman lintas generasi dianggap tidak cukup bernilai karena tidak tercatat di jurnal.

Masalahnya bukan pada kehati-hatian. Masalahnya pada cara pengalaman diperlakukan.

Pengalaman orang kampung baru dianggap pengetahuan jika sudah dilembagakan. Jika belum, ia hanya disebut kebiasaan—atau lebih buruk: mitos.


Ilmu kedokteran modern tentu menyelamatkan banyak nyawa. Itu tidak perlu dibantah. Tetapi yang jarang diakui adalah bahwa ia juga menghasilkan korban. Bedanya, korban itu tidak dijadikan senjata untuk meruntuhkan seluruh sistem.

Kesalahan medis dilokalisasi.
Kesalahan orang kampung digeneralisasi.

Yang satu dilindungi oleh bahasa ilmiah dan prosedur.
Yang lain telanjang di hadapan penghakiman publik.

Padahal, jika jujur, banyak pengetahuan orang kampung bertahan bukan karena romantisme masa lalu, melainkan karena tidak merusak. Ia disaring oleh waktu. Oleh kegagalan yang sunyi. Oleh koreksi alamiah yang tidak pernah ditulis sebagai laporan.

Orang kampung tidak punya jurnal.
Tidak punya konferensi.
Tidak punya humas.

Mereka hanya punya ingatan kolektif.


Yang sering dilupakan: kedokteran modern sendiri lahir dari tradisi panjang percobaan, kekeliruan, dan pengetahuan praktis. Banyak metode yang hari ini dianggap ilmiah berakar dari praktik kasar yang dulu tidak rapi, tidak steril, dan tidak bernama Latin.

Tetapi setelah dilembagakan, sejarah itu seolah dihapus. Seakan-akan ilmu turun dari langit dalam keadaan sempurna.

Di titik ini, sains berhenti rendah hati. Ia tidak lagi berdialog dengan pengalaman, melainkan menguasainya.


Ada satu hal kecil yang sering luput diingat.

Banyak dokter hari ini—yang dengan penuh keyakinan melarang ini-itu atas nama ilmu—barangkali lupa bahwa dirinya bisa sampai di titik itu bukan dibesarkan oleh rumah sakit modern sejak bayi. Mereka lahir di rumah. Dirawat oleh si mboknya. Digendong embahnya. Didoakan mbah yutnya. Dipijat ala kadarnya. Diminumi ramuan yang namanya tak pernah masuk buku teks.

Boleh jadi, ketika masih bayi, perutnya juga pernah digurita. Bukan dengan standar WHO, tapi dengan kasih sayang orang kampung yang ingin anaknya tenang dan tidur pulas.

Artinya, tubuh yang kini bersandar pada ilmu modern itu pernah tumbuh dari perawatan tradisional. Dari pengetahuan yang hari ini sering dipandang remeh, dicurigai, bahkan dicemooh.

Ironisnya, setelah sampai di puncak legitimasi, sejarah itu seperti diputus. Seolah-olah begitu seseorang menjadi dokter, masa kecilnya otomatis direvisi: semua yang tidak ilmiah dianggap tidak pernah berjasa.

Padahal, mungkin justru karena dirawat dengan cukup—meski tidak sempurna—ia bisa tumbuh, sekolah, belajar, dan akhirnya mengenal sains.


Kritik ini bukan ajakan untuk kembali ke masa lalu. Bukan pula pembelaan buta terhadap semua praktik tradisional.

Ini hanya pengingat sederhana: bahwa pengetahuan tidak tumbuh di satu jalur saja.

Dan bahwa keadilan dalam merawat—seperti keadilan dalam berpikir—dimulai dari hal paling mendasar: memberi hak untuk salah secara setara.

Sebab yang paling berbahaya bukan pengetahuan orang kampung. Melainkan keyakinan bahwa hanya satu cara merawat yang boleh keliru tanpa dihukum.

Dan mungkin, sebelum kita terlalu cepat melarang orang kampung merawat dengan caranya sendiri, ada baiknya kita bertanya pelan—tanpa marah, tanpa merasa paling benar:

apakah kita benar-benar tumbuh tanpa mereka?

Post a Comment for "Ketika Orang Kampung Tidak Diberi Hak untuk Salah"