Jangan Marah Jika Nilai Rapor Anakmu Jelek, Berkacalah...!

Kemarin, musim mengambil rapor anak sekolah. Dan barangkali kemarin juga musim kalimat mantra sakti teucap:
“Nilaine kok elek?”, "peringkate kok endek...?", "peringkat kok sampek kenek didum wong sak RT".

Kalimat itu terdengar biasa. Tapi di dalamnya sering bercampur banyak hal: harapan, kecemasan, gengsi, dan kadang—tanpa disadari—ego orang tua sendiri. Nilai rapor lalu berubah bukan sekadar angka, melainkan ukuran harga diri.

Tulisan ini sebenarnya hanya cara subjektif saya untuk menutupi kemalasan. Kemalasan mengajari anak soal pelajaran. Bukan karena saya tidak peduli, tapi karena saya memang tidak terlalu pandai. Dibilang rata-rata saja rasanya masih berat.

Sekaligus, saya juga bukan tipe orang tua yang punya cukup uang untuk membiayai les anak. Wong urusan iuran bulanan saja sering kali masih terjeda dan berhitung dengan tanggal. 😁

Dari keterbatasan itulah muncul satu pertanyaan kecil yang pelan-pelan mengganggu: apakah semua anak memang harus unggul di rapor?

Saya kira, anak bukan objek ego orang tua. Orang tua yang merasa dirinya pandai matematika, misalnya, tidak otomatis berhak menuntut anaknya unggul di bidang yang sama. Membimbing tentu perlu, tapi memaksakan mimpi yang bukan milik anak sering kali hanya melahirkan kelelahan—pada anak, juga pada orang tua.

Paulo Freire pernah mengkritik model pendidikan yang memperlakukan murid (dalam konteks ini anak, tentunya) seperti celengan: diisi pengetahuan, disimpan, lalu diuji isinya. Dalam logika semacam ini, anak dinilai dari seberapa banyak ia mampu menyimpan, bukan dari kemampuannya berpikir, bertanya, atau meragukan. Rapor pun lebih mirip laporan stok daripada catatan pertumbuhan manusia.

Di titik ini, sistem pendidikan kerap mengaburkan satu hal penting: bahwa kecerdasan tidak lahir di ruang hampa. Ia dipengaruhi banyak hal—termasuk faktor bawaan—dan tidak semua anak berangkat dari garis start yang sama. Namun rapor jarang mau repot mencatat konteks. Semua diringkas jadi angka, lalu dibandingkan, seolah hidup bisa diseragamkan.

Edward de Bono, lewat gagasan berpikir lateral, justru mengingatkan bahwa dunia tidak selalu membutuhkan jawaban yang rapi, melainkan kemampuan melihat masalah dari arah yang tidak biasa. Sayangnya, kemampuan semacam ini jarang mendapat tempat di kelas. Anak yang bertanya “kenapa” terlalu sering dianggap mengganggu alur pelajaran.

Padahal jika melihat perkembangan zaman yang arahnya kian tidak rapi, angka-angka terasa semakin rapuh untuk dijadikan pegangan tunggal. Dunia di luar sekolah jarang memberi soal pilihan ganda. Ia lebih sering menghadirkan persoalan tanpa kisi-kisi, tanpa jawaban pasti, dan menuntut inisiatif alih-alih hafalan.

Banyak dari kita mungkin pernah mengalami hal serupa. Dulu nilainya baik, duduk di bangku depan, dipuji guru, peringkat satu. Tapi setelah dewasa, hidup tetap begini-begini saja, ya...seperti saya. Nilai tinggi tidak otomatis membuat kita lebih tahan banting, lebih berani, atau lebih peka membaca keadaan.

Tulisan ini bukan ajakan untuk meremehkan sekolah atau mengabaikan rapor. Angka tetap punya fungsi. Ia penanda sekaligus bahan evaluasi, tapi bukan penentu segalanya. Yang sering keliru adalah ketika angka itu dijadikan ukuran tunggal nilai seorang anak—seolah seluruh hidupnya bisa disimpulkan dari satu lembar kertas.

Mungkin yang lebih penting bukan kemarahan ketika nilai jelek, melainkan percakapan setelahnya. Tentang apa yang disukai anak, apa yang membuatnya penasaran, dan hal apa yang ingin ia coba meski belum tentu langsung berhasil.

Sebab cepat atau lambat, dunia akan berhenti bertanya berapa nilai rapor seseorang. Dunia lebih tertarik pada satu hal sederhana: apakah ia sanggup belajar lagi ketika gagal—tanpa harus menanggung ego yang bukan miliknya.

© khafi.id

Post a Comment for "Jangan Marah Jika Nilai Rapor Anakmu Jelek, Berkacalah...!"