Ilusi Kebermanfaatan Orang-orang Pandai



Ada satu perasaan yang diam-diam tumbuh subur di kalangan orang terdidik: merasa berguna. Perasaan ini halus, nyaris tak terlihat, dan karena itu jarang dipersoalkan. Ia datang bersamaan dengan gelar, forum diskusi, makalah, seminar, dan istilah-istilah yang panjangnya kadang lebih melelahkan daripada masalah yang sedang dibahas.

Saya menyebutnya—untuk sementara—ilusi kebermanfaatan.

Ilusi ini bukan berarti orang-orang pandai itu tidak bekerja. Mereka bekerja keras. Menulis, berdiskusi, mengutip, mengoreksi satu sama lain. Ruang-ruang akademik selalu tampak sibuk. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering tertinggal di belakang: sibuk untuk siapa?

Banyak perkara sosial sebenarnya sederhana. Tidak selalu mudah, tetapi cukup jelas. Orang miskin karena struktur yang timpang. Akses pendidikan tidak merata. Kebijakan publik sering menyasar ke atas, bukan ke bawah. Namun di tangan sebagian sarjana, hal-hal yang relatif terang itu justru dipindahkan kembali ke wilayah abu-abu. Dibalut istilah teknis atau istilah ngilmiah yang sulit. Diperumit dengan konsep. Dipelintir hingga tak lagi bisa disentuh oleh bahasa orang kebanyakan.

Di titik ini, bahasa tidak lagi menjadi alat penjelas, melainkan pagar. Dan pagar itu menandai siapa yang “layak” bicara dan siapa yang cukup menjadi objek pembahasan.

Kadang, hubungan sederhana antara Tuhan, manusia, dan alam perlu diselamatkan lebih dulu dari kalimat-kalimat seperti “paradigma integratif-antroposentris-transformatif”, agar ia bisa kembali dipahami sebagai kehidupan—bukan sekadar konsep.

Inilah yang oleh Ali Shariati disebut sebagai pengkhianatan intelektual: ketika pengetahuan berhenti sebagai bahasa keberpihakan, lalu berubah menjadi bahasa wibawa; ketika ilmu lebih sibuk menjaga martabatnya sendiri ketimbang menanggung risiko bersama manusia nyata. Padahal, jika kalimat tadi diterjemahkan ke bahasa bakul pecel di samping rumah, barangkali sesederhana ini:

“Sing penting urip kuwi ora mung mikir awake dhewe: ana Gusti, ana tonggo, lan ana alam sing kudu dijaga bareng.”

Saya pernah membaca—dan pernah lama lupa sumbernya—bahwa tugas intelektual adalah menarik hal-hal ambigu ke titik terang. Baru belakangan saya ingat: nada itu kuat dalam esai-esai Umberto Eco, juga ditegaskan Edward Said. Intelektual, bagi mereka, bukan penjaga kabut, melainkan pengusik kabut. Orang yang gelisah jika sesuatu dibiarkan samar terlalu lama.

Tetapi yang sering terjadi justru sebaliknya. Semakin seseorang naik dalam hierarki keintelektualan, semakin rapat pula pintu yang ia jaga. Akses diperketat. Bahasa dinaikkan. Standar partisipasi dibuat semakin tinggi. Bukan selalu karena niat buruk, tetapi karena sistem memberi ganjaran pada eksklusivitas. Semakin sempit pintu masuk, semakin tinggi nilai statusnya.

Di sinilah pengetahuan berubah fungsi. Dari alat pembebasan menjadi modal simbolik. Dari jembatan menjadi menara.

Ali Shariati mengkritik kondisi ini dengan keras. Baginya, kaum terdidik yang memutus hubungan dengan masyarakat sedang melakukan pengkhianatan intelektual. Ilmu yang steril dari penderitaan sosial bukanlah pencerahan, melainkan bentuk lain dari kekuasaan. Shariati membedakan antara sarjana—orang berpendidikan yang berhenti pada status—dan rausanfikr, intelektual yang tercerahkan. Yang pertama naik untuk menjaga jarak, yang kedua naik untuk membuka jalan.

Intelektual sejati, bagi Shariati, bukan mereka yang sibuk menjelaskan dunia dari kejauhan, melainkan mereka yang bersedia turun, mengotori tangan, dan berbicara dengan bahasa yang bisa dipahami tanpa harus merasa dipermalukan.

Masalahnya, berbicara dengan bahasa yang terang itu berisiko. Ia bisa dipatahkan. Bisa dikritik. Bisa disanggah oleh orang-orang yang tidak punya gelar, tetapi punya pengalaman. Kerumitan, sebaliknya, relatif aman. Ia memberi perlindungan. Selama sesuatu terdengar kompleks dan—menurut mereka—cukup “ngilmiah”, ia sulit disentuh. Di titik ini, yang dipertahankan bukan lagi kebermanfaatan, melainkan pseudo-kebermanfaatan: tampak bekerja, terdengar ilmiah, tetapi nyaris tak pernah menyentuh kenyataan.

Maka ilusi kebermanfaatan itu bekerja dengan rapi. Kita merasa sudah berkontribusi karena sudah menulis, berbicara, dan mengutip. Padahal yang disentuh hanya sesama mereka sendiri, dalam lingkaran kasta keintelektualan yang sama. Masyarakat tetap jauh. Masalah tetap ada. Tetapi rasa berguna sudah terpenuhi.

Tulisan ini bukan penolakan terhadap ilmu, apalagi anti-intelektual. Justru sebaliknya. Ini kegelisahan tentang ilmu yang lupa pulang. Tentang kepandaian yang terlalu sibuk merawat dirinya sendiri hingga lupa untuk menjernihkan.

Mungkin sudah waktunya kita curiga—bukan hanya pada kekuasaan politik, tetapi juga pada kenyamanan intelektual. Bertanya pelan: apakah yang kita sebut kontribusi ini benar-benar menerangi, atau sekadar membuat kita merasa pantas berada di atas?

Sebab ketika pengetahuan tidak lagi dibagikan, melainkan dijaga, ia berhenti menjadi cahaya. Ia berubah menjadi kasta.

Sebagai penutup, ada satu cerita tentang Ali Shariati—entah benar terjadi atau sekadar beredar dari mulut ke mulut. Suatu hari, seorang rekannya datang menemuinya. Tampak lusuh. Keduanya sama-sama sarjana.

Shariati bertanya, “Mengapa engkau tampak begitu lelah?”

Rekannya menjawab dengan jujur, “Aku sedang memikirkan eksistensialisme.”

Shariati lalu menjawab dengan tenang—nyaris tanpa retorika: barangkali lebih baik engkau lusuh karena mencari jalan keluar bagi kaummu yang kelaparan, daripada kelelahan merawat keagungan keintelektualan yang hanya kenyang di ruang diskusi dan lupa pada kelaparan yang sebenarnya.

Entah kisah ini pernah terjadi atau tidak, ia terasa masuk akal. Sebab di dunia yang nyata, lapar jarang bisa ditunda oleh konsep. Dan orang-orang yang perutnya kosong tak banyak bertanya apakah penderitaan mereka sudah dirumuskan dengan istilah yang presisi, atau sekadar dijadikan bahan olok-olok dalam kelelahan intelektual para sarjana.

Mungkin di situlah batas tipis antara ilmu yang menyala dan ilmu yang sekadar menyilaukan.

© khafi.id


Post a Comment for "Ilusi Kebermanfaatan Orang-orang Pandai"