Ilusi "Kuno": Ken Arok dan Oxford yang Tumbuh Bersama
Jika kita mencoba memikirkan sejarah dengan pelan, dengan mata yang sedikit lebih teliti daripada sekadar kalender yang terpasang di dinding, hal-hal yang tampak “logis” sering kali berubah menjadi absurd. Misalnya, Piramida Agung Giza. Bangunan itu berdiri sekitar 2580 SM, sebuah simbol Mesir kuno yang selama ini kita anggap sejaman dengan seluruh mitos Mesir yang kita kenal—padahal, bagi Cleopatra yang hidup 69–30 SM, piramida sudah ribuan tahun lebih tua dari dirinya.
Lebih tua dari banyak kerajaan dan dinasti yang ia kenal, lebih tua bahkan dari ingatan kolektif masyarakat Mesir pada masanya. Bagi Cleopatra, piramida bukan lambang kejayaan sezaman, melainkan peninggalan purba yang sudah terlampau lama berdiri.
Yang membuat kepala sedikit pening, Cleopatra justru hidup lebih dekat ke iPhone daripada ke piramida itu. Dari wafatnya pada 30 SM hingga peluncuran iPhone pertama pada 2007 M, jaraknya sekitar 2.000 tahun. Sementara jarak Cleopatra ke Piramida Agung mencapai lebih dari 2.500 tahun. Sejarah, di titik ini, terasa seperti kalender yang salah cetak.
Absurditas itu belum selesai. Kita geser ke benua Amerika. Ibu kota Aztek, Tenochtitlan, baru didirikan pada 1325 M. Sementara di Eropa, Oxford sudah mencatat aktivitas pengajaran sejak sekitar 1096 M. Artinya, Oxford sudah menggelar kuliah lebih dari dua abad sebelum Aztek membangun pusat peradabannya.
Bayangan kita sering terbalik. Aztek terasa sangat kuno, sementara universitas Eropa terasa modern. Padahal, ketika Tenochtitlan mulai berdiri, tradisi akademik di Oxford sudah berjalan, debat teologis sudah panas, dan mahasiswa sudah akrab dengan aturan kampus.
Di titik inilah Nusantara ikut masuk ke panggung absurditas sejarah. Ken Arok, tokoh legendaris Singhasari, hidup sekitar 1182–1227 M. Secara waktu, ia hidup tepat ketika Oxford sudah menjadi tempat orang-orang serius belajar dan berdebat. Jika saja ada pamflet perguruan tinggi yang nyasar ke Jawa, Ken Arok—secara kronologi—punya peluang untuk mendaftar.
Tentu saja ini hanya permainan waktu. Tidak ada kapal cepat lintas benua, tidak ada bahasa Latin yang akrab di telinga Ken Arok, dan dunia abad ke-13 tidak menyediakan jalur mobilitas seperti hari ini. Namun tetap saja, fakta ini membuat sejarah terasa ganjil: peradaban tidak tumbuh sejajar, melainkan timpang dan tidak sinkron.
Piramida yang bagi kita terasa satu zaman dengan Cleopatra, bagi Cleopatra sendiri sudah terlampau tua. Aztek yang kita bayangkan kuno, ternyata lahir ketika universitas Eropa sudah mapan. Ken Arok yang kita letakkan dalam “masa lampau jauh”, hidup sezaman dengan dunia akademik yang masih berdiri hingga hari ini.
Di titik ini, sejarah tidak lagi terasa sebagai urutan angka, melainkan sebagai permainan perspektif. Yang kuno bisa terasa baru. Yang kita bayangkan sezaman ternyata terpaut ribuan tahun. Dan yang kita anggap mustahil, secara waktu, ternyata nyaris mungkin.
Jadi, jika kamu dianggap kurang update, atau kuno jangan berkecil hari dulu. Mungkin kamu hanya salah lokasi dan benua.
Oh iya. Tapi jika Ken Arok kuliah ke Oxford, saya kira dia tidak akan pernah menjadi legenda yang dikenang sepanjang sejarah. Sebab, dia akan menjadi aktivis kampus, "mepet" ke penguasa dan tidak pernah benar-benar menjadi penguasa… 😏
Ehhh… tapi… tapiii… orang Eropa dengan "Oxford" nya waktu itu juga belum bisa istinjak dengan baik, sih… 😁

Post a Comment for "Ilusi "Kuno": Ken Arok dan Oxford yang Tumbuh Bersama"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.