Pseudo Heroisme & Pejabat Kita yang Kompak Berbohong
Ada masa ketika para pemimpin kita tidak hanya sibuk membangun citra. Tidak sekadar tampil seperti Pak Menteri yang memanggul satu karung beras di depan kamera, sementara orang di sampingnya hanya bergeming—seolah hanya dia satu-satunya yang peduli kepada korban banjir. Orang-orang pintar menyebutnya pseudo heroism. Kita menyebutnya… ya pencitraan, tapi dengan gaya sinetron sore: ada akting, ada sudut kamera dramatis, lengkap dengan narasi getir yang cocok untuk ditonton menjelang adzan magrib.
Namun ada pula masa yang lebih memprihatinkan: ketika para pejabat tidak hanya kompak memanggul beras, tetapi kompak pula menyamakan alur cerita kebohongan. Ketika banjir besar menerjang Sumatra, mereka muncul bergantian di layar televisi dengan wajah penuh keyakinan bahwa musibah itu murni faktor alam. Pohon-pohon besar yang hanyut, kata mereka, hanyalah tumbang terseret arus. Seolah-olah satelit yang memotret hutan gundul sedang berkhayal, atau mungkin—menurut logika paling absurd—hutan itu dibabat oleh ndruwo yang sedang lembur demi menggagalkan kinerja pemerintah.
Di titik ini, publik sering dibuat bingung: siapa sebenarnya yang harus dipercaya? Data yang terpampang jelas atau narasi yang dirangkai rapi? Kita melihat bukit-bukit yang mulai gundul, sungai yang dipersempit proyek, dan izin yang entah bagaimana bisa keluar berlapis-lapis. Tapi di televisi, semua tampak baik-baik saja. Bahkan seorang pejabat bisa bicara panjang lebar seakan-akan alam adalah pelaku tunggal, sementara tali komando manusia hanya jadi figuran.
Kekompakan ini bukan kekompakan menolong, melainkan kekompakan menjaga wajah. Mereka bergerak seperti paduan suara: satu bersuara, yang lain menyambung dengan nada yang sama. Tanpa cela, tanpa jeda. Dan tragisnya, publik yang letih pada informasi kadang menerima begitu saja. Apa yang dikatakan pejabat seakan otomatis menjadi kebenaran resmi, meski bertolak belakang dengan apa yang mata lihat dan logika pahami.
Inilah inti dari pseudo heroism: sebuah kepahlawanan yang lebih tergesa pada pencitraan ketimbang penyelesaian. Aksi yang menghitung berapa kamera hadir, bukan berapa warga tertolong. Ia muncul dalam bentuk kunjungan mendadak yang mendadak pula usai begitu foto berhasil diambil. Ia bertahan hanya sampai trending topic berganti, atau sampai tim media mengunggah konten dengan caption #PeduliBencana.
Kalimat manis pemerintah sering terdengar seperti hujan yang jatuh ringan—menenangkan sesaat, namun hilang ketika panas datang. Bantuan datang seperti cuplikan iklan: singkat, rapi, dan penuh senyum. Tetapi setelah itu, warga tetap menjemur kasur basah sendiri. Mereka menata ulang dapur, mencari beras, menghibur anak-anak yang kehilangan mainan. Pemerintah mungkin hadir, tapi sering hanya dalam dokumentasi. Yang benar-benar tinggal adalah lumpur, sisa banjir, dan rasa was-was jika hujan kembali turun.
Kita tidak butuh pahlawan kamera. Kita butuh pemimpin yang memahami bahwa menebang hutan punya konsekuensi; bahwa banjir tidak muncul tiba-tiba seperti plot twist; bahwa alam bukan kambing hitam yang bisa dipanggil kapan saja untuk menutupi salah urus. Kekompakan yang kita rindukan bukan kekompakan menyusun alasan, melainkan kekompakan membongkar akar masalah.
Ironinya, pseudo heroism tumbuh subur kala kita sebagai masyarakat mudah terpukau oleh visual. Kita memuji seseorang hanya karena ia terlihat sibuk menolong di layar, padahal mungkin ia hanya lewat untuk mengambil gambar. Kita memberi tepuk tangan pada aksi simbolik, sementara kerja sunyi relawan jarang mendapat sorotan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang menggantung di kepala kita sederhana tetapi berat:
Apakah kita sedang menyaksikan kepahlawanan, atau sekadar menonton pertunjukan?
Karena ada bedanya antara pemimpin yang benar-benar turun tangan dengan pemimpin yang hanya turun panggung. Ada perbedaan antara kepedulian dan konten; antara kerja dan sorotan; antara solusi dan narasi yang dirangkai indah.
Dan sebelum kita sibuk menuding para pejabat, mungkin kita perlu bercermin sebentar: jangan-jangan kita juga ikut memelihara budaya ini—budaya yang lebih menghargai aksi yang terlihat, bukan yang terasa.
Kalau begitu, sampai kapan kita menerima foto sebagai bukti peduli? Sampai kapan kebohongan berjamaah dianggap wajar? Sampai kapan kita membiarkan pseudo heroism tumbuh menggantikan heroisme yang sejatinya hadir tanpa tepuk tangan?
Sebab pada akhirnya, negara ini akan maju bukan karena banyaknya pahlawan di kamera, tetapi karena hadirnya orang-orang yang bekerja meski kameranya mati.
Maka, kalau suatu hari kita melihat pejabat datang kembali dengan rompi brand-new, membuka karung beras, dan tersenyum ke kamera—kita boleh saja menonton, tapi jangan buru-buru percaya. Mungkin itu iklan layanan masyarakat, mungkin pula hanya trailer dari film panjang berjudul Peduli, tapi Sementara. Sebab kepahlawanan hari ini kadang lebih mirip konten influencer dibanding amanat penderitaan rakyat.
Kita teringat kata-kata Khalil Gibran, “Antara yang dikatakan dan yang dilakukan manusia ada lautan; untuk menyeberanginya hanya dengan perbuatan.” Namun, di negeri kita, lautan itu kadang hanya diseberangi dengan perahu konferensi pers, bukan dengan kerja lapangan. Dan rakyat, mau tak mau, menjadi penonton setia yang hanya mampu berkomentar dari tribun.
Jika Plato pernah menulis bahwa pemimpin terbaik adalah mereka yang tidak mengejar kekuasaan, maka mungkin yang muncul hari ini adalah kebalikannya: mereka yang tidak mengejar kerja, tapi mempertahankan sorotan. Kamera sudah seperti dewa mata seribu—tanpa ia menyaksikan, kebaikan dianggap tak terjadi.
Jadi, andai lain waktu banjir datang, jangan terkejut apabila yang tiba duluan bukan perahu karet, melainkan drone media. Tak perlu marah—senyumlah sedikit. Kita tahu skenarionya, kita hapal dialognya. Tinggal tunggu momen paling dramatis: satu karung beras terangkat pelan, lensa zoom in, lalu narasi penyiar mengalun lembut, “Pemerintah bergerak cepat…”
Dan kita pun belajar satu hal kecil tapi penting:
Heroisme sejati tidak membawa fotografer.
Ia datang dengan tangan basah, bukan dengan lengan seragam yang licin.
Ia pulang dengan peluh, bukan dengan ending konferensi pers.
Sebab bangsa ini tidak kekurangan panggung, yang kurang adalah pemeran yang benar-benar bekerja setelah kamera mati. Mungkin, jika suatu hari ada pejabat yang membantu tanpa dokumentasi, justru itulah yang layak dipertanyakan dengan kagum—bukan mengapa ia tak direkam, tetapi apa gerangan yang membuatnya ikhlas diam-diam?
Barangkali, sampai saat itu tiba, kita cukup mengingat satu prinsip sederhana yang pernah ditulis seorang bijak Yunani kuno:
“Bekerjalah dalam diam, biarkan hasilmu yang berbicara.”
Sebuah nasihat kuno yang ironisnya, kini paling jarang kita dengar—karena untuk berbicara, hasil harus hadir dulu. Kamera boleh menipu mata, tapi waktu tak pernah lupa. Yang palsu akan pudar, yang tulus akan tumbuh, dan yang berpura-pura pahlawan… akan dikenang sebagai aktor yang lupa menutup naskah.

Post a Comment for "Pseudo Heroisme & Pejabat Kita yang Kompak Berbohong"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.