Soal Kisruh PBNU: Nrima di Atas, Maslahat di Bawah

Sebagai orang NU kalangan bawah, yang hampir tidak pernah tahu bagaimana organisasi sebesar NU itu diurus dan dijalankan, sebenarnya saya ini bukanlah siapa-siapa. Bukan pengurus NU yang suaranya didengar. Bukan kiai. Santri pun setengah-setengah. NU saya ini NU elon-elonen: menjadi NU karena kebetulan keluarga besar ikut NU—ikut tahlilan, ikut yasinan, ikut haul—tapi tidak pernah ikut rapat apa pun selain rapat RT. Rapat RTpun kadang ikut, kadang absen.

Apa yang akan saya tulis ini, orang Jawa kampung barangkali akan menyebutnya dengan kalimat yang cukup kejam tapi jujur: kladuk wani kurang duga. Terlalu berani. Kewanen. Sebab saya tidak punya kewenangan, tidak punya kapasitas yang cukup. Tidak punya jabatan, apalagi legitimasi.

Tapi sayangnya, tetap saja berani berpikir. Dan tetap ikut gelisah.

Dan biasanya, orang dengan posisi seperti saya ini hanya disarankan satu hal yang terdengar sangat bijak sekaligus sangat efektif: diam saja. Sebab, NU ki malati, samar lek kuwalat.

Saya paham itu.

Tapi begini, Mbah Yai, Pak Yai, Gus—dan yang sejajar dengan itu—kami, sebagai rakyat jelatanya NU, tetap memiliki kegelisahan yang rasanya sulit untuk diabaikan.

Apalagi urusan PBNU belakangan ini. Kisruh yang muncul di media—yang tentu saja akan sangat mudah dibantah sebagai hoaks, framing, atau kerja pihak-pihak yang tidak suka NU. Orang seperti saya jelas tidak punya kapasitas untuk memilah mana fakta, mana bumbu, mana yang sekadar drama politik tingkat tinggi.

Masalahnya, kegaduhan itu tetap terdengar sampai ke bawah. Sampai ke langgar-langgar kecil. Sampai ke obrolan kopi sore selepas magrib. Dan anehnya, yang terdengar bukan keteduhan, melainkan suara ribut yang agak asing bagi telinga wong NU kampung.

Padahal sejak kecil kami diajari hal-hal yang sangat sederhana: nrima ing pandum. Pasrah. Ngalah, kersaning Gusti Allah. Jangan grusa-grusu. Jangan gampang su’udzon, su'udzon marang kiyai gak mbarokahi. Urusan besar biar diserahkan kepada yang lebih alim dan lebih paham. Kersaning Gusti Allah selalu menjadi kalimat penutup yang ampuh untuk mengakhiri pertanyaan-pertanyaan yang terlalu jauh. Gak mbarokahi sebagai kalimat "penutup tanya" yang efektif agar tidak sampai kemana-mana.

Ajaran itu datang dari kiai-kiai kampung yang hidupnya pas-pasan. Yang sarungnya itu-itu saja—tidak pernah tahu apa itu BHS; yang mereka kenal hanya Wadimor lima puluh ribuan hasil pemberian orang kampung yang agak punya duit, itupun sudah sarung paling istimewa miliknya. Kiai-kiai yang tidak pernah bicara soal kekuasaan, apalagi konsesi. Yang kalau menasihati, lebih sering menyuruh bersabar daripada menyuruh menang.

Karena itu, sikap keras dan defensif sebagian elit PBNU di ruang publik—yang kerap disertai pelabelan terhadap pihak lain—membuat kebingungan di tingkat bawah.

Kebingungan itu muncul karena yang tampak dipersoalkan bukan lagi praktik keagamaan warga, melainkan dinamika internal yang berkaitan dengan posisi dan kepemimpinan. Sesuatu yang sulit kami pahami, sebab selama ini NU di tingkat kampung diajarkan menjauh dari hiruk-pikuk semacam itu.

Ini NU yang mana?

NU yang kami kenal, atau NU versi ruang konferensi pers?

Di titik ini, su’udzon mulai mengendap pelan-pelan. Jangan-jangan, ajaran kezuhudan dan wira’i yang selama ini ditanamkan kuat-kuat kepada warga NU kelas bawah memang sangat efektif. Efektif untuk membuat kami tenang. Efektif untuk membuat kami manut. Efektif untuk memastikan bahwa ketika ada kebijakan “titipan” yang lewat atas nama NU, kami tidak banyak bertanya.

Kami sudah terlatih untuk menganggap urusan dunia sebagai godaan. Terlatih untuk memandang harta dengan curiga. Terlatih untuk menganggap protes sebagai tanda kurang ikhlas. Maka ketika ada kebijakan yang jelas-jelas lebih menguntungkan segelintir orang dan bebannya ditanggung wong cilik, kami tinggal diberi nasihat: sabar.

Sementara di atas, urusan dunia justru tampak sangat serius diperjuangkan.

Barangkali benar apa yang pernah diingatkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa dunia ini sering kali menyeret manusia ke dalam perlombaan yang tidak perlu. Bahkan beliau menyebut dunia sebagai sesuatu yang hina jika diperebutkan dengan rakus—bukan karena dunia itu berharga, melainkan karena cara manusia mengejarnya kerap membuat akal dan nurani tersisih.

Apalagi ketika beredar kabar bahwa kisruh ini tidak sesederhana soal ideologi, infiltrasi asing, atau zionis yang tiba-tiba rajin ikut tahlilan. Tapi juga berkaitan dengan urusan tambang, konsesi, dan hal-hal yang sangat duniawi—hal-hal yang biasanya justru dijauhkan dari mimbar pengajian kampung.

Di situ, satir kehidupan terasa terlalu rapi.

Wong NU bawah diajari zuhud agar kuat menahan diri. Wong NU atas sibuk mengurus dunia atas nama maslahat. Yang satu diminta nrima, yang lain diminta dipercaya. Dan di antara keduanya, jarak itu pelan-pelan melebar.

Saya tentu bisa salah. Bisa jadi ini semua hanya salah paham. Bisa jadi pengetahuan saya memang dangkal. Bisa jadi elit PBNU sudah mempertimbangkan segalanya dengan matang dan penuh keikhlasan. Dan bisa jadi, kegelisahan orang seperti saya memang tidak penting sama sekali.

Namun satu hal yang sulit dihindari: ketika rumah yang selama ini dijadikan tempat berteduh mulai terdengar gaduh dari dalam, penghuni paling bawah pasti akan bertanya—meski dengan suara sangat pelan.

Bukan untuk menggugat. Bukan untuk melawan. Tapi sekadar memastikan: ajaran nrima ing pandum itu masih berlaku untuk semua, atau hanya untuk kami yang berada di bawah saja.

Dan mohon dipercaya—jika Panjenengan semua berkenan mempercayainya—saya menulis seperti ini bukan karena benci kepada NU. Justru sebaliknya, karena cinta. Karena ngeman. Karena sayang.

Barangkali di titik inilah peringatan Imam al-Ghazali menjadi relevan untuk direnungkan bersama: bahwa agama dan kekuasaan memang sering berjalan beriringan, namun keduanya harus tahu tempatnya. Agama menjadi fondasi agar kekuasaan tidak kehilangan arah, sementara kekuasaan seharusnya menjaga agar agama tidak tergelincir menjadi sekadar alat. Ketika urusan dunia terdengar lebih gaduh daripada penjagaan akhlak, mungkin bukan dunianya yang salah—melainkan cara kita memikul amanah itu sendiri.

© khafi.id

Post a Comment for "Soal Kisruh PBNU: Nrima di Atas, Maslahat di Bawah"