Selamat Tahun Baru
Kita merayakan pergantian angka, lalu kembali tunduk pada jam. Resolusi disusun, target diperbarui, kesibukan dirapikan. Selebihnya, hidup berjalan seperti biasa: tergesa dan lelah.
Soal waktu. Kita kerap menatap jam. Tapi sebenarnya bukan itu. Sebab jam dan tanggal hanyalah kesepakatan—rapi, disepakati bersama, lalu dipercaya seolah ia hukum alam. Padahal waktu tidak pernah benar-benar berdetak. Yang berdetak itu jarum, yang bergerak itu mesin. Kita hanya sepakat untuk menyebutnya “pukul sekian”.
Di alam, waktu tidak berdetak. Ia mengalir. Pagi ditandai embun, siang oleh terik, sore oleh bayang yang memanjang. Tidak ada yang berkata, “sebentar lagi jam lima.” Yang ada hanya: matahari sudah condong, saatnya pulang.
Namun di kepala kita, waktu berubah menjadi penekan yang sopan. Ia tidak membentak, tapi membuat gelisah. Kita merasa terlambat, padahal sering kali tidak tahu: terlambat dari apa? Dari usia ideal? Dari target hidup? Dari cerita sukses orang lain yang lewat saban hari?
Jam dan kalender kemudian menjelma mitos modern. Ia dipercaya, ditaati, bahkan disakralkan. Kita takut melanggarnya, meski tak pernah benar-benar paham mengapa hidup harus mengikuti iramanya. Seolah hidup ini lomba lari, dan jam adalah wasit yang tidak bisa digugat.
Karena itu, ketika kita berkata “tidak punya waktu”, sering kali yang kita maksud bukan kekurangan waktu, melainkan kekurangan ruang. Ruang untuk berhenti, untuk merasa cukup, atau sekadar tidak merasa bersalah ketika diam. Jam tidak pernah melarang kita berhenti. Yang melarang justru cara berpikir kita sendiri.
Sebenarnya, alam tidak pernah tergesa. Yang tergesa adalah mindset kita. Pohon tidak panik karena musimnya belum tiba. Padi tidak cemas karena belum menguning. Sungai tidak merasa gagal hanya karena hari ini mengalir lebih pelan dari kemarin.
Kita saja yang gelisah. Kita dibiasakan mengukur segalanya dengan target, tenggat, dan percepatan. Sejak awal kita diajari bahwa bergerak itu selalu lebih baik daripada berhenti. Bahwa cepat identik dengan maju. Pelan dianggap tanda tertinggal.
Akibatnya, kita jarang berpikir tentang jeda. Jeda dianggap ruang kosong yang harus segera diisi. Padahal jeda justru bagian dari irama. Nafas pun bekerja demikian: ada tarik, ada lepas, dan ada hening singkat di antaranya. Tanpa jeda itu, hidup bukan hanya melelahkan—ia berbahaya.
Alam paham betul soal ini. Tanah perlu dibiarkan bera. Laut butuh surut. Malam tidak kalah penting dari siang. Tapi dalam hidup kita, malam sering dipaksa tetap terang. Lampu dinyalakan, jadwal diperpanjang, tubuh diminta terus patuh.
Lalu kita heran mengapa lelah terasa panjang, mengapa cemas datang tanpa sebab, mengapa hidup seperti dikejar sesuatu yang tak pernah benar-benar menampakkan wajahnya.
Dan barangkali, kita juga perlu belajar menerima dengan sopan satu kenyataan kecil yang sering kita tolak: bahwa sesekali kita memang merepotkan. Merepotkan keadaan, merepotkan jadwal, bahkan merepotkan harapan orang lain. Tidak semua hidup bisa rapi, efisien, dan selalu tepat waktu.
Ironisnya, ketika kita sedang menganggur, kita ingin bekerja. Kita merasa tidak berguna, seperti ada yang kurang. Tapi ketika sudah bekerja, lelah datang, dan kata “sibuk” berubah menjadi alasan paling ampuh—nyaris tak terbantahkan—untuk menolak apa pun, termasuk jeda. Kita ingin berhenti, tapi merasa tidak pantas untuk berhenti.
Di titik ini, hidup seperti berputar di lingkaran yang sama. Kita mengejar kesibukan agar merasa layak, lalu mengeluh karena terlalu sibuk untuk bernapas. Kita mencari alasan untuk bergerak, lalu kehilangan alasan untuk berhenti.
Barangkari di sinilah mitos uang bekerja paling halus. Kita diajari bahwa uang adalah jalan menuju ketenangan. Maka kita mencarinya dengan sungguh-sungguh. Tapi dalam proses itu, justru kesempatan untuk tenang pelan-pelan menghilang. Waktu habis, tenaga terkuras, pikiran terus menyala.
Lantas, siapa yang benar-benar bisa tenang dengan uang?
Barangkali para juragan, majikan, dan orang-orang kaya yang uangnya tak lagi memiliki nomor seri. Mereka yang mampu memanipulasi waktu, membeli jeda orang lain, dan mengonversi ketenangan menjadi uang. Bagi mereka, waktu bukan penekan, melainkan aset. Bukan beban, melainkan alat.
Sementara bagi banyak dari kita, waktu justru sesuatu yang selalu kurang, selalu dikejar, selalu harus ditebus.
Kita mencari uang demi ketenangan, tetapi kehilangan ketenangan demi uang.
Lalu pertanyaannya menjadi sederhana, tapi tidak mudah: di mana sebenarnya ketenangan itu berada? Apakah ia menunggu di angka tertentu dalam rekening? Atau justru tersembunyi di ruang-ruang kecil yang sering kita singkirkan—di jeda yang kita tolak, di waktu hening yang kita anggap tidak produktif, di keberanian untuk berkata, “cukup hari ini”?
Mungkin ketenangan tidak pernah pergi ke mana-mana. Kitalah yang terlalu sibuk untuk menemuinya.
Dan barangkali, ketenangan itu baru bisa datang ketika kita berhenti membuktikan apa pun—kepada jam, kepada uang, dan kepada dunia—lalu berdamai dengan ritme hidup yang tidak selalu cepat, tidak selalu rapi, tapi jujur.
Post a Comment for "Selamat Tahun Baru"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.