Haji Termuda dan Kita yang Terlalu Cepat Bilang “Wah”
Belakangan ini, kita cukup sering disuguhi kabar tentang seseorang yang disebut sebagai “haji termuda”. Dan seperti yang sudah bisa ditebak dengan cukup presisi, respons publik hampir selalu seragam: wah. Pendek, ringan, dan efisien. Seolah-olah itu adalah satu-satunya kata yang disediakan untuk setiap hal yang terasa “lebih cepat dari biasanya”.
Tidak ada yang salah dengan itu, tentu saja. Kagum adalah respons yang tidak perlu izin siapa pun. Lagi pula, wah itu gratis, tidak perlu laporan keuangan, dan tidak menambah beban pikiran. Tapi menariknya, kita ini kadang terlalu terlatih untuk kagum pada yang cepat sampai, sampai-sampai lupa bahwa ada banyak orang yang sedang tidak sedang berlomba apa pun—mereka hanya sedang berjalan pelan, sambil memastikan hidup tetap bisa berjalan.
Kalau mau sedikit jujur, perjalanan menuju ibadah itu sendiri tidak pernah sesederhana yang terlihat di layar ponsel. Ada yang sampai karena jalannya memang lapang sejak awal. Ada yang sampai setelah bertahun-tahun menabung dalam diam, sedikit demi sedikit, sambil menunda banyak hal yang sebenarnya juga penting dalam hidup sehari-hari. Bukan karena berlebih, tapi karena ada yang diprioritaskan lebih dulu.
Lalu ada juga yang sudah mendaftar, mendapatkan nomor antrean, dan kemudian pelan-pelan menyadari bahwa “antre” di sini bukan sekadar soal kesabaran sebentar. Ini adalah jenis antrean yang bisa melewati fase hidup. Dari masih kuat bekerja, sampai mulai menghitung ulang tenaga sendiri setiap kali naik tangga. Dari masih bisa menabung rutin, sampai mulai bertanya apakah tabungan itu masih akan cukup ketika akhirnya dipanggil nanti.
Dan yang lebih sunyi lagi, ada juga yang bahkan belum mendaftar. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ketika angka-angka itu mulai dihitung dengan jujur, hasilnya sering tidak memberi ruang untuk optimisme berlebihan. Maka keinginan itu disimpan saja. Tidak dihapus, tapi juga tidak terlalu sering dibuka, agar tidak terlalu mengganggu ketenangan batin.
Di titik ini, kata “mampu” menjadi sangat menarik. Ia terdengar sederhana, tetapi di dalamnya menyimpan banyak lapisan yang tidak selalu nyaman dibicarakan. Karena ternyata, mampu bukan hanya soal niat, iman, atau keinginan. Ia juga soal kondisi hidup yang kadang tidak bisa diajak kompromi, soal penghasilan yang harus dibagi ke banyak kebutuhan lain yang sama-sama mendesak.
Kita sebenarnya tahu ini, hanya saja tidak selalu mengatakannya dengan lantang. Lebih mudah, dan lebih aman, untuk menyederhanakannya dalam satu kalimat yang terdengar sangat religius sekaligus menenangkan: haji adalah panggilan.
Dan memang, kalimat itu tidak salah. Ada dimensi spiritual yang sangat dalam di dalamnya. Tidak semua yang mampu pasti berangkat, dan tidak semua yang belum berangkat berarti tidak dipanggil. Tapi di sisi lain, kalimat itu juga sering menjadi tempat yang sangat nyaman untuk menyimpan hal-hal yang sulit dijelaskan secara ekonomi dan sosial.
Karena di balik kalimat itu, ada realitas yang tetap berjalan: bahwa sebagian orang memang sedang menunggu, bukan karena kurang iman, tetapi karena kondisi hidup yang membuat “menunggu” menjadi satu-satunya pilihan yang paling masuk akal.
Sementara itu, kita juga sering melihat sisi lain yang lebih terang: seseorang yang masih sangat muda sudah bisa berangkat. Tentu saja ini tidak salah, dan tidak perlu dipermasalahkan. Tapi reaksi “wah” yang muncul sering kali terasa terlalu cepat, seperti refleks yang tidak sempat berhenti untuk bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita kagumi?
Apakah ibadahnya? Atau kecepatannya?
Di sela-sela itu, ada banyak orang yang sebenarnya sedang menjalani bentuk ibadah yang tidak terlihat. Menabung bukan hanya soal uang, tapi juga soal menahan diri dari banyak keinginan lain. Mengalah pada keadaan, menunda hal-hal yang menyenangkan, dan tetap menjaga harapan agar tidak benar-benar padam. Tidak ada dokumentasinya, tidak ada sorotan kameranya, tapi itu terjadi setiap hari dalam diam yang panjang.
Lucunya, kita sering kali lebih cepat mengagumi yang “cepat sampai”, tetapi agak lambat memberi ruang untuk yang “lama bertahan”. Padahal kalau diperhatikan sedikit lebih dalam, tidak semua yang cepat itu ringan, dan tidak semua yang lama itu tertinggal. Kadang, yang lama justru sedang membangun sesuatu yang lebih dalam: kesabaran yang tidak bisa dibeli, dan keikhlasan yang tidak bisa dipaksakan.
Maka mungkin, tidak semua kabar “haji termuda” perlu disambut dengan wah yang terlalu besar. Sesekali cukup dengan senyum kecil, lalu diam sebentar lebih lama dari biasanya. Karena di jeda itu, kita mungkin akan ingat bahwa ada orang-orang yang sedang menabung bukan hanya uang, tetapi juga kesabaran yang tidak pernah tercatat dalam berita apa pun.
Dan pada akhirnya, yang cepat sampai memang layak disyukuri. Tapi yang lama menunggu juga tidak sedang gagal dalam perjalanan. Mereka hanya sedang berjalan dengan ritme yang berbeda, dengan beban yang berbeda, dan dengan cara yang tidak selalu terlihat dari luar.
Dan kalau pun nanti semua orang akhirnya sampai pada panggilan yang lain—yang tidak butuh nomor antrean, tidak butuh tabungan, dan tidak butuh publikasi—barangkali kita akan sadar bahwa sejak awal, tidak pernah ada yang benar-benar “lebih cepat”.
Hanya cara menunggu yang berbeda-beda.

Post a Comment for "Haji Termuda dan Kita yang Terlalu Cepat Bilang “Wah”"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.