Penghapusan Prodi yang Tidak Relevan, Saya Sangat Setuju
Ada kabar baik dari dunia pendidikan: kampus mulai serius membersihkan hal-hal yang tidak relevan. Sudah waktunya, memang. Terlalu lama kita membiarkan mahasiswa berkutat pada hal-hal yang tidak langsung menghasilkan. Membaca sesuatu yang tidak ditanya di dunia kerja, memikirkan sesuatu yang tidak diminta industri, bahkan—ini yang agak mengkhawatirkan—bertanya tentang hal-hal yang tidak ada di silabus. Padahal dunia kerja tidak butuh itu. Dunia kerja butuh orang yang siap, cepat, tidak banyak tanya, dan tidak perlu terlalu paham, yang penting bisa jalan. Seperti mesin yang baik: tidak cerewet, tidak penasaran, dan tidak tiba-tiba berhenti hanya karena merasa ada yang janggal. Dalam kerangka itu, menghapus jurusan yang tidak relevan adalah langkah yang sangat rasional. Bahkan, kalau dipikir-pikir, agak terlambat.
Meski begitu, kita juga perlu sedikit lebih teliti agar tidak salah paham. Katanya, penghapusan itu bukan benar-benar penghapusan. Lebih tepatnya evaluasi. Penyesuaian. Dan kalaupun sampai ditutup, itu pun disebut sebagai pilihan terakhir. Jadi sebenarnya yang tidak relevan ini belum tentu dihapus—hanya sedang dipikirkan untuk kemungkinan dihapus, jika nanti dianggap perlu untuk dihapus. Sebuah kehati-hatian yang patut diapresiasi, karena sesuatu yang belum tentu jelas pun sebaiknya tidak buru-buru dipastikan.
Barangkali memang masalahnya bukan pada ilmunya. Ada yang bilang, yang terjadi justru ketimpangan: lulusan terlalu banyak, kebutuhan terlalu sedikit. Ada jurusan yang tiap tahun meluluskan ribuan, tapi lapangan kerjanya tidak bertambah secepat itu. Dalam logika seperti ini, yang berlebih tentu terasa tidak relevan. Bukan karena tidak berguna, tapi karena tidak terserap. Dan sesuatu yang tidak terserap, cepat atau lambat akan dianggap salah tempat—meskipun tempatnya mungkin yang belum siap.
Mengapa hanya jurusannya yang dihapus? Cara berpikir yang tidak relevan seharusnya juga ikut dibersihkan. Untuk apa mempertahankan kebiasaan berpikir kritis, kalau ujung-ujungnya hanya memperlambat proses? Pertanyaan-pertanyaan seperti “mengapa begini” atau “apakah ini adil” jelas tidak produktif, tidak bisa dimasukkan ke KPI, dan tidak bisa diukur dalam target triwulan. Lebih baik diganti dengan satu pertanyaan sederhana: “apa yang diminta?” Dengan begitu, hidup jadi lebih ringan. Tidak ada beban memahami, tidak ada repot mempertimbangkan, cukup menerima, menyesuaikan, lalu selesai.
Kalau mengikuti semangat ini, mungkin kita juga perlu memperbarui cara kita memahami pendidikan. Selama ini ada anggapan lama—yang agak mengganggu efisiensi—bahwa belajar itu proses memahami dunia, berdialog, bahkan kadang meragukan apa yang sudah dianggap benar. Padahal, bukankah lebih sederhana jika pendidikan diperlakukan seperti tempat penyimpanan? Mahasiswa datang, menerima isi, lalu menyimpannya dengan rapi untuk digunakan nanti. Tidak perlu banyak tafsir, tidak perlu banyak tanya. Cukup menampung.
Model seperti ini terasa lebih tenang. Lebih tertib. Tidak banyak gesekan.
Barangkali ini yang dulu terlalu dilebih-lebihkan oleh Paulo Freire—tentang pendidikan yang membebaskan, yang mengajak orang membaca dunia, bukan sekadar menghafalnya. Gagasan yang indah, tapi tampaknya cukup melelahkan kalau diterapkan secara serius. Membaca dunia itu butuh waktu, butuh jarak, dan yang paling berbahaya: bisa membuat seseorang sadar bahwa ada sesuatu yang perlu dipertanyakan. Sementara kita sedang berusaha merapikan semuanya agar tidak terlalu banyak yang dipertanyakan.
Mungkin ke depan, kurikulum bisa dibuat lebih jujur sejak awal. Tidak usah lagi berpura-pura mencetak manusia yang utuh. Langsung saja fokus pada keterampilan yang sedang laku. Mata kuliah yang terlalu “dalam” bisa dipangkas, atau kalau perlu diubah namanya agar tidak terlalu mengganggu. Filsafat bisa diganti menjadi Dasar-Dasar Setuju, sosiologi menjadi Teknik Menyesuaikan Diri, sejarah cukup diringkas jadi Ringkasan yang Tidak Perlu Diingat. Supaya mahasiswa tidak tersesat dalam pikiran-pikiran yang tidak praktis. Dan untuk memastikan semuanya berjalan baik, mungkin kita perlu satu jurusan baru yang benar-benar menjawab kebutuhan zaman: Manajemen Kepatuhan. Di sana, mahasiswa dilatih untuk cepat memahami instruksi tanpa banyak tafsir, menahan keinginan bertanya pada hal-hal yang tidak diminta, dan menjaga diri agar tidak tergoda mencari makna di luar pekerjaan.
Namun, ada satu hal kecil yang mungkin perlu dicatat. Beberapa orang mengingatkan bahwa sesuatu yang dianggap tidak relevan hari ini, bisa saja justru menjadi penting di kemudian hari. Bahkan ada yang berpendapat, yang tidak relevan itu bukan ilmunya, tapi cara kita menghubungkan ilmu itu dengan dunia yang berubah. Tapi tentu saja, pandangan seperti ini agak merepotkan, karena membuat segalanya tidak sesederhana yang kita harapkan.
Kalau standar “relevansi” ini benar-benar ingin kita jalankan dengan serius, barangkali kita tidak boleh setengah-setengah. Jangan hanya berhenti di kampus. Coba kita tengok sedikit ke atas. Bukankah selama ini kita juga cukup akrab dengan hal-hal yang, kalau mau jujur, agak longgar dalam urusan relevansi? Ada yang latar pendidikannya tidak berkaitan langsung dengan bidang yang ia tangani, tapi tetap dipercaya mengelola urusan besar. Ada yang keahliannya di satu ranah, tapi ditugasi di ranah yang sama sekali berbeda. Bahkan ada yang rekam jejak pendidikannya sendiri kadang terasa seperti cerita yang tidak selesai dibaca. Dan anehnya, kita baik-baik saja. Kita tidak buru-buru menghapus, tidak tergesa menyebut “tidak relevan”. Barangkali karena di sana, relevansi punya definisi yang lebih luas, atau mungkin lebih lentur.
Maka pertanyaannya jadi sederhana—dan sedikit usil: kalau jurusan harus dihapus karena tidak relevan dengan dunia kerja, apakah ukuran yang sama juga berlaku untuk mereka yang sudah bekerja mengurus negara? Atau relevansi hanya penting ketika seseorang masih menjadi mahasiswa, lalu perlahan kehilangan maknanya begitu ia punya jabatan? Kalau konsisten, mestinya kita juga berani mengusulkan hal yang sama: melakukan penyesuaian di tempat-tempat yang lebih tinggi. Tentu saja, ini demi kebaikan bersama, agar semuanya tetap relevan, agar tidak ada lagi yang berada di posisi yang tidak sesuai dengan latar belakangnya, agar semuanya tepat guna, tepat tempat, dan tidak menyimpang dari logika efisiensi yang kita banggakan itu. Atau jangan-jangan memang ada dua jenis relevansi: yang satu ketat untuk mereka yang sedang belajar, dan yang satu lagi cukup longgar untuk mereka yang sudah berkuasa.
Pada akhirnya, mungkin masalahnya bukan pada apa yang tidak relevan, tapi pada siapa yang berhak disebut demikian. Selebihnya, kita hanya sedang merapikan yang mudah dirapikan. Dan barangkali memang itu inti dari semua ini: bukan karena jurusannya yang tidak relevan, tapi karena cara berpikir yang terlalu lama dibiarkan bebas mulai terasa mengganggu. Sudah saatnya dirapikan, agar tidak menghambat pekerjaan. Karena kita sedang butuh sesuatu yang lebih sederhana: manusia yang rapi, cepat, dan tidak terlalu dalam—cukup mampu menampung, tanpa harus repot memahami.
Oh, iya...
Wakil presiden, menteri, DPR, Kepala BGN banyak yang prodi kuliahnya tidak relevan, lhoo...😁😁

Post a Comment for "Penghapusan Prodi yang Tidak Relevan, Saya Sangat Setuju"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.