Lomba yang Sudah Selesai Sebelum Dimulai

Berawal dari sesuatu yang viral belakangan ini, ingatan lama tiba-tiba muncul tanpa diundang. Bukan peristiwa besar, hanya potongan masa sekolah yang dulu terasa biasa saja. Waktu itu, tempat belajar bukan sekolah yang sering disebut “unggulan.” Sekolah ini lebih dekat dengan kategori sederhana—biayanya ringan, fasilitasnya secukupnya, dan kalau namanya masuk dalam radar dinas pendidikan saja, itu sudah terasa seperti pencapaian kecil yang patut disyukuri.

Sebagian besar siswanya datang dari latar yang kurang lebih sama: tidak banyak pilihan, tidak banyak dana, tapi tetap ingin menyelesaikan sekolah dengan baik. Bahkan, ada juga yang datang sebagai “titipan keadaan”—mereka yang tidak lagi punya tempat di sekolah-sekolah yang lebih “maju,” lalu berlabuh di sini agar setidaknya perjalanan pendidikannya tidak benar-benar berhenti. Sekolah ini, kalau boleh jujur, lebih sering menjadi tempat melanjutkan daripada tempat membanggakan.

Dari tempat seperti itulah, setiap kali musim lomba datang—17-an, peringatan hari besar, atau acara tahunan lain—kami tetap ikut. Bukan karena merasa paling siap, tapi karena memang semua sekolah diundang, dan barangkali memang perlu diundang agar acara terasa lengkap.

Dan dari situ, ada satu jenis kenangan yang entah kenapa selalu tersisa. Lomba-lomba itu. Bentuknya macam-macam—lomba pidato, PBB, cerdas cermat, hingga hal-hal yang kadang terasa dibuat-buat agar semua kebagian panggung. Kita ikut. Kita latihan. Kita deg-degan. Dan untuk sesaat, kita percaya bahwa semua itu benar-benar lomba.

Tapi ada satu hal yang juga rutin, meski jarang diucapkan keras-keras: pemenangnya itu-itu saja. Sekolah negeri yang populer, yang disebut “unggulan,” yang namanya sudah dikenal bahkan sebelum lomba dimulai. Tahun berganti, peserta berubah, tapi pemenangnya seperti tidak punya niat untuk ikut berubah. Konsisten, rapi, dan entah bagaimana selalu masuk akal—setidaknya di atas kertas.

Sekolah lain tetap datang, termasuk sekolah-sekolah sederhana seperti tempat kami belajar dulu. Kami ikut bukan karena yakin menang, tapi karena memang perlu ikut—agar barisan terlihat lengkap, agar acara tampak sah.

Di titik itu, tanpa banyak kata, kita mulai belajar sesuatu yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran: bahwa dalam beberapa pertandingan, ada yang benar-benar bertanding, dan ada yang sekadar hadir agar pertandingan terlihat seperti pertandingan. Semua tetap dibungkus dengan bahasa yang baik—semangat, pengalaman, sportivitas. Kita pun menjalaninya dengan cukup tulus.

Namun, pelan-pelan, muncul kesadaran kecil yang tidak tahu harus diletakkan di mana. Misalnya saat melihat siapa yang duduk di kursi juri. Nama-nama yang terasa dekat dengan sekolah tertentu—alumni, relasi, atau setidaknya bukan orang yang sepenuhnya asing. Tidak selalu berarti tidak adil, tentu saja. Tapi cukup untuk membuat kita bertanya pelan dalam hati: ini lomba, atau pertemuan lama yang diberi penilaian?

Ketika pengumuman tiba, tidak banyak kejutan. Nama yang disebut sering kali sesuai dugaan. Tepuk tangan tetap ada, bahkan kita ikut bertepuk tangan. Bukan karena benar-benar terkejut, tapi karena memang begitulah cara acara berjalan. Semua selesai dengan rapi, tanpa banyak pertanyaan.

Barangkali di situlah pelajaran yang paling diam itu bekerja. Bahwa tidak semua hal perlu dipertanyakan. Bahwa ada keputusan yang lebih mudah diterima daripada dipersoalkan. Bahwa sistem kadang terasa lebih besar daripada sekadar benar atau salah. Dan tanpa sadar, kita tumbuh bersama pemahaman itu.

Lalu bertahun-tahun kemudian, muncul sebuah lomba cerdas cermat yang ramai dibicarakan. Sebuah jawaban yang secara substansi terdengar sama, tapi dinilai berbeda. Satu mendapat poin, yang lain justru dikurangi. Videonya beredar, diputar ulang, dibandingkan. Orang-orang mulai bertanya: di mana letak bedanya? Mengapa yang satu dianggap benar, sementara yang lain tidak?

Jawaban formalnya tidak asing: keputusan juri bersifat mutlak. Kalimat yang rapi, tapi entah kenapa terasa terlalu sering kita dengar.

Yang menarik, kegaduhan itu bukan sekadar soal benar atau salahnya jawaban. Ada sesuatu yang terasa lebih dalam—semacam rasa akrab yang sulit dijelaskan. Banyak orang menonton bukan sebagai penonton murni, tapi seperti seseorang yang pernah mengalami hal serupa. Hanya saja dulu tidak ada rekaman, tidak ada bukti yang bisa diputar ulang, dan tidak ada ruang untuk memperpanjang kegelisahan.

Mungkin itu sebabnya kejadian itu terasa mengganggu. Bukan karena ia benar-benar baru, tapi justru karena ia terlalu lama kita kenal. Ia seperti membuka kembali ingatan lama yang dulu kita simpan tanpa banyak tanya.

Kalau dipikir-pikir, pengalaman-pengalaman kecil di masa sekolah itu seperti latihan diam-diam. Kita belajar menerima hasil yang tidak selalu terasa adil tanpa harus membuat keributan. Kita belajar bahwa usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil, karena ada hal-hal lain yang ikut bekerja di belakang layar—relasi, kedekatan, nama besar, atau sekadar kebiasaan yang tidak pernah digugat.

Tentu, tidak semua lomba seperti itu. Akan terlalu mudah jika semuanya disamaratakan. Tapi pola kecil yang berulang di tempat yang berbeda cukup untuk meninggalkan jejak yang mirip. Jejak yang membuat kita merasa bahwa yang kita hadapi kadang bukan sekadar kompetisi, tapi juga sesuatu yang tidak tertulis di aturan.

Dan di tengah semua itu, sekolah-sekolah “biasa” tetap datang. Tetap ikut. Tetap berdiri di barisan. Mungkin dengan harapan sederhana: siapa tahu kali ini sedikit berbeda.

Harapan yang tidak pernah benar-benar hilang, meski berkali-kali tidak menemukan tempatnya.

Barangkali di situlah ironi yang paling sunyi itu bersembunyi. Bahwa kita terus percaya pada sesuatu yang tidak selalu berpihak, bukan karena kita tidak tahu, tapi karena tidak banyak pilihan selain tetap ikut.

Dan ketika suatu hari kita melihat kejadian serupa muncul kembali—dengan panggung yang lebih besar dan penonton yang lebih ramai—kita tidak benar-benar terkejut. Kita hanya merasa seperti sedang menonton ulang sesuatu yang dulu pernah kita jalani, hanya saja kali ini dengan nama yang berbeda.

Dan mungkin, sejak dulu, lomba-lomba itu memang tidak pernah benar-benar dimulai dari garis yang sama.

© khafi.id

Post a Comment for "Lomba yang Sudah Selesai Sebelum Dimulai"