Pesta Babi: Menonton, Marah, Lalu Diam

Sekitar tahun 2013, ada satu film yang diam-diam mengubah cara melihat banyak hal. Judulnya Dibalik Frekuensi, karya Ucu Agustin. Film itu membahas sesuatu yang sebelumnya jarang benar-benar dipikirkan: frekuensi radio dan televisi yang katanya milik publik, ternyata dalam praktiknya lebih sering dikuasai oleh segelintir orang yang punya modal dan kepentingan. Waktu itu, menonton film dokumenter terasa berbeda. Bukan sekadar mengikuti cerita, tapi seperti diberi tahu bahwa ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatian. Reaksi yang muncul bukan kagum, melainkan gelisah. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Kesal, iya. Jengkel, juga. Lama-lama berubah menjadi semacam kemarahan terhadap sistem yang terasa terlalu besar untuk disentuh. Masalahnya, perasaan itu tidak ke mana-mana. Ia tidak berubah menjadi tindakan, tidak juga menjadi perubahan nyata. Ia hanya tinggal, mengendap, seperti udun—bisul kecil yang mungkin tidak terlihat orang lain, tapi terasa sendiri.

Dan itu tidak berhenti di satu film. Beberapa tahun kemudian, muncul film-film lain seperti Asimetris, Sexy Killers, sampai Dirty Vote. Semuanya ditonton, dan hampir semuanya meninggalkan dampak yang mirip: menambah pengetahuan, tapi juga menambah beban. Lama-lama terasa seperti mengumpulkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. Bukan hanya informasi, tapi juga rasa kesal yang tidak punya saluran. Setiap film seperti menambah satu lapisan baru, tapi tidak pernah benar-benar memberi arah ke mana semua ini harus dibawa. Di titik tertentu, menonton film seperti ini tidak lagi terasa sebagai proses memahami, melainkan seperti mengisi sesuatu yang tidak pernah dikosongkan. Yang bertambah bukan hanya pengetahuan, tapi juga perasaan yang tidak jelas harus diletakkan di mana.

Ada satu hal yang jarang dibicarakan ketika orang memuji film dokumenter semacam ini, yaitu dampaknya ke penonton. Film-film itu memang penting. Ia membuka hal-hal yang sebelumnya tertutup, menunjukkan ketimpangan yang sering dianggap biasa, dan memberi gambaran yang lebih nyata tentang apa yang sedang terjadi. Tapi setelah itu, seringkali tidak ada kelanjutannya. Tidak ada arah yang jelas, tidak ada peran yang bisa diambil oleh penonton biasa. Tidak semua orang punya akses atau kemampuan untuk terlibat langsung dalam perubahan besar. Akhirnya, apa yang didapat dari film hanya berhenti sebagai pengetahuan. Dan ketika seseorang terus-menerus menerima informasi yang memancing emosi tanpa tahu harus berbuat apa, yang terjadi bukan lagi sekadar sadar, melainkan pelan-pelan menjadi lelah. Bukan marah ke sistem, tapi capek sendiri, karena merasa tahu banyak hal tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Hal yang sama muncul ketika mendengar film seperti Pesta Babi. Bukan karena tidak ingin menonton, tapi ada semacam keraguan yang sederhana: apakah ini akan memberi pemahaman baru, atau hanya menambah beban yang sama seperti sebelumnya. Pengalaman menonton film-film serupa menunjukkan pola yang cukup konsisten: menonton, merasa terganggu, lalu selesai tanpa arah. Tentu saja, bukan berarti film-film itu salah. Mereka tetap punya peran penting. Tanpa dokumenter seperti itu, banyak hal mungkin tidak akan pernah diketahui, banyak isu akan tetap tertutup, dan banyak suara tidak akan pernah terdengar. Tapi mungkin yang perlu dipikirkan bukan hanya isi filmnya, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Selama ini, yang sering terjadi cukup sederhana: film selesai, penonton pulang, lalu kembali ke rutinitas masing-masing, tanpa ada yang benar-benar berubah selain perasaan yang sedikit lebih berat dari sebelumnya.

Mungkin yang kurang bukan filmnya, tapi ruang setelahnya. Ruang untuk membicarakan tanpa harus berdebat, ruang untuk memahami bersama tanpa saling menyalahkan, atau setidaknya ruang kecil yang membuat seseorang tidak merasa sendirian dengan apa yang baru saja ia rasakan. Tidak harus besar, tidak harus formal, bahkan tidak harus terlihat seperti gerakan. Cukup ada. Karena tanpa itu, film seperti ini berisiko berubah fungsi, dari alat untuk membuka kesadaran menjadi sumber kelelahan baru.

Pada akhirnya, muncul satu pertanyaan yang mungkin agak mengganggu: jangan-jangan, tanpa sadar, kita sedang ikut dalam proyek—bukan proyek perubahan, tapi proyek "menumpuk kebencian" yang justru sekadar menimbun amarah yang tak berujung?. Seperti diingatkan Friedrich Nietzsche, ketika seseorang terlalu lama menatap jurang, yang berubah tidak selalu jurangnya. Kadang justru cara kita melihat dunia—bahkan diri sendiri—yang pelan-pelan ikut berubah.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah film ini benar atau salah, melainkan sederhana saja: setelah menonton, kita mau ke mana. Jika jawabannya masih belum ada, maka mungkin yang perlu ditambahkan bukan hanya film baru, tapi ruang kecil agar kegelisahan itu tidak harus ditanggung sendirian.

© khafi.id

Post a Comment for "Pesta Babi: Menonton, Marah, Lalu Diam"