Pendidikan yang Penting Lulus
Dulu, saat masih kuliah, kami sering meng"ghibah" kampus. Tentu saja. Itu adalah salah satu hiburan mahasiswa kelas bawah yang menyenangkan. Berawal dari sebuah buku yang baru kami kenal: Pendidikan yang Memiskinkan, maka rasan-rasan kami seolah-olah menjadi rasan-rasan intelektual yang “keren”—meskipun pada akhirnya kami akan sadar bahwa itu semua, entah kenapa, hal itu sama sekali tidak berguna dan tidak banyak mengubah apa-apa.
Hal yang saya ingat waktu itu adalah tentang ini: sebagai mahasiswa semester banyak (menghindari kata “semester tua”), kami mengamati banyak dosen-dosen baru yang waktu itu kami anggap tidak kompeten (menghindari kata “bodoh”) pada bidang ajarnya. Maka, waktu itu, kami seolah-olah merasa menjadi orang pandai dan mempunyai kegelisahan yang sama: dosen-dosen ini akan mengajar adik-adik angkatan kami. Ketidakkompetenan itu, pelan-pelan, akan diwariskan. Kami membayangkan semacam estafet. Ilmu yang setengah matang diturunkan ke generasi berikutnya. Lalu generasi itu lulus. Lalu mereka mengajar. Dan suatu hari nanti, bukan tidak mungkin, mereka mengajar anak-anak kami sendiri.
Waktu itu, kami melihat dosen-dosen lebih sibuk mengejar target RPP dan silabus—bahkan untuk mahasiswa—sehingga tidak fokus pada mengajar. Sementara dosen-dosen yang rajin membaca, yang senang mengeksplorasi, justru seperti tidak punya tempat yang memadai. Mereka kalah oleh yang lebih rapi di atas kertas. Semua terlihat tertib. Semua terlihat “sesuai standar”. Dan mungkin, di situlah masalahnya.
Nah, apa yang terjadi sekarang? Adik-adik itu sudah lulus. Sudah mengajar. Dan di berita, pelan-pelan muncul kenyataan yang dulu hanya kami bayangkan sebagai kemungkinan yang agak jauh: ada siswa SMP yang tidak bisa membaca. Bukan tidak lancar. Bukan tidak paham. Tapi benar-benar tidak bisa membaca.
Kita mungkin tergoda untuk marah. Menyalahkan siswa. Menyalahkan guru. Menyalahkan kurikulum terbaru. Atau, kalau sedang agak serius, menyalahkan sistem pendidikan secara umum—yang itu-itu saja, diulang setiap ada masalah. Tapi kalau diingat lagi, bukankah ini seperti cerita lama yang berjalan pelan? Bahwa pendidikan, dalam banyak hal, lebih sibuk memastikan semua orang naik kelas daripada memastikan semua orang benar-benar belajar. Bahwa yang penting adalah laporan selesai, bukan pemahaman tumbuh. Bahwa yang penting adalah capaian tertulis, bukan kemampuan yang betul-betul hidup.
Dan kita semua, pada level yang berbeda-beda, pernah ikut menyetujuinya. Atau setidaknya, tidak cukup keberatan.
Di sekolah dasar, mungkin ada anak yang belum lancar membaca, tapi tetap naik kelas karena “kasihan”. Di kelas berikutnya, guru berikutnya menganggap itu sudah selesai. Di SMP, guru mulai mengajar materi yang lebih rumit, dengan asumsi dasar membaca sudah beres. Padahal belum. Lalu anak itu belajar bertahan. Menghafal tanpa memahami. Menyalin tanpa mengerti. Lulus dengan cara yang, kalau dipikir-pikir, lebih mirip bertahan hidup daripada belajar (Sing penting lulus...).
Dan kita menyebutnya pendidikan.
Lucunya, di sisi lain, kita juga sibuk memperdebatkan hal-hal yang terlihat lebih “tinggi”. Kurikulum apa yang dipakai. Metode apa yang paling mutakhir. Teknologi apa yang harus masuk kelas. Seolah-olah persoalannya ada di atas sana, padahal di bawah, fondasinya masih bolong. Membaca saja belum selesai, tapi kita sudah bicara literasi digital. Memahami kalimat saja belum tuntas, tapi kita sudah bicara berpikir kritis.
Seperti membangun rumah dua lantai di atas tanah yang belum dipadatkan.
Dulu sekali, kita pernah punya istilah yang terdengar meyakinkan: CBSA. Cara Belajar Siswa Aktif. Kedengarannya hidup. Kelas jadi ramai. Siswa berdiskusi, bergerak, presentasi. Tapi seperti yang pernah ditulis Y.B. Mangunwijaya, CBSA bahkan sempat dipelesetkan menjadi “cah bodho sangsaya akeh”. Dalam praktiknya, yang sering aktif justru suasananya. Pikirannya menyusul, kalau sempat.
Kita seperti senang melihat kelas yang hidup, meskipun tidak selalu yakin apa yang sebenarnya sedang dihidupkan.
Mungkin dulu, waktu membaca Pendidikan yang Memiskinkan, kami mengira yang dimaksud “memiskinkan” itu sesuatu yang besar dan jauh. Seolah-olah ia berbicara tentang sistem, tentang struktur, tentang sesuatu yang rumit dan sulit dijangkau. Tapi sekarang, rasanya kata “memiskinkan” itu justru menjadi sederhana: memiskinkan kemampuan membaca, memiskinkan cara memahami, bahkan memiskinkan keberanian untuk bertanya.
Dan mungkin yang lebih jujur untuk diakui: kita nyaman dengan itu. Sistem yang seperti ini memungkinkan semua orang tetap berjalan tanpa harus terlalu banyak berhenti. Guru tetap mengajar. Sekolah tetap berjalan. Laporan tetap rapi. Angka kelulusan tetap tinggi. Tidak ada yang benar-benar terlihat gagal, setidaknya di atas kertas.
Ironisnya, hal-hal seperti ini sering muncul dalam bentuk yang sangat sederhana. Pernah ada dosen yang, dengan nada santai, berkata kepada mahasiswa bimbingannya: “halah, sing penting lulus. skripsi gak usah apik-apik.”
Tidak terdengar seperti masalah besar. Tapi mungkin, justru dari kalimat-kalimat kecil seperti itu, cara pandang kita pelan-pelan dibentuk.
Dan mungkin, dari hal-hal kecil seperti itu, sesuatu yang lebih besar pelan-pelan tumbuh tanpa kita sadari. Sampai suatu hari, muncul satu berita kecil: siswa SMP tidak bisa membaca. Lalu kita kaget. Padahal tanda-tandanya sudah lama ada, hanya saja selama ini kita lebih sibuk merapikan laporan daripada mendengarkan gejala.
Yang menarik, masalah seperti ini jarang benar-benar selesai. Ia biasanya hanya berganti istilah. Dulu disebut “kurang mampu”, lalu “tertinggal”, lalu “butuh pendampingan”, dan kita tetap tidak boleh menggunakan kata "bodoh", lalu mungkin nanti ada istilah baru lagi yang terdengar lebih halus. Tapi intinya tetap sama: ada sesuatu yang tidak beres di dasar, tapi kita lebih suka memperhalus kata-katanya daripada membereskan akarnya.
Dan dalam kondisi ini, rasanya obrolan kami dulu di kampus jadi terasa agak aneh. Kami dulu merasa sedang membicarakan sesuatu yang besar. Padahal mungkin, kami hanya sedang mengomentari permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Kami mengira masalahnya ada pada individu dosen. Ternyata, persoalannya lebih mirip kebiasaan kolektif yang sudah terlalu lama dianggap wajar.
Kebiasaan untuk tetap berjalan meskipun tahu ada yang tertinggal. Kebiasaan untuk menilai dari kertas, bukan dari kenyataan. Kebiasaan untuk menganggap selesai sesuatu yang sebenarnya belum selesai.
Maka ketika hari ini ada siswa SMP yang tidak bisa membaca, mungkin itu bukan sekadar kegagalan pendidikan. Ia lebih mirip cermin. Cermin yang agak tidak nyaman dilihat, karena memantulkan terlalu banyak hal sekaligus: cara kita mengajar, cara kita menilai, bahkan cara kita memahami apa itu “belajar”.
Dan seperti biasa, cermin itu tidak bisa disalahkan.
Yang sering terjadi justru, kita menutupnya lagi. Membahasnya sebentar, lalu kembali ke rutinitas. Kembali ke target. Kembali ke laporan. Kembali ke hal-hal yang membuat semuanya terlihat baik-baik saja.
Sampai nanti, entah kapan, kita menemukan lagi versi lain dari cerita yang sama. Mungkin bukan lagi soal membaca. Mungkin soal hal lain yang lebih kompleks. Tapi pola ceritanya kemungkinan tidak jauh berbeda.
Ada yang terlewat di awal. Dibiarkan. Dianggap akan selesai dengan sendirinya. Lalu suatu hari, muncul ke permukaan dengan cara yang tidak bisa lagi diabaikan.
Dan kita kembali kaget. Seolah-olah ini pertama kalinya terjadi.
Padahal, kalau mau jujur, ini hanya cerita lama yang datang lagi, dengan nama tokoh dan lokasi yang berbeda. Kalau pun terasa mirip, barangkali bukan kebetulan—hanya saja kita jarang benar-benar mengingatnya.
Atau mungkin, kita memang tidak terlalu ingin mengingatnya.

Post a Comment for "Pendidikan yang Penting Lulus"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.