Lagi Libur, atau Memang Nganggur?

Beberapa hari yang lalu sempat ada percakapan ringan dengan seorang kawan. Pertanyaan yang sebenarnya biasa saja, bahkan terlalu sering ditanyakan dalam banyak pertemuan:

“Kerja apa saiki?”

Jawaban saya tidak muluk-muluk agar tidak terkesan sibuk:

“Aku sih lagi libur.”

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada pembelaan. Seolah cukup sampai di situ.

Beberapa waktu kemudian, kawan itu datang ke warung tempat saya ngopi waktu itu. Saat itu saya sedang duduk di depan laptop, mengerjakan sebuah halaman web. Bukan proyek besar, hanya pekerjaan kecil yang entah sejak kapan ditunda. Sesuatu yang sebenarnya bisa selesai cepat, tapi sering kalah oleh rasa malas yang sulit dijelaskan.

Ia melihat, lalu spontan berkomentar:

“Lhah… jare libur? Kok kerjo?”

Saya jawab dengan santai, bahkan sedikit ngawur:

“Aku pas ngene iki libur. Sebab aktivitasku sehari-hari glundang-glundung, nganggur neng ngomah, gak ngapa-ngapain…”

Kalau dipikir-pikir, percakapan ini sebenarnya tidak penting. Hanya candaan kecil yang mungkin akan lewat begitu saja. Tapi justru dari hal-hal semacam itu, kadang muncul keganjilan yang diam-diam akrab dengan kehidupan kita sehari-hari.

Sebab tanpa banyak disadari, kita hidup dalam kebingungan yang jarang benar-benar dibicarakan: kapan seseorang itu dianggap “kerja”, dan kapan disebut “libur”.

Dulu, batasnya terasa jelas. Kerja itu pergi pagi, pulang sore, kadang lembur. Ada ritme yang bisa dikenali, ada pola yang berulang. Bahkan keluhan pun punya jadwalnya sendiri. Senin terasa berat, Jumat terasa ringan.

Libur ya berhenti. Tidak disentuh, tidak dipikir, tidak dibawa pulang dalam kepala. Ada jeda yang benar-benar jeda.

Sekarang, semua itu seperti kabur.

Ada orang yang secara kasat mata terlihat tidak melakukan apa-apa—lebih sering di rumah, tidak terikat jam, tidak terlihat sibuk—tapi bukan berarti ia sedang libur. Bisa jadi justru sedang terjebak dalam jeda yang terlalu panjang, yang tidak pernah benar-benar terasa sebagai istirahat.

Waktu ada, tapi tidak terasa hidup.

Sebaliknya, ada juga yang tampak sibuk sepanjang hari—rapat, membuka laptop, mengetik sesuatu, berpindah dari satu tugas ke tugas lain—tapi kalau ditanya lebih dalam, belum tentu merasa benar-benar “bekerja”. Bisa jadi hanya sedang mengisi waktu agar tidak terasa kosong.

Seolah sibuk menjadi cara paling aman untuk menghindari pertanyaan yang lebih sunyi: sebenarnya sedang ke mana arah hidup ini berjalan?

Di titik ini, candaan “aku lagi libur” padahal sedang mengerjakan sesuatu terasa seperti sindiran kecil. Membalik logika yang selama ini kita pakai tanpa banyak dipikir.

Seolah ingin mengatakan: yang selama ini disebut “tidak ngapa-ngapain” itu justru rutinitas utama. Sementara ketika akhirnya ada sesuatu yang dikerjakan—meskipun kecil, meskipun tanpa target besar—itu terasa seperti jeda. Seperti napas yang lebih utuh.

Mungkin karena yang membuat lelah itu bukan pekerjaannya, tapi kekosongannya.

Hari-hari yang diisi dengan “glundang-glundung” sering kali tidak benar-benar memberi istirahat. Waktu memang longgar, tapi tidak selalu terasa milik sendiri. Ada rasa menggantung—tidak sibuk, tapi juga tidak tenang. Tidak dikejar, tapi juga tidak ke mana-mana.

Dan pelan-pelan, kondisi seperti itu bisa lebih melelahkan daripada pekerjaan itu sendiri.

Sebab dalam kerja, setidaknya ada arah. Ada sesuatu yang bisa dipegang, meskipun kecil. Sementara dalam kekosongan, yang ada hanya waktu yang berjalan tanpa bekas.

Itulah mengapa, ketika ada satu momen kecil untuk mengerjakan sesuatu—entah membuat halaman web, menulis beberapa baris, atau sekadar menyelesaikan hal yang lama tertunda—justru muncul rasa yang berbeda. Lebih jelas. Lebih terasa nyata.

Bukan karena pekerjaannya besar, tapi karena ada arah.

Di situ, kata “libur” seperti mendapat makna baru. Bukan lagi soal berhenti dari pekerjaan, tapi justru berhenti dari kekosongan yang tidak jelas bentuknya.

Barangkali selama ini kita terlalu cepat memberi label. Ini kerja, itu libur. Ini produktif, itu malas. Padahal pengalaman tiap orang terhadap waktu tidak sesederhana itu.

Ada orang yang butuh kesibukan untuk merasa tenang. Ada juga yang justru butuh berhenti total agar bisa kembali utuh. Dan tidak sedikit yang terjebak di antara keduanya—tidak benar-benar sibuk, tapi juga tidak benar-benar beristirahat.

Dalam kondisi seperti itu, candaan sederhana tadi terasa seperti pengakuan jujur yang dibungkus ringan: bahwa kadang kita sendiri tidak benar-benar tahu sedang berada di fase apa.

Kerja, bukan. Libur, juga bukan.

Hanya sedang menjalani waktu yang lewat begitu saja, sambil sesekali berharap ada sesuatu yang bisa membuatnya terasa lebih berarti.

Maka ketika ada satu momen kecil yang memberi rasa “terpegang”—meskipun hanya sebentar—itu terasa seperti libur yang sesungguhnya. Libur dari kebingungan. Libur dari rasa kosong yang sulit dijelaskan.

Sisanya, ya seperti yang sering kita jalani tanpa banyak kata:

glundang-glundung.

© khafi.id

Post a Comment for "Lagi Libur, atau Memang Nganggur?"