Guru dan Dosen yang Malas Membaca
Ada satu bayangan lama yang tampaknya masih kita simpan rapi: guru dan dosen adalah orang-orang yang paling dekat dengan buku. Bayangan itu tidak pernah benar-benar diajarkan. Ia tumbuh begitu saja. Mungkin karena sejak kecil kita melihat mereka berdiri di depan kelas sambil membawa buku, atau karena kita percaya bahwa orang yang mengajar pasti lebih banyak membaca.
Keyakinan itu terasa wajar. Bahkan terlalu wajar untuk dipertanyakan. Sampai suatu hari, pelan-pelan, muncul keganjilan kecil. Buku memang masih dibuka, tapi tidak selalu dibaca dengan sungguh-sungguh. Dibaca, tapi sekadar untuk cukup—cukup untuk mengajar, cukup untuk menjawab, cukup untuk menyelesaikan hari itu.
Di situ, tanpa banyak suara, hubungan dengan buku pelan-pelan berubah—dari kebiasaan dan kebutuhan, menjadi kewajiban. Ketika kewajiban itu selesai, membaca pun ikut selesai. Ia tinggal seperti absen atau apel pagi: hadir, tapi jarang benar-benar mengubah apa-apa—termasuk cara kita memahami pengetahuan itu sendiri.
Dari Buku ke Layar: Perubahan Cara Membaca
Di luar kewajiban yang sudah ditunaikan, buku jarang benar-benar mendapat giliran. Waktu yang ada lebih sering habis di layar—scroll tanpa arah, video pendek yang cepat berganti, atau sekadar melihat-lihat yang tidak pernah benar-benar selesai. Kita tidak berhenti membaca. Hanya saja, yang dibaca makin pendek, makin cepat, dan makin mudah dilupakan.
Yang satu cepat dan ringan. Yang lain pelan dan menuntut perhatian.
Kalau mau jujur, yang berubah bukan kebiasaan membacanya, tapi arah bacaannya. Ia sering kali berhenti pada apa yang perlu diajarkan besok pagi—buku paket, modul ajar, atau silabus yang harus diselesaikan sesuai jadwal. Buku teks cukup. Ringkasan materi cukup. Yang penting kelas berjalan, silabus selesai, dan target terpenuhi.
Beban Administrasi dan Waktu yang Tidak Pernah Luang
Di luar itu, membaca sering kali ditunda. Menunggu waktu luang. Masalahnya, waktu luang ini seperti janji lama—sering diucapkan, tapi jarang benar-benar datang.
Dalam beberapa laporan pendidikan, masalah ini sebenarnya sudah lama disinggung. World Bank, misalnya, berulang kali menyoroti bahwa kualitas pembelajaran tidak hanya soal kurikulum, tapi juga soal bagaimana guru terus mengembangkan diri. Sementara kajian dari SMERU Research Institute menunjukkan bahwa beban kerja dan sistem penilaian sering membuat energi habis untuk hal-hal administratif.
Kalimatnya memang tidak pernah menyebut “malas membaca”. Tapi arah ceritanya pelan-pelan ke sana.
Ada ironi kecil yang sebenarnya cukup terang, hanya saja jarang kita tatap terlalu lama. Kita ini bukan tidak membaca. Kita membaca banyak hal—bahkan mungkin lebih banyak dari yang kita sadari. Laporan dibaca dengan teliti, format diperiksa berulang kali, petunjuk teknis diikuti hampir tanpa salah. Hal-hal yang berhubungan dengan penilaian kinerja hampir tidak pernah luput dari perhatian.
Sementara buku yang tidak punya tenggat, tidak masuk laporan, dan tidak memengaruhi angka apa pun, pelan-pelan bergeser ke pinggir. Bukan karena tidak penting, tapi karena tidak mendesak. Dan dalam dunia yang diatur oleh target, yang tidak mendesak sering kali kalah sebelum sempat dimulai.
Dampak: Pengetahuan yang Cepat tapi Dangkal
Kita juga hidup dalam kebiasaan yang lebih akrab dengan percakapan daripada halaman. Ngobrol terasa lebih ringan daripada membaca, diskusi terasa lebih cepat daripada menelusuri kalimat demi kalimat. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi ketika kebiasaan ini berjalan tanpa ditemani budaya membaca yang cukup, sesuatu mulai terasa kurang.
Pengetahuan menjadi cepat, tapi dangkal. Jawaban menjadi lancar, tapi terbatas. Membaca, yang seharusnya memperluas, pelan-pelan menyempit menjadi sekadar alat bantu. Padahal, di titik tertentu, membaca bukan hanya soal menambah isi kepala, tapi juga menjaga kita tetap sadar bahwa apa yang kita tahu hari ini belum tentu cukup untuk besok.
Dampaknya tidak datang dengan suara keras. Tidak ada alarm ketika seorang guru berhenti membaca di luar materi ajar, atau ketika seorang dosen tidak lagi mengikuti perkembangan di bidangnya. Semua berjalan seperti biasa: kelas tetap berlangsung, materi tetap disampaikan, ujian tetap berjalan.
Sampai suatu saat, kita mulai merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Diskusi terasa datar. Pertanyaan cepat habis. Jawaban berputar di tempat yang sama.
Dalam berbagai laporan pendidikan internasional, kemampuan berpikir kritis siswa memang sering menjadi catatan, dan World Bank termasuk yang berulang kali menyinggung hal ini. Tentu penyebabnya tidak tunggal, tapi sulit menutup mata bahwa keluasan wawasan pengajar ikut menentukan seberapa jauh ruang berpikir itu bisa dibuka.
Mungkin bukan muridnya yang kehabisan rasa ingin tahu. Barangkali kita yang tidak lagi cukup membawa bahan untuk menyalakan itu.
Peran Guru dan Dosen sebagai Teladan Literasi
Ada satu hal lain yang sering luput: soal teladan. Sulit mengajak siswa dekat dengan buku jika mereka tidak pernah melihat orang yang mengajarnya punya hubungan yang hangat dengan buku. Karena membaca, seperti banyak hal lain, lebih mudah ditiru daripada dijelaskan.
Lalu kita kembali ke pertanyaan yang agak mengganggu itu: apakah ini soal malas? Barangkali tidak sesederhana itu. Ada sistem yang terlalu sibuk mengukur, ada beban kerja yang menyita tenaga, dan ada kebiasaan yang membuat kita diam-diam merasa cukup dengan pengetahuan yang itu-itu saja.
Tapi di antara semua itu, ada juga pilihan-pilihan kecil yang sering kita anggap sepele: membuka layar daripada membuka buku, memilih yang cepat daripada yang dalam, mendahulukan yang perlu sambil menunda yang sebenarnya penting. Di titik itu, garis antara “tidak sempat” dan “tidak ingin” menjadi tipis sekali.
Yang jelas, ada sesuatu yang perlahan berubah. Tidak gaduh, tidak terasa, sampai suatu hari kita menyadari bahwa jarak antara pendidik dan buku tidak lagi sedekat yang dulu kita bayangkan.
Dan ketika itu terjadi, yang kehilangan bukan hanya guru atau dosen, tapi ruang belajar itu sendiri—yang pelan-pelan kehilangan kedalaman, tanpa pernah benar-benar kita umumkan sebagai kehilangan.

Post a Comment for "Guru dan Dosen yang Malas Membaca"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.