MBG: Menuju Generasi “Abdul Butun” 2039

 

Belakangan ini, kita seperti sedang sangat serius mengurus perut. Program Makan Bergizi Gratis digulirkan dengan niat yang terdengar mulia: memastikan rakyat tidak lapar. Niat yang, sejauh ini, sulit untuk ditolak. Karena memang benar, orang lapar tidak punya banyak ruang untuk berpikir panjang. Perut yang kosong sering kali menutup pintu bagi hal-hal yang lebih tinggi.

Namun justru di situlah persoalan mulai terasa lebih rumit.

Di pesantren, ada semacam ajaran yang tidak selalu ditulis, tapi hidup dalam keseharian: jangan terlalu kenyang. Bukan karena makan itu salah, melainkan karena terlalu kenyang sering membuat pikiran ikut tenggelam, berat, lambat, dan tanpa sadar kehilangan kejernihannya. Perut yang cukup, tidak kosong tapi juga tidak penuh, dipercaya menjaga akal tetap ringan. Maka makan tidak pernah ditolak, tapi juga tidak pernah dinaikkan menjadi tujuan.

Di luar itu, pelan-pelan kita seperti sedang membangun logika yang berbeda. Yang penting kenyang dulu, urusan lain menyusul. Untuk keadaan darurat, itu masuk akal. Tapi jika ia berubah menjadi arah bersama, pertanyaannya menjadi lebih tidak nyaman: apakah kita sedang menyiapkan manusia untuk hidup, atau sekadar memastikan mereka tidak mati?

Program berskala besar tentu tidak sederhana. Ia datang dengan keruwetan yang hampir tak terhindarkan: rantai distribusi yang panjang, pengawasan yang rawan bocor, dan anggaran yang tidak kecil. Tapi persoalannya tidak berhenti pada teknis. Yang lebih sunyi, tapi justru lebih menentukan, adalah ke mana perhatian kita diarahkan.

Ketika energi besar dicurahkan pada sesuatu yang efeknya cepat habis, sementara hal-hal yang membentuk cara berpikir berjalan lebih pelan, kita seperti sedang rajin mengisi bensin tanpa pernah benar-benar peduli ke mana kendaraan ini akan melaju. Ia bergerak, tapi tidak jelas menuju apa. Bahkan bisa jadi, kita merasa sudah berjalan jauh, padahal hanya berputar di tempat yang sama.

Di kalangan santri, ada istilah yang terdengar seperti candaan: Abdul Butun, hamba perut. Ia sering diucapkan sambil tersenyum, tapi diam-diam menyimpan kegelisahan yang tidak kecil, tentang manusia yang hidupnya berputar di sekitar makan, kenyang, lalu mengulanginya lagi. Dalam bahasa yang lebih tua, sindiran ini bahkan terdengar lebih tajam: melek, nyekek, matek: hidup sekadar terjaga, sibuk mengunyah, lalu mati begitu saja.. Yang lebih mengganggu, keadaan ini tidak selalu lahir dari kekurangan. Ia bisa tumbuh justru ketika seseorang tidak pernah didorong untuk melampaui kecukupan.

Mungkin kita masih ingat film animasi WALL-E. Di sana digambarkan manusia-manusia di masa depan yang bertubuh gemuk, duduk di kursi yang melayang, segala kebutuhannya dilayani tanpa perlu banyak bergerak. Mereka tidak tampak menderita. Justru sebaliknya, semuanya terlihat nyaman, serba cukup, dan nyaris tanpa kekurangan.

Tapi ada yang terasa hilang. Mereka tetap hidup, tapi seperti tidak benar-benar menjalani hidup. Bergerak tanpa arah, berinteraksi tanpa kedalaman, dan perlahan kehilangan kemampuan paling dasar untuk mengurus dirinya sendiri. Segalanya tersedia, tapi justru karena itulah, hampir tidak ada lagi dorongan untuk melampaui apa yang sudah ada.

Barangkali yang membuatnya terasa dekat bukan karena kita akan sampai ke masa depan seperti itu, melainkan karena gejalanya sudah mulai terasa sejak sekarang. Ketika kenyamanan menjadi terlalu mudah didapat, dan kecukupan tidak lagi menjadi titik awal, melainkan berhenti sebagai tujuan.

Di titik ini, ironi itu terasa semakin jelas. Negara berusaha memastikan rakyatnya tidak lapar—dan itu baik. Tapi kalau setelah kenyang tidak ada dorongan yang cukup kuat untuk berpikir, belajar, atau bergerak lebih jauh, maka yang terjadi bukan pembebasan, melainkan semacam penenangan. Perutnya tenang, tapi pikirannya tidak benar-benar diajak bangun.

Barangkali yang sedang terjadi bukan kesalahan yang kasat mata, melainkan pergeseran yang halus. Makan, yang semestinya menjadi syarat, pelan-pelan diperlakukan seperti tujuan. Sementara berpikir, yang seharusnya menjadi arah, justru berjalan tanpa perhatian yang cukup. Sistem pendidikan yang belum rapi, sarana yang belum merata, dan budaya berpikir yang belum benar-benar dibangun, seakan berjalan di jalurnya sendiri, tidak pernah benar-benar dipertemukan dengan keseriusan yang sama.

Di sinilah kegelisahan itu menemukan bentuknya. Bukan karena program makan itu salah, melainkan karena ia berisiko menjadi terlalu dominan. Ia memberi hasil yang cepat terlihat—angka penerima, distribusi yang bisa dilaporkan, keberhasilan yang mudah dipamerkan. Sementara pembangunan akal dan cara berpikir tidak bekerja seperti itu. Ia lambat, tidak selalu terlihat, dan sering kali tidak memberi hasil instan yang bisa segera dirayakan.

Kalau keadaan ini terus berlangsung, kita mungkin akan sampai pada situasi yang tidak gaduh, tapi cukup mengkhawatirkan: semua orang kenyang, tapi tidak banyak yang benar-benar bergerak. Tidak karena tidak mampu, melainkan karena tidak pernah didorong untuk melampaui apa yang sudah terasa cukup. Kecukupan yang seharusnya menjadi titik awal, justru berhenti menjadi titik akhir.

Dan di situ, tanpa perlu disadari secara terbuka, kita tidak hanya sedang mencegah lahirnya “Abdul Butun”. Kita sedang merawatnya dengan sistem yang rapi, niat yang baik, dan anggaran yang tidak sedikit.

Pada akhirnya, barangkali persoalannya bukan pada apa yang kita makan, melainkan pada apa yang pelan-pelan kita biarkan hilang setelah kenyang. Karena perut yang penuh jarang sekali protes, tapi pikiran yang lama tidak diajak bekerja biasanya tidak benar-benar mati ia hanya tertidur, dan kita sering tidak merasa perlu membangunkannya lagi.

Di titik itu, hidup berjalan seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar salah, tapi juga tidak banyak yang sungguh-sungguh bergerak. Semua terasa cukup, dan justru karena itulah, tidak ada yang merasa perlu melampaui. Kita kenyang, kita tenang, dan diam-diam kita menerima bahwa mungkin memang segini saja.

Barangkali yang paling perlu dikhawatirkan bukanlah kekurangan, melainkan kecukupan yang terlalu cepat kita anggap selesai. Sebab dari situlah Abdul Butun tidak lagi hadir sebagai sindiran, tapi berubah menjadi cara hidup yang rapi, yang wajar, dan yang tidak lagi terasa perlu dipertanyakan.

© khafi.id

Post a Comment for "MBG: Menuju Generasi “Abdul Butun” 2039"