Antara Mugabe dan... Kita Tahu Sendiri Siapa?
Membicarakan Robert Mugabe selalu menghadirkan dua wajah dalam satu cermin. Ia pernah berdiri sebagai simbol pembebasan, nama yang dielu-elukan dalam sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme. Namun, di ujung ceritanya, ia justru dikenang lewat ironi: sebuah negeri dengan mata uang yang nilainya runtuh hingga nyaris tak lebih berharga dari selembar kertas biasa.
Dari sini kita belajar satu hal sederhana: sejarah tidak pernah hitam-putih. Ia lebih sering abu-abu, dan kadang berubah warna tanpa kita sadari.
Mugabe piawai meramu narasi. Kedaulatan, kemandirian, dan perlawanan terhadap neo-kolonialisme menjadi mantra yang terus diulang. Kata-kata yang terdengar gagah, bahkan menenangkan. Siapa yang berani menolak sesuatu yang diklaim sebagai “kepentingan nasional”?
Masalahnya, batas antara nasionalisme yang sehat dan ultranasionalisme yang membabi buta sering kali setipis kulit bawang. Dan di titik tertentu, tanpa terasa, yang satu bisa menyaru menjadi yang lain.
Membaca pola semacam ini, pikiran kita kadang melompat jauh. Menyeberangi samudra, lalu mendarat di negeri yang tidak benar-benar asing.
Mari kita sebut saja tokoh di sana dengan nama samaran: “Partner Bunda Tedy.” Selebihnya, kita tahu sendiri.
Ada kecenderungan yang berulang dalam sejarah kekuasaan. Pemimpin yang lahir dari medan perjuangan sering kali melihat negara sebagai benteng yang harus dijaga, bukan sebagai ruang hidup yang perlu dirawat.
Dari sana, lahirlah proyek-proyek besar. Swasembada yang dipaksakan. Narasi tunggal yang menuntut semua orang berjalan dalam satu barisan.
Di masa Mugabe, cara yang digunakan cenderung kasar—represi terbuka. Sementara di sini, pendekatannya jauh lebih halus.
Semua dirangkul.
Hampir tidak ada yang benar-benar di luar lingkaran. Parlemen menjadi tenang—terlalu tenang.
Oposisi tidak hilang karena dilarang. Ia hilang karena kekenyangan.
Sekilas tampak stabil. Namun ketenangan berlebihan sering kali bukan tanda sehat.
“Masalah terbesar dalam kekuasaan bukan tidak adanya suara, melainkan terlalu banyak suara yang sepakat.”
Dalam sebuah sistem, penyeimbang bukan gangguan, melainkan kebutuhan. Ia seperti rem: jarang dipuji, tapi menentukan selamat atau tidaknya perjalanan.
Ketika fungsi itu melemah, kekuasaan berjalan tanpa koreksi. Kritik terdengar samar. Laporan dari dalam disesuaikan.
Di titik ini, macak budheg menjadi kebiasaan.
Keluhan di akar rumput perlahan kehilangan gema, sementara narasi besar tetap berjalan rapi.
Zimbabwe tidak runtuh dalam satu malam. Ia retak pelan-pelan, dari pujian yang berlebihan dan kejujuran yang menghilang.
Kita tentu berharap tidak perlu belajar dengan cara yang sama.
Namun selama penyeimbang disingkirkan, arah perjalanan itu sebenarnya tidak terlalu misterius.
Bukan karena sejarah ingin mengulang dirinya.
Melainkan karena kita, pelan-pelan, memilih pola yang sama.

Post a Comment for "Antara Mugabe dan... Kita Tahu Sendiri Siapa?"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.