Ketidakpentingan itu Penting
Salah satu nasihat yang paling sering beredar di media sosial adalah, "Jangan mencari validasi dari orang lain." Ironisnya, nasihat itu sendiri sering diunggah sambil menunggu jumlah tanda suka terus bertambah.
Barangkali tidak ada yang salah dengan nasihat itu. Yang menarik justru kenyataan bahwa kita semua tampaknya sedang terjebak dalam permainan yang sama. Kita tahu mengejar pengakuan itu melelahkan, tetapi tetap sulit berhenti melakukannya. Seolah-olah hidup belum lengkap jika belum ada orang lain yang mengangguk setuju.
Padahal, boleh jadi persoalannya bukan karena kita kekurangan pengakuan. Bisa jadi kita hanya terlalu lama percaya bahwa diri ini harus menjadi seseorang yang penting.
Semakin keras seseorang berusaha terlihat penting, semakin besar kemungkinan ia menggantungkan harga dirinya pada penilaian orang lain.
Berabad-abad sebelum media sosial lahir, orang bijak Tiongkok kuno, Zhuangzi, pernah berkisah tentang sebuah pohon yang dianggap tidak berguna. Batangnya bengkok, rantingnya berpilin, kayunya penuh simpul, sehingga para tukang kayu selalu melewatinya. Tidak ada yang mau menebangnya. Pohon itu gagal memenuhi standar tentang seperti apa sebatang pohon yang "berharga".
Namun justru karena itulah ia tetap hidup.
Ia tumbuh menjadi raksasa, menaungi siapa saja yang singgah di bawahnya, menyaksikan musim berganti, dan tetap berdiri ketika pohon-pohon lain telah lama berubah menjadi papan, meja, atau tiang rumah.
Barangkali pohon itu tidak sedang mengajarkan cara menjadi berguna. Ia sedang mengingatkan bahwa tidak semua yang dianggap penting oleh manusia benar-benar penting bagi kehidupan.
"Yang dianggap tidak berguna oleh dunia, kadang justru memiliki kesempatan paling panjang untuk memberi manfaat."
Celakanya, kalau pohon itu hidup hari ini, mungkin ia akan disuruh mengikuti kelas personal branding. Batangnya diminta diluruskan agar lebih marketable, cabangnya dipangkas supaya lebih estetik, lalu membuat konten berjudul, "Lima Rahasia Menjadi Pohon Sukses Sebelum Usia Seratus Tahun."
Terdengar lucu, tetapi bukankah kita sendiri sering melakukannya?
Kalau dipikir-pikir, media sosial memang tempat yang unik. Di sana, bahkan kerendahan hati pun kadang dipamerkan agar mendapat pengakuan sebagai orang yang rendah hati.
Hari ini, menjadi manusia tidak lagi cukup. Kita juga dituntut menjadi produk. Ada citra yang harus dirawat, reputasi yang harus dipoles, dan pencapaian yang harus dipamerkan agar tetap dianggap relevan. Bahkan kesederhanaan pun, sesekali, ikut dipasarkan sebagai gaya hidup.
Akibatnya, hidup berubah menjadi panggung yang tidak pernah benar-benar tutup. Kita bukan hanya bekerja, tetapi juga mengelola kesan. Bukan hanya berkarya, tetapi juga menghitung kemungkinan bagaimana karya itu akan diterima. Yang melelahkan sering kali bukan pekerjaannya, melainkan beban untuk selalu tampak penting.
Padahal, dunia ternyata jauh lebih sibuk daripada yang kita kira.
Sebagian besar orang tidak sedang memikirkan kita. Mereka sedang memikirkan tagihan yang harus dibayar, pekerjaan yang belum selesai, anak yang sedang sakit, atau jangan-jangan mereka juga sedang cemas memikirkan bagaimana agar dirinya terlihat penting di mata orang lain.
Ironisnya, kita semua seperti berdiri di depan cermin yang saling berhadapan. Masing-masing sibuk memastikan dirinya terlihat berarti, sementara hampir tidak ada yang benar-benar memperhatikan orang lain selama yang kita bayangkan.
Menyadari kenyataan itu ternyata melegakan.
Bukan karena hidup menjadi tidak berarti, melainkan karena kita berhenti memikul beban yang sebenarnya tidak perlu. Dunia tidak runtuh ketika kita tidak menjadi pusat perhatian. Matahari tetap terbit. Burung tetap berkicau. Kopi tetap terasa hangat di pagi hari.
Justru setelah berhenti mengejar sorotan, kita mulai melihat hal-hal yang sebelumnya luput karena terlalu sibuk menoleh ke arah penonton.
Percakapan yang tulus terasa lebih menyenangkan daripada seribu komentar di media sosial. Menulis menjadi lebih ringan ketika tidak terus dibayangi pertanyaan apakah tulisan itu akan viral. Berkarya menjadi lebih jujur ketika tujuannya bukan lagi tepuk tangan, melainkan karena memang ada sesuatu yang ingin disampaikan.
Mundur dari perlombaan gengsi bukan berarti kehilangan ambisi. Yang ditinggalkan bukan semangat untuk bertumbuh, melainkan kebutuhan untuk terus-menerus membuktikan bahwa diri kita layak dihargai.
Barangkali, menjadi tidak terlalu penting bukanlah kekalahan. Ia justru bentuk kebebasan.
Mungkin, ketidakpentingan bukan hanya menyelamatkan kita dari rasa lelah. Ia juga, sesekali, menyelamatkan banyak urusan dari kekacauan.
Sebab, tidak sedikit persoalan menjadi rumit bukan karena pekerjaannya sulit, melainkan karena terlalu banyak orang merasa dirinya paling penting.
Rapat berubah menjadi arena adu gengsi. Organisasi lebih sibuk menjaga posisi daripada mencapai tujuan. Musyawarah berubah menjadi perlombaan mencari siapa yang paling didengar. Bahkan pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu sore bisa molor berhari-hari, hanya karena setiap orang ingin namanya tercatat sebagai tokoh utama.
Barangkali, yang bertabrakan bukan gagasan. Yang bertabrakan adalah ego.
Jika pola itu diperbesar, kita akan menemukan wajah yang sama di ruang-ruang yang lebih luas. Politik, misalnya. Tidak sedikit yang kita sebut sebagai kepentingan politik sebenarnya berawal dari sesuatu yang sangat manusiawi: keinginan untuk tetap dianggap penting. Ketika kepentingan pribadi menyamar sebagai kepentingan publik, keputusan menjadi kabur. Tujuan bergeser. Persoalan yang sederhana tiba-tiba tampak rumit.
Mungkin karena itu, dalam banyak keadaan, persoalannya bukan kekurangan orang pintar atau orang hebat. Dunia ini justru penuh dengan orang-orang yang ingin menjadi tokoh utama.
Padahal, banyak pekerjaan besar justru lahir dari mereka yang rela bekerja tanpa harus berdiri di depan kamera. Banyak perubahan bertahan lama karena dibangun oleh orang-orang yang tidak sibuk mencantumkan namanya di setiap sudut keberhasilan.
Barangkali, inilah yang ingin dibisikkan Zhuangzi melalui pohonnya yang bengkok itu. Ia tidak sedang mengajak manusia menjadi tidak berguna. Ia hanya menunjukkan bahwa obsesi untuk selalu tampak berguna, penting, dan menentukan sering kali membuat kita lupa pada fungsi yang sesungguhnya.
Ironisnya, semakin keras seseorang berusaha menjadi pusat perhatian, semakin mudah ia kehilangan pusat dirinya sendiri.
Maka, jika suatu hari kita mulai merasa tidak terlalu penting, barangkali tidak perlu buru-buru cemas.
Bisa jadi, justru saat itulah kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih bebas. Bebas dari kewajiban untuk selalu dipuji. Bebas dari kecemasan untuk selalu diakui. Bebas dari hasrat menjadi tokoh utama dalam setiap cerita.
Dunia ini mungkin tidak kekurangan orang-orang penting. Yang mulai langka justru orang-orang yang mampu mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, tanpa merasa harus menjadi yang paling penting.
Dan boleh jadi, dunia memang lebih membutuhkan mereka.

Post a Comment for "Ketidakpentingan itu Penting"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.